
Nana pulang dengan kendaraan online, dengan berlari kecil dia masuk ke dalam rumahnya setelah membayar tagihan. Belum juga menginjakkan kakinya setelah membuka pintu utama, Nana sudah dihadapkan dengan Manda dan juga Elsa yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya dan mengharapkan berita yang menggembirakan.
"Bagaimana hasil kerja Lo"Manda yang sudah tidak sabar mendengar kabar baik langsung menodong pertanyaan ketika Nana baru selangkah masuk melewati pintu utama
"Bisa sabar tidak, gue juga butuh minum kali sebelum bicara" Nana menjawab dengan berani
"Lo... sudah mulai ngelunjak ya...." Manda tersulut emosi mendengar jawaban Nana yang begitu berani
"Kalau memang iya kenapa? Lo mau ngusir gue. Ok, gue akan pergi sekarang juga, tapi ingat satu hal, jika gue selangkah saja keluar dari rumah ini, kalian tahukan konsekuensinya apa?"
"Huh....." Manda yang tahu konsekuensinya mereka tidak bisa lagi menikmati segala fasilitas yang selama ini didapatkan jika Nana benar-benar pergi dari rumah ini, memilih mengalah dan hanya bisa mengeluh dalam hati
Elsa yang mendengar perdebatan kedua anaknya, berpura-pura manis kepada Nana yang baru sampai rumah, karena dia sendiri juga tahu konsekuensi yang bakal dia dapatkan jika berbuat seenaknya terhadap Nana.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kalian minum dulu, mama sudah membuatkan kalian minum capek-capek, sayang kalau tidak disentuh" Elsa berbicara cukup manis di depan Nana dan Manda
Keduanya kemudian mengambil minuman yang sudah tersedia di meja depan mereka, dan mulai merilekskan otot-otot yang tadi sempat menegang.
"Gue sudah berhasil mempermalukan Nia di depan umum, dan sebagai buktinya akan gue kirim video yang berhasil gue rekam" Nana melaporkan apa yang sudah dilakukan
Nia mengirimkan rekaman yang sudah dia dapatkan ke ponsel Manda. Manda sangat senang mendengar perkataan Nana. Namun, kesenangannya hanya beberapa menit setelah melihat video yang dia terima ternyata tidak hanya ada Nia saja, melainkan di sana dengan jelas ada Lucky yang berusaha membantu Nia untuk menutupinya.
"Lo sebenarnya bisa kerja tidak sih?" Manda menghardik Nana karena video yang dia dapatkan tidak sesuai dengan ekspektasinya
"Tapi, memang gue sudah berhasil membuatnya menjadi seperti orang gila kan...." Nana menjawab dengan entengnya
__ADS_1
"Iya, memang Lo berhasil membuatnya gila, tapi tidak dengan Lucky juga kan...." Manda menyayangkan hasil kerja Nana yang nyaris sempurna, namun karena yang menolong adalah Lucky menjadi kejadian yang sangat fatal.
"Kalau memang kalian tidak pu*s dengan cara kerja gue, lebih baik besok-besok kalian kerjakan sendiri saja" Nana beranjak dari kursi dan meninggalkan mereka masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
****
Nara, Nia, Nalen, Danny, dan Vicky malam ini memutuskan untuk tidur di restoran, karena hari sudah sangat larut, Nalen menghubungi orang tuanya untuk meminta izin.
"Ma, Malam ini Nalen dan Nia tidak bisa pulang karena kami ada acara dengan teman-teman" Nalen tidak cerita yang sebenarnya karena tidak ingin kedua orang tuanya cemas memikirkan mereka
"Iya, yang penting kalian harus bisa jaga diri, dan ingat adikmu masih tanggung jawabmu" Ryasmi mengingatkan Nalen tentang tanggung jawab
"Baik Ma, adik akan aman bersama Nalen, di sini juga ada Lucky yang akan selalu siaga menjaga anak kesayangan mama" Nalen menyudahi teleponnya.
