Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
Antology Story : Stealth Assault


__ADS_3

Tak lama kemudian tim Altair pun tiba di bawah tembok benteng. Jauh di utara pintu gerbangnya.


"Tiga orang akan tinggal, sementara sisanya akan masuk ke dalam." Pemimpin tim memberi arahan.


"Masuk? Melompati tembok benteng mungkin lebih tepatnya." Pria Morra yang menggendong Radio Komunikasi itu mencoba bercanda untuk mengurangi ketegangan.


"Kau tinggal, Vey. Tom, dan juga Galat," ucap pemimpin tim menyebutkan siapa saja yang tinggal di luar benteng.


"Siap, ketua." jawab pria yang menggendong Radio Komunikasi, yang dipanggil Vey itu, berbarengan dengan 2 anggota lainnya.


"Dan karena kita tidak memiliki Radio untuk berkomunikasi di dalam sana, maka kita akan menggunakan suar sebagai tanda bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi," lanjut pemimpin tim memberi arahan. "Ada yang ditanyakan?" tutupnya dengan pertanyaan.


"Jelas, Ketua." Kesembilan anggota tim tersebut menjawab bersamaan, meski tidak terdengar lantang.


"Baiklah, ayo kita lompati tembok tersebut," ucap pemimpin tim itu kemudian.


Dan bersamaan dengan itu, tiga orang yang tinggal segera mencari tempat yang aman dan strategis untuk berjaga serta melindungi rekannya yang sedang memanjat.


.


Benteng itu adalah benteng peninggalan kerajaan Urbar yang dibangun puluhan tahun lalu untuk berjaga dari serangan Kerajaan Augra dari selatan. Sehingga di bagian sisi utara, tembok bentengnya tidak dibangun terlalu kuat dan hanya setinggi tiga kali tinggi pria dewasa.


Terlihat empat prajurit elit yang mendapat tugas menaiki tembok benteng tersebut tampak berdiri saling berdekatan merapat ke arah dinding.


Kemudian satu orang terlihat menaiki pundak salah satu dari empat prajurit tadi, dengan tiga prajurit lain menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Mereka seperti membentuk sebuah menara kecil dengan tiga kaki.


Kemudian satu orang lagi berlutut satu kaki di depan menara kecil tersebut, seraya menyatukan kedua tangannya membuat sebuah pijakan untuk kaki.


Dan begitu pria yang sedang berlutut itu menganggukan kepala, yang menandakan bahwa ia telah siap, orang ketujuh dari rombongan tersebut meletakan kakinya ke tangan rekannya itu, dan bersiap untuk melompat.


Dibantu dengan dorongan ke atas dari rekannya yang sedang berlutut tadi, pria itu melompat cukup tinggi. Ditambah pijakan ke pundak prajurit yang berada di atas pundak prajurit lainnya tadi, pria itu akhirnya dapat meraihkan tangannya pada bagian atas dari tembok benteng tersebut. Dan semua itu hanya dalam hitungan detik.


Kemudian dengan perlahan dan sangat hati-hati, pria itu mengangkat tubuhnya ke atas, mencoba mengintip keadaan di atas tembok benteng tersebut.


Dan setelah diyakini aman, pria itu baru benar-benar naik, kemudian mengulurkan tali untuk rekannya yang lain ikut naik.


Tidak kurang dari satu menit, ketujuh anggota tim Altair sudah berada di atas tembok benteng tersebut, dan masih belum disadari oleh pihak lawan.


-


Mereka bertujuh terlihat waspada saat berjalan menyusuri bagian atas tembok benteng tersebut, untuk mencari jalan turun ke bawah.


Terlihat di ujung selatan tembok benteng, satu anggota dari Tim Vega yang masuk melalui perbukitan itu sudah dalam posisi berjaga mengawasi area sekitarnya. Sisa anggota Tim Vega yang lain sudah berada di dalam benteng, memulai tugas mereka melumpuhkan para prajurit.

__ADS_1


Melihat Tim Altair di atas tembok sebelah utara, prajurit dari Tim Vega yang sedang berjaga itu segera memberikan tanda kepada mereka dengan gerakan tangan. Yang mengisyaratkan bahwa area tersebut sudah aman, dan mereka bisa melanjutkan penyerangan.


Kemudian masih menggunakan gerakan tangan, pemimpi Tim Altair memberi perintah kepada anggotanya untuk kembali berjalan.


Mereka bergerak dalam formasi saling menjaga, menyusuri ruangan dalam benteng tua tersebut. Dengan gesit dan efektif mereka melumpuhkan satu demi satu prajurit maupun penyihir yang mereka temukan dengan tembakan dari senapan berukuran sedang, yang juga bertenaga tekanan udara.


.


Dan kemudian, kedua tim pun bertemu saat mereka hendak menuju ke arah pertambangan di belakang benteng tersebut.


"Kalian tiba?" tanya seorang Pria Morra dengan wajah dipenuhi corengan jelaga untuk membantunya menyaru dengan kegelapan saat menyusuri perbukitan selatan.


"Bagaimana keadaannya, Has?" tanya pemimpin Tim Altair tanpa basa-basi.


"Sepertinya kebanyakan penjaga dan penyihir sedang beristirahat di barak mereka di bagian belakang benteng ini," jawab pria dengan wajah penuh jelaga yang dipanggil Has itu kemudian.


"Kalau begitu tim ku akan mengurusi sisi utara." Pemimpin Tim Altair itu mengambil pilihan tanpa membuang waktu.


"Baiklah kalau begitu, ayo semua," perintah pemimpin Tim Vega kemudian kepada anggotanya.


.


