
Sepuluh hari setelah menerima tugas dari Nata, Helen dan Pasukan Elit pun dijemput oleh Evora menggunakan Berunda.
"Tidak seperti biasanya, kali ini kita tidak akan membagi tugas menjadi per tim," Helen berucap kepada ketiga puluh anggota Pasukan Elit. "Kita akan bagi berdasarkan posisi. Karena tugas kali ini cukup berbahaya," lanjutnya.
Mereka sedang melakukan pengarahan singkat di geladak kedua Kapal Udara Berunda yang sedang menuju ke Kotaraja Kerajaan Augra.
Di hadapan mereka tergelar peta rancang bangun dari istana kerajaan Augra yang dibeli oleh Joan dari salah satu bangsawan kerajaan tersebut.
"Kita akan melakukan persiapan sehari sebelum pelaksanaan. Kita harus mempelajari terlebih dahulu wilayah istana mereka." Helen kembali memberi arahan.
"Kemudian kita harus memastikan jalur keluar-masuk, serta melakukan pemeriksaan ulang informasi tentang rotasi para penjaga yang kita terima," lanjutnya kemudian.
Para anggota Pasukan Elit tampak mengangguk mendengarkan arahan dari Jendral perempuan tersebut.
"Apa ada yang ditanyakan untuk tugas kita kali ini?" tanya Helen kemudian.
"Maaf Jendral." Salah satu anggota Pasukan Elit mengangkat tangannya menyela. "Apa benar kita diperbolehkan untuk melakukan segala hal yang diperlukan dalam tugas kali ini?" lanjutnya dengan pertanyaan.
"Bila yang kau maksud adalah menembak dengan tujuan membunuh, maka jawabannya 'iya'." Helen menjawab.
"Apa hal tersebut tidak akan memperburuk situasi? Bukankah tujuan kita mengirim surat perundingan dan memberi peringatan tentang kekuatan kita?" tanya prajurit itu lagi.
"Jangan kuatir. Yang Mulia sudah berpesan padaku secara langsung untuk melakukan segala tindakan yang dirasa perlu saat kita dalam bahaya," jawab Helen menjelaskan.
"Selama kita tidak melakukan hal gila dengan menembak tanpa sebab, kurasa hal ini sudah dipikirkan oleh Beliau. Dan juga tuan Nata."
"Baik. Saya mengerti."
"Jadi apa ada yang perlu ditanyakan lagi? Kalau tidak, beristirahatlah dulu kalian. Kita akan diturunkan malam nanti untuk melakukan persiapan." Helen kembali berucap.
"Siap, Jendral." Seluruh anggota Pasukan Elit menjawab serempak sebelum kemudian membubarkan diri.
-
Sehari kemudian setelah berhasil menyelundup dan melakukan pengamatan secara sembunyi-sembunyi ke dalam istana Kerajaan Augra, mereka kembali berkumpul dan melakukan pertemuan di tempat rahasia di luar istana. Tempat yang juga disediakan oleh jaringan mata-mata milik Joan.
"Sepertinya memang benar informasi tentang sang raja yang selalu rutin mengunjungi Ruang Baca setelah selesai sarapan." Salah seorang anggota Pasukan Elit melaporkan.
Terlihat mereka sedang mengelilingi meja kayu tua dengan peta tergelar di atasnya dalam ruang bawah tanah sebuah gudang tak jauh dari luar tembok istana.
"Jadi apa sudah pasti sasaran kita adalah ruang Baca Raja?" Anggota yang lain bertanya memastikan.
__ADS_1
"Ya, karena hanya ruangan itu yang memiliki jendela berbingkai besar. Dan berada di lantai kedua dari menara bagian barat yang membuatnya mudah untuk jalur pelarian kita." Helen menjawab. "Di samping para penembak jitu juga akan mendapat pandangan jelas untuk melakukan bidikan," lanjutnya.
"Dan juga banyak tempat-tempat tinggi di sisi barat yang dapat kita gunakan untuk bersembunyi menanti jemputan," sahut salah satu anggota menambahi.
"Hanya ada 2 jalur untuk menuju ke ruangan tersebut. Jadi jauh lebih mudah untuk dijaga. Hanya gerbang timur dan gerbang utara ini saja," sahut yang lain seraya menunjuk ke salah satu bagian pada peta.
"Bagaimana dengan prajurit patrolinya?" Helen bertanya menaggapi.
"Paling sialnya kemungkinan kita akan berhadapan dengan 20 prajurit penjaga istana. Dan saya rasa jumlah itu masuh bisa kita atasi," jawab prajurit tadi.
"Lalu bagaimana dengan pasukan bantuan dari luar istana?"
"Posisi jaga mereka cukup jauh. Mereka butuh waktu setidaknya 5 menit untuk tiba di ruang baca tersebut. Meski dengan berlari," jawab anggota yang lain lagi.
"Perkiraan paling buruknya mereka menggunakan kristal Arcane untuk langsung menuju ke ruangan tersebut." Anggota yang lain menimpali.
"Untuk masalah itu tak perlu dikuatirkan. Dengan ini kita bisa menutupnya dengan paksa." Helen meletakan sebuah pedang pendek dengan bilah berwarna ungu di atas meja.
