
Lucky juga tidak menyangka sama sekali jika yang menempati kursi di sampingnya Nia, tadi dia hanya menaruh tas di sana sebagai tanda bahwa kursi itu sudah ada yang menempati namun untuk sebelahnya memang masih kosong.
Karena tidak ingin mengganggu ketenangan Nia beristirahat dengan hati-hati Lucky duduk di sebelah Nia, baru juga setengah jam perjalanan, mata Lucky sudah mulai tidak bisa diajak kompromi lagi, dia terlalu capek dan mengantuk jika dipaksa untuk tetap terjaga, tanpa menunggu lama dia juga terlelap dalam ayunan bus yang berjalan menuju ke sekolah mereka.
"Beruntung banget sih Nia, bisa duduk bareng Kak Lucky, apa mungkin mereka tadi janjian terlebih dahulu" Tidak hanya Sonya yang merasa sangat kesal melihat Nia bisa duduk berdua dengan Lucky, bahkan Nana pun juga merasakan hal yang sama
Semua penghuni bus kini sudah menikmati mimpi mereka masing-masing, yang terjaga hanya sopir dan keneknya. Hingga sampai di rest area ketika waktu makan siang, mereka baru menggeliatkan badannya yang terasa kaku akibat tidur dalam posisi duduk, tak terkecuali Nia dengan santainya meregangkan ototnya disertai menguap, dia kaget ketika menyadari orang yang duduk di sebelahnya seorang laki-laki yang baru tadi malam mengungkapkan perasaannya, namun belum Nia jawab.
"Ups" dengan reflek Nia langsung menutup mulutnya ketika menyadari ada Lucky disampingnya
"Mengapa Kak Lucky duduk di sini?" Tanya Nia tanpa berdosa
"Harusnya saya yang tanya mengapa kamu duduk di sini?" Lucky balik bertanya
"Karena tadi kursi yang kosong tinggal yang di sini" Kata Nia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ya sudah, nggak apa-apa tidak usah segan seperti itu, lagian ini juga bukan milikku kok" Lucky tersenyum sambil mengusap puncak kepala Nia dengan gemas
Mereka turun dari bus untuk makan siang dan dilanjutkan sholat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang, Nia dan Lucky masih setia berjalan berdua, karena entah di mana keberadaan teman-teman mereka.
__ADS_1
Mengambil makanan yang sudah tersedia di meja panjang yang di tata dengan rapi semua murid berbaris antri mengambil sesuai dengan keinginan mereka. Nia memilih beberapa lauk yang cocok dengan lidahnya, setelah mendapatkannya mereka duduk di kursi tanpa meja yang sudah di sediakan oleh restoran
Hanya suara dentingan sendok dan garpu saling beradu yang terdengar, namun akhirnya Nia membuka suara untuk mengurangi rasa canggungnya yang dilihat oleh banyak siswa yang sedang menikmati makan siang
"Kak, Terima kasih" Nia tiba-tiba berbicara
"Untuk?" Lucky bertanya karena tidak mengerti apa maksudnya
"Untuk semua yang telah kakak lakukan untuk Nia dari waktu Nia masih kecil dulu hinggga saat ini, Kakak selalu siap siaga untuk membantu Nia ketika Nia diejek teman-teman Nia waktu kecil dulu bahkan sampai sebelum kita tahu satu sama lain ketika sudah besar, kakak selalu baik kepada Nia" Lucky teringat ketika Nia kecil yang sering dia panggil Rasya menangis tersedu-sedu karena diejek oleh teman sepermainan mereka karena a kulit Nia yang pada waktu masih hitam dan kurang bersih hal itu menjadi bahan ejekan mereka.
