
Dua hari kemudian pertemuan antara Nata dan Joan pun diadakan di kediaman Ignus di Kota Varun.
Bersama Joan hadir pula Versica dan juga Caspian. Sementara Aksa tidak ikut hadir karena sehari sebelumnya ia bersama dengan Lily pergi ke Kota Ulry untuk memulai rencana pembangunan wilayah Saronia.
"Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu juga, Nona Joan," ucap Nata membuka percakapan. Saat mereka sudah duduk saling berhadapan di dalam ruang pertemuan kediaman tersebut. "Perkenalkan, namaku Nata," lanjutnya seraya menjulurkan tangan untuk dijabat.
"Saya bersyukur akhirnya kita bisa bertemu," balas Joan seraya menjabat tangan Nata. "Seperti yang sudah anda tahu, nama saya Joan. Tapi tuan Nata tidak perlu memanggil saya dengan tambahan Nona. Cukup Joan saja," ucapnya kemudian sebelum kembali membenahi posisi duduknya.
"Maaf. Aku dengar anda serorang ibu. Jadi mungkin dengan tambahan, Nyonya?" ucap Nata mencoba berbasa-basi.
"Memang benar saya seorang ibu. Tapi cukup panggil saya dengan nama saja," balas Joan dengan senyum manisnya.
"Meski rasanya janggal memanggil orang yang lebih tua dengan namanya, tapi bila anda merasa nyama dengan hal itu, baiklah," ucap Nata kemudian.
"Terima kasih."
"Dan cukup untuk perkenalannya. Sekarang coba katakan mengapa anda ingin bertemu denganku secara langsung?" lanjut Nata yang merasa cukup untuk berbasa-basi.
"Alasan saya ingin bertemu dengan anda pada awalnya adalah untuk menilai anda secara langsung," jawab Joan yang juga tidak lagi berbasa-basi. "Dan meminta pertolongan, tentu saja." Terlihat perempuan itu membenahi posisi duduknya.
"Karena jujur saja saya tidak percaya dengan para bangsawan atau orang-orang yang berada di posisi atas dalam kerajaan ini," lanjut Joan lagi. "Jadi saya harus bertemu dengan anda secara langsung," tutupnya kemudian.
"Ya, hal itu bisa dimengerti." Nata mengangguk kecil. "Dan permintaan tolong seperti apa yang anda inginkan dariku?"
"Awalnya saat mendengar kabar tentang kedatangan anda kembali ke kerajaan ini, jujur saya merasa kuatir," ucap Joan mulai bercerita. "Karena saya yakin bahwa Rhapsodia akan mulai bergerak untuk mengambil kembali wilayah selatan ini. Dan jelas hal itu akan menimbulkan gejolak baru yang berujung pada kehancuran dan penderitaan bagi warga." Perempuan itu menjedah ucapannya untuk membasahi tengorokan.
"Juga ditambah dengan reputasi anda dan teman anda dalam membuat senjata penghancur yang cukup mengerikan, maka saya bertekat untuk datang dan meminta anda untuk tidak melakukan penghancuran di wilayah selatan ini saat hendak mengambilnya kembali," lanjut Joan panjang lebar. "Terutama Kota Gala di wilayah Eblan. Karena saya harus melindungi kehidupan anak saya," tutupnya kemudian.
"Hm, seperti itu ternyata," ucap Nata yang kembali terlihat mengangguk kecil. "Jadi anda ingin aku untuk membuat rencana penyerangan yang tidak akan menghancurkan wilayah atau kota. Begitu, kan?" tanyanya memastikan.
"Benar. Itu awalnya," jawab Joan yang masih terlihat tersenyum. "Namun sekarang, setelah melihat bagaimana anda mengambil alih wilayah di sisi timur, dan apa yang menjadi prioritas anda setelah berhasil menguasainya, membuat saya yakin dan percaya atas rencana yang akan anda buat dikedepannya," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Syukurlah kalau memang begitu. Berarti dengan begini akan jauh lebih mudah untukku meminta bantuan kepada anda," balas Nata yang terlihat ikut tersenyum seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Silahkan, tuan Nata. Anda bisa meminta bantuan apa saja kepada saya. Selama saya bisa melakukannya," jawab Joan tanpa berpikir.
Terlihat Caspian dan Versica yang sengaja diam selama pembicaraan itu ikut tersenyum senang mendengarnya.
"Tapi untuk pertanyaan terakhir dariku, kenapa anda memutuskan untuk menghianati tuan anda?" tanya Nata masih dengan senyuman di wajah.
