Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
22. Hadiah Dari Teman


__ADS_3

"Mengadakan pertemuan dengan anda sekalian di tempat ini membuat saya mengingat kejadian lalu. Saat pertama kali kita bertemu," ucap Nata saat mereka sudah berada di ruang depan kediaman Lily yang lama.


"Benar. Dulu di tempat ini sang Oracle memberikan berkah terakhir beliau pada kerajaan ini melalu anda tuan Nata." Lugwin menjawab.


"Saya rasa semua itu hanyalah kebetulan saja Yang Mulia," balas Nata mengelak.


"Aku meragukan hal itu tuan Nata." Tampak Lugwin memiliki pemikiran lain mengenai hal tersebut.


"Berbicara tentang berkah," ucap Nata tiba-tiba. Seolah mencoba merubah suasana. "Tumpukan peti kayu yang di sebelah kanan itu adalah hadiah untuk Yang Mulia."


Terlihat di pekarangan kediaman teesebut sudah tertata rapi berpola tumpukan peti kayu yang selesai di keluarkan dari kereta.


Sedang yang ditunjuk Nata adalah tumpukan beberapa puluh peti kayu yang terbagi menjadi 3 bagian.


"Apakah itu tidak terlalu berlebih?" tanya Lugwin setelah melihat jumlah peti kayu yang diberikan Nata sebagai hadiah.


Karena bila dibanding dengan bawaan Nata yang asli yang hanya berjumlah 5 buah saja.


"Ini bukan hadiah resmi dari Rhapsodia. Karena saya tidak datang atas nama kerajaan. Saya datang secara pribadi, sebagai seorang 'Teman Lama', bila ungkapan itu diperbolehkan," ucap Nata kemudian.


Lugwin tersenyum lembut menatap Nata. "Anda memang adalah teman lama kerajaan ini," ucapnya menjawab.


"Jadi, semua ini adalah hadiah pribadi. Yang Mulia tidak berkewajiban untuk menolak karena merasa sungkan," lanjut Nata lagi.


"Padahal anda datang untuk berkunjung. Kenapa anda bersusah payah memberiku hadiah?" tanya Lugwin masih merasa sedikit tidak nyaman.


"Jangan salahkan sepenuhnya pada saya, Yang Mulia." Nata kembali berucap.


"Karena Aksa lah yang bersikeras menyarankan untuk memberikan hadiah sebagai ganti dari keberadaannya yang tidak bisa datang membantu Yang Mulia."


"Oh, tuan Aksa. Dari yang kudengan beliau berada di Hutan Azuar sekarang?" Lugwin kembali tersenyum saat mengingat Aksa.


"Benar. Dia sedang ada urusan dengan para Elf." Nata menjawab.


"Meski merasa sungkan dan tidak nyaman menerima hadiah dari anda sekalian, tapi tetap aku merasa sangat senang dan penasaran dengan hadiah tersebut," ucap Lugwin kemudian. Yang secara tidak langsung menerima pemberian Nata tersebut.


"Kalau begitu biar Loujze yang menjelaskan. Saya tidak tahu yang mana-mana saja isi peti kayu tersebut."


Nata menyerahkan tugas untuk menjelaskan itu kepada Loujze yang berdiri bersama rekannya yang lain di sebelah peti-peti tersebut.


"Jadi untuk peti kayu di ujung itu berisi makanan dan minuman instan. Yang bisa langsung disajikan hanya dengan bantuan air panas, Yang Mulia," ucap Loujze seraya menunjuk tumpukan peti kayu paling jauh.


"Kami akan mengajarkan cara penggunaannya setelah ini," lanjut Getzja itu lagi.


"Oh, Makanan Siap Saji khas Rhapsodia yang terkenal itu?" Terdengar Piere menyeletuk karena tidak dapat menahan rasa gembiranya.


"Lalu peti kayu yang itu berisi peralatan sehari-hari. Seperti peralatan makan, peralatan memasak, dan juga tenda serta lampu penerangan." Loujze kembali melanjutkan. "Cukup untuk beberapa keluarga," susulnya kemudian.

__ADS_1


"Benarkah? Lampu Penerangan? Benda yang dapat bersinar tanpa sihir itu?" Sekali lagi Piere tidak dapat menahan perasaan gembiranya mendapat hal-hal yang sudah lama ia ingin-inginkan itu.


"Lalu peti terakhir ini berisi berbagai jenis obat-obatan," tutup Loujze dengan tumpukan peti terakhir.


Lugwin menghembuskan nafas panjang setelah mengetahui hadiah yang dibawa oleh Nata tersebut.


"Dan anda bilang ini hadiah pribadi anda berdua. Tapi kesannya ini seperti bantuan darurat untuk para pengungsi," ucap Arcdux kemudian.


"Ya, kita memang harus memberi hadiah yang sesuai dengan kebutuhan, bukan?" balas Nata dengan ringan.


Mendengar ucapan tersebut membuat Lugwin tak kuasa untuk tersenyum. "Terima kasih, Tuan Nata. Terima kasih banyak. Dan sampaikan rasa terima kasihku pada Tuan Aksa," ucapnya kemudian.


"Maaf, Yang Mulia. Tapi semua barang-barang itu adalah hadiah dari saya. Sedangkan Aksa sendiri menghadiahi benda ini untuk Yang Mulia."


Terlihat Nata mengeluarkan benda yang ia sebut sebagai Telepon Sihir dari tas pribadinya yang berada di dekat Lily.


"Apa ini?"


Lugwin menerima kotak kayu berukuran dua jengkal pria dewasa dengan 2 corong aneh terpasang tidak simetri di salah satu sisinya.


"Alat komunikasi sihir yang dapat digunakan secara jarak jauh." Nata menjelaskan. "Aksa menyebutnya Telepon Sihir."


