
Lucia memasuki medan tempur tanpa tergores sedikitpun. Karena meski prajurit lawan mencoba untuk menjatuhkannya, sosok berjubah dan bertopeng yang selalu melundunginya itu tidak akan membiarkan satu serangan pun mengenai tubuh Lucia.
Di sepanjang laju kudanya menuju ke arah para Juara, beberapa sosok berjubah muncul dan menghilang untuk menangkis peluru sihir, anak panah, dan juga menebas semua prajurit yang berusaha menghadang dan bahkan mendekat.
Hal tersebut terus terjadi hingga ia tiba dan berhadapan dengan para Juara.
Dan meski beberapa Juara menyerang Lucia secara bersamaan dengan Senjata Mistik mereka, namun beberapa sosok berjubah tadi muncul dan menghadang masing-masing dari para Juara tersebut.
Yang menyebabkan Lucia dapat dengan bebas mengayunkan pedangnya menyerang salah satu Juara yang berada paling dekat dengannya. Tidak perduli dengan pertahanannya.
Karena setiap ada yang hendak menyerangnya dari belakang, sosok berjubah itu akan muncul untuk menangkis dan melakukan serangan balik sebelum kemudian kembali menghilang.
Dan karenanya, hal itu memberi Jean, Versica, dan kedua temannya kesempatan untuk menekan dan menjatuhkan para Juara tersebut.
.
Tak lama kemudian mereka pun berhasil mengalahkan sisa dari Juara yang ada. Tepat di saat para penyihir berhasil membatalkan Sihir Pelindung kota Hui.
Hampir tak berselang setelahnya, terdengar teriakan Biggs dari belakang. Dan lima Kereta Penghancur menembakan meriam berimbuh sihir ke arah tembok kota nyaris secara bersamaan.
Ledakan dengan suara menggelegar terdengar hingga keseluruh wilayah Damcyan. Dan bahkan getarannya mampu menggetarkan setiap sisi dari tembok kota tersebut.
Dan tidak menunggu sampai debu dan asap ledakan benar-benar menghilang, Lucia segera menacu kudanya memimpin pasukan menyerbu masuk melalui celah besar yang tadinya adalah gerbang kota.
\=
Sementara di kediaman Tyrion di pusat kota, tampak pria tambun itu berjalan mondar-mandir dalam ruang kerjanya. Wajahnya terlihat gusar setelah mendengar suara ledakan yang menggaung kencang sebelumnya.
"Suara ledakan itu sudah jelas bukan pertanda baik," ucapnya pada diri sendiri.
Tak lama kemudian Xiggaz pun muncul memasuki ruang kerja tersebut.
"Bagaimana, Xig? Apa itu suara ledakan gerbang kota?" Tyrion menanyakan kekuatirannya.
"Benar, Tuan. Sekarang Pasukan Rhapsodia sedang menuju kemari," ucap Xiggaz menjawab. "Menurut kabar dari mata-mata kita, para Juara berhasil dikalahkan, dan Ikhties gagal melakukan tugasnya," tambahnya lagi melanjutkan laporannya.
"Ikhties gagal? Bahkan dengan sebegitu banyak peralatan sihir yang ia kenakan?" Tyrion terlihat emosi dan tidak percaya.
"Toxo dan Ikhties berhasil dikalahkan oleh Kilat Putih. Dan sepertinya Toxo tidak selamat." Xiggaz kembali memberi laporan.
"Ck... Yllgarian tua itu." Tyrion mendesis marah.
"Sekarang bagaimana, Tuan? Kita tidak punya banyak prajurit yang berjaga di dalam kota." Xiggaz mulai terlihat resah. Ia mulai merasa kuatir atas situasi yang sedang terjadi sekarang.
__ADS_1
"Sudah saatnya kita pergi dari sini, Xig," jawab Tyrion seraya berjalan keluar dari ruang kerjanya. "Siapkan semuanya," lanjutnya dengan memberikan perintah.
"Baik, Tuan."
.
Mereka berdua menggunakan batu Arcane Ruang dan Waktu untuk melarikan diri dari tempat itu.
Sebuah lingkaran berwarna ungu redup muncul begitu kristal pemindah itu dipecahkan. Dan setelah melompat memasuki lingkaran tersebut, Tyrion dan Xiggaz pun tiba di sebuah tanah lapang.
"Eh, dimana ini?" Tampaknya Tyrion tidak mengharapkan berada di tempat tersebut.
"Sepertinya kita berada di pinggiran utara Kota Hui," ucap Xiggaz yang tampaknya mengenali beberapa bagian di sekitar tempat itu.
"Bukannya tujuan kita Kota Zasiba di wilayah Cilum?" Tyrion terlihat bingung.
"Sepertinya mereka memasang Formasi Sihir di sekitar kota untuk mengacaukan Aliran Jiwa dari Kristal Arcane." Xiggaz mengira-ngira.
"Sialan!" Tyrion mengerang marah sambil menginjakan kakinya dengan kasar ke atas tanah. "Apa kau tahu dimana kita bisa mendapat kapal menuju ke utara, Xig?" tanyanya kemudian meski masih terlihat emosi.
"Kalau saya tidak salah ingat, dari tempat ini ke arah utara ada dermaga kecil yang biasa digunakan oleh para nelayan. Mungkin kita bisa mendapatkan kapal di tempat itu," ucap Xiggaz mencoba mengingat-ingat.
"Apa tempat itu aman dari orang-orang Tanah Mati?" Tyrion bertanya.
Tyrion terlihat mengela nafas sebelum kemudian memutuskan. "Baik kalau begitu. Ayo segera kesana," perintahnya kemudian.
.