"Menghianat tuan saya? Apa yang anda maksud Tyrion?" Tidak terlihat panik, Joan bertanya balik untuk memastikan maksud Nata. Dan Nata hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Saya sudah tidak bekerja dengan Tyrion sejak 3 setengah tahun yang lalu. Dan meski beliau adalah orang yang cukup berjasa dalam kehidupan saya di masa lalu, tapi percayalah, saya memiliki alasan yang kuat untuk memutuskan hubungan dengan beliau," ucap Joan mencoba untuk menjelaskan. "Dan saya yakin semua hutang saya kepada beliau sudah lunas terbayar," tutupnya dengan wajah penuh percaya diri.
Nata terdiam sebentar. Kemudian mengangguk kecil. "Baiklah. Aku tidak akan bertanya lebih lanjut tentang permasalahan pribadi yang tidak ingin anda ceritakan. Aku cukup puas dengan jawab yang anda berikan," ucapnya seraya kembali menegakan tubuhnya.
"Terima kasih, Tuan Nata, Saya akan memastikan anda tidak kecewa telah mempercayai saya," jawab Joan dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kita bisa mulai membahas rencana penyerangan ke wilayah Eblan dan Cirrus," ucap Nata yang kemudian mengambil gulungan peta dari dalam tasnya.
Dan pertemuan tersebut pun berlanjut hingga jam makan siang.
-
Kedua pasukan yang dipimpin oleh Vossler dan Corvette itu dengan mudah mengambil alih kota dan wilayah tersebut.
Disamping karena bantuan informasi yang diberikan oleh jaringan mata-mata Joan, kedua wilayah itu memang pada dasarnya sudah diabaikan oleh Tyrion karena masalah wabah dan kelaparan yang melanda. Yang praktis membuat wilayah itu tidak lebih sebagai beban baginya.
Dan tak kurang dari satu setengah hari, seluruh pasukan Tyrion berhasil dibersihkan dari kedua wilayah tersebut.
Kemudian pos-pos penjagaan sementara pun dibangun di sepanjang perbatasan dengan wilayah Damcyan dan Raygod. Sementara di selatan wilayah Saronia, Ravus, dan Lighthill, pasukan dibawah pimpinan Helen, Maserati, dan Wedge juga mulai membangun pertahanan di sepanjang perbatasan dengan wilayah Kerajaan Augra.
.
__ADS_1
-
Sehari kemudian setelah Aksa kembali dari Kota Ulry, ia, Nata, Lily, dan Val pun bertolak menuju Wilayah Pusat sesuai dengan yang mereka rencanakan sebelumnya.
Mereka kembali ke Wilayah Pusat hanya untuk sebentar saja. Karena disamping harus menyelesaikan beberapa hal demi kebutuhan pembangunan wilayah selatan, mereka juga harus berada di wilayah itu untuk memeriksa dan memastikan beberapa proyek yang sedang berjalan.
.
Dan tak lebih dari satu setengah jam perjalanan dengan Kereta Besi, rombongan Aksa dan Nata pun tiba di tenda mereka di dasar jurang Ceruk Bintang.
Terlihat Luque berlari dari depan pintu tenda saat melihat Aksa dan Nata turun dari Kereta Besi mereka. Yang kemudian segera mendekap Aksa dengan sedikit melompat sambil berseru, "Aku kangen!"
"Iya-iya, aku juga kangen, kok," ucap Aksa dengan sedikit tidak nyaman. Ia yang nyaris jatuh terdorong itu segera mencoba melepaskan diri dari pelukan Luque.
"Selamat datang, Tuan Aksa, Tuan Nata, Nona Lily, Tuan Val," sapa Rafa yang berjalan mendekat. "Dan selamat atas keberhasilan kalian mengambil alih separuh wilayah selatan," lanjutnya kemudian memberi selamat.
"Oh, benar. Selamat atas kemenangan kalian," susul Luque yang baru saja ingat akan hal tersebut seraya melepaskan pelukannya dari Aksa.
"Terima kasih, kalian berdua. Meski aku rasa terlalu dini untuk memberikan selamat, karena baru setengah dari wilayah selatan yang berhasil kita ambil alih," balas Nata kemudian.
"Tetap saja hal ini patut untuk disyukuri dan dirayakan," sahut Rafa menyanggah ucapan Nata.
"Ya-ya, itu benar," timpal Aksa yang tampak sependapat dengan Rafa. "Jadi bagaimana kalau kita adakan pesta setelah ini?" ucapnya kemudian.
"Setuju!" seru Luque menyahut dengan cepat.
"Terserah kalian saja lah," balas Nata dengan tampang malasnya. Yang ditanggapi oleh Rafa dan Lily dengan senyuman menahan tawa.
"Apa kita perlu mengundang yang lain juga?" ucap Aksa yang tidak memperdulikan Nata dan berjalan mendahului yang lain menuju tenda.
__ADS_1
"Semua orang sedang sibuk akhir-akhir ini." Luque menjawab seraya berjalan menyusul Aksa. Dan kemudian, yang lain pun mengikuti di belakang mereka.
-