Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
27. Persiapan Menjemput


__ADS_3

Terlihat lingkaran cahaya berwarna ungu muncul dengan cepat di tengah-tengah ruang tengah tenda Aksa dan Nata.


Tampak Nata dan Lily sudah bersiap di hadapannya. Dan tanpa berlama-lama mereka berdua pun melompat masuk ketika ukuran lingkaran cahaya itu sudah lebih besar dari ukuran tubuh Nata.


Lingkaran cahaya itu adalah sihir Ruang Waktu dari Kristal Arcane yang diberikan Yvvone kepada Nata untuk berjaga-jaga.


Batu kristal itu khusus dirancang supaya dapat berpindah langsung ke dalam hutan Azuar tanpa memperdulikan Sihir Pelindung yang dipasang.


Sementara Aksa dan yang lain sudah menunggu ketika Nata dan Lily tiba di balairung pemukiman Marga Azuar.


-


"Mereka menggunakan batuan Arcane itu sudah bisa dipredikisi sebelumnya. Tapi apa sihir tingkat tinggi itu sihir yang dihasilkan dari Alta Larma? Bila memang iya, maka kita harus benar-benar waspada," ucap Aksa saat ia dan Nata sudah berada dalam kamarnya.


"Maka dari itu kita perlu segera bertindak. Kita tidak tahu kapan Sefier akan menyerang Rhapsodia dengan sihir seperti itu." Nata membalas.


"Aku mengerti. Tapi tetap saja perlu waktu lama, setidaknya sebulanan, untuk membangun Pelindung Sihir di sepanjang perbatasan utara. Itupun sudah menggunakan peralatan sihir dan mesin anti-gravitasi untuk membantu."


"Ya, aku juga sudah tahu akan hal itu. Tidak masuk akal memintanya sekarang juga," balas Nata.


"Kalau kau sudah tahu begitu, lantas kenapa kau sampai menggunakan Batu Arcane pemberian Yvvone untuk datang kemari?" Terlihat Aksa mulai sewot.


"Oh itu, alasan ku kemari karena aku perlu mengetahui lokasi Arcdux Lugwin," balas Nata memberi penjelasan.


"Kau menanyakan lokasi nona Lugwin padaku? Kau pikir aku Oracle?" Aksa bertambah sewot mendengar permintaan dari sahabatnya itu.


"Bukan begitu. Lacak saja posisi Formasi Sihir dari Telepon Sihir miliknya, dan jadikan patokan untuk Sihir Pemindah. Itu memungkinkan, bukan?" Nata menjelaskan maksud dari permintaannya.


"Ya, itu memungkin untuk dilakukan," balas Aksa yang kali ini terlihat lebih tenang.


"Kalau bisa secepatnya, karena aku harus segera menemukannya sebelum terlambat," lanjut Nata menuntut.


"Iya, iya, akan ku usahakan secepatnya. Aku akan meminta Yvvone dan kakaknya untuk membantu," balas Aksa yang mulai kembali terdengar kesal. "Eh? Tunggu sebentar." Tiba-tiba pemuda itu menahan ucapannya. "Bukan kau sendiri kan yang akan melakukan lompatan untuk menyelamatkan Lugwin?" tanyanya memastikan.


"Memang kenapa kalau aku sendiri yang pergi kesana?" Nata menjawab.


"Wah.... Apa kau sedang demam?" Aksa menyentuh dahi sahabatnya itu.


"Hentikan." Nata menampik tangan Aksa.


"Apa kau sadar kalau kau mungkin saja akan melompat dalam medan perang?" Aksa memastikan bahwa sahabatnya sadar akan hal itu.


"Iya, aku tahu. Maka dari itu aku akan mengajak Lily dan Val bersamaku." Nata menjawab.


"Memang harus kau sendiri yang melakukannya?"


"Kandidat paling tepatnya adalah aku. Karena hanya aku yang dapat bergerak tanpa embel-embel politik." Nata mulai menjelaskan alasan serta rencananya pada Aksa.


"Dan hal itu diperlukan agar posisi Lugwin tidak terganggu dari dalam kerajaannya sendiri. Karena kita memerlukan Kerajaan Estrinx untuk menjaga situasi di utara," lanjut Nata menambahkan.


Sedang Aksa hanya mengangguk kecil. Paham akan maksud dari rencana sahabatnya itu.


"Kalau begitu akan segera ku kerjakan," ucap Aksa seraya beranjak dari kursinya.


"Dan juga pinjamkan aku senjata yang kau buat." Nata melanjutkan permintaannya.


"Kau ingin menggunakan senjata rahasiaku?" Aksa menahan gerakannya.


"Kenapa? Apa masih belum selesai?"


"Hm... sudah sih. Tapi masih belum melewati tes uji coba." Terlihat Aksa ragu-ragu untuk meminjamkan.


"Jangan kuatir. Aku akan menggunakannya hanya disaat genting saja. Sekedar untuk berjaga-jaga bila harus berhadapan dengan pengguna sihir yang tidak dapat ditangani oleh Lily." Nata menjelaskan alasan dari permintaannya itu.


