
"Tapi bicara tentang 'musibah yang terjadi di era ini', apa yang dimaksud adalah digunakannya Alta Larma untuk hal buruk?" tanya Nata saat mereka tengah berbincang sambil makan malam bersama Moor dan rombongan yang lain.
"Mereka tidak pernah mengatakannya. Tapi bisa jadi, karena waktunya tepat sekali," jawab Moor setelah meletakan gelas minumnya.
"Bisakah anda menceritakan tentang mereka lagi, tuan Moor. Mungkin ada petunjuk yang ditinggalkan olah keturunan kami tentang bagaimana cara kami menghadapi Alta Larma nantinya," ucap Nata kemudian meminta dengan sopan.
"Mereka tidak berbicara apapun selain tentang pengetahuan Runic dan Formasi Sihir. Karena sebenarnya tujuan utama mereka adalah memperingatkan kami akan datangnya perang antar Marga dan apa yang harus dilakukan Nona Stellar terhadap Alta Larma," jawab Moor sekali lagi mengecewakan Nata.
"Oh, begitu ternyata," respon Nata dengan sedikit lesu. "Berarti kita akan mencoba untuk memeriksa Runic dan Formasi Sihir terlebih dahulu. Kemudian baru mencari cara untuk menghadapi Alta Larma setelahnya," susulnya kemudian.
"Besok akan kami siapkan semuanya," sahut Istar kemudian.
"Tapi apakah tidak apa-apa anda memberikan pengetahuan tersebut begitu saja pada kami?" Tiba-tiba Aksa menyela dengan pertanyaan. Yang mungkin juga pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh yang lain.
Terlihat Moor tersenyum ramah sebelum menjawab. "Pertama-tama pengetahuan tentang Runic ini bukanlah pengetahuan milik kami. Kami hanya diminta untuk menyimpannya oleh keturunan kalian."
"Oh, benarkah?" Aksa tampak terkejut. Tak ubahnya yang lain.
"Lalu kenapa anda begitu percaya dan mau mengikuti perintah mereka, tuan Moor?" tanya Nata kemudian.
"Karena kami, Marga Azuar, berhutang banyak kepada mereka," ucap pria Elf itu dengan cukup singkat namun seolah menjawab tentang banyak hal.
"Mendengar ucapan anda, sepertinya keturunan kami melakukan petualangan yang cukup menyenangkan," sahut Aksa kemudian.
Yang hanya ditanggapi Moor dengan tersenyum dalam diam.
-
Esok paginya Istar mengantarkan beberapa gulungan kertas dan kitab-kitab yang cukup tebal untuk Aksa dan Nata pelajari. Dan karena semua itu ditulis dalam tulisan Elf kuno, maka praktis hanya Aksa saja yang dapat membacanya. Selain para Elf tentu saja.
Dan tak sampai jam makan siang Aksa sudah selesai membaca semua kitab dan gulungan tersebut. Dan setelah makan siang ia mulai menulis ulang untuk menerjemahkan semua yang sudah ia baca dalam bahasa yang lebih umum digunakan.
.
__ADS_1
"Jadi bagaimana, Aks?" Nata bertanya saat ia mengunjungi Aksa di ruang baca sebelum makan malam.
Bersama dalam ruangan itu ada Rafa, Luque, dan Val yang membantu Aksa untuk menjelaskan istilah atau sifat dari Aliran Jiwa yang tidak ia mengerti selama proses penerjemahan.
"Ya, setelah melakukan penerjemahan maksud dan juga fungsi berdasar dengan Aliran Jiwa, sudah bisa kusimpulkan bahwa ini adalah Teknologi Sihir," jawab Aksa seraya menyerahkan gulungan kertas yang cukup lebar kepada Nata.
Di dalam gulungan itu tergambar pola Runic dan coretan serta tulisan penjelasan dari Aksa.
Nata membuka dan mulai membaca isinya. "Sebentar..." ucapnya kemudian. "Bukankah cara kerja ini mirip dengan sirkuit elektronik? Apa lagi yang bagian ini. Bukankah fungsinya mirip seperti transistor?"
"Benar. Material yang digunakan untuk menggambar dengan susunan seperti ini bila dialiri Aliran Jiwa, maka akan menjadi penghambat dalam kapasitas tertentu," jawab Aksa dengan penjelasan.
"Dan bila ditambah beberapa gambar lain dengan material seperti perak dan tembaga, maka akan menyimpan Aliran Jiwa selama beberapa waktu."
"Itu mau dilihat seperti apapun, jatuhnya adalah komputasi nyala-mati, kosong-isi," sahut Nata yang masih serius menatap gulungan di atas meja di hadapannya.
"Ya, seratus persen. Ini adalah kode binary." Aksa menjawab.
"Pantas saja Formasi Sihir itu tergolong peralatan sihir aktif yang dapat bergerak sendiri tanpa bantuan orang. Karena semuanya diatur oleh sirkuit ini." Nata kembali berucap.
