
"Tidak ada kok Bund, kami hanya berbincang-bincang ringan saja" Pras menjawab pertanyaan istrinya dengan berbohong
"Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan hal yang lebih serius saja, dari pada kalian bicara yang tidak ada gunanya" Rahma mendekati suaminya sambil mengangkat alisnya untuk meminta persetujuan dari suaminya
"Bunda mau bicara apa? Asal bukan yang tidak masuk akal pasti akan kami dukung" Untuk menyenangkan hati istrinya Pras memilih jawaban yang aman saja
"Bunda punya rencana.... Bagaimana kalau..... " Rahma melihat ke arah Lucky, Pras dan Dewa secara bergantian sedangkan mereka melihat dengan tatapan yang menuntut agar Rahma segera menyelesaikan perkataannya
"Tapi kalian jangan kaget ya...." Kembali Rahma membuat mereka bertanya-tanya dan saling pandang
"Bunda ingin Lucky dan Nia segera meresmikan hubungan mereka" Mereka semua melongo mendengar perkataan Rahma yang menginginkan untuk segera meresmikan hubungan anak-anak mereka
"Bukannya sudah resmi Bund?" Lucky menganggapnya dengan cepat
"Resmi bagaimana? Tunangan saja sudah kamu bilang resmi, sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung... paham tidak kamu!" Rahma semakin mengeraskan suaranya memarahi Lucky
"Bund, memangnya menikah segampang beli kacang goreng apa, semua perlu persiapan yang matang, lagi pula mereka masih sekolah juga" Pras belum setuju jika mereka segera menikah
"Kalau kalian belum setuju, Bunda bisa apa, tapi harus kalian ingat sekali lagi Nia mendapat masalah, hari itu juga kita resmikan mereka biar tidak ada yang bisa berusaha memisahkan mereka lagi, TITIK" Rahma semakin menekankan keinginannya dengan segala macam cara
Mereka mengangguk menuruti perkataan Rahma yang sudah tergolong memaksa, karena kalau mereka tidak menyetujuinya akan ada sesuatu yang tidak bisa mereka selesaikan.
Mengingat waktu sudah semakin larut dengan berat hati keluarga Lucky mohon diri untuk bergegas meninggalkan kediaman Nia.
Sampai di rumah, Danny dan juga Vicky sudah menunggu untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Lucky.
"Lucky lama banget, di sana mereka bicara apa saja hingga selarut ini" Vicky sudah mulai jenuh menunggu kedatangan Lucky dan orang tuanya
"Sabar bisa tidak, lagi pula kita tinggal menyalin saja kok, semua sudah dikerjakan oleh Lucky" Danny yang sebenarnya juga sudah sedikit bosan menunggu berusaha membesarkan hati
__ADS_1
"Beginilah nasib jomblo, tidak seperti Lucky yang sudah punya tunangan, nah kita.... cewek yang dekat dengan kita saja tidak ada" Keluh Danny yang spontan mendapat cibiran dari Vicky
"Eh, lo saja kali yang jomblo gue mah punya gebetan" Danny sontak kaget mendengar pernyataan sahabatnya, karena selama ini dia tidak pernah tahu jika sahabatnya kini tengah dekat dengan seorang cewek
"Sejak kapan lo punya gebetan, jangan berkhayal bisa tidak" Vicky tertawa terbahak-bahak mendengar sahabatnya bilang jika dirinya tengah berkhayal
"Gue beneran, lo ingat tidak dengan cewek yang dulu pernah sekamar dengan Nia waktu kita rafting dulu?" Vicky mengingatkan Danny pada saat mereka sedang outing class ke luar kota
"Jadi dia maksud lo?" Danny langsung memotong perkataan Vicky
"Bisa sabar tidak, gue belum selesai bicara sudah lo potong saja, waktu pulang dari rafting dia dijemput oleh sepupunya yang seumuran dengan kita. Kebetulan waktu itu mobil yang mereka kendarai mogok dan gue bantuin, sejak saat itulah gue sering telponan dengan dia hingga saat ini" Vicky menceritakan awal mula dia bertemu dengan gebetannya
"Gercep juga lo, jadi gue ditinggalin nih... " Danny merajuk persis seperti anak kecil yang minta ditemani untuk jajan
Karena asyiknya mengobrol, mereka tidak menyadari jika Lucky dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah. Mereka baru sadar ketika Rahma mengucapkan salam ketika berada di depan pintu utama
"Assalamu'alaikum" Danny dan Vicky serempak menoleh ke arah pintu dan menjawabnya secara bersamaan
"Belum kok tante, kita rencananya mau mengerjakan tugas kelompok" Danny tidak mau membuat kedua orang tua sahabatnya tidak enak jika mereka sebenarnya sudah menunggu lama
"Maaf ya tadi tante sama om harus jenguk Nia" Danny dan Vicky hanya mengangguk sebagai respon terhadap pernyataan Rahma
Pras dan Rahma meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Membersihkan diri dan mulai merebahkan badannya karena merasa lelah.
