Catatan Perang Besar Rhapsodia

Catatan Perang Besar Rhapsodia
33. Gambar Udara II


__ADS_3

"Baiklah-baiklah, aku paham. Ini Drone di atas rata-rata." Akhirnya Nata pun mengalah saat Aksa telah selesai merakit semua perlengkapannya. "Yang Mulia ingin melihatnya," tambahnya lagi menawarkan Lucia yang terlihat begitu penasaran dengan Drone tersebut.


"Oh, iya," jawab Lucia sedikit terkejut sambil menerima Drone tersebut dari Nata. "Berat," tambahnya kemudian setelah menerimanya.


"Aku tahu kau sebenarnya mengagumi mahakarya ku ini kan, Nat?" ucap Aksa yang sudah terduduk nyaman di depan meja dimana peralatannya tadi dirakit.


Di atas meja di tengah tenda terbuka itu kini terdapat dua buah papan kaca berwarna hitam yang terpasang bersebelahan. Yang terhubung ke sebuah kotak logam berwarna hitam melalui tali berbahan aneh berwarna kuning terang. Papan bergambar simbol aneh yang disebuat Aksa dengan Keyboard, dan benda seperti sebuah batu seukuran telapak tangan, terlihat diletakan di depan kotak logam tersebut.


Ada pula sebuah kotak kecil lain yang terlihat tidak simetri, berwarna hitam kusam, dengan dua tongkat pendek berbentuk seperti kepala jamur, dan kenop-kenop aneh berwarna-warni, terpasang di bagian atasnya.


"Bukannya membuat alat pengendali yang mobile dan portable, kau malah membuat dua layar seperti ini dan juga Mini PC itu." Nata menatap peralatan di atas meja itu sambil menggeleng pelan. "Itu berarti Drone ini tidak akan bisa terbang lebih dari satu kilo, dong?"


"Eit, kau pikir aku siapa, Nat? Aku adalah orang yang berhasil memecahkan perhitungan inputan energi untuk mesin Pemecah Partikel, kau ingat? Kau pikir aku akan melakukan hal sebodoh itu?" jawab Aksa dengan nada angkuh yang dibuat-buat. "Perhatikan baik-baik," ucapnya kemudian seraya mengambil kotak dengan dua tongkat jamur dan kenop berwarna-warni tadi dari atas meja.


Kemudian dengan wajah penuh rasa bangga, Aksa mengarahkan kotak itu ke hadapan Nata. Dan seperti melepas sebuah penahan di bagian bawahnya, tiba-tiba muncul dari bawah sebuah papan berkaca gelap dengan ukuran yang sama dengan kotak tersebut. Yang membuat bagian atasnya menjadi lebih lebar.


"Remote Control lengkap dengan monitor yang bisa kau bawa kemanapun kau suka," ucap Aksa kemudian.


Melihat hal tersebut Nata mulai menarik senyum lebar seraya menerima kotak yang disebut Aksa dengan Remote Control itu. "Nah, sekarang baru benar-benar canggih," ujarnya kemudian.


"Selama Remote itu berada dalam jangkauan Bluetooth Mini PC ini, maka kita dapat menggunakan layar monitor ini untuk melihat secara live apa yang ditangkap oleh kamera Drone itu. Namun bila berada di luar jangkauan, kita bisa mengunakan monitor build in yang ada di Remote itu." Aksa menambahkan penjelasan.


"Lalu bagaimana saat hendak mengambil gambar? Drone itu sudah memiliki memory, kan?" Nata menanyakan sesuatu yang baru saja ia ingat.


"Jangan kuatir. Aku sudah memasang Hard Drive dalam Drone itu. Dan nanti isinya akan ditransferkan ke dalam Mini PC ini secara otomatis saat Bluetooth keduanya kembali tersambung," jelas Aksa lagi sambil menghidupkan generator listrik di samping meja.


"Printer Laser kita yang di dalam Lab masih berfungsi, kan?" tanya Nata yang terlihat gembira setelah mendengar penjelasan Aksa barusan.


"Masih. Kau tinggal keluarkan dan buat kertas dengan kualitas yang lebih bagus untuk mencetak photo-photo itu nantinya." Kali ini Aksa terlihat menekan sesuatu di ujung bingkai papan berkaca hitam tadi.


"Dan apa kotak aneh itu?" Lucia yang sudah menyerahkan Drone tadi agar dapat dilihat oleh yang lainnya, tampak kembali penasaran dengan benda di tangan Nata.

__ADS_1


"Ini pengendali Drone itu, Yang Mulia," jawab Nata seraya menyerahkan Remote tersebut kepada Lucia untuk dilihat.


"Mengendalikan? Itu berarti benda Dron itu bisa bergerak?" Lucia terlihat tertarik dengan kotak pengendali yang memiliki bentuk aneh dan warna yang meriah itu.


"Benar. Drone itu bisa terbang lebih tepatnya." Jawaban Nata segera menarik perhatian semua orang.


"Terbang? Benda seberat itu bisa terbang?" Lucia terlihat tidak percaya.


"Tapi saya tidak melihat adanya sayap pada benda ini. Hanya baling-baling yang serupa dengan pengerak Kapal Besi." Matyas menimpali. "Bagaimana cara benda ini terbang?"


