Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
29. Percakapan Malam VII


__ADS_3

Karena mendapatkan banyak kendala akhirnya Aksa pun harus rela membatalkan pesta yang ingin ia buat. Dan pada malam berikutnya mereka berenam, Aksa, Nata, Rafa, Luque, Lily, dan Val kembali berkumpul untuk sekedar berbincang di dalam tenda sambil menikmati teh yang sudah cukup lama tidak mereka lakukan.


"Sekarang para pekerja peracik obat sudah cukup terbiasa dan semakin terampil. Bahkan sudah tidak perlu lagi pengawasan dari kami maupun Nona Ellian," ujar Rafa sembari menata ulang barang di dalam lemari di ujung ruangan.


"Baguslah. Karena sebentar lagi mungkin kita akan melakukan pembuatan obat dengan cukup masal," timpal Nata dari sofa tengah di sebelah Val. "Karena dari kabar yang ku dengar, wilayah Cirrus sedang dilanda wabah penyakit saat ini," tambahnya.


"Saya juga mendengarnya dari para pengerajin yang sering berpergian ke luar tembok benteng," balas Rafa yang masih terlihat sibuk menata ulang. Kali ini bahan makanan di lemari sebelahnya.


"Dan bicara tentang pengerajin, sepertinya mereka dan para pekerja sudah mulai terbiasa dengan alat-alat elektronik dalam membantu pembuatan barang mereka," sahut Aksa ikut andil dalam pembicaraan dari sofa-ranjang nya di seberang ruangan. Setengah terebah di samping Luque yang terbalut selimut.


"Benar, dan hal itu berdampak pada lebih cepat dan murahnya pembuatan sebuah barang." Val menambahi ucapan Aksa.


"Ya meski sekarang ini tidak akan terlalu berdampak besar karena mereka hanya menyediakan barang untuk wilayah pusat saja. Tapi akan terasa bila perdagangan sudah kembali dibuka," ucap Nata menanggapi.


"Dan untuk pekerjaan membuka jalan di lereng gunung Sekai sekarang ini juga sudah selesai dilakukan." Rafa kembali memberi penjelasan. "Dari yang saya dengar, saat ini para pekerja sudah mulai membangun fasilitas di beberapa tempat untuk mempermudahkan para penggunanya nanti," lanjutnya.


"Wah, aku jadi tidak sabar untuk melihatnya," balas Aksa yang mulai terlihat bersemangat. "Kelak akan ku buat tempat rekreasi terbaik. Tempat hiburan berkelas yang pernah ada di daratan Elder ini," tambahnya dengan menggebu-gebu.


"Tempat hiburan berkelas? Apa itu seperti Distrik Merah?" Tiba-tiba saja Lily bertanya dari depan Laptop di hadapan Nata. Yang tampak ia sengaja untuk menggoda yang lain.


"Nona Lily!" Serentak Rafa dan Luque berteriak sedikit jengkel kepada Lily.


"Distrik merah? Jelas lebih baik berkali-kali lipat dari tempat itu," jawab Aksa cepat. Pemuda itu tidak menghiraukan maksud dari pertanyaan Lily yang hanya sekedar untuk gurauan. "Tapi mungkin tidak akan semenguntungkan Distrik Merah itu," lanjutnya lagi.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong tentang hiburan, sepertinya acara radio yang biasa disiarkan tiap paginya itu kini sudah mulai beragam dan menjadi acara hiburan paling digemari di wilayah pusat ini?" tanya Nata yang bermaksud membantu Rafa dan Luque untuk merubah topik pembicaraan dari tempat hiburan tersebut.


"Benar," sahut Rafa cepat. "Disamping sebagai sarana penyampai berita dan informasi, radio yang disiarkan di berbagai tempat di seluruh wilayah ini, sering diisi dengan lagu-lagu dan perbincangan ringan beberapa orang," jelas perempuan itu kemudian.


"Aku suka saat Tuan Elcid yang mengisi perbincangannya," sahut Luque yang mulai terlihat bersemangat. "Dia orangnya sangat konyol. Dan cara bicaranya itu sangat menghibur," lanjutnya lagi dengan berseri-seri.


"Apa kalian mulai membuat Podcast? Aku jadi ingin mendengarkannya." Kini terlihat Aksa mulai ikut tertarik dan bersemangat.


"Coba dengarkan, Aks. Besok lusa jam 9 pagi," balas Luque dengan antusias.


"Oke!" Aksa mengarahkan jempolnya ke Luque.

__ADS_1


"Lalu, apa ada dari kalian yang menirima berita dari Yvvone?" Kali ini Nata menanyakan topik yang berbeda lagi.


"Sampai saat ini kami belum menerima berita apapun dari Nona Yvvone," jawab Rafa yang sudah mulai duduk di sebelah Lily.


"Aku juga tidak mendapat berita apapun dari mereka," sahut Lily kemudian.


"Semoga mereka baik-baik saja," ucap Rafa yang kemudian dipotong oleh suara panggilan dari radio komunikasi.


.


Dan ternyata Constine lah yang melakukan panggilan tersebut. Untuk mengabarkan bahwa saat ini beberapa bangsawan dan penduduk dari Kerajaan Elbrasta sedang berkumpul di depan Gerbang Utara untuk mencari perlindungan dari perang saudara yang baru saja pecah di kerajaan tersebut.


Dan oleh karena Lucia dan Orland tidak berada di Wilayah Pusat, maka Cornelius memutuskan untuk mengundang Nata dan Aksa menghadiri rapat darurat dengan para anggota parlemen untuk membahas tentang masalah tersebut malam itu juga.