"Bukankah yang pernah saya dengar alat komunikasi wilayah Rhapsodia harus menggunakan tambang logam?" Lugwin terlihat membolak balikan benda tersebut.


"Ya mirip seperti itu. Tapi yang ini menggunakan sihir. Dan baru ada enam saja di dunia ini." Nata menjawab sekaligus menjelaskan.


Tatapan Lugwin terlihat menyelidik ke arah Nata.


"Bukan." Nata menjawab. "Aksa yang membuatnya," lanjutnya setelah ia jedah beberapa detik.


"Benarkah? Tuan Aksa sekarang bisa membuat peralatan sihir?"


Tak hanya Lugwin saja yang terkejut mendengar hal itu. Tetapi semua orang-orang Estrinx yang berada dalam tempat tersebut.


"Jadi apa itu sebabnya beliau berada di hutan Azuar bersama para Elf?" Matiu bertanya memastikan.


"Ya, kurang lebih," jawab Nata sebelum kembali memulai penjelasannya.


"Jadi Telepon Sihir ni hanya dapat menghubungi 5 alat pasangannya. Yang sekarang satu saya bawa, satu lagi dibawa Aksa, lalu satu dibawa Yang Mulia Lucia, dan sisanya ditinggal di Hutan Azuar."


"Apa boleh aku menerima barang penting seperti ini?" Lugwin terlihat sedikit kuatir setelah mengetahui lebih banyak tentang benda sihir tersebut.


"Benda ini tergolong Peralatan Mistik yang mungkin setara dengan kelas Strum," lanjut pemimpin wanita itu kemudian.


"Jangan pernah sebut alat ini sekelas Strum di hadapan Aksa, Yang Mulia. Dia akan besar kepala dan merasa setara dengan Val," sahut Nata memberi peringatan.


"Tapi saya pikir-pikir lagi memang benar apa yang dikatakan Yang Mulia Arcdux. Bahkan benda ini hanya ada enam di daratan ini." Kali ini Piere yang berucap.

__ADS_1


"Tapi sejatinya itu alat buatan Aksa. Jadi dia berhak memberikannya kepada siapapun yang dia mau. Bukankah begitu?" Nata menimpali.


"Lagi pula nantinya benda ini akan sangat berguna bila Yang Mulia mengerti maksud saya," lanjut pemuda itu kemudian.


"Ya. Baiklah aku akan menerimanya. Sekali lagi terima kasih. Kalian benar-benar sudah sangat baik padaku dan kerajaan ini. Hutang budi kami tak akan pernah bisa tuntas dibayar," jawab Lugwin kemudian.


"Mengutip kata Aksa, cukup bayar dengan makanan dan minuman gratis setiap kali kami berkunjung kemari," balas Nata.


"Kalian tak perlu kuatir tentang hal itu. Kalian bisa makan dan minum gratis sesuka kalian di kerajaan ini selama yang kalian mau," jawab Lugwin sambil tertawa kecil.


"Oh, dan juga jangan sampai Yang Mulia kehilangan Telepon Sihir tersebut. Karena alat sihir itu terhubung langsung dengan para Elf di Hutan Azuar, dan Yang Mulia Ratu Lucia di Rhapsodia." Nata menambahi dengan peringatan.


"Anda tidak perlu menguatirkan tentang hal tersebut," balas Lugwin cepat. "Benda ini akan kami perlakukan layaknya Pusaka Kerajaan."


-


Kemudian malam harinya terlihat Nata dan rombongannya tengah berbincang di ruang tengah kediaman Lily setelah makan malam.


Sementara Lugwin dan para pengikutnya beristirahat di penginapan di pusat desa.


"Jadi bagaimana rencana kalian untuk pulang ke Tirgis?" tanya Nata kepada trio pemburu.


"Tak perlu dikuatirkan. Rencana itu hanya selingan bila ada waktu saja," jawab Loujze.


"Jangan kuatir. Kalian akan ada banyak sekali waktu dalam beberapa hari kedepan," jawab Nata cepat.


"Karena beberapa hari ini aku pasti hanya akan disibukkan oleh pertemuan-pertemuan dengan Arcdux dan para pengikutnya. Aku akan membutuhkan kalian setelah itu," lanjutnya kemudian.


"Oh, baiklah bila memang begitu." Kali ini Deuxter yang menyahut. "Kami akan berangkat besok pagi. Dan kembali dalam beberapa hari lagi," ucapnya memberi keputusan.


"Kalau begitu hati-hati di jalan kalian," ucap Nata menjawab, sebelum kemudian melanjutkan pertanyaan ke tiga anggota Bintang Api.


"Sedang anda bertiga, apa rencana anda sekalian?"


"Mungkin beberapa hari lagi kami akan melakukan giliran untuk memeriksa keadaan Kapal Besi," ucap Axel menjawab.


"Namun untuk sekarang kami akan berada di sini bersama anda dan Nona Lily," lanjutnya mewakili kedua rekannya yang lain.


"Anda bisa ikut mereka berkunjung ke Tirgis." Nata memberi saran. "Karena pasti akan bosan berada di sini tanpa melakukan apapun."


"Bukan masalah. Kami akan meminta izin untuk berkeliling wilayah sekitar sini." Kali ini Sigurd yang menjawab.


"Ya, ada hutan cukup liar di sisi timur desa ini." Loujze menimpali.


"Itu akan membantu." Sigurd membalas. "Dan lagi kita tidak akan berlama-lama di tempat ini, kan?" susulnya dengan pertanyaan untuk Nata.


"Ya. Kita tidak akan lama berada di tempat ini. Tapi mungkin akan cukup lama di wiliyah ini," jawab Nata lebih kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


-


__ADS_2