Tyrion dan Xiggaz berjalan menyusuri jalanan setapak menuju ke arah barat laut. Dan tak lama berselang, mereka berdua melewati sebuah perkemahan kumuh yang didirikan sekedarnya di pingiran jalan setapak tersebut.
Perkemahan kumuh itu berisi cukup banyak penduduk miskin, yang kebanyakan dari mereka tidak memiliki pekerjaan dan memilih menjadi pencuri atau perampok.
Dan beberapa dari mereka terlihat berdiri menghadang jalan Tyrion dan Xiggaz.
"Siapa mereka, Xig?" tanya Tyrion dengan pandangan risi.
"Mereka adalah penduduk miskin yang tidak mampu membayar pajak untuk tinggal di dalam tembok kota, Tuan." Xiggaz menjawab.
"Ck, ada-ada saja masalah yang harus kuhadapi hari ini." Tyrion menggeleng pelan.
"Hei, kalian terlihat seperti para bangsawan? Apa kalian hendak melarikan diri dari orang-orang Rhapsodia?" tanya seorang pria Morra yang terlihat lusuh dan kusam.
Tyrion tidak menjawab. Ia hanya melihat orang-orang itu dengan tatapan jijik.
__ADS_1
"Serahkan uang dan barang berharga kalian sekarang, kalau kalian mau selamat," sahut pria Morra yang lain. Yang membuat Tyrion semakin geram mendengarnya.
"Dasar tikus-tikus tidak tahu diri. Apa kalian tidak tahu siapa aku? Aku adalah Tyrion. Tuan kalian!" bentak Tyrion yang sudah tidak dapat menahan amarahnya.
Sementara Xiggaz terlihat mulai kuatir. Ia merasa tuannya tidak bertindak bijak dalam menanggapi situasi yang sedang terjadi. "Tuan, Tyrion..." bisiknya pelan meminta untuk Tyrion tidak memprovokasi para penduduk miskin itu lebih lanjut.
"Kau Tyrion?" tanya salah satu pria yang terlihat cukup terkejut dengan jawaban yang baru saja ia dengar.
"Benar! Sekarang menyingkirlah dari hadapanku. Sebelum kalian menyesalinya."
Tidak mengindahkan peringatan dari Tyrion, orang-orang itu malah terlihat sibuk sendiri saling berbicara satu sama lain. Yang kemudian memerintah salah seorang pemuda untuk mengabarkan sesuatu ke perkemahan kumuh mereka.
Melihat gelagat orang-orang itu, membuat Xiggaz merasa tidak nyaman. Ia merasa sedang berada dalam bahaya.
Namun Tyrion sendiri masih tidak merubah sikapnya. Ia masih terlihat angkuh menatap rendah ke arah orang-orang tersebut. Meski kali lebih banyak yang mulai mendekat mengelilinginya.
"Apa kalian tidak mendengar perkataan..." Belum selesai Tyrion berbicara, sebuah batu melayang menghantam kepalanya. Yang nyaris membuatnya terjatuh.
"Kau yang menyebabkan suami dan anak laki-laki ku meninggal." Terlihat seorang perempuan Morra berdiri di antara para penghuni perkemahan kumuh yang kini sudah mulai mendekat mengerubungi Tyrion.
"Hei, apa-apa ini? Tunggu dulu..." Terlihat Tyrion mulai panik setelah melihat puluhan orang yang tampak tidak senang itu berjalan mendekatinya. "Apa kau menginginkan ganti rugi? Jangan kuatir. Aku akan menggantinya. Berapa yang kau minta? Berapa yang kalian minta?!"
"Aku meminta nyawamu sebagai ganti nyawa keluarga ku," jawab perempuan itu dengan penuh kebencian.
"Benar. Semua nyawa yang telah hilang hanya bisa digantikan dengan nyawamu," teriak seseorang dari belakang kerumunan.
"Sebentar... Kalian jangan terburu-buru mengambil keputusan. Aku bisa menjamin kehidupan kalian setelah ini sampai beberapa generasi ke depan. Benar kan, Xig?"
Tyrion tidak lagi melihat Xiggaz di sebelahnya. "Xig? Xiggaz? Dimana kau Xig? Xiggaz?!"
Xiggaz yang merasa bahwa Tyrion akan membawanya dalam bahaya, diam-diam menyelinap pergi meninggalkan tuanya itu saat para penghuni perkemahan kumuh baru mulai mendekat.
Sedangkan kini orang-orang tersebut sudah tidak lagi mendengarkan ucapan Tyrion. Mereka telah dibutakan oleh amarah dan kebencian.
Merasa dirinya dalam bahaya, dengan terburu-buru, Tyrion pun mengeluarkan sebuah pistol dari balik bajunya. "Mundur kalian. Cepat menyingkir, kalau kalian mau selamat," ucapnya sambil menodongkan pistol secara liar ke orang-orang di sekitarnya.
Namun belum sempat Tyrion menarik pelatuk senjatanya, seorang pria memukulkan tongkat kayu ke pundak Tyrion hingga terjatuh. Yang kemudian memicu yang lain untuk ikut memukuli tubuh Tyrion secara membabi-buta, melampiaskan kemarahan mereka.
Xiggaz masih dapat mendengar teriakan Tyrion dari kejauhan. Namun ia tidak berniat untuk kembali dan menyelamatkan tuannya itu. Xiggaz hanya terus berjalan menjauh dan berpura-pura tidak mendengarnya. Bahkan mencoba untuk menengok ke belakang pun tidak.
-
Kemudian siang hari berikutnya, prajurit yang disebar ke seluruh wilayah untuk mencari Tyrion akhirnya berhasil menemukan pria tersebut. Tergeletak babak belur tak bernyawa di tengah jalan setapak di pinggiran utara Damcyan.
__ADS_1
-