
"Kalau menurut Nia, lebih baik kita tanya Mama dan Bunda saja"
"Memangnya kami tidak malu membicarakan hal yang sangat pribadi dengan mereka?"
"Hal pribadi bagaimana Kak, bukannya mereka yang menginginkan pernikahan kita?" Lucky menggeleng beberapa kali, karena sebenarnya yang menginginkan pernikahan ini adalah dirinya, orang tua hanya membantu saja.
"Coba kamu fikir, urusan anak itu urusan kita berdua, tidak mungkin juga mereka harus mengurusi aktifitas olah raga kita sehari-sehari"
"Olah raga apaan, bahkan kita tidak pernah olah raga sama sekali meskipun hanya jalan kakipun tidak pernah"
"Sayang.....Bukan olah raga yang itu, tapi..... olah raga di sana" Lucky mengarahkan pandangannya ke arah tempat tidur mereka, hal itu malah membuat Nia terbatuk dan memalingkan wajahnya yang pastinya sangat malu, bukannya Nia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Lucky, namun rasa malu itu muncul begitu saja di benaknya.
"Atau kita konsultasi dokter saja bagaimana?"
"Nia tidak mau jika harus berhadapan langsung dengan dokter, Nia malu"
"Mengapa malu?"
"Takutnya mereka nanti menilai kita yang sudah kebobolan terlebih dahulu" Nia terlihat cemberut dan berkata dengan nada manja
"Kalau memang kebobolan, biar diperiksa sekalian saja"
"Tidak mau, Nia tidak mau konsultasi ke dokter"
Lucky memikirkan bagaimana caranya bisa berkonsultasi ke dokter tanpa harus bertemu langsung. Lucky ingingat jika ada sebuah aplikasi untuk berkonsultasi dengan dokter secara online.
"Sayang, bagaimana kalau kita konsultasi secara online saja?"
"Terserah kakak saja, Nia mau sarapan, perut sudah minta diisi"
"Pasti kok sayang, perutmu yang rata itu suatu saat akan ada isinya, selain dari makanan" Perkataan Lucky yang saat ini berada di samping Nia dengan memegang erat pinggang dan berbicara tepat di telinga Nia membuatnya semakin merinding
"Kakak pagi-pagi begini bicara yang lain bisa tidak?" Nia yang sudah merasa canggung berusaha mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Makanan yang semalam kakak simpan di mana?"
"Ada di kulkas, biar kakak ambil sayang, kami duduk saja, karena mulai saat ini kamulah ratu di rumah dan hati kakak"
"Sejak kapan kakak belajar ngegombal?"
"Sejak.... resmi menjadi suamimu"
Duduk di sofa depan televisi mereka berdua menyantap makanan yang mereka beli semalam, bantal sofa yang ada di pangkuan Lucky seolah memanggil Nia untuk merebahkan kepalanya di sana. Karena di apartemen hanya ada mereka berdua, membuat Nia dan Lucky bebas melakukan apapun tanpa takut ada yang melihatnya. Mereka berdua selayaknya remaja yang sedang berpacaran, saling suap dan juga bercanda.
Kepala Nia yang sudah terlalu lama berada di atas bantal pangkuan Lucky, membuat Lucky merasakan sesuatu.
"Sayang, bantalnya diambil saja ya...."
"Jangan Kak, enakan seperti ini"
Tanpa persetujuan Nia, bantal dipindahkan Lucky ke sofa, saat ini kepala Nia benar-benar di atas pangkuan Lucky. Nia yang tiba-tiba merubah posisi kepalanya menghadap ke perut Lucky, membuat semakin tidak nyaman bagi Lucky, karena ikan mainan kucing mulai bergerak dan semakin membesar.
"Di mana?" Lucky yang melupakan istilah yang dibuat sendiri malah balik bertanya
"Di saku kakak, ini apaan?" Dengan sengaja tangan Nia memegangnya dan berusaha mengambilnya
Namun sebelum tangan Nia mendarat pada ikan mainan kucing milik Lucky, tangan Lucky dengan segera menghentikan tangan Nia dengan tatapan mata sayunya yang mengarah pada bibir Nia.
