
Nata dan Aksa ditemani Rafa, Lily, dan Luque tampak sedang berbincang di ruangan depan tenda mereka. Hari sudah sangat larut. Di luar hanya terdengar sayup-sayup suara dengung generator listrik. Dan juga retakan kayu yang terbakar dalam tungku kecil di ujung ruangan.
"Kapan kita akan melakukan pemeriksaan Alat Pemecah Partikel itu, Nat?" Aksa bertanya di tengah acaranya menulis ulang buku katalog teknologi yang sebelumnya ia tinggalkan saat mereka terlempar ke masa lalu.
"Untuk hal itu kita memerlukan lebih banyak lagi tenaga listrik. Setidaknya untuk menghidupkan panel monitornya." Sedang Nata tampak terenyak di sebelah Luque dan Lily di sofa panjang. Membenamkan wajahnya ke dalam buku besar yang berisi daftar nama-nama prajurit beserta keahliannya, yang ia peroleh dari Caspian.
Di atas meja gelas-gelas masih terlihat mengepulkan asap samar karena teh herbal yang baru saja di tuangkan oleh Rafa sebelum kemudian gadis itu duduk di meja seberang Aksa.
Wilayah ini baru saja memasuki perubahan musim. Angin yang bertiup di dasar jurang tersebut terasa sangat dingin.
"Berarti kita perlu lebih banyak pembangkit listrik. Lalu apa rencanamu mengenai hal itu?" Aksa masih berucap tanpa berhenti menulis.
"Pertama-tama aku akan melatih para prajurit tentang medis, survival, istilah kemiliteran, dan bahasa isyarat," jawab Nata yang membuat semua orang bingung mendengarnya.
"Kau ingin mengajari mereka Modern Warfare? Dan apa hubungannya dengan listrik yang kita perlukan?" Kali ini Aksa berhenti menulis dan menatap ke arah Nata.
"Itu karena aku berencana untuk mengambil alih pertambangan tembaga di selatan, enam bulan lagi," jawab Nata lagi, yang kali ini meletakan buku yang dibacanya di atas meja.
"Enam bulan lagi kita akan menyerang ke wilayah Saronia, Tuan Nata?" Terlihat Rafa terkejut mendengar jawaban dari Nata barusan. "Wilayah itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Augra sekarang ini. Bukankah kurang bijak untuk menambah musuh lagi di saat seperti ini?"
"Belum lagi, kita harus menembus wilayah kekuasaan Vestralle untuk isa sampai ke tempat tersebut." Lily menambahi. Tampak gelas keramik besar menutupi separuh wajahnya saat kelinci mungil itu meniup-niup kecil permukaan teh herbal untuk mendinginkannya.
"Apa kita kekurangan tembang untuk genarator listrik dan kabel, sekarang ini?" tanya Aksa setelah menyeruput teh dari gelasnya.
"Benar. Tapi kita perlu mengambil alih pertambangan itu bukan hanya karena kita memerlukan tembaga untuk generator listrik atau kabel saja," ucap Nata yang kini mengikuti Aksa dan Lily mencicip teh dari gelasnya. "Sudah saatnya untuk kita membuat jaringan komunikasi," lanjutnya lagi setelah selesai mengecap teh tersebut.
"Kau ingin membangun jaringan kabel Telephone?" Aksa bertanya lagi. Terlihat kini ia mulai tertarik.
__ADS_1
"Apa itu seperti Smarthphone yang dibawa oleh Nona Yvvone?" Kali ini Luque yang bertanya. Tampak gadis itu sudah terbungkus rapat dalam selimut di antara Nata dan Lily.
"Ya, kurang lebih seperti itu. Intinya kita perlu untuk melakukan komunikasi jarak jauh dengan cepat. Dan sebisa mungkin kita juga perlu untuk membuat radio," ucap Nata yang mulai kembali mengambil buku yang tadi ia baca.
"Apa itu Radio?" Luque bertanya lagi.
"Apakah itu yang berhubungan dengan gelombang magnetik di udara?" Rafa mencoba untuk menebak.
"Benar sekali, Nona Rafa," jawab Nata dengan cepat. "Jadi intinya kita akan membuat sebuah alat untuk berkomunikasi jarak jauh," tambanya kemudian mencoba memberikan penjelasan kepada Luque.
"Komunikasi jarak jauh?" Luque terlihat semakin dipenuhi dengan pertanyaan setelah mendengar penjelasan dari Nata barusan.
