Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
12. Kota Selatan II


__ADS_3

Setelah bertemu dengan beberapa Klerus dari kepercayaan Tanah Suci, dan puas memutari gugus tiap-tiap suku, akhirnya Aksa pun memutuskan untuk menuju ke markas Bintang Api sebelum nantinya ke area Stasiun Atas untuk bertandang ke kediaman Amithy.


Bangunan markas Bintang Api itu terletak di sekitar alun-alun kota. Tampak ramai dipenuhi oleh petarung dan pemburu bayaran, karena sama seperti di kota yang lainnya, bangunan itu juga adalah Balai Pertukaran Jasa.


Luque dan Rafa cukup terkenal di tempat ini. Terlihat dari beberapa orang yang menyapa dan memberi salam saat melihat mereka berdua. Juga dengan Trio Pemburu. Beberapa orang tampak menyapa begitu mereka memasuki aula tengah Balai Pertukaran Jasa tersebut.


Terlihat Diana dan Thomas bergegas keluar dari ruangan dibelakan meja pendaftaran, setelah Rafa meminta kepada petugas yang berjaga di meja tersebut itu bertemu ketua cabangnya.


"Tuan Aksa! Senang bertemu dengan Anda lagi," sahut Thomas segera menyahut tangan Aksa dan menjabatnya erat.


"Tidak kusangka kita akan bertemu lagi, Tuan Aksa! Kupikir kemarin Wakil Ketua salah mengirim pesan." Diana menyambung dengan juga menjabat tangan Aksa tepat setelah Thomas melepaskan tangannya.


"Loh, mana Tuan Nata?" Thomas bertanya saat tidak terpihat sosok Nata di antara rombongan tersebut.


"Nata sedang bertemu Ratu di Kota Tengah," jawab Aksa kemudian.


"Kami sangat senang Anda berdua kembali kemari," ucap Diana dengan wajah yang terlihat bersyukur.


Beberapa orang di sekitar aula itu mulai terdengar kasak-kusuk bertanya-tanya melihat ketua cabang Bintang Api yang terlihat sangat gembira dan tampak menaruh hormat kepada seorang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Apa Anda sudah berkeliling kota ini? Padahal saya ingin menjadi pemandu Anda di kota ini." Terlihat Diana sedikit kecewa.


"Karena tadi kami langsung menuju ke komplek pemukiman penduduk Tanah Suci, jadi sekaligus berkeliling kota sebelum kemari. Setelah ini kami hendak menuju ke tempat Nyonya Amithy," jawab Aksa menjelaskan.


"Oh, baiklah kalau begitu, biar kami antar kalian ke sana," sahut Diana cepat menawarkan bantuan.


.


"Sepertinya kota ini baik-baik saja di bawah perlindungan kalian berdua," ujar Aksa kepada Diana dan Thomas saat mereka sudah berhimpitan di atas Kereta Besi menuju kediaman Amithy. "Oh, iya. Selamat ya, kudengar kalian sudah menikah sekarang," susulnya kemudian.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan Aksa." Thomas menjawab.


"Kami tidak melakukan apapun untuk melindungi kota ini. Seperti yang Anda tahu, kota ini adalah kota garis depan. Jadi pangkalan militer di bangun di tempat ini untuk berjaga." Diana menjawab.


"Iya, aku bisa melihatnya," jawab Aksa saat baru saja mereka berpapasan dengan 2 pemuda Morra dan 3 Yllgarian Macan Kumbang yang mengenakan seragam prajurit sedang berjalan kaki di pinggir jalan.


"Tapi meski berada di garis depan, kehidupan sehari-hari di kota ini tidak terganggu sama sekali." Thomas ikut menambahi.


"Ya, aku juga bisa melihatnya. Kota ini terlihat sangat ramai dan sangat beragam. Dan sepertinya lebih banyak orang Getzja di tempat ini?" Tampak Aksa masih bersemangat mengedarkan pangangannya berkeliling.


"Benar, kami kedatangan beberapa suku Getzja dari wilayah Tanah Bebas Azure. Mereka pengerajin kulit dan para pemburu." Kali ini Loujze yang memberi jawaban.


Terlihat Aksa mengangguk-angguk kecil mendengar jawaban Loujze.


.


Tak lebih dari setengah jam kemudian mereka sudah berada di dalam sebuah Katrol Elevator berbentuk seperti gerbong gondola yang tidak memiliki kursi, namun terlihat sedikit lebih besar, untuk menuju ke Stasiun Atas. Meninggalkan Kereta Besi mereka di bawah.


Dan setelah melewati Stasiun Kereta Uap, rombongan Aksa hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk menuju ke kediaman Amithy yang sudah tidak jauh lagi. Bahkan pintu gerbangnya saja sudah terlihat dari kejauhan.


.


"Perkenalkan nama saya Amanda Deloca. Saya adalah Wakil Nyonya Amithy." Seorang perempuan Narva dengan tatanan rambut yang terlihat rumit memperkenalkan diri saat Aksa dan yang lain sudah berada di ruang tamu kediaman Amithy.


Kediaman Amithy ini sebagian bangunannya ia gunakan sekaligus untuk tempat kerja para pengurus pemerintahan Kota Selatan. Jadi di saat pagi hari, tempat ini akan terlihat ramai dan sibuk.


"Kurasa aku pernah melihat Anda sekali sebelum pelantikan sang Ratu," jawab Aksa kemudian.


"Syukurlah Anda masih mengingat saya. Benar, tapi saat itu saya masih belum menjabat sebagai wakil kepala Kota Selatan ini," balas Amanda yang terlihat gembira Aksa masih mengingatnya.

__ADS_1


"Aku mana pernah lupa?" celetuk Aksa menyombongkan diri.


"Perkenalkan saya Kandis. Juru Tulis Kota Selatan." Seorang wanita Morra yang duduk di sebelah Amanda mengenalkan diri.


"Ah, itu tugas Tuan Orland saat masih berada di kerajaan Elbrasta." Aksa tampak berbicara sendiri. "Halo semua, aku Aksa. Salam kenal," tambahnya memperkenalkan diri.


"Berhubung Nyonga Amithy sedang mengikuti pertemuan bersama Yang Mulia Ratu di Kota Tengah, maka saya diberi mandat untuk menggantikan Beliau untuk menyambut Anda," ucap Amanda dengan sopan.


"Ya, tidak perlu terlalu formal. Aku hanya ingin melihat pencatatan keluar masuknya anggaran dan juga kependudukan wilayah ini." Aksa langsung ke pokok masalah.


"Sebentar, biar saya ambilkan." Kandis berdiri dari tempat duduknya dan beranjak memasuki salah satu ruangan di samping kiri ruang tahum tersebut.


"Ngomong-ngomong, di mana Nona Parpera?" tanya Aksa yang terlihat celingak-celinguk memandang ke segala arah dengan wajah penasaran.


"Beliau menemani Nyonya Amithy ke Kota Tengah," jawab Amanda cepat.


"Ah, benar juga. Dia penjaga pribadi Nyonya Amithy." Terlihat Aksa langsung terlihat lesu.


"Tenang saja, Anda bisa melihat peluru sihir itu lain waktu, Tuan Aksa," sahut Rafa memberi semangat. Karena ia tahu Aksa terlihat lesu karena gagal melihat aksi dari peluru sihir itu secara langsung.


"Padahal aku sudah menahan selama semalaman," keluh Aksa kemudian.


Bersamaan dengan itu, tampak Kandis keluar dengan mendekap tiga buah buku yang berukuran nyaris selebar lengannya. Kemudian meletakannya di meja agar Aksa bisa membacanya.


"Kulihat banyak hasil kerajinan dibuat di tempat ini," ucap Aksa setelah lebih dari 5 menit membaca buku yang sampulnya terbuat dari kulit lembu.


"Benar. Karena meski kota ini tidak seartistik Kota Utara, namun kota ini adalah kota seniman yang sebenarnya. Mulai dari penenun sampai seniman kristal, ada semua di kota ini," ucap Amanda terlihat bangga.


Aksa terlihat mengangguk tanpa memindahkan tatapannya dari buku yang ada di hadapannya. Bahkan saat meneguk minuman yang di sajikan di atas meja pun, Aksa masih terlihat serius membaca.

__ADS_1


.


__ADS_2