
Setelah kedatangan rombongan Aksa dan Nata, pembangunan perkemahan lebih layak huni untuk 150 keluarga yang kehilangan rumah itu pun dilakukan di wilayah timur Kota Varun. Di salah satu area bekas kebakaran yang sudah di bersihkan.
Disamping itu, dimulai juga pembangunan Menara Antena untuk Radio Komunikasi, serta pembangunan pos-pos penjagaan di wilayah timur yang berbatasan dengan tanah bebas Azure.
Para pekerja dan Penyihir Pembangun terlihat mulai sama sibuknya dengan para prajurit semenjak mereka tiba di kota itu.
Sementara Aksa dan Nata mengadakan pertemuan dengan Lucia, Orland, Amithy, dan orang-orang lama yang dulunya bekerja dibawah kepemimpinan Mateus. Untuk mulai membicarakan tentang pembangunan kota yang rencananya akan dijadikan sebagai kota markas selama penyerangan ini.
-
"Kalian pasti mengingat Samuel, kan? Pelayan keluarga Ignus," ucap Orland memperkenalkan ulang seorang pria Morra setengah baya yang duduk di ujung meja dalam tenda pertemuan.
"Ya, meski sudah lima tahun berlalu, anda tidak terlihat betambah tua sama sekali, Tuan Samuel." Nata menjawab dari sebelah Aksa dihadapan Orland.
"Tidak ada bedanya dengan anda berdua, tuan Aksa, tuan Nata. Sebelumnya saya sempat tidak percaya saat mendengar anda berdua kembali. Tapi syukurlah kalian benar-benar telah kembali," jawab Samuel terlihat lega.
"Lalu kenapa anda masih berada di wilayah ini selama lima tahun ini? Bukankah keluarga Ignus lainnya sudah berada di wilayah pusat?" sahut Aksa dengan pertanyaan.
"Keluarga saya adalah abdi keluarga Ignus secara turun temurun. Dan salah satu tugas utama kami adalah merawat para leluhur keluarga Ignus," jawab Samuel menjelaskan.
"Merawat leluhur? Maksud anda makam mereka?"
"Benar. Meski terkesan aneh, namun almarhum Tuan Mateus juga di makamkan di wilayah ini. Di pemakaman khusus keluarga Ignus di barat laut kota ini."
"Apa penguasa wilayah ini yang baru tidak mempermasalahkan tentang hal tersebut?" Kali ini Nata yang terlihat penasaran.
"Untunglah bangsawan Gall orang yang menghargai adat kebangsawanan. Jadi ia tidak terlalu memperdulikannya selama saya tidak memasuki Kota Varun," jawab Samuel lagi.
"Jadi anda tinggal di area pemakaman itu?"
"Benar. Kami punya rumah layak huni di area tersebut. Nyonya Zanda selalu mengirimkan kebutuhan saya tiap bulannya melalui kenalan Nona Versica yang berada di Kota Varun," jelas pria Morra itu dengan senyuman penuh syukur.
"Bibi Zanda dan Eureka akan kemari beberapa minggu lagi. Setelah semuanya benar-benar sudah aman," sahut Lucia memberi tambahan informasi.
"Syukurlah. Akhirnya Nyonya dan Nona Muda bisa mengunjungi makan Tuan Mateus setelah sekian lama," balas Samuel dengan mata yang mulai terlihat berkaca-kaca karena haru.
"Dan mulai sekarang kau akan tinggal di sini untuk membantu membangun wilayah ini, Sam." Kali ini Amithy yang berucap memberi perintah pada Samuel.
"Saya siap melakukannya, Nyonya Amithy. Dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantu membangun kembali wilayah ini?" ucap Samuel yang terlihat bersemangat mendapatkan perintah tersebut.
__ADS_1
"Tidak perlu terburu-buru, Tuan Samuel." Nata menyahut. "Pembangunan kota akan dimulai seminggu lagi setelah pembuatan jalan dari wilayah pusat ke kota ini, beserta pengamanannya telah selesai dilakukan," tambahnya menjelaskan.
"Oh, baiklah. Saya mengerti, Tuan Nata." Samuel mengangguk cepat.
"Nantinya jalur kereta dari kota ini menuju ke selatan juga akan diperbarui. Namun setelah Aksa selesai memastikan wilayahnya." Nata kembali berucap.
"Siang nanti aku dan Lily akan melakukan pemeriksaan wilayah dengan menggunakan Drone. Sekaligus untuk membantu merencanakan pembangunan wilayah ini ke depannya," sahut Aksa menambahi ucapan sahabatnya.
"Tapi bagaimana dengan wilayah Lighthill?" tanya Orland yang terlihat kuatir. "Bukankah kita perlu melewati wilayah mereka bila ingin menuju ke selatan tanpa melewati wilayah Coedore?"
"Tidak perlu kuatir, Tuan Orland. Malam nanti pasukan yang dipimpin oleh Jendral Wedge akan mulai melakukan penyerbuan ke wilayah Lighthill." Nata menjawab.
"Benarkah? Secepat ini?"
"Kita memang harus bertindak dengan cepat dalam serangan kali ini, Paman." Lucia ikut menambahi penjelasan Nata.
"Dan bila informasi yang saya terima benar, maka sekarang ini pasukan Augra di wilayah Lighthill tidak akan mendapatkan bantuan, bahkan dari wilayah Ravus sekali pun." Kembali Nata memberi penjelasan.