"Anda akan tahu sendiri setelah melihatnya nanti. Karena memang cukup sulit untuk dijelaskan tanpa adanya contoh." Terlihat Nata menyerah untuk menjelaskan lebih lanjut kepada Gadis Suci itu.
"Ya, kurasa sekarang kita sudah bisa membuatnya." Aksa menimpali. "Untuk penguat sinyal pemancarnya kita sudah bisa membuat tabung elektron sebagai pengganti Arc Converter nya," ucapnya kemudian.
"Yap, yang itu," sahut Aksa cepat. "Sekarang aku jadi bersemangat dan tidak sabar untuk segera membuatnya," tambahnya dengan berapi-api.
"Kau tidak perlu terlalu bersemangat seperti itu hanya karena radio atau jaringan telepon, Aks," timpal Nata menanggapi kelakuan sahabatnya itu.
"Mana mungkin aku tidak bersemangat, Nat? Karena itu menandakan bahwa sebentar lagi kita akan segera berganti subgenre. Dari Portal-Quest Fantasy menjadi Gaslamp Fantasy. Mantap, kan?" jawab Aksa yang terlihat semakin menggebu-gebu. "Dan setelah itu kita akan segera memasuki subgenre Steampunk Fantasy."
"Apa itu Sabjanra?" tanya Rafa kemudian. Gadis Seithr itu belum pernah mendengar kata tersebut sebelumnya.
"Dan untuk apa sebenarnya kalian memerlukan alat untuk berkomunikasi jarak jauh segala?" Luque bertanya lagi sebelum sempat ada yang menjawab pertanyaan Rafa sebelumnya.
"Jelas untuk memenangkan peperangan, lah," celetuk Aksa cepat.
__ADS_1
"Salah satunya untuk itu. Tapi kita juga perlu kecepatan dan ketepatan untuk membagi informasi di wilayah yang nantinya akan semakin luas dengan para musuh di setiap sisinya." Nata memberikan alasannya.
"Mengapa kalian tidak membuat alat atau senjata yang lebih hebat lagi saja untuk mengalahkan mereka atau mencegah mereka menyerang, seperti yang sebelumnya pernah kalian lakukan?" Luque dengan lugunya bertanya lagi.
"Jaringan informasi adalah sebuah senjata yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang kau kira, Luq," sahut Aksa menimpali.
"Benar apa yang dikatakan Aksa. Informasi merupakan senjata yang sangat menakutkan bila digunakan dengan tepat." Nata membenarkan ucapan Aksa.
"Lagi pula kita tidak bisa asal buat senjata yang dapat berdampak buruk bagi penduduk. Atau yang dapat menghancurkan sebuah wilayah." Nata kembali berucap. "Karena di sini tujuan kita adalah untuk mengambil alih tanah dan kekuasaan, bukan untuk membumi hanguskan daratan."
"Ya, kurasa kau ada benarnya," balas Luque seraya menjulurkan tangannya keluar dari selimut untuk meraih gelas teh yang ada di atas meja.
"Tapi, apa kalian bisa membuat senjata yang seperti itu? Yang berdampak buruk pada penduduk, atau yang bisa menghancurkan sebuah wilayah?" tanya Luque lagi setelah menyesap teh hangat dari gelasnya.
"Percayalah Nona Luque, senjata di dunia kami bisa benar-benar sangat mematikan," jawab Nata mencoba meyakinkan gadis Narva itu.
"Bahkan tanpa sihir?" Luque masih terlihat ragu mendengar jawaban Nata. "Apa senjata itu tidak lagi menggunakan bubuk mesiu?" tanyanya lagi.
"Tidak. Senjata itu menggunakan material tertentu yang mendapat reaksi tertentu pula," jawab Nata kemudian.
"Senjata itu tidak hanya mampu meluluh lantahkan sebuah wilayah, namun juga sekaligus meracuni manusia yang berada di sekitarnya sampai beberapa keturunan." Aksa menimpali.
Terlihat Luque mengernyitkan dahinya merasa ngeri mendengar cerita Aksa tersebut. "Kalian tidak sedang mengada-ada, kan?" Tampak gadis itu menatap Nata dan Aksa secara bergantian.
"Tidak." Aksa menjawab ringan seraya kembali menulis dalam bukunya. Sedang Nata hanya menggeleng pelan.
"Kalau begitu kalian jangan bawa senjata menakutkan itu ke dunia ini," perintah Luque kemudian.
__ADS_1
-