CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
158


__ADS_3

"Ma.. Maaf mbak, sudah membuat Anda menunggu lama" Sedikit tergagap penjual itu melihat keberadaan Nia yang berdiri di depan gerobak jualannya


"Tidak apa-apa, memang harus mendahulukan yang terpenting mbak" Nia tidak mempermasalahkan sedikit lama menunggu penjual mie telur gulung kembali dari toilet, yang terpenting keinginannya untuk menikmati makanan favoritnya terpenuhi


"Mbak mau berapa tusuk?" Pedagang wanita tersebut sudah tidak segugup tadi, dengan membenarkan penutup wajahnya agar tidak ada yang mengenali siapa sebenarnya dirinya


"Sepuluh saja mbak, hanya pakai kecap saja" Nia menyebutkan sesuai keinginannya


Pesanan Nia sudah selesai dipersiapkan dan kini sudah di tangan Nia.


Lucky mencari sang istri ke sudut-sudut ruangan, namun tidak juga menemukannnya. Dia hampir frustasi mendatangi satu persatu pedagang yang mangkal di belakang perusahaan. Namun, akhirnya dia melihat sekelebat baju yang dipakai oleh Nia, dia bergegas menghampiri dengan rasa khawatir.


"Alhamdulillah, akhirnya kakak menemukanmu" Gumam Lucky sembari merengkuh badan Nia masuk ke dalam dekapannya


"Maaf, telah membuat kakak khawatir" Nia menatap manik mata suaminya yang terlihat kentara mengkhawatirkan dirinya


"Tadi sebenarnya Nia tidak bermaksud pergi lama, tapi karena penjualnya baru ke toilet jadinya lama" Nia sangat menyesal karena telah meninggalkan suaminya cukup lama


"Tidak penting lagi untuk dijelaskan, bagi kakak saat ini kamu sudah berada di samping kakak" Lucky tidak berfikir macam-macam lagi, yang terpenting bagi dirinya adalah saat ini Nia sudah berada dalam jangkauan penglihatannya.


Nia masih menikmati makanan yang dia beli. Rasanya sudah sangat lama dia tidak memakan jajanan anak sekolah dasar lagi, tanpa menghiraukan lagi keadaan sekitarnya, baginya saat ini makanan yang sangat dia butuhkan.


Semakin malam, dagangan para penjual sebagian besar hampir habis, bahkan tidak sedikit yang sudah bersiap merapikan gerobaknya. Dengan wajah ceria mereka berkemas karena malam ini mereka tidak perlu berdagang sampai larut malam untuk menghabiskan dagangannya. Satu persatu mereka berpamitan satu sama lain untuk meninggalkan lokasi.


Lokasi semakin sepi pengunjung, karena hampir sebagian besar sudah pulang tidak ketinggalan para pedangan makanan juga sudah meninggalkan halaman belakang kantor milik Nana, di sana hanya tinggal Nana, Andi, Lucky, Nia, Vicky dan juga Danny. Mereka menyusuri sekali lagi lingkungan kantor untuk mencari petunjuk yang mereka perlukan sebelum meninggalkan lokasi.


Mereka berkumpul kembali setelah melakukan penyisiran.


"Bagaimana hasil penyisiran kalian?" Lucky meminta teman-temannya menyampaikan hasil penyusuran masing-masing


"Setelah gue menyusuri lantai satu dari lobi sampai dengan ke sudut-sudut ruangan, gue tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan" Danny yang bertugas untuk menyusuri lantai satu menyampaikan hasil penglihatannya

__ADS_1


"Gue juga tidak menemukan apapun di lantai dua, bahkan kalian tau tidak? Selain menyusuri semua ruangan yang ada di lantai dua serta sudut-sudutnya, yang gue temukan hanya ini" Vicky mengangkat sebuah plastik berwarna hitam yang berada dalam genggamannya


"Memang apa isinya, plastik saja dibawa-bawa. Mau jadi tukang bersih-bersih di kantor ini?" Danny mentertawakan sahabatnya yang memungut sampah dari lantai dua


"Sabar bro.... kita belum melihat apa isi dari kantong plastik ini, bukan tanpa alasan gue memungut plastik ini, gue curiga jika isinya merupakan salah satu petunjuk yang sangat berguna untuk penyelidikan kita" Vicky tidak mau kalah dengan argumen temannya


"Ya sudah sekarang saja kita buka, petunjuk apa yang ada di dalam plastik itu?" Lucky yang penasaran juga mendesak Vicky untuk segera membukanya


Vicky mulai membuka plastik berwarna hitam pekat itu dengan menggunakan gunting, karena tidak hanya diikat melainkan diikat dengan menggunakan isolasi yang diputas berulang kali.


