Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
27. Mikrofon Pita & Tabung Audion


__ADS_3

Sepuluh hari setelahnya pembangunan kamar mandi pun selesai. Dibuat cukup luas mengeruk dinding tebing, lengkap dengan bak mandi yang cukup untuk satu orang berendam dan tungku pemanas air.


Mereka mengambil air bersih dari kota Tengah dengan memasang pipa memanjang ke arah jurang. Dan melakukan pengolahan air kotor menggunakan tanaman yang sengaja di tanam di sekitar tenda, sebelum kemudian dilanjutkan ke pembuangan air di kota Selatan.


Tak lupa Aksa juga membuat closet duduk, wastafel, dan pancuran shower untuk mandi.


Tampaknya keberadaan kamar mandi tersebut membuat standar baru untuk wilayah Rhapsodia. Menjadi patokan dasar bagaimana seharusnya kamar mandi dibuat. Dan yang pertama melakukan perubahan mengikuti standar tersebut adalah kamar mandi di kediaman Lucia.


-


Dua pekan kemudian Val berhasil menyelesaikan barang contoh dari permintaan Aksa yang disebut dengan Tabung Audion dan Mikrofon Pita.


Dan untuk melakukan uji coba sekaligus memberi gambaran kepada yang lainnya, maka disamping para pengerajin, Lucia dan para elit militer pun ikut pula diundang untuk datang ke salah satu Atelir yang memang difungsikan sebagai tempat untuk menguji segala peralatan yang baru pertama kali dibuat. Bahkan beberapa pemimpin wilayah pun ikut menghadiri.


Tempat itu tak jauh dari tenda Aksa dan Nata. Hanya berjarak 15 menit berjalan kaki. Namun kali ini Rafa, Luque, dan Lily tidak bisa mengikutinya. Karena mereka juga sedang mengadakan pertemuan dengan Ellian, Selene, orang-orang dari desa Timur, dan para Yllgarian. Menyangkut tentang obat-obatan yang akan dibuat.


.


"Jadi maksud kalian alat ini dapat menangkap suara yang kemudian mengirimkannya kembali melalui udara?" tanya Couran setelah mendengar penjelasan singkat Aksa tentang benda yang sekarang ada dalam genggamannya.


Benda itu tampak seperti sebuah kotak yang terbuat dari logam, berbentuk persegi panjang dengan rongga-rongga kecil di salah satu sisinya. Memiliki logam penyangga yang serupa pegangan sebuah pedang di bagian bawahnya.


"Bukankah yang perlu kita lakukan cukup dengan berteriak agar suara kita terkirim melalui udara? Kenapa harus memakai alat segala?" celetuk Jean menanggapi.


"Hahaha.... lucu Jean, lucu." Aksa menyahut dengan nada sinis dan tawa yang dibuat-buat.


Mereka berdiri mengelilingi sebuah meja kayu di tengah ruangan yang nyaris tampak seperti sebuah gudang itu. Karena terlalu banyak orang untuk kursi yang tersedia.


"Bukankah suara adalah sesuatu yang tidak berbentuk? Bagaimana alat itu bisa menangkapnya? Apa menggunakan semacam getaran?" Couran mencoba menebak bagaimana cara kerja benda itu.


"Ding-dong! Anda nyerempet. Alat yang disebut dengan Mikrofon Pita ini memang menangkap suara menggunakan bantuan dari getaran," jawab Aksa kemudian. "Ya, kurang lebih," tambahnya lagi dengan mengerakan tangan yang terlihat seperti sedang menimbang sesuatu.


"Memang bagaimana cara menangkap getaran?" celetuk seseorang setelah mendengar penjelasan Aksa tersebut.

__ADS_1


"Bukan hanya menangkap. Bahkan dengan menambah alat yang lain lagi, suara bisa disimpan layaknya tulisan dan gambar seperti pada gulungan kertas dan kitab-kitab," ucap Aksa dengan tambahan penjelasan lain alih-alih menjawab pertanyaan dari orang tadi.


"Benarkah? Apakah itu sejenis alat musik sihir buatan Marga Briefier?" celetuk yang lain.


"Alat ini tidak menggunakan sihir sama sekali. Jadi tidak perlu aliran jiwa untuk menjalankannya." Kali ini Nata yang menjawab.


"Benarkah? Lalu bagaimana cara alat ini bekerja?" Couran terlihat sudah tidak sabar untuk menhetahuinya.


Dengan segera Aksa berdeham kencang sebelum kemudian mulai berbicara. "Jadi pada dasarnya suara atau bunyi-bunyian itu adalah getaran pada sebuah media. Atau lebih tepatnya tekanan pada udara. Kadang bila cukup kuat, dapat kita rasakan secara fisik."


"Oh benar, saya pernah melihat suara dapat menimbulkan riak pada permukaan air yang tenang."


"Iya saya juga tahu tentang hal tersebut. Tapi bagaimana menangkap sesuatu yang tidak bisa kita sentuh dan bahkan menyimpannya?"


"Juga mengirimkannya ke tempat lain seperti sebuah pesan. Tanpa berteriak," celetuk Aksa menambahi sebelum kemudian kembali berdeham pendek untuk bersiap melakukan penjelasan.