"Ya, dari pada memakan waktu percumah untuk menjelaskannya, lebih baik langsung kita coba saja," sahut Aksa sambil menekan sesuatu di atas kotak logam hitam di atas meja itu. Yang kemudian terdengar mendengung pelan dan terlihat beberapa bagiannya menyala merah-biru secara bergantian.


Belum yang lain sempat bertanya apa yang sedang terjadi, tiba-tiba dua papan kaca berwarna hitam tadi bersinar dan menunjukan gambaran-gambaran dengan warna yang cerah, sama seperti Laptop milik Aksa.


"Coba, biar saya nyalakan Drone tersebut." Nata mengambil Drone itu dari yang lain. Menggeser saklar kecil yang ada di bagian atasnya, kemudian meletakannya di tanah lapang sedikit jauh dari tenda tempat mereka berkumpul.


Sementara Aksa meminta kembali Remote pengendali Drone tersebut dari Lucia.


Dan secara bersamaan Drone yang berada di tanah itu tadi tiba-tiba saja seperti melompat ke atas dan kemudian berhenti menggantung di udara. Terlihat baling-baling di ke empat cincinnya berputar dengan sangat cepat. Hingga menimbulkan suara berdesing pelan yang cukup mengganggu.


Semua orang dibuat heboh karenanya. Mereka benar-benar takjub melihat benda putih dengan empat cincin itu melayang begitu saja seolah ada tongkat tak kasat mata yang sedang menopangnya.


"Jadi ini yang dimaksud dengan Gaya Angkat dari Reaksi Udara?" Rafa terdengar bergumam pada dirinya sendiri.


Sedang Luque yang berdiri di sebelahnya melihat kagum ke arah Aksa. "Bocah itu akan jadi sangat berbahaya bila memiliki ambisi," ucapnya kemudian.


"Untungnya, dia hanyalah seorang Aksa," sahut Lily dari samping Rafa.


"Oh, Anda benar Nona Lilian. Untung dia adalah Aksa," balas Luque dengan tertawa kecil.


"Kalian jangan kagum-kagum dulu, dong. Masih ada yang bisa dilakukan oleh Drone super canggih ini," ucap Aksa mengembalikan perhatian yang lain kepadanya. "Baiklah kalau begitu, kita mulai saja. Qubeley, meluncur!" Bersamaan dengan itu Aksa mengeser tongkat jamur sebelah kiri pada Remote Control itu dengan ibu jarinya.

__ADS_1


Dan benda berbentuk capung itu melesat cepat ke angkasa. Yang kembali mengejutkan orang-orang dengan kecepatannya.


Setelah itu Aksa mulai mengerakan tongkat jamur yang sebelah kanan, dan Drone itupun mulai berbelok arah dan melakukan gerakan-gerakan di udara mengikuti pola gerakan tongkat di Remote tersebut.


Terlihat cincin-cincinnya berubah posisi dengan cepat saat benda berwarna putih itu melakukan gerakan di udara. Seperti seekor serangga, Drone itu dapat berputar, merubah arah dengan sangat cepat, atau hanya diam melayang di tempat begitu saja.


Bahkan Couran dan Marco yang ikut membantu membuat Drone itu juga dikejutkan oleh kemampuan dan kecepatan yang dimiliki benda itu.


"Bagaimana Tuan Aksa membuat benda itu?" Ellian yang juga hadir bersama kakaknya bertanya dari sebelah Couran berdiri.


"Tuan Aksa memiliki benda mistik yang dapat menciptakan sesuatu dengan begitu saja." Terdengar Marco menyahut mendengar pertanyaan dari Ellian.


"Benarkah?"


"Ya, itu benar," jawab Couran membenarkan. "Aku tidak tahu pasti bagaimana cara kerjanya, tapi benda yang disebut Aksa dengan Printer tri di itu memang dapat membuat benda secara langsung hanya berdasar dari sebuah gambar."


"Benar. Hanya dari gambar tiba-tiba alat itu membuatnya menjadi nyata. Saya sendiri masih tidak percaya ketika melihat kerangka Dron itu dibuat hanya dalam beberapa hitungan, dan dengan begitu saja." Marco menambahi.


"Saya jadi semakin yakin kedua pemuda itu memang utusan para dewa," sahut Tia, seorang Druid yang juga pemimpin Botanical Rhapsodia, dari sebelah Katarina.


"Aku juga terkadang berpikir seperti itu. Melihat bagaimana ia membuat hal-hal seperti obat-obatan dari tumbuhan yang bahkan seorang Druid saja tidak dapat melakukannya." Kali ini Katarina yang berucap.


"Semoga mereka berdua selalu berada di pihak kita." Terdengar Maeve berharap lirih di antara Tia dan Margaret. Yang ditanggapi dengan anggukan dari orang-orang yang mendengarnya.


"Namun sejatinya, bukan gerakan dan kecepatan dari Drone itu yang ingin kami tunjukan pada kalian," ucap Nata kemudian.


"Bukan? Jadi benda itu masih memiliki kemampuan lainnya?" Jean terdengar nyaris seperti berteriak.


"Benar. Kemampuan yang berguna untuk kita di kedepannya," balas Nata dengan senyuman. "Saya akan tunjukan."


-

__ADS_1


__ADS_2