
"Kalau lo mau nikah, berarti kesempatan gue untuk mendekati Nia terbuka lebar" Mata Pandu berbinar cerah mengejek Lucky
"Tidak ada kesempatan sedikitpun bagi orang lain untuk bisa mendekati Nia" Lucky tidak mau kalah
"Bukannya saat ini, kami sudah kalah dengan dia" Pandu menunjuk ke arah Nalen
"Mungkin saat ini, aku bisa kalah dengan dia. Tapi, sebentar lagi aku bisa mengalahkannya" Lucky menahan tawa saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Pandu
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendekati mereka.
"Kalian sedang apa, Nia tidak menyangka secepat ini kalian bisa akrab" Lucky dan Pandu saling pandang
"Eh, enggak kok Yang, Kakak cuma sedikit tanya ke dia soal.... " Lucky tidak melanjutkan perkataannya melihat pandangan mata Pandu yang tidak bersahabat
"Ada apa?" Lucky mengalihkan pembicaraannya ke arah Pandu
"Ti... Tidak kok, memangnya ada apa"
"Kalian lanjutkan bicaranya, Nia mau lanjut tidur" Belum juga beranjak pergi, tangan Nia sudah ditarik oleh Lucky
"Yang, tadi Bunda telphon, tanya kabar kamu. Mau bicara dengan Bunda tidak?" Nia sudah cukup lama tidak bicara dengan Rahma. Jadi, dengan senang hati Nia menganggukkan kepalanya
__ADS_1
Lucky mulai mencari nomor yang baru saja melakukan panggilan dengannya dan tidak harus menunggu lama sudah ada jawaban dari seberang. Pandu dibuat bingung dengan semua tingkah laku antara Nia, Lucky dan juga Nalen. Bahkan sekarang Nia menyebut orang yang baru menelphon Lucky dengan panggilan Bunda juga. Dalam benaknya mengasumsikan mereka bertiga adalah saudara.
Pandu berlalu meninggalkan mereka berdua yang sedang mengobrol melalui saluran telepon, menuju kasur lantai yang sudah tersedia dan membaringkan badannya yang terasa sakit disana. Selain ada dirinya, ada Danny dan juga Vicky yang juga saling mengobrol
"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan sepupunya siapa itu...." Danny lupa dengan nama teman Nia
"Sepupunya Risma?" Vicky mengingatkannya
"Betul, apa.... sudah ada kemajuan?" Danny penasaran dengan kisah cinta sahabatnya, karena baru kali ini sahabatnya ini menyukai lawan jenis
"Oh iya, gue lupa. Besok dia ngajakin ketemuan, tapi... kamu tahu motor gue masih ada di bengkel karena kejadian waktu itu?"
"Terus...., Mengapa sedih begitu, kayak tidak punya teman saja, apa gunanya selama ini kita bersahabat kalau Lo tidak berbagi cerita, mana gue tahu"
"Ya elah, kayak lo tidak kenal gue saja, ya pasti tidaklah...."
Sontak Semua orang yang mendengar percakapan Danny dan Vicky tertawa mengejek Vicky
"Tenang saja, kalau motor lo belum bisa dipakai, besok...." Danny belum selesai bicara sudah dipotong lagi oleh Vicky
"Lo kasih pinjam mobil"
__ADS_1
"Begini saja Vick..... Besok biar gue saja yang mewakili lo untuk bertemu dengannya, bagaimana setujukan...."
"Dasar.... teman tidak punya perasaan" Vicky melempar bantal yang sejak tadi di pangkuannya ke arah Danny
"Mau nikung punya teman!" Lanjut Vicky kesal dengan perkataan teman-temannya yang tidak berperasaan
****
Manda sangat khawatir jika para penculik menghianatinya, dia sadar uang yang dijanjikan mamanya belum sepenuhnya mereka berikan.
"Ma, bagaimana jika para penculik menghianati kita, mengapa mama tidak melunasi sekalian" Manda memprotes tindakan mamanya
"Mereka bekerja secara profesional, meskipun kita belum melunasinya, mereka tidak akan pernah membongkar secara langsung siapa yang memerintahnya" Elsa juga tidak mau disalahkan anaknya meskipun sebenarnya dia juga was-was
"Mama yakin, mereka tidak berhianat?"
"Emmm iya, yakin. Kita lihat saja besok"
"Kalau sampai terjadi sesuatu, Manda tidak ingin terlibat, mama harus menanggungnya sendiri dan jangan bawa-bawa Manda" Meskipun Elsa ragu tapi dia berusaha membuat anaknya mempercayainya
****
__ADS_1
Malam semakin larut, mereka semua tertidur dengan lelap melupakan sejenak semua rasa penat dan melepas lelah. Selepas subuh mereka semua bersiap di depan layar yang telah terhubung dengan kamera yang mereka pasang di gedung tempat penyekapan Nia.