Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
03. Menyusun Persiapan


__ADS_3

Dua minggu kemudian, saat pelatihan para prajurit yang baru telah benar-benar selesai dilakukan, Nata kembali mengadakan pertemuan dengan Lucia dan para petinggi wilayah dan militer untuk memulai menjalkan langkah selanjutnya.


"Jadi rencana kita selanjutnya adalah mulai mempersiapkan semua hal untuk melakukan serangan. Dan meski sedikit melenceng dari waktu yang sudah direncanakan, namun tidak ada yang berubah dari rencana awal kita," ucap Nata membuka pertemuan tersebut.


Selain Nata, yang duduk memutari meja oval di ruang pertemuan kediaman Lucia itu adalah; Lucia, Jean, Orland, Cornelius, Caspian, Helen, dan Vedora.


"Jadi kita akan melakukan serangan secara- apa kau bilang tadi? Gerilya?" tanya Lucia menanggapi ucapan Nata.


"Benar, Yang Mulia. Kita akan melakukan serangan dengan cara yang sama seperti yang telah mereka lakukan ketika mengambil alih wilayah selatan. Kita akan menyerang tempat-tempat penting milik mereka. Seperti gudang senjata, markas prajurit, atau tempat penyimpanan bahan makanan," jawab Nata dengan rinci. "Hanya saja, kali ini kita akan melakukannya dengan satu kali serangan," tambahnya kemudian.


"Saya sudah mendengar penjelasan secara detail dari rencana serangan ini dari Anda sebelumnya, tapi tetap saja, apakah Anda yakin kita mampu mengambil alih tempat-tempat itu nanti hanya dengan sekali serang saja?" Caspian terlihat ragu.


"Tentu saja, Tuan Caspian. Selama kita melakukan perhitungan dengan cermat," jawab Nata dengan yakin. "Saat ini kita memiliki informasi tentang medan wilayah, lengkap dengan jumlah dan posisi prajurit yang ada di tempat-tempat tersebut," lanjutnya mulai menjelaskan.


"Dan dengan informasi tersebut, kita bisa mulai memperdiksi kekuatan dan pergerakan yang mungkin akan mereka lakukan. Berdasar dari jarak dan jalur dimana kemungkinan mereka akan mendapatkan bantuan, juga dari jalur yang mungkin akan mereka gunakan sebagai jalan untuk melarikan diri, yang harus kita amankan terlebih dahulu.


"Dan ditambah dengan fakta bahwa ini adalah serangan kejutan, maka kemungkinan mereka siap untuk serangan ini sangatlah rendah. Apa lagi tempat-tempat itu berada jauh dari garis perbatasan." Nata menutup penjelasan panjangnya.


Terlihat tidak hanya Caspian yang mulai yakin dengan rencana Nata setelah mendengar penjelasan panjang tersebut.


"Apa lagi kita akan menggunakan Kapal Udara untuk menurunkan para parjurit tepat di sekitar tempat-tempat tersebut, yang akan membuat lawan terlambat untuk menyadari keberadaan kita." Kali ini Helen yang menambahkan detail dari rencana yang telah Nata jelaskan dipertemuan sebelumnya.


"Benar. Dan sebelum itu kita juga akan memastikannya dengan memasang mata dan telinga di sekitar tempat-tempat tersebut, untuk memberikan kabar bila terjadi sesuatu yang tidak kita prediksikan sebelumnya," ucap Nata menambahi.

__ADS_1


"Apa itu tentang pemasangan Menara Komunikasi di wilayah selatan?" Lucia memastikan.


"Benar, Yang Mulia. Dengan bantuan Nona Versica, kita bisa mengetahui tempat-tempat yang aman dan sulit dijangkau untuk memasang Menara Komunikasi tersebut." Nata membenarkan dugaan Lucia.


"Memasang Menara Komunikasi itu bukannya akan menarik perhatian orang-orang di sekitar wilayah tersebut saat melihatnya dari kejauhan, Nat?" Kali ini Jean yang bertanya. "Belum lagi waktu pemasangannya yang cukup lama. Yang akan membahayakan para pekerja kita nantinya," tambahnya lagi.


"Menara Komunikasi yang akan kita bangun di wilayah selatan itu tidak sama seperti yang sedang kita bangun di wilayah ini. Yang akan kita bangun di wilayah selatan nanti, akan jauh lebih kecil. Karena memang tujuannya supaya tidak terlihat, namun kita tetap dapat melakukan hubungan komunikasi dengan para prajurit yang sedang berada di wilayah tersebut," jawab Nata kembali dengan penjelasan.


"Jadi dengan dibangunnya Menara Komunikasi itu, kita bisa berhubungan dengan prajurit yang berada di pegunungan Trava menggunakan Telephone yang kita punya?" Lucia kembali memastikan apa yang telah ia tangkap dari penjelasan Nata sebelumnya.