Nia meminta Nara untuk menemaninya tidur malam ini. Dia tidak bisa memejamkan matanya jika ingat apa yang sudah diceritakan oleh Nara. Nia malu jika ketemu Lucky, dan tidak tahu bagaimana harus bersikap.
"Bagaimana besok jika ketemu dengan Kak Lucky, pasti sangat canggung, Ya Tuhan.... mengapa semua ini terjadi kepada Nia?" Nia bergumam sendiri memikirkan apa yang harus dia lakukan ketika bertemu dengan Lucky
Nia berpikir terlalu keras hingga membuatnya sudah tidak sadarkan diri terhanyur dalam mimpi menyusul Nara yang bernaring di sebelahnya.
****
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi, hingga membuat kalian semalamam tidak pulang ke rumah?" Rahma begitu khawatir dengan keadaan Lucky yang semalam tidak pulang ke rumah bersama teman-temannya.
"Maaf Bun, tidak terjadi apapun kok, hanya karena tadi malam ketika mau pulang, hari sudah terlalu larut" Lucky tidak ingin membuat sang Bunda terlalu khawatir memikirkannya.
__ADS_1
"Oh, kalian sudah sarapan belum? Kalau belum biar Bunda ke sana bawain kalian makanan" Lucky hanya bisa tersenyum mendengar perhatian sang Bunda, padahal saat ini mereka berada di restoran, tapi Rahma masih memikirkan tentang makannya
"Tidak usah Bun, lagi pula kita sekarang di restoran, Bunda tidak perlu repot-repot. Koko di sini sudah siap masak untuk kami sarapan" Rahma sangat bahagia mendengar anak satu-satunya yang begitu mandiri dan tidak pernah membuatnya khawatir, meskipun dia tahu sepagi ini tidak mungkin para koki sudah datang
Mereka menghentikan obrolan via telepon dan bersiap untuk melakukan aktivitas, kebetulan hari ini hari libur jadi Lucky dan kawan-kawannya tidak masuk ke sekolah, untuk sarapan mereka berusaha mengolah bahan-bahan yang tersedia di kulkas dan memilih masakan yang mudah.
"Kita mau sarapan apa ini?" Danny menuju dapur di sana sudah ada Lucky dan Nalen yang menyiapkan bahan masakan
"Kita buat masakan yang mudah saja, biar cepat matang dan bisa mengisi perut yang sudah keroncongan" Nalen menyahut pertanyaan Danny
"Buat nasi goreng saja, tinggal cemplungin sudah jadi" Danny mengutarakan keinginannya
"Baiklah, kalau kalian mau nasi goreng, Lo ambil nasi di tempat nasi, dan juga telur, sosis dan jangan lupa beberapa sayuran sebagai pelengkapnya" Lucky memerintah Danny untuk mengambil bahan makanan yang akan diolah menjadi nasi goreng
"Ok, segera meluncur...." Danny meninggalkan mereka berdua dan segera mengambil semua yang dibutuhkan
Nia dan Nara baru keluar kamar ketika masakan sudah jadi dan tinggal disajikan. Dengan langkah pelan mereka menuju sebuah meja gabungan dari beberapa meja agar terlihat lebih luar dan muat untuk mereka semua.
"Dik, duduk sini" Nalen memanggil adiknya yang kini terlihat sedikit pucat karena demam yang diakibatkan oleh guyuran air shower semalam
Nia hanya menurut perintah kakaknya dan selalu menggenggam tangan Nara agar selalu bersamanya.
"Tidak apa-apa, Lo aman di tengah-tengah kita" Nara mencoba menguatkan rasa trauma akibat kejadian semalam
"Makan Dik, kasihan perut Lo sejak semalam belum terisi makanan" Nalen menyodorkan sepiring nasi goreng telur mata sapi yang dia siapkan secara khusus untuk adik tercintanya
__ADS_1
Masih enggan untuk sekedar menyuapkan makanannya, Nia hanya memandangi makanan di depannya penuh keraguan
"Aman Dik, ini yang buat kakak sendiri kok, bahannyapun diambil dari restoran ini" Nalen masih berusaha meyakinkan adiknya agar cepat makan