Danny dan Vicky segera menyelesaikan tugas mereka dan bergegas untuk segera pulang, meskipun mereka semua cowok tetapi orang tua mereka juga selalu memantau keberadaannya dan dengan siapa mereka bermain.
"Kalau sudah selesai, tolong cepat tinggalkan rumah ini, gue mau istirahat" Lucky dengan terang-tetangan mengusir mereka, meskipun sebenarnya dia tahu kebiasaan kedua sahabatnya tidak akan pernah berlam-lama jika bertamu
"Lo ngusir terang-terangan begitu tidak malu sama tamu apa" Vicky sakit hati diusir begitu saja
__ADS_1
"Iya, gue usir kalian berdua, lo tidak lihat mata gue tinggal setengah watt gini" Sambil memicingkan dan membuat sayu matanya, Lucky mengintimidasi keduanya.
"Iya-iya kita pulang... Memangnya apa sih yang. kamu lakukan ke Nia waktu malam itu sebelum kita sampai? Lo ci*m ya.... Dasar!" Danny masih saja menggoda temannya yang saat ini mukanya sudah berwarna merah menahan malu karena sahabatnya tahu apa yang dia lakukan ke Nia sebelum mereka datang
"Bisa pergi sekarang tidak?!" Lucky menjadi sedikit meninggikan suaranya yang membuat kedua sahabatnya berlari keluar dan segera meninggalkan rumah Lucky yang saat ini pemiliknya seperti singa kelaparan
Dalam hati Lucky tersenyum melihat sahabatnya berlari tunggang langgang karena tidak mungkin dia akan bicara jujur dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap Nia waktu itu, sebagai lelaki normal dia juga terg*da dengan sikap Nia waktu itu yang selalu mengeluarkan suara-suara aneh.
Lucky berlari ke kamar mengambil poselnya dan mencari kontan Nia, dia segera melakukan panggilan video dengannya.
"Malam say**g, sudah mau tidur belum?" Lucky bertanya dengan lembut
"Belum, memangnya ada apa Kak?" Nia tidak mengerti mengapa Lucky menelponnya setelah baru saja mereka bertemu
"Tidak ada apa-apa, kakak cuma mau dengar suaramu saja"
"Barusan kan ketemu, kurang kerjaan banget sih Kak?" Nia sedikit sewot dengan tingkah Lucky yang tidak seperti biasanya
"Memangnya tidak boleh, nelpon calon ist*i? Memang ada undang-undangnya?" Nia langsung melotot ke arah Lucky
"Kamu tidak tahu, Bunda sudah merencanakan pernikahan kita?" Nia lebih kaget lagi mendengar Lucky berbicara seperti itu
"Apa?? Nikah? Bunda merencanakan pernikahan kita?
"Iya"Lucky menjawab dengan santai
"Bunda, sudah mengeluarkan ancaman, jika sekali lagi kamu mengalami kejadian seperti kemari maka kita akan dinikahkan hati itu juga" Lucky tidak sedikitpun merasa ditekan oleh Bundanya untuk segera menikah, malah dia berdo'a dalam hati agar hari itu segera terjadi
"Kakak mengapa senyun-senyum begitu? Kakak tidak beginikan?"Nia berkata sambil meletakkan jari telunjuknya di dahi dan memiringkannya karena dia seperti tidak mengenal Lucky saat ini
__ADS_1
"Iya, kakak sudah gila"