"Prosesor?" tanya Rafa dari sebelah Aksa.
"Sebenarnya siapa yang menulis gulungan dan kitab-kitab itu?" Nata semakin terlihat penasaran.
"Konan katanya pengetahuan Runic itu diciptakan oleh Peradaban Leafcla. Namun tak pernah ada keterangan atau catatan sejarah tentang hal tersebut. Hanya saja, keberadaannya sudah ada sejak masa pertama. Pada saat Peradaban Leafcla berjaya." Tiba-tiba Solas muncul dari pintu masuk bersama Yvvone dan Kanna.
"Lalu dimana peradaban itu sekarang?" Nata kembali bertanya.
"Entahlah, tidak ada yang tahu. Semua catatan tentang peradaban Leafcla hilang seiring dengan jaman. Dan mitos menyebutkan peradaban mereka beserta seluruh kota dan warganya lenyap hanya dalam satu malam." Kali ini Kanna yang menjawab.
"Hanya Oracle saja orang yang hidup sejak era pertama. Yang mungkin mengetahui tentang kebenarannya," sahut Yvvone menambahkan.
"Itu berarti jalan buntu," ucap Aksa membalas.
__ADS_1
"Dan seiring dengan bangkitnya peradaban Pharos, pengetahuan tersebut mulai ditinggalkan. Dan tak banyak gulungan dan kitab tentang pengetahuan Runic yang tersisa." Solas kembali berucap setelah ia sudah berada di sebelah Nata ikut membaca gulungan milik Aksa.
"Malah mungkin pengetahuan yang disimpan di tempat ini adalah satu-satunya yang tersisa. Karena bahkan Perpustakaan Besar Marga Brafie saja tidak memilikinya," lanjut Elf berambut kuning kemerahan itu.
"Hm... jadi karena itu Formasi Sihir dan peralatan sihir aktif punya metode yang serupa," ucap Nata kemudian.
"Benar. Semuanya dibuat dengan meniru pola aturan dalam penulisan Runic. Bahkan metode yang digunakan para Elf sekalipun," sahut Val membenarkan.
"Itu menjelaskan kenapa tidak ada pengembangan dan variasi yang signifikan dari Formasi Sihir. Karena mereka tidak benar-benar paham mengapa Aliaran Jiwa harus ditahan dan disimpan dalam simbol-simbol itu," sahut Aksa menambahi.
"Kurasa memang begitu." Nata mengangguk paham. "Jadi bila benar polanya serupa Sirkuit Elektrik, berarti kita bisa membuat berbagai jenis peralatan otomatis berbasis pengetahuan ini."
"Itu yang sedari kemarin kupikirkan. Dengan ini kita bisa membuat Mecha sihir," sahut Aksa mengungkapkan idenya.
"Buat saja Mesin Sihir atau Pelindung Sihir ototmatis terlebih dahulu. Jangan yang aneh-aneh seperti itu." Nata segera menyegah keinginan sahabatnya itu.
"Mananya yang aneh? Masuk akal lah, jirah bertenaga sihir di dunia sihir." Aksa tampak tidak mau kalah berargumen.
"Ya, ya, terserah kau sajalah. Tapi setelah kau membuat peralatan yang jauh lebih penting terlebih dahulu," ucap Nata yang tidak mau memperpanjang perdebatannya dengan Aksa.
"Kau tak perlu kuatir," jawab Aksa cepat. "Setelah itu akan ku buat Mecha yang dapat berubah menjadi pesawat. Eh, jangan-jangan. Berubah menjadi hewan saja. Jauh lebih keren," ocehnya kemudian yang tidak dihiraukan oleh Nata.
Sedang Kanna terrlihat mencoba untuk memahami semua ucapan Aksa, sementara Solas dan Yvvone terlihat penasaran dan sangat tertarik dengan gulungan yang dibuat pemuda itu.
-
Sehari kemudian, bersama dengan datangnya sisa dari anggota rombongan Yvvone yang lain, Aksa meminta Lily untuk membawakan peralatannya yang ia tinggal di Kapal Udara. Kemudian meminta Yvvone menyiapkan beberapa material untuk digunakan sebagai percobaan.
-
Sementara itu di luar Hutan Marga Azuar, tepatnya di daratan utara, kerajaan Elbrasta sudah mulai menggerakan pasukannya untuk menyerang kerajaan Estrinx.
Namun tampaknya pihak Estrinx sudah melakukan persiapan, hingga mereka berhasil menghadang pasukan Elbrasta menembus wilayah perbatasan.
__ADS_1
Tapi meski begitu, tetap saja gelombang pengungsi yang datang, baik dari wilayah Cilum, Estrinx, dan bahkan Elbrasta sendiri masih terus membanjiri wilayah Rhapsodia.
-