Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
16. Persiapan Bertahan


__ADS_3

"Pagi tadi rombongan yang dipimpin langsung oleh tuan Matyas sudah menuju ke wilayah Lighthill dari Jurang Besar dengan menggunakan Kapal Udara kita yang baru." Amithy membuka pertemuan mereka pagi itu di kediaman keluarga Ignus yang lama di Kota Varun.


"Berarti sekarang kemungkinan mereka sudah mulai bekerja?" Orland menimpali dari sebelah Aksa di depan meja makan panjang.


Mereka bertujuh, Aksa, Nata, Liliy, Val, Lucia, Amithy, dan Orland, memang baru saja selesai sarapan pagi di tempat tersebut.


"Benar, Tuan Orland. Rencananya mereka akan langsung memperbaiki jalur kereta yang menghubungkan Kota Mara dan Kota Randon," jawab Nata kemudian. "Sementara pekerja kita yang disini akan membuat jalur kereta baru untuk menyambungkannya ke kota ini tanpa perlu melewati wilayah Ceodore."


"Semoga pekerjaan mereka lancar." Amithy berharap.


"Berarti kita tinggal mengambil alih Ravus, dan jalur kereta yang menghubungkan dengan pertambangan Trava akan tersambung." Kali ini Aksa yang menyahut. Terlihat ia masih menguyah makanan dalam mulutnya.


"Kau bicara seolah mengambil wilayah seperti sedang memberi nama pada peta saja," sahut Orland menanggapi celetukan ringan Aksa.


"Utusan dewa itu memang harus membawa vibe optimistik, tuan Orland," jawab Aksa masih terlihat cuek menguyah makanan. "Lagian kau memang berencana mengambil wilayah Ravus setelah ini kan, Nat?" tanyanya kemudian kepada Nata.


"Itu benar. Beberapa hari lagi, kita akan mulai mengambil alih wilayah Ravus. Sebelum Visuralle mulai benar-benar bergerak." Nata membenarkan ucapan Aksa.


"Harusnya sekarang ini Vistralle sudah menerima surat peringatan dari kita," ucap Orland menyambung perbincangan.


"Ya, kurasa bagi Vistralle surat itu bukanlah surat peringatan. Tapi surat tantangan." Amithy mengutarakan pendapatnya.


"Tapi kalau menurutku, Vistralle tidak akan bertindak seperti Tyrion yang mudah terpancing kemarahan. Kurasa orang itu akan memikirkan dengan matang bagaimana ia akan bergerak." Lucia pun ikut mengutarakan pemikirannya.


"Saya juga berpendapat seperti itu, Yang Mulia. Dan memang, salah satu tujuan dari surat itu adalah, supaya Vistralle merasa bahwa ini adalah cara kita untuk memprovokasi kemarahannya," ucap Nata memberikan tanggapan. "Dengan begitu ia akan bertindak tenang dan mencoba memikirkan cara lain untuk menghadapi kita. Hal itu akan memberi kita cukup waktu untuk menyelesaikan segala yang kita perlukan," tambahnya memberikan alasan.


"Oh, begitu rupanya, aku mengerti sekarang." Orland menjawab sambil mengangguk kecil. Diikuti oleh Lucia dan Amithy.


Sementara Lily dan Val hanya memperhatikan perbincangan itu dalam diam.

__ADS_1


-


Di saat yang bersamaan di Kota Mara. Para penduduk bersama prajurit Rhapsodia mulai membangun kembali gerbang-gerbang kota tersebut.


"Aku masih tidak percaya kalau Randon, Kota Benteng peninggalan Elf Marga Gnior itu bisa hancur dengan senjata buatan manusia?" Karka menggelengkan kepala di tengah kegiatannya mengangkat balok-balok batu bersama Guanna. Mereka ikut membantu membangun kembali gerbang utara.


"Pasukan yang melakukan serangan ke Kota Randon menggunakan Kereta Penghancur yang dapat menembakkan peluru berimbuh sihir," jawab Vossler dari sebelah Karka yang kini terlihat sedang menarik tambang untuk mengangkat kerangka kayu pintu gerbang.


Vossler terlihat seperti pria biasa di antara para pekerja saat tidak mengenakan pakaian kesatrianya.


"Apakah kalian tidak akan mengirim kereta-kereta itu kemari?" tanya Karka lagi yang terlihat mengusap peluh di dahinya. "Karena dari semua wilayah, tempat inilah yang paling membutuhkannya. Secara, sekarang ini kita benar-benar berada di tengah wilayah musuh.


