
Di rumah Manda dan Elsa
Manda dan Elsa masih saja berusaha untuk memisahkan kedua keluarga Pras dan Dewa, meskipun berita pertunangan antara Lucky dan Nia sudah terdengar di telinganya beberapa bulan yang lalu. Manda memarahi adiknya yang menurutnya tidak bisa bekerja sesuai dengan kehendaknya , apa yang sudah direncanakan semua berantakan karena ulah adiknya yang tidak segera menjalankan rencana dan tidak tegas dengan apa yang akan dilakukan.
"Lo sebenarnya niat tidak membantu kami, kalau tidak berniat lebih baik Lo angkat kaki dari sini malam ini juga" Teriak Manda kepada adik tirinya
"Bukannya gue tidak mau membantu kalian, tapi memang belum ada kesempatan untuk melakukannya" Sanggah sang adik yang tidak mau direndahkan
"Alasan, sebenarnya kalau Lo benar mau melakukannya banyak kok kesempatannya" Manda masih saja tidak Terima dengan alasan sang adik
"Sahabat dan keluarga mereka sangat perhatian dan melindungi dengan mereka hingga tidak ada celah bagiku untuk melaksanakan rencana kita" Adik tiri Manda masih saja berkelit
"Bilang saja, kalau Lo tidak mau dijauhi lagi sahabat Lo yang jel*k dan tol*l itu"
"Kak, jangan pernah bilang Nia seperti itu lagi, dia satu-satunya sahabat gue yang paling baik" Teriak Nana yang sejak tadi ditekan oleh Kakaknya
Nana adalah adik tiri Manda, bukan seayah dan juga seibu, ibu Manda menikah dengan Ayahnya Nana setelah ayah Manda meninggal. Tidak lama setelah pernikahan Ayah Nana mengalami kecelakaan ketika sedang melakukan perjalanan dinas yang membuatnya meninggal di tempat. Ayah Nana adalah seorang pengusaha properti dengan kekayaan yang tidak sedikit jumlahnya, namun karena keserakahan sang ibu tiri semua kekayaannya dikuasai olehnya sampai Nana berusia dewasa.
"Sekali lagi gue ingetin ke Lo, kalau dalam minggu ini rencana ini tidak lo kerjain, lo akan tau akibatnya" Manda mulai mengancam Nana yang sangat lama dalam menyelesaikan rencananya
"Terserah gue" Nana hanya berani berguman, namun sayangnya masih bisa di dengar oleh Manda dan Elsa. Seketika mereka menjadi kesal dan menyeretnya ke kamar menguncinya di sana.
*****
Setelah berbicara dengan Pras, Lucky pulang dan disambut oleh Rahma dan juga Nia yang sedang duduk di teras menikmati teh hangat dan juga cemilan yang disiapkan oleh mbak Sri diselingi dengan obrolan ringan dan juga canda tawa.
"Sini Nak, bagaimana acara di sekolah apa sudah selesai?" Rahma langsung menginterogasi Lucky ketika melihat anaknya mendekati mereka
"Sudah Bun, semua berjalan lancar" Lucky tidak ingin mengatakan kalau dia sebenarnya ke kantor ayahnya untuk bicara
__ADS_1
"Kalau begitu, mandi dan ganti baju kemudian kita makan" Rahma lupa jika suaminya akan pulang sebelum malam
"Bukannya tadi pagi, Ayah pesan akan pulang sore Bun? Lebih baik kita tunggu ayah untuk makan bersama" Lucky mengingatkan janji Pras tadi pagi untuk pulang cepat hari ini
"Kasihan Nia kalau harus nunggu ayahmu pulang"
"Tidak apa-apa Bun, kita tunggu Ayah Pras saja, sekalian kita tunggu Kak Lucky untuk mandi dulu" Nia ingin merasakan makan malam bersama keluarga Lucky
"Kalau begitu, ayo kita masuk dulu bantu Bunda untuk menyiapkan makanan" Dengan senang hati Nia beranjak masuk ke dalam dengan bergandengan dengan Rahma menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah dimasak oleh mbak Sri. Sekarang Rahma sudah mengurangi aktivitasnya di rumah selama masa penyembuhan termasuk memasak untuk anak dan suaminya diserahkan kepada mbak Sri sementara waktu.