"Mengapa ikatannya kuat banget sih...?" Vicky mulai tidak sabar mengetahui isi dari plastik yang dia temukan


Akhirnya Vicky bisa membuka bungkusan plastik berwarna hitam dan mengeluarkan isi dari dalamnya.


"Ini dia isinya" Vicky bersemangat memperlihatkan barang temuannya


"Ha..... ha.... ha..." Serentak semua yang ada di sama tertawa terbahak-bahak melihat isinya


"Hanya sampho... Lo bilang sesuatu yang berharga?" Danny mulai mengejek


"Tapi mengapa ada permen diantara beberapa sampo, tidak mungkinkan belanja online sampo dijadikan satu dengan makanan?"Lucky sedikit curiga dengan pengemasan barang tersebut


" Iya juga, kalau permen itu terkontaminasi dengan sampho bukannya tidak bisa dimakan lagi?"Andi juga menemukan kejanggalan


"Ya sudah kita buka saja untuk melihat isi dari semua ini" Nana mengusulkan untuk segera membukanya


Mereka sepakat segera membuka dan melihat isinya masing-masing membuka sebuah sampo dan permen. Dari beberapa bungkus memang benar berisi sampo dan permen, namun alangkah kagetnya jika dua buah bungkus permen berisi barang ya g tidak semestinya.


"Mengapa permen ini berwarna putih, bukannya seharusnya permen ini berwarna coklat?" Nana juga menaruh curiga dengan warna permen yang tidak semestinya


"Eh... mengapa ukuran permen ini juga tidak wajar?" Semua mata tertuju pada permen berwarna putih yang berada di tangan Vicky setelah mendengar penuturan Andi

__ADS_1


"Kita masukin ke air saja dulu, siapa tahu ada sesuatu di dalamnya" Nana mengambil gelas berisi air dan segera memasukkan permen itu ke dalamnya


Setelah beberapa kali diaduk, benar saja permen tersebut degan cepat larut dalam air dan meninggalkan sebuah endapan kecil barang padat menyerupai mata.


"Coba lihat di dasar gelas itu"


Semua mata memperhatikan sebuah benda yang kini berada di dasar gelas.


"Bukankan itu kamera?" Celetuk Andi


"Benar, sebuah kamera!" Semua serempak membenarkan perkataan Andi


"Kalau sebuah permen berisi satu kamera berarti ini ada empat kamera. Kemudian yang menjadi pertanyaan siapa pemiliknya?" Lucky mempertanyakan siapa pemilik barang tersebut


"Coba lihat di plastik pembungkusnya, siapa tahu ada nama pengirim atau penerimanya" Vicky mengambil plastik pembungkusnya dan berang kali membolak-balikan, namun tidak ditemukan jejak sebuah nama di sana


"Dimana kamu menemukan barang ini?" Andi bertanya kepada Vicky


"Tadi gue ambil di lantai dekat meja yang bersebelahan dengan pintu masuk sebelah kanan"


"Kemungkinan besar barang ini jatuh dan pemiliknya tidak menyadarinya"


"Betul juga analisamu An" Lucky membenarkan analisa yang disampaikan Andi


"Untuk mengetahui siapa pemiliknya, besok pagi kita bisa meminta bantuan dari pengamanan untuk mengecek CCTV di kantor ini"


"Begitu juga bagus Na, besok kita meminta copiannya" Danny juga memiliki pemikiran yang sama


"Baiklah, lebih baik kita pulang dulu saja. Apalagi hari juga sudah tengah malam kalian semua pasti lelah" Lucky tidak ingin membuat teman-temannya merasa terbebani dengan masalah keluarganya dengan meminta bantuan lebih dari waktu istirahat mereka


"Dimana Nia?" Nana baru menyadari jika Nisa tidak berada di antara mereka

__ADS_1


"Benar juga, di mana Nia?"


__ADS_2