"Ceodore di utara, Feymarch di barat, Saronia di selatan, dan Ravus di tenggara," jelasnya panjang lebar.


"Tidak perlu kuatir. Setelah jalur Kereta Uap selesai dibenahi, maka pergerakan pasukan dan peralatan tempur, serta pengiriman bahan makanan ke tempat ini, akan jauh lebih mudah dan cepat." Vossler memberikan jawaban untuk mengurangi kekuatiran Karka dan orang-orang yang mendengarkannya.


"Ya, aku tahu itu ide yang tidak masuk akal. Tapi..." Belum selesai Vossler berucap, Karka memotong.


"Pasti ide dari dua pemuda aneh itu?" tebak pria berambut cepak itu.


"Benar. Bahkan pagi tadi, para pekerja sudah memulai pekerjaan mereka dari Kota Randon," ucap Vossler kemudian. "Mungkin malam nanti para pekerja akan tiba ditempat ini," tambahnya lagi.


"Dan sepertinya kita harus benar-benar berharap mereka tiba di tempat ini malam nanti." Tiba-tiba muncul Versica dari belakang mereka. "Karena menurut kabar dari jaringan informan yang ada di Saronia dan Feymarch, pasukan mereka sudah mulai berbaris meninggalkan kota."


"Apa kau sudah mengabarkan hal tersebut kepada Jendral Caspian juga?" tanya Vossler seraya menyeka keringat di dahinya.


"Sudah. Tadi sebelum aku kemari." Versica menjawab cepat.


"Baguslah. Berarti kita tak perlu terlalu mengkuatirkan tentang hal tersebut. Sekarang kita lakukan saja tugas dan pekejaan kita, sambil tetap bersiaga menanti para pekerja tiba," jawab Vossler dengan tenang seraya kembali menarik tambang di hadapannya.

__ADS_1


-


Malam harinya di Kota Varun, Nata mendapatkan kabar dari Vossler bahwa jalur kereta antara Kota Mara dan Kota Randon sudah selesai diperbaiki. Dan pekerja di bawah pimpinan Matyas akan beristirahat semalam, sebelum besok paginya mulai membantu membangun kembali gerbang kota dan perlindung lain yang dibutuhkan.


"Sudah saya kira mereka pasti akan menggerakkan pasukan untuk menyerang wilayah Margrace," tanggap Caspian saat sedang membicarakan tentang pergerakan pasukan Vistralle.


Akas, Nata, Lucia, Caspian, dan para pemimpin kembali mengadakan pertemuan di tenda terbuka di tengah perkemahan tak lama selepas makan malam.


Tampak aktifitas penduduk di sekitar perkemahan itu sudah mulai terlihat hidup. Lampu-lampu baru yang jauh lebih terang sudah terpasang di seluruh kota, setelah para pekerja selesai memasang Generator Listrik siang tadi.


"Ya, sudah pasti ia akan melakukannya. Tapi tidak saya sangka akan secepat ini," ucap Nata sambil sesekali mengamati kesibukan di sekitar tenda itu.


"Apa jangan-jangan kau memang sengaja menjadikan Margrace sebagai pancingan agar diserang, Nat?" tanya Lucia kemudian.


"Tidak juga, Yang Mulia. Secara nalar hal ini memang adalah keputusan yang paling masuk akal yang akan diambil oleh kebanyakan orang." Nata menjawab.


"Tapi mungkin cara itu akan dipikirkan ulang bila saja Vistralle tahu bahwa kita memiliki Kapal Udara yang dapat menurunkan ratusan pasukan di manapun dan kapanpun. Yang tanpa memperdulikan adanya Formasi Sihir pengacak Aliran Jiwa," sahut Aksa menambahi.


"Ya, itu benar." Nata membenarkan ucapan sahabatnya itu. "Kapal Udara memang bukan hal yang alami ada di dunia ini. Jadi untuk ikut memasukannya dalam kemungkinan serangan kita, sangatlah mustahil."


"Memang menyembunyikan keberadaan Kapal Udara itu adalah pilihan yang sangat bagus." Caspian terlihat mengangguk kecil.


"Sekarang kita hanya tinggal tunggu sampai pasukan mereka tiba di perbatasan wilayah Margrace. Sebelum kita memulai serangan balik ke wilayah mereka," ucap Nata menambahi.


.


Kemudian sisa pertemuan pun dihabiskan dengan Aksa yang membicarakan tentang rencana pembangunan, dan Nata yang membicarakan tentang strategi penyerangan.


-

__ADS_1


__ADS_2