"Kakak kenapa?" Nia yang di pandang begitu intens menjadi salah tingkah
"Sayang, jangan memegang sembarangan ikan mainan kucing ini ya.... kalau semakin tidak terkendali bisa berbahaya" Pandangan Lucky sedikit memohon dengan suara paraunya, Lucky belum ingin melakukannya, jika memang Nia belum mengijinkannya
"Tapi mengapa Kak, bukannya cuma mainan?"
"Kalau kamu memang penasaran ya sudah, terserah kami saja" Saat ini Lucky sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Nia, karena sebenarnya Lucky juga menginginkan ada yang meng*lusnya
Merasa sudah mendapat ini, Nia mulai mer*ba dengan perlahan, merasa mendapat mainan baru Nia semakin intens juga memegangnya, Lucky semakin tidak terkendali dengan yang dilakukan oleh Nia.
__ADS_1
"Sayang, kakak beneran sudah tidak kuat" Suara Lucky semakin parau
Nia sangat kaget ketika melihat ikan mainan kucing yang dimaksud, dengan perasaan malu Nia melepaskan tangannya dan berusaha bangkit dari pangk*an Lucky, namun sebelum berlalu, sudah ditahan oleh Lucky
"Sayang, bantuan supaya dia tenang lagi ya....." Pandangan Lucky kali ini sangat memohon
"Tapi, Nia masih takut Kak...."
"Kamu duduk di samping kakak ya...."
Nia menuruti permintaan Lucky, tangan Lucky mulai melibgkar di leher Nia, mengikuti nalurinya yang entah dari mana asalnya, dia mulai memejamkan matanya, menikmati rambut Nia yang menguarkan bau sampo yang sangat menenangkan, dari pucuk kepala Nia, semakin turun ke tengkuk, bermain-main di san beberapa saat dan muncullah keinginan lebih dalam diri Lucky, Nia yang terbuai dengan sent*han Lucky yang memabukkan membuatnya tidak bisa menolah dengan apapun yang dilakukan oleh Lucky terhadapnya.
Pagi itu sebelum mereka menyelesaikan sarapannya, terjadilah penyatuan dua insan yang masih berusia sangat belia namun sudah resmi menjadi suami istri. Entah setan mana yang telah menguasai mereka berdua, hingga hampir adzan dhuhur mereka baru berhenti menikmati hidup baru yang sudah dimulai dari pagi ini.
Masih berada di bawah selimut yang sama, Nia merasa malu dengan apa yang telah dia lakukan bersama Lucky, dia berbaring membelakangi suaminya.
"Sayang, bisa balik badan tidak?"
Nia hanya menggelengkan kepalanya
"Mengapa mesti malu, kita sudah sah kok"
Nia masih juga tidak bergeming dengan perkataan Lucky
Karena penasaran dengan yang dilakukan Nia membelakanginya, Lucky berusaha membalikkan badan istrinya biar bisa berhadapan, namun ketika sudah berhadapan, Nia terlihat memejamkan mata
"Apa masih kurang, coba buka matanya. Kalau tidak mau membuka berarti kamu masih menginginkannya" Lucky menggoda istrinya yang terlihat menggemaskan dengan tingkahnya saat ini
Tanpa menunggu aba-aba, Nia segera membuka matanya dan kini mereka beradu pandang dengan jarang yang sangat dekat, hidung mereka yang sudah saling sentuh memunculkan getaran aneh dalam diri keduanya.
Lucky segera berpaling dan berusaha meraih gelas yang berisi air minum yang selalu tersedia di atas meja kecil dekat tempat tidurnya.
"Kamu minum dulu ya, Sayang" Lucky menyodorkan gelas yang berada di tangan Lucky ke mulut Nia, untuk menghindari rasa canggung Nia segera bangkit untuk duduk dan menerima gelas yang yang diberikan oleh Lucky tanpa menyadari keadaannya saat ini, Selimut yang menutupi badannya saat ini sudah tersingkap dan hanya sampai di perutnya hingga kakinya, membuat Lucky semakin tidak karuan, di depan matanya terlihat dua buah bola yang sangat menantang meskipun baru saja dia gunakan untuk bermain, namun karena masih baru, hal itu membuat Lucky semakin pusing dan berusaha membenarkan selimut sampai ke atas.
__ADS_1