Dan dengan Kereta Besi, mereka berlima pun segera menuju ke kediaman Lucia di Kota Tengah. Aksa, Nata, Rafa, Luque, dan Lily.


Sedang Val memilih untuk tidak ikut. Ia kembali ke tendanya untuk mulai menyiapkan peralatan yang dipesan oleh Nata sebelumnya.


.


Setibanya rombongan Aksa dan Nata di ruangan pertemuan, terlihat sudah banyak orang yang menunggu kedatangan mereka di ruangan itu.


Dan tidak berlama-lama, pertemuan pun dimulai begitu Aksa, Nata, dan rombongannya duduk.


.


"Saya pribadi tidak setuju membiarkan mereka memasuki Wilayah Pusat ini. Meski sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang saya kenal," ucap Cornelius yang terlihat vokal menyuarakan pendapatnya. "Karena saya tidak yakin dengan orang-orang selain itu. Bisa saja mereka mata-mata. Kita harus tetap waspada akan hal tersebut," lanjutnya.


"Ya, saya sependapat dengan tuan Cornelius. Sebesar kita ingin membantu mereka, tetap keamana wilayah ini tidak dapat kita pertaruhkan." Cedrik yang setuju dengan Cornelius itu segera ikut menambahi.


"Tapi yang saya dengar ada anak-anak dan wanita juga bersama mereka. Apa tidak lebih baik bila kita membiarkan anak-anak dan wanita untuk masuk?" Kali ini Anna yang mengajukan usulan.


"Saya tidak setuju. Bila memilih orang-orang tertentu untuk memasuki gerbang, maka yang lain tidak akan terima, dan mereka pasti akan menimbulkan masalah," balas Cornelius yang terlihat masih bersikeras dengan pendapatnya. "Jadi saya menyarankan untuk tidak membiarkan mereka semua melewati gerbang utara. Setidaknya sampai kita membicarakan hal ini lebih lanjut dengan Yang Mulia Ratu."


"Apa mereka sedang dalam pengejaran saat datang kemari?" tanya Nata kemudian.

__ADS_1


"Sampai saat ini mata-mata kita yang berjaga di sekitaran hutan di utara tidak melihat adanya prajurit atau serikat petarung menuju ke tempat ini, Tuan Nata." Cedrik menjawab dengan cepat.


"Namun, meski begitu kita tidak bisa membiarkan atau bahkan mengusir mereka, kan? Karena saya yakin sebagian besar dari mereka pasti benar-benar memerlukan bantuan kita," ucap Fla ikut mengajukan pendapatnya.


"Benar, saya rasa mau bagaimana pun juga kita harus menolong mereka," sahut Anna menambahi.


"Hm... bagaimana kalau kita tampung mereka di luar gerbang?" ucap Nata memberi usulan.


"Kita tampung di luar gerbang?" Terdengar beberapa orang tidak mengerti dengan maksud ucapan Nata tersebut.


"Apa maksud anda adalah membiarkan mereka tinggal sementara di depan gerbang, dengan membuat semacam perkemahan?" Margaret bertanya memastikan.


"Benar. Kurasa itu adalah jalan tengah yang kita punya untuk sekarang ini. Kita bisa membuat perkemahan darurat di tempat yang dulu pernah kita gunakan saat hendak membangun tanah ini," jawab Nata mencoba menjelaskan rencananya lebih rinci.


"Seingatku tempat itu cukup aman dari hewan liar. Dan kecil kemungkinan untuk penyusup menyelinap masuk ke dalam gerbang, mengingat jaraknya yang cukup jauh dari tempat ini," tambah pemuda itu kemudian.


Semua orang terlihat diam sebentar. Mencoba untuk menimbang rencana dari Nata tersebut.


"Kita juga bisa menempatkan beberapa Kereta Tempur dan prajurit untuk berjaga dari kemungkinan adanya serangan kejutan." Nata melanjutkan penjelasannya. "Kita masih memiliki cadangan tenda dan peralatan sehari-hari, kan?" tambahnya kemudian dengan pertanyaan.


"Ya, kita masih punya cadangan yang cukup untuk setidaknya 100 orang di gudang Garnisun Utara." Constine menjawab.


"Baguslah kalau begitu. Kita juga masih memiliki bahan makanan untuk dibagikan, kan?" tanya Nata lagi.


"Ya, lumbung makanan di Desa Timur masih memiliki cadangan bahan pangan untuk setidaknya 300 kepala." Fla menjawab dengan cepat.


"Beres. Berarti kita bisa mengunakan jalan keluar yang ini," ucap Nata menutup penjelasan atas rencananya.


"Saya setuju dengan usulan Tuan Nata. Dengan begitu kita masih tetap bisa menolong mereka tanpa membahayakan wilayah ini." Anna tampak tersenyum puas dengan rencana yang diusulkan Nata itu.


"Ya, saya rasa cara ini bisa kita lakukan." Cornelius pun terlihat mulai menerima usulan tersebut. "Baiklah. Berarti sudah kita putuskan untuk saat ini kita akan mengunakan rencana dari Tuan Nata," ucapnya kemudian yang tidak ditentang oleh siapapun. "Kalau begitu pertemuan kali ini kita sudahi."


Dan kemudian semua orang mulai bangkit berdiri dari bangku mereka dengan nyaris bersamaan.


"Terima kasih Tuan Nata. Setelah ini saya akan menemui orang-orang itu dan menawarkan rencana ini pada mereka," ucap Cornelius sebelum meninggalakan ruangan pertemuan.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan, Tuan Cornelius. Dan semoga mereka baik-baik saja," balas Nata sebelum mereka berpisah jalan di luar koridor.


-


__ADS_2