"Bagaimana bisa?" Orland terlihat mengerutkan keningnya.
"Karena Nona Helen dan Pasukan Elit yang berada di sekitaran wilayah Ravus itu berhasil mencegat semua Pengirim Pesan dari wilayah Lighthill menuju ke Ravus dan wilayah Augra," jelas Nata kemudian.
"Oh, begitu ternyata. Itu berita yang sangat bagus." Kali ini kelegaan terlihat di wajah Orland.
"Jadi jadwal pembangunan yang sudah kita buat sebelumnya tidak akan berubah, Tuan Orland," ucap Nata lagi.
"Ya, aku mengerti."
"Lalu, bagaimana dengan surat peringatan untuk Vistralle, Yang Mulia?" Kali ini Nata bertanya kepada Lucia mengenai topik yang lain.
"Pagi tadi surat tersebut sudah dibawa oleh Pengantar Pesan yang berangkat bersama pasukan Biggs ke barat," jawab Lucia kemudian.
"Bila Pengantar Pesan menggunakan kuda, mungkin surat tersebut baru akan sampai di kota Dios sekitar satu setengah hari lagi." Samuel menambahkan dengan informasi yang lebih rinci.
"Satu setengah hari, ya? Berarti kita masih memiliki waktu untuk membangun jalan dari Lighthill ke Margrace, kalau memang benar pasukan tuan Wedge berhasil mengambil alih wilayah itu malam ini." Aksa menyahut.
"Benarkah?" Kali ini Lucia, Orland, dan Amithy bertanya nyris bersamaan.
"Menurut gambar udara yang ku ambil beberapa bulan yang lalu, tampaknya kerusakan jalur kereta di wilayah itu tidak terlalu parah. Harusnya para pekerja kita bisa memulihkannya dalam waktu sehari saja." Aksa memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Tapi perlu setengah hari perjalanan dengan kereta besi dari kota ini menuju wilayah Lighthill," ucap Lucia yang kemudian ia hentikan mendadak. "Oh, kecuali kita menggunakan Kapal Udara," tambahnya yang terlihat baru saja teringat akan hal tersebut.
"Oh, benar juga. Hanya perlu waktu kurang dari 1 jam bila kita menggunakan Kapal Udara." Orland menambahi.
"Benar. Harusnya besok pagi, Kapal Udara kita yang kedua sudah dapat digunakan," jawab Aksa kemudian.
"Benar, kah? Ini berita baik." Terlihat Orland kembali memasang senyuman di wajah.
"Maaf, tapi apa itu Kapal Udara?" Samuel terlihat tidak bisa mengikuti tema pembicaraan kali ini.
-
Malam harinya, penyerangan ke Kota Randon, kota pemerintahan wilayah Lighthill pun dimulai.
Kali ini pasukan Rhapsodia tidak akan ragu menggunakan Kereta Penghancur untuk menggempur benteng kota.
Meskipun Prajurit Augra yang berada di wilayah Ravus tidak akan digerakan untuk membantu wilayah Lighthill, karena gagalnya pengiriman pesan, namun tetap saja informasi yang didapat dari mata-mata Rhapsodia di wilayah Lighthill cukup terbatas.
Jadi untuk mengantisipasi resiko adanya kekuatan yang disembunyikan oleh pihak Augra, seperti senjata rahasia atau pasukan tambahan yang luput dari pantauan para mata-mata, maka pilihan untuk mengambil alih kota dengan kekuatan penuh adalah yang paling baik.
Meskipun harus merusak kota, atau bahkan harus mengorbankan beberapa penduduk.
-
Penyerbuan ke kota Randon adalah yang paling cepat dari semua penyerbuan yang pernah dilakukan oleh Pasukan Rhapsodia. Namun meski begitu, penyerbuan itu merupakan penyerbuat paling menakutkan yang pernah di alami oleh Pasukan Augra.
Karena puluhan peluru sihir dari 8 Kereta Penghancur menghujani tembok benteng kota selama 1 jam penuh, nyaris tanpa jedah. Yang mengakibatkan robohnya satu sisi benteng pada akhirnya.
Bahkan sebelum sempat Pasukan Rhapsodia menyerbu masuk, Prajurit Augra hanya tersisa setengah dari jumlah sebelumnya.
Sebagian tidak selamat dalam penyerangan Kereta Penghancur, dan sebagian lainnya kabur melarikan diri karena merasa tidak memiliki peluang menang melawan pasukan Rhapsodia tersebut.
Dan kali ini Nata memerintahkan Helen dan Pasukan Elit untuk membiarkan para prajurit yang melarikan diri itu memasuki wilayah Ravus. Agar mereka dapat mengabarkan kekuatan dari Kereta Penghancur yang mereka lihat saat mengempur tembok Kota Randon ke rekannya yang lain di wilayah tersebut.
-
Pagi harinya, Wedge menghubungi Kota Varun untuk melaporkan keberhasilan dari serangannya malam sebelumnya. Kemudian mulai bersiap menjalankan Kereta Tempurnya ke selatan. Empat ke perbatasan Augra dan empat lagi ke perbatasan Ravus.
Sedang bersamaan dengan itu, Kapal Udara kedua miliki Rhapsodia pun siap diluncurkan.
__ADS_1
-