"Iya, tidak apa-apa, entah mengapa Kakak merasa iba pada waktu itu, dan dari saat itulah Kakak mulai menyukaimu" Lucky mengakuinya dengan sedikit malu
"Beneran, bahkan Nalen juga mengetahuinya" Lucky berkata jujur tentang perasaannya yang sudah ada sejak kecil dulu, bahkan sampai saat ini tidak ada yang bisa menggeser namanya di dalam hatinya
Bukannya Nia tidak mau menjadi pacar Lucky, sebenarnya cewek manapun tidak akan menolak pesona seorang Rasya Lucky Wibowo yang terkenal dengan badannya yang tegap berisi, wajah tampan, jago dalam bidang akademik dan non akademik. Namun bagi Nia masih takut jika harus menjawab "Ya" saat ini, dia takut jika akan ada yang membullynya lagi setelah tahu hubungan mereka, bukannya Nia takut sebenarnya tapi lebih karena ada perasaan lain yang muncul untuk cowok lain.
"Seandainya, kamu masih belum percaya dengan apa yang Kakak katakan, kamu bisa bertanya juga kepada bunda"Lucky masih berusaha meyakinkan Nia mengenai perasaannya, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang dia dapatkan saat ini, dimana dia bisa duduk saling berdekatan dan bisa mengobrol tanpa ada yang mengganggu
"Maafkan Nia, tapi Nia masih ingin meyakinkan hati, agar seandainya bisa menerima kakak bisa benar-benar menerima Kakak, Nia tidak ingin jika Nia memberikan jawaban sekarang padahal Nia belum yakin dengan Kakak" Nia berusaha tidak menyakiti Lucky untuk mengatakan dengan jujur ada nama lain di hatinya
__ADS_1
"Baiklah, akan tetap aku tunggu, nunggu kamu selama sepuluh tahun ini saja, kakak bisa, jadi kakak harap kamu bisa memberikan jawaban secepatnya" Lucky memberikan waktu untuk Nia berusaha meyakinkan diri
"Sebulan, Nia minta waktu sebulan untuk itu" Lucky mengernyitkan dahinya ketika mendengar waktu yang diminta menurutnya terlalu lama.
"Apakah ada yang salah Kak?"Nia bertanya dengan hati-hati
" Tidak, tidak ada yang salah jika kami meminta waktu, tapi apakah harus selama itu, apakah waktu sepuluh tahun bagimu masih belum bisa meyakinkan hatimu?" Lucky berkata seperti itu seperti ada rasa kecewa yang dia dapatkan, padahal dia berharap Nia hanya meminta waktu satu minggu
"Setidaknya satu minggu Kak, Nia tidak ingin membuat kakak kecewa jika nanti Nia menerima kakak tapi belum sepenuhnya Nia menerimanya. Nia harap kakak bisa menerima waktu yang Nia minta untuk membulatkan hati Nia agar utuh untuk Kakak" Nia menjelaskan alasannya meminta waktu
"Ok, kakak tunggu satu minggu, Mudah-mudahan kamu sudah bisa memberikan jawaban sesuai dengan apa yang saya harapkan"
"Semoga kakak mau menunggu Nia selama seminggu ini" Nia juga berharap Lucky bisa menunggunya seminggu lagi jika ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan
Selesai mengobrol selesai juga mereka menghabiskan makanan yang ada di piring mereka, selepasnya mengembalikan piring mereka pergi ke mushola yang tidak terlalu besar di dalam restoran untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, dengan Lucky yang bertindak sebagai imam Nia kali ini. Di dalam hati Lucky yang terdalam terbersit sebuah do'a, semoga dia bisa menjadi imam Nia selamanya.
Semua siswa sudah duduk di kursi dengan rapi ketika Nia dan Lucky memasuki bus selesai menunaikan kewajibannya. Ada yang memandang mereka biasa saja karena mereka selalu melihat keduanya bersama, namun ada juga yang memandang tidak suka terutama kepada Nia yang selalu mendapatkan kesempatan selalu bersama dengan Lucky, tetapi ada juga yang tidak peduli.
Nia mengekori Lucky ketika masuk ke dalam bus mereka berjalan bergantian, hingga ketika melewati salah satu kursi penumpang ada sesuatu yang menghalangi perjalanan Nia yang mengakibatkan Nia hampir terjungkal "Auw"
__ADS_1
Lucky dengan sigap berbalik badan ketika mendengar Nia berteriak....