Tidak memakan waktu lama, dan bahkan tanpa adegan klimak, atau perlawanan yang dramatis, seluruh prajurit dan penyihir penjaga benteng itu berhasil diringkus seluruhnya. Beberapa yang menyerah menjadi tawanan bersama para penambang, dan dikurung dalam barak. Sedang sisanya yang kurang beruntung, hanya tinggal jasad.


-


"Apa sekarang caramu menilai sesuatu sudah seperti Tuan Nata? Kita baru saja menghadapi 50 prajurit jaga dan 25 penyihir petarung. Itu belum yang sedang bersembunyi. Kau pikir jumlah sebanyak itu, sedikit?" jawaban tidak terima dari rekannya yang lain. Yang terlihat sedang membersihkan pisaunya dari bercak darah.


"Tapi tetap saja itu masih tergolong sedikit bila melihat posisi tempat ini yang berada di tengah perbatasan." Pria Morra tadi masih mempertahankan pendapatnya.


"Kurasa mereka pasti tidak akan berpikiran Vistralle berani melakukan serangan ke wilayah ini," sela Don, anggota dari Tim Altair, yang terlihat tengah menbenahi posisi rompi pelindungnya.


"Ya, itu mungkin saja..." Dan percakapan mereka disela oleh suara ledakan dari arah barat benteng.


Dan seperti gerakan bawah sadar, para prajurit tadi sudah sigap berlari untuk memeriksanya. Bahkan sebelum mereka sempat berpikir suara apa itu tadi.


.


Hanya tinggal sebuah lubang yang cukup besar di dinding dapur bagian barat benteng, saat para prajurit itu tiba.


"Sepertinya ada yang berhasil kabur," ucap pemimpin Tim Altair memberikan dugaannya.


"Tim Deneb akan mengurusnya," balas singkat dari pemimpin Tim Vega tanpa terlihat kuatir sedikitpun.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, ayo buka pintu gerbang utara," perintah pemimpin Tim Altair yang juga tidak kuatir sama sekali.


-


Sementara di jalur menuju ke wilayah Augra, terlihat 4 prajurit jaga dan 2 penyihir sedang berlari panik sekuat tenaga mereka, melarikan diri dari benteng.


"Sepertinya ada beberapa penjaga yang melarikan diri," ucap seorang prajurit yang sedang menatap teropong bidik senapan laras panjangnya di sela-sela sebuah tebing.


"Bereskan," perintah dari prajurit dengan seragam pemimpin tim yang berada di sebelah pria itu, yang terlihat sedang menyiapkan senapannya.


"Baik. Kita lihat, seberapa akurat senjata ini dalam medan perang sesungguhnya," ucap prajurit Morra dengan senapan laras panjang tadi sebelum mulai membidik.


Sementara pemimpin tim tadi tengah memasang teropong bidiknya, rekan di sebelahnya sudah melepaskan tembakan.


Suara desing angin menggaung di antara bukit dan lembah di sekitar tempat itu. Dan satu penjaga tergeletak tak bernyawa.


"Tak kusangka tambahan kaki-kaki pada ujung larasnya ini sangat membantu untuk meredam goncangan saat peluru ditembakan." Prajurit bersenapan laras panjang itu terlihat sedikit kagum.


"Yah, sayangnya sekarang mereka sudah membuat sihir pelindung," ucap pemimpin tim dengan sedikit kecewa saat ia baru saja bersiap untuk membidik.


"Sepertinya itu bagian Abe..." Belum selesai prajurit bersenapan laras panjang itu berucap, suara desing angin kembali terdengar. Yang kali ini dari arah utara.


Dan penyihir yang tadi mengeluarkan sihir pelindung, kini sudah jatuh tergeletak tak bernyawa. Kepalanya tertembus peluru dari arah samping, di bagian yang tidak terlindung oleh sihir.


Kemudian menyusul gaung suara desing angin yang lain, dan sisa dari orang-orang yang tengah melarikan diri itu mulai berjatuhan tergeletak begitu saja di tengah jalan menuju ke wilayah Augra tersebut.


Tembakan itu berasal dari anggota Tim Deneb lainnya, yang bersembunyi menyebar di sela-sela tebing di sekeliling jalan tersebut, untuk melakukan penyergapan.


-


"Tim Deneb melapor. Semua prajurit yang melarikan diri sudah berhasil dilumpuhkan. Ganti." Terdengar laporan dari alat pendengar yang dikenakan oleh Vey, Penghubung Tim Altair, saat sedang bersiap memasuki benteng begitu pintu gerbangnya sudah dibuka.


"Tak kusangka semuanya berjalan mulus sesuai dengan rencana. Aku bahkan tidak sempat menggunakan sihir sama sekali," ucap Vey kemudian kepada rekannya Tom yang berjalan disampingnya.


"Entah karena mereka adalah prajurit-prajurit kelas bawah, atau pelatihan 6 bulan yang kita lalui itu memang terlalu keras," terdengar rekannya yang lain menyela dari belakang.


"Apapun itu, tetap aku bersyukur atas hal tersebut." Kali ini Tom yang berucap menanggapi.


"Itu benar," jawab Vey mengangguk setuju. "Oh, itu mereka datang," tambahnya kemudian saat melihat puluhan Yllgarian Burung Hantu meluncur turun dari balik awan.


 --


Kelak Pasukan Elit tersebut akan mendapat banyak julukan, seperti Prajurit Senyap, Pasukan Bayangan, bahkan Pembawa Maut, oleh kerajaan-kerajaan lainnya. Dan merekalah yang akan membuat lawan-lawan Kerajaan Rhapsodia terus merasa kuatir dan waspada. Dan akan berpikir ulang saat hendak melakukan serangan.

__ADS_1


-


-


__ADS_2