CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
58


__ADS_3

"Manda..... " Teriakan sang mama sangat memekakkan telinga Manda yang berada di kamar lantai dua rumahnya yang saat ini sedang sibuk menyiapkan buku yang akan dia bawa ke sekolah, tapi bukan belajar hanya menyiapkan saja sebagai formalitas seorang pelajar.


Dengan berlari kecil Manda menuruni tangga menghampiri mamanya yang terlihat sangat marah, entah apa penyebabnya.


"Ada apa sih Ma, baru juga datang sudah marah-marah, telinga Manda sakit dengar mama teriak-teriak" Namun mamanya tidak menghiraukan apa yang diucapkan oleh anak tunggalnya


"Kamu tahu tidak sekarang keluarga Pras dan Dewa sekarang sudah bertemu?" Manda hanya bisa mengangguk malas menanggapi ocehan mamanya


"Jadi, sebenarnya selama ini kamu sudah mengetahuinya, dan tidak pernah bicara dengan Mama, dasar keterlaluan memangnya kamu bisa menanganinya sendirian?" Manda masih saja mendapatkan omelan


"Manda sudah pernah mencoba mencelakai anaknya Om Dewa, tetapi dia selalu dibantu oleh Rasya, bahkan mungkin saat ini Manda menjadi salah satu orang yang dicari oleh Rasya karena beberapa waktu yang lalu, Manda berusaha memcelakai anak Om Dewa"Mamanya kaget mendengar penjelasan Manda karena selama ini, Manda tidak pernah bercerita mengenai masalahnya ini


"Kami mencelakai anaknya Dewa, bagaimana caranya, tidak dengan tanganmi sendirikan?" Manda menggeleng dengan cepat


"Manda, mencari orang untuk mencelakainya, tapi mengalami sedikit kegagalan"


Manda menceritakan semua yang telah dia lakukan selama ini dengan mencari orang yang bersekolah yang