"Baiklah kalau begitu. Akan kusiapkan juga," ucap Aksa seraya berjalan meninggalkan kamar.


Setelah itu Nata pun segera menelepon Lucia.

__ADS_1


"Jadi apa yang sedang kau rencanakan, Nat?" sahut Lucia begitu menerima panggilan Telepon Sihir dari Nata.


"Saya akan coba untuk menjemput Arcdux Lugwin, Yang Mulia." Nata menjawab.


"Menjemputnya?"


"Benar. Setelah ini saya bersama Lily dan Val akan menggunakan Batu pemindah untuk langsung menuju ke posisi Arcdux Lugwin berada."


"Oh, jadi ini alasan kenapa kau buru-buru meninggalkan Wilayah Pusat? Kau takut aku akan melarang dan menghalangimu pergi?" Terdengar emosi tertahan dalam suara Lucia.


"Apa kau sadar kemungkinan bahwa kau akan memasuki medan perang, Nat?" Suara perempuan itu mulai meninggi.


"Saya menyadari hal tersebut Yang Mulia. Karena itulah saya akan ditemani oleh Lily dan juga Val." Nata mencoba menenangkan ratu muda itu.


"Meskipun begitu tetap saja itu hal yang sangat berbahaya, Nat." Lucia masih terdengar kuatir meski kali ini jauh lebih tenang.


"Dan bagaimana kau bisa tahu dimana Lugwin berada sekarang ini?" tanya perempuan itu kemudian.


"Sekarang Aksa sedang melacak posisi Arcdux Lugwin berdasar dari Telepon Sihir miliknya." Nata menjawab.


"Lalu kenapa kau tidak datang bersama beberapa prajurit? Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?"


"Saya... Maksud saya, kita tidak boleh sampai kehilangan Arcdux Lugwin. Kita memerlukan... saya memerlukan beliau untuk menjalankan rencana saya kedepannya." Nata menjelaskan alasan dari rencananya yang terkesan ceroboh itu.


"Dan saya memang sengaja menghindari datang dengan kekuatan besar, terutama atas nama Rhapsodia, untuk mengurangi munculnya masalah bagi Arcdux Lugwin di kemudian hari," tambah pemuda itu kemudian.


Lucia terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan tersebut. "Baiklah kalau begitu. Kabari aku setelah kau selesai dengan rencanamu," ucapnya kemudian mencoba setuju dengan keputusan pemuda itu.


"Baik Yang Mulia akan saya lakukan." Nata menjawab. "Oh, dan satu lagi," ucapnya lagi menyusul.


"Apa?"


"Mohon persiapkan pasukan untuk dapat digerakan sewaktu-waktu. Kita akan memanfaatkan situasi ini untuk mengambil alih sisi selatan dari dataran utara yang berbatasan langsung dengan wilayah kita," ucap Nata kemudian.


"Maksudmu, kita akan terang-terangan menyerukan perang pada Sefier?" Lucia memastikan.


"Tapi, bukankah itu akan membebani pengeluaran kita. Permasalahan di perbatasan selatan saja belum selesai." Lucia terdengar ragu.


"Hal itu masih dapat kita usahakan. Lebih baik kita mengalami beban untuk beberapa waktu dari pada terlambat. Karena saya punya firasat buruk tentang kerajaan baru itu." Nata membalas.


Tak terdengar jawaban langsung dari Lucia. Nata tahu pemimpin muda itu sedang bimbang.


"Ini juga akan membantu Arcdux Lugwin ketika beliau berniat untuk melancarkan serangan mengambil kembali wilayah Estrinx." Nata kembali memberikan alasan untuk meyakinkan Lucia.


"Baiklah, Nat." Lucia pun akhirnya menentukan sikap.


"Aku mengerti. Aku akan mempersiapkan pasukan di Gerbang Utara untuk siap bergerak," lanjutnya setuju dengan rencana Nata.


"Terima kasih Yang Mulia. Kalau begitu saya akan menghubungi Yang Mulia untuk rencana lebih lanjut."


"Baik, berhati-hatilah, Nat."


Dan panggilan pun berakhir.


.


"Tuan Moor, tuan Solas, nona Kanna, maafkan saya karena merepotkan anda sekalian dengan masalah ini."


Kini Nata sudah bersama Moor, Solas, dan Kanna di ruang tamu kediaman Moor. Menunggu Aksa menyelesaikan modifikasi terhadap Batu Arcane bersama Yvvone dan Ymone, juga menanti Lily dan Val yang tengah melakukan persiapan.


"Tak perlu sungkan, Nat." Pemimpin Marga Azuar itu berucap.


"Apa kami juga perlu ikut, tuan Nata? Anda hendak menuju ke wilayah Estrinx bukan? Saya yakin wilayah itu pasti akan seperti medan perang serkarang ini," ucap Solas menawarkan bantuan.


"Benar, seperti situasi di wilayah pusat 6 tahun lalu." Tiba-tiba terdengar suara Luque dari arah pintu masuk. Terlihat Rafa, Lily, dan juga Val bersamanya.