Selesai menyiapkan makanan, Pras sudah sampai di rumah, Lucky juga turun ke lantai bawah menuju meja makan yang sudah tersedia makanan. Mereka duduk mengitari meja makan dan menunggu Pras yang sedang membersihkan diri juga berganti baju.
Makan malam kali ini terasa berbeda karena keberadaan Nia yang ikut makan di rumah Pras, meja makan yang biasanya sepi, kini bertambah ramai. Seperti biasa selesai makan ada perbincangan sedikit diantara mereka.
"Bagaimana pekerjaan Ayah hati ini" Rahma memulai pembicaraan
"Ayah, sebenarnya Bunda mau bicara dengan kalian mumpung kita bisa berkumpul" Rahma merubah mimik wajahnya dengan serius
"Mau bicara apa Bun?" Pras curiga ada hal penting yang akan disampaikan oleh istrinya
"Begini Yah, akhir-akhir ini Bunda merasa sangat kesepian jika kalian tinggal untuk bekerja, Bunda tidak ada aktivitas apapun di rumah, teman juga hanya ada mbak Sri yang sibuk dengan pekerjaannya"
"Lalu?" Pras makin penasaran dengan kelanjutan perkataan istrinya yang sedikit terjadi
"Bunda berfikir jika Bunda ada teman untuk mengobrol atau ada teman untuk sekedar melakukan aktivitas bersama pasti sangat menyenangkan"
"Baiklah, mulai saat ini Ayah akan mengurangi kegiatan di luar dan akan menemani bunda di rumah" Pras berjanji akan mengurangi kegiatan di luar rumah
"Bukan begitu maksud Bunda, mungkin kalau di rumah ini ada anak kecil, Bunda tidak akan kesepian lagi" Pras masih belum menangkap kode yang di berika Rahma
__ADS_1
"Maksudnya, Bunda mau punya bayi lagi, bukannya Bunda sudah..." Lucky tidak ingin melanjutkan perkataannya takut akan menyinggung perasaan Bundanya
"Harusnya sih bukan Bunda yang punya bayi, tapi Bunda berfikir jika, Lucky menikah dan memiliki anak pasti sangat menyenangkan" Rahma menerawang membayangkan bagaimana bahagianya jika dia bisa bermain dengan anak kecil
Pras, Lucky dan Nia tersedak dan terbatuk mendengar perkataan Rahma yang sangat mengejutkan
"Tapi Bun, mereka masih sekolah, jadi tidak mungkinkan.... " Pras menolak dengan halus
Lucky dan Nia hanya berpandangan mendengar perkataan Rahma yang secara tersirat meminta mereka untuk segera menikah.
"Bun, kita jangan hanya memikirkan kebahagian kita, tapi juga harus memikirkan orang tua Nia dan juga mereka berdua" Pras masih berusaha menjelaskan dampak positif dan negatifnya
"Kalau itu sudah selesai, Dewa dan Ryasmi bahkan sudah setuju dengan keinginan Bunda" Rahma bicara dengan santai jika dia sudah berbicara dengan Dewa dan Ryasmi sebelum membicarakan saat ini
"Jadi... " Pras tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya
"Iya, Bunda sudah bicara dengan mereka, bahkan Bunda sangar yakin jika Lucky juga akan sangat bahagia jika mereka bisa menikah sekarang" Rahma melirik ke arah Lucky yang kini terlihat sedikit memerah wajahnya, karena dia tidak mengira kalau sang Bunda mengetahui keinginannya tanpa berbicara langsung
"Benar tidak Luck?" Melihat tingkah sang putra Rahma semakin menggodanya
"Bagaimana dengan Nia, apa Bunda juga sudah mencuci otaknya?" Pras langsung menodong istrinya, namun dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan sang suami itu pertanda bahwa dia membenarkan pertanyaan suaminya.
"Ayah benar-benar tidak habis pikir dengan Bunda yang selalu di depan" Pras hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya
"Bagaimana dengan Nia, apakah kamu juga mau dengan usul Bund?" Pras melihat kearah Nia untuk mendengar jawaban Nia secara langsung
"Em....emmm" Nia belum menyelesaikan jawabannya
"Masih ragu ya....?" Pras bertanya lagi
__ADS_1