"Konsepnya seperti saat suara mengetarkan permukaan air tadi. Yang perlu kita lakukan adalah menyalin bentuk riak pada permukaan air tersebut ke dalam bentuk lain.


"Setelah itu tinggal kita tuliskan ulang pola tersebut pada media yang kita inginkan. Bisa di atas Vinyl atau plat alumunium bila kita ingin merekamnya, atau memodulasikannya bila kita ingin memancarkan lagi suara itu ke tempat lain," jelas Aksa yang terlihat ceria dengan senyum mengembang.


"Aku masih tidak paham, Aks," sahut Couran mewakili yang lainnya.


"Konsepnya sama seperti telegram. Tapi kita skip saja tahapan telegram karena kurang keren," ucap Aksa mencoba kembali menjelaskan.


"Jadi bagian yang dibuat berongga ini fungsinya untuk tempat kita berbicara. Dimana nantinya gelombang suara akan menggetarkan bagian pitanya, maksudku lembaran dari logam yang dibuat sangat tipis yang ada di dalamnya.


"Oh, dan juga lembaran logam itu harus di tekuk zig-zag kayak alas obat nyamuk bakar supaya gampang buat bergerak-gerak saat terkena gelombang suara.


"Dan karena lembaran pita logam tadi dipasang di antara magnet yang akan menimbulkan medan magnet dan menghasilkan listrik saat pita logam itu bergerak, maka listrik yang dihasilkan akan mengikuti pola dari gerakan pita tersebut, yang mana adalah pola dari gelombang suara.


"Dan, wala! Gelombang suara sudah berhasil dirubah menjadi aliran listrik. Ya, meski masih harus ditambah penguat tegangan karena tanpa kumparan, aliran listrik yang dihasilkan relatif kecil." Aksa menutup penjelasan keduanya.


Semua orang masih tetap terdiam menatap Aksa yang terlihat sangat bersemangat menerangkan konsep kerja alat tersebut.

__ADS_1


"Lebih baik kita peragakan saja," sahut Nata memecah kesunyian, yang segera disetujui oleh semua orang.


"Ya, kurasa itu akan jauh lebih mudah untuk dipahami."


"Eyang Bell dulu konsep awalnya bikin alat ini juga pake air dalam cawan tembaga. Tapi terlalu ribet dan kurang presisi." Aksa mengangkat kotak kayu dengan tampak sebuah corong besar terpasang di bagian atasnya. Terlihat seperti bola lampu pijar yang ukurannya sepuluh kali lebih besar terpasang di bagian sisi kotak kayu tersebit. Terdapat juga beberapa kabel tembaga yang menghubungkan kotak kayu tersebut dengan sebuah generator listrik kecil di ujung ruangan.


"Untuk percobaan kita akan mengunakan Telephone berkabel ini," ujar Aksa kemudian seperti seorang guru yang sedang mengajari anak muridnya.


Kemudian Aksa dibantu Nata, mengulur kabel tembaga yang menyambungkan kotak kayu tadi dengan alat yang disebut dengan Mikrofon Pita dalam genggamannya itu. Dan kemudian Aksa berjalan keluar ruangan.


Semua orang mengikuti Aksa dengan pandangan. Sampai kemudian pemuda itu hilang dibalik daun pintu.


Kemudian Nata yang masih tinggal dalam ruangan tampak menekan sebuah saklar yang ada di sisi kotak tersebut. Dan suara dengingan pendek yang mengganggu pun terdengar keluar dari corong yang ada di bagian atasnya.


Semua orang dengan segera memindahkan perhatian mereka dari Aksa ke corong logam tersebut.


Dan tak lama kemudian terdengar suara samar dari arah corong tersebut.


"Tuan Watson, kemarilah. Aku memerlukanmu." Suara tersebut mengejutkan nyaris seisi ruangan. Tak ubahnya Val, meski ia berhasil dengan segera menyamarkannya.


Itu karena meski terdengar lirih, serak, dan nyaris tidak dikenali, namun semua orang tahu dengan pasti bahwa suara itu adalah suara Aksa yang sedang berbicara dari luar.


"Demi Lurac!" Go berucap tanpa sadar setelah mendengarnya.


"Ba-bagaimana hal tersebut bisa dilakukan?" Matyas terlihat membelalakan matanya menatap corong logam di atas kotak kayu itu, seolah tidak percaya.


"Ternyata aku masih punya cukup umur untuk menyaksikan hal gila seperti ini lagi," sahut Haldin yang kemudian mulai tertawa puas.


Sedang terlihat Lucia yang sedari tadi mencoba memasang wajah 'tidak terlalu tertarik' itu, segera merubah raut wajahnya menjadi sangat penasaran setelah mendengar suara tersebut.


"Bagaimana? Kalian mendengarnya?" Tiba-tiba muncul Aksa dari balik pintu.


"Ya, kami mendengarnya." Couran menjawab masih dengan mimik muka terkejut. "Dan siapa itu Tuan Watson?" tanyanya kemudian tanpa sadar.

__ADS_1


-


__ADS_2