Tampaknya persiapan kedua legenda perang itu sudah selesai.

__ADS_1


"Terima kasih, sebelumnya. Tapi saya akan ditemani oleh Lily dan juga Val," balas Nata seraya menunjuk ke arah dua penjaganya yang baru saja masuk. "Jadi saya yakin akan keselamatan saya," tambahnya dengan percaya diri.


"Saya tidak meragukannya bila anda ditemani oleh tuan Val dan nona Lilian." Kali ini Kanna yang berucap.


"Tapi lebih banyak orang lebih baik, bukan?" sahut Luque menimpali.


"Memang benar nona Luque. Tapi sayangnya rencana ini mengharuskan sedikit orang agar hasilnya sempurna." Nata mencoba menjelaskan.


"Kalau itu memang sudah termasuk dalam rencanamu, ya baiklah," balas Luque yang terlihat mau mengerti.


"Tapi ada hal yang ingin saya minta kepada tuan Moor dan para Elf lainnya." Nata menambahkan.


"Apa itu?"


"Kita perlu untuk memperingatkan banyak pihak mengenai masalah ini. Mungkin hanya firasat saya saja, namun kekacauan ini bukanlah puncaknya. Saya yakin akan datang sesuatu yang lebih membahayakan banyak pihak bila Sefier tidak segera dihentikan."


"Ya, aku juga sedikit banyak berpikir seperti itu. Tapi jangan kuatir. Meski tanpa diminta pun kami sudah berencana untuk membentuk sebuah aliansi antar Elf dan Yllgarian," ucap Moor yang menjawab permintaan dari Nata


"Baguslah kalau memang begitu. Semoga kita belum terlambat," ucap Nata sedikit lebih lega.


-


Tak lama kemudian datang Aksa, Yvvone, dan Ymone setelah beberapa saat sebelumnya Moor meninggalkan ruang tamu tersebut untuk menghadiri pertemuan warga.


"Ini Nat."


Aksa menyerahkan sebuah kotak kayu berbentuk persegi pipih seukuran 2 telapak tangan.


"Apa itu?" Yvvone yang tidak menyadari Aksa membawa kotak itu bertanya penasaran.


"Ini senjata rahasiaku," jawab Aksa dengan nada yang dibuat-buat dramatis.


"Senjata rahasia? Tapi ukuran benda itu tidak seperti senjata rahasia yang aku tahu." Yvvone terlihat bingung.


"Ini senjata rahasia Ultimate. Beda dari yang itu." Aksa menjawab dengan nada sedikit sombong.


"Kau membuat senjata lain yang tidak ku ketahui?" Terdengar Yvvone tidak terima.


"Tak perlu kuatir. Senjata ini tidak akan bisa digunakan oleh siapapun kecuali kami." Aksa mencoba untuk membuat Yvvone tenang.


"Benarkah? Kau bisa membuat senjata khusus untuk kalian yang bahkan tidak memiliki Aliran Jiwa?" Sedang Yvvone terlihat sangsi akan ucapan Aksa barusan.


"Kenapa bicaramu seperti meremehkanku? Aku ini utusan dewa, apa kau lupa? Kalau cuma perkara kecil seperti ini saja gampang," balas Aksa yang terdengar tidak terima dipandang sebelah mata oleh Yvvone.


"Sudahlah Aks, kita sudah tidak ada waktu lagi," sela Nata memotong perdebatan Aksa dan Yvvone.


"Ya, baik-baik. Ini Batu Arcane yang sudah disingkron dengan posisi Telepon Sihir milik Arcdux sebagai tujuannya," ucap Aksa seraya menyerahkan Batu Arcane yang bentuk dan ukurannya berbeda dengan Batu Arcane pada umumnya. Sedikit lebih besar dengan lebih banyak simbol terpahat di sekelilingnya.


"Terima kasih." Nata menerima batu kristal tersebut.


"Ya, berhati-hatilah," ucap Aksa kemudian.


"Dan ingat, jangan menggunakan senjata itu tanpa limiter. Juga pastikan tidak ada orang setidaknya 1 meter di sekitarmu saat kau menggunakannya. Karena bisa berakibat fatal," lanjutnya mewanti-wanti.


"Kalian juga harus ingat itu, Val, Lily." Kali ini ditujukan kepada dua penjaganya.


"Ya, kami mengerti bagaimana benda itu bekerja. Jadi jangan kuatir." Lily menjawab.


"Aku juga tidak akan menggunakannya bila tidak terdesak." Sekali lagi Nata memastikan agar sahabatnya itu merasa lebih tenang.


"Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat," lanjut Nata kemudian seraya membanting Batu Arcane khusus tadi ke lantai.


Tak lama munculah lingkaran cahaya berwarna ungu yang membesar dengan cepat.


Lily yang pertama melompat masuk. Untuk memastikan situasi di seberang lingkaran. Baru setelah itu Val, dan kemudian disusul Nata yang paling akhir.


-

__ADS_1


__ADS_2