"Benar sekali, Yang Mulia. Sebenarnya tidak hanya untuk prajurit yang ada di pegunungn Trava saja, namun untuk semua prajurit yang nantinya berada di wilayah sekitaran tempat Menara-Menara tersebut dibangun. Dan itu berarti kita bisa melakukan koordinasi dengan lebih cepat tanpa perlu menggunakan pengirim kabar atau sihir pemindah," jawab Nata masih dipenuhi dengan penjelasan.


Wajah-wajah penuh harapan mulai terlihat setelah mendengar penjelasan dari Nata tersebut.


"Benar, Yang Mulia."


"Baiklah kalau begitu. Caspian, aku serahkan semuanya padamu," ucap Lucia memberikan mandat kepada Jendral Besarnya.


"Siap, Yang Mulia!" jawab Caspian tanpa keraguan.


"Dan sekarang saya akan mulai membahas tentang para pemberontak yang ada di wilayah selatan sana, Yang Mulia."


"Aku sudah mendengar hal tersebut dari Caspian, apakah kau ingin kita menggunakan mereka dalam penyerangan kali ini? Apa tidak terlalu berbahaya bila ternyata mereka memiliki tujuan tersendiri? Dan apa menurut mu pasukan kita tidak bisa mengimbangi lawan saat ini?" Kebiasaan baru Lucia mempertanyakan rencana-rencana yang Nata buat.

__ADS_1


"Benar, Yang Mulia. Menurut saya mungkin saja pemimpin para pemberontak itu memiliki alasan lain melakukan pemberontakan. Untuk menjadi pemimpin wilayah, misalnya. Dan juga dalam segi kekuatan, jelas bantuan dari para pemberontak itu tidak akan berdampak signifikan dalam penyerangan kali ini. Apalagi ketika Augra dan Jouren juga ikut memasuki peperangan." Nata kembali bersiap memberi penjelasan.


"Tapi kita akan mendapat cukup banyak keuntungan, setidaknya bila kita memiliki hubungan baik dengan mereka," ucap Nata memulai penjelasannya. "Pertama, dengan adanya tambahan prajurit dari para pemberontak itu, kita jadi bisa mencadangkan prajurit kita untuk berjaga dari kemungkinan serangan kerajaan Augra dan Jouren.


"Kedua, kita akan memiliki tambahan sumber daya manusia untuk memimpin dan mengelola beberapa wilayah setelah berhasil kita ambil alih. Hal itu akan sangat membantu meringankan beban kita dalam melakukan pencarian sumber daya manusia nantinya," ucap Nata kemudian menutup penjelasannya.


"Apa tidak berbahaya membiarkan mereka memimpin dan mengelola wilayah-wilayah tersebut? Kemungkinan mereka untuk kembali melakukan pemberontakan terhadap kita sangatlah besar, Nat." Orland juga terlihat masih ragu dengan rencana Nata tersebut.


"Setidaknya jangan memberi mereka posisi tertinggi dalam pemerintahan wilayah. Dan kita juga harus tetap melakukan pengawasan terhadap mereka, Tuan Oralnd." Nata menjawab. "Akan jauh lebih mudah untuk kita mencari seorang pengawas wilayah, dari pada banyak orang untuk melakukan pekerjaan harian," tambahnya kemudian.


Namun terlihat baik Lucia maupun orang-orang yang ada dalam ruangan itu masih belum sepenuhnya setuju dengan rencana Nata tersebut.


"Saya tahu, pengalaman anda sekalian sebelum ini telah membuat kenangan yang tidak mengenakkan." Nata terlihat kembali mencoba untuk meyakinakan orang-orang dalam ruangan itu. Terutama Lucia. "Dan saya akui semua itu adalah salah saya, karena tidak memberi instruksi lanjutan sebelum saya menghilang. Yang menyebabkan kejadian buruk itu bisa terjadi.


"Tapi, Anda sekalian tidak perlu kuatir. Karena kali ini saya sudah meminta Aksa untuk menuliskan langkah-langkah selanjutnya dengan cukup rinci. Untuk sekedar berjaga-jaga kalau-kalau kami menghilang lagi," ucap Nata yang mencoba membuat lelucon untuk meringankan suasana yang mulai terasa berat.


Namun sepertinya lelucon Nata tidak dianggap lucu oleh semua orang yang ada di tempat itu. Tidak ada tawa terdengar, bahkan senyum sedikit pun tidak terlihat di wajah orang-orang tersebut.


Kemudian tampak Lucia menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, aku mengerti. Mulailah menghubungi para pemberontak itu, Nat," ucap gadis itu memberi ijin.


"Baik, Yang Mulia."


-

__ADS_1


__ADS_2