"Ya, kurasa dengan adanya pisau pemakan Aliran Jiwa itu, setidaknya kita tidak perlu kuatir dengan para penyihir atau pengguna peralatan sihir," jawab salah satu anggota dengan nada lega.
"Kita juga butuh penghambat pasukan lawan dan pengalihan perhatian untuk keluar dari istana setelahnya." Salah satu anggota dengan perawakan bongsor menyela.
"Peledak?" Prajurit yang sebelumnya menjelaskan tentang penjagaan tadi bertanya setengah memastikan.
"Oh, baiklah. Saya mengerti," balas prajurit itu sambil ikut tersenyum paham dengan maksud ucapan Helen.
"Ya, kita akan bergerak malam nanti. Jadi bersiaplah di tempat masing-masing sampai jadwal sang raja memasuki ruangan baca," ucap Helen kemudian memberikan perintah. "Oh, dan juga jangan lupa siapkan antena Radio Komunikasi sementara di menara-menara untuk mempermudahkan kita berkomunikasi."
"Para penembak jitu yang akan mengurusnya."
"Baguslah."
-
Malam harinya Pasukan Elit pun mulai bergerak. Mereka dibagi menjadi 6 kelompok kecil. Yang pertama berisi 4 orang yang akan menuju ruang Baca Raja bersama Helen. Mereka akan bersembunyi terlebih dahulu di dapur tak jauh dari ruang baca tersebut.
Kemudian 4 kelompok yang masing- masing beranggotakan 5 orang, bertugas menjaga ke empat gerbang masuk istana. Lebih tepatnya menahan pasukan bantuan memasuki istana.
Dan 6 prajurit sisanya adalah kelompok penembak jitu yang akan menempatkan diri mereka di tempat-tempat yang sudah direncanakan sebelumnya.
.
__ADS_1
"Ini Menara Timur. Sasaran bergerak memasuki koridor utara menuju ruang baca," lapor salah seorang penembak jitu yang bersiap di atas menara di sisi barat melalui Radio Komunikasi tanpa melepas pandangannya dari teropong.
"Diterima. Kurir siap bergerak," jawab Helen yang bersembunyi di gudang penyimpanan dapur menanggapi.
Dan setelah itu Helen segera memberi aba-aba dengan tangannya kepada keempat anggota yang lainnya untuk mulai bergerak.
.
Mereka berlima menuju ruang baca dengan cukup mudah dan tanpa menimbulkan kegaduahan yang berarti. Mereka menyergap para penjaga dengan diam-diam dan sesunyi mungkin meski di siang hari.
Mereka menggunakan amonia cair untuk membuat prajurit atau pelayan pingsan. Baik dengan membekap wajah mereka dengan kain, atau menggunakan senapan angin kecil dengan peluru bius.
Dan karena bantuan dari alat komunikasi, serta koordinasi yang bagus dari seluruh tim, membuat rencana mereka berjalan dengan lancar.
Tanpa kendala tim yang dipimpin oleh Helen itu berhasil memasuki ruang Baca Raja.
.
"Siapa kalian?!" teriak setengah tercekat ajudan sang raja saat mendapati 5 orang memasuki ruangan tersebut.
Dua kesatria yang berada dalam tempat itu juga terlihat waspada seraya menarik pedang mereka dari sarungnya.
"Bagaimana kalian bisa sampai di tempat ini?!" Salah seorang kesatria bertanya dengan berteriak mengintimidasi. "Prajurit Penjaga!" teriaknya kemudian memanggil bantuan.
"Tak perlu kuatir. Kami kemari tidak ingin melukai Yang Mulia Raja. Kami hanya ingin mengirimkan surat dari Ratu kami," ucap Helen menjawab.
"Lancang sekali!" Sang raja, seorang pria Narva setengah baya dengan pakaian mewah berjubah merah beludru segera berdiri dari kursinya dengan wajah berang.
Tak berapa lama kemudian dua puluh prajurit datang memasuki ruang baca tersebut dari pintu lain di ujung ruangan.
Yang kemudian segera membuat pagar berlapis melindungi sang raja.
"Oh, ada pintu lain yang tidak ada di cetak biru ruangan ini," bisik Helen karena tidak mengira.
"Menara Jaga? Ada puluhan prajurit memasuki ruangan," ucap salah seorang anggota tim Helen ke Mikrofon alat komunikasi yang ia gendong.
"Terpantau. Menara Jaga sudah berada dalam posisi. Jangan bergerak dari posisi." Terdengar suara dari alat pendengar yang dipasang di satu sisi telinga Helen dan setiap anggota dari Pasukan Elit.
"Berani-beraninya! Siapa yang mengutus kalian?!" Sang raja berteriak geram kepada Helen dan timnya.
"Kami utusan dari Ratu Lucia Eleanor, pemimpin kerajaan Rhapsodia." Helen menjawab dengan tenang tanpa terlihat takut atau kuatir sama sekali.
__ADS_1
"Kalian binatang hina dari tanah mati berani-beraninya menginjakan kaki kotor kalian ke ruangan ku?!" teriak sang raja semakin geram karena merasa terhina. "Kalian tidak bisa dimaafkan! Tangkap dan penggal kepala mereka. Lalu kirimkan kembali ke wilayah kotor itu," serunya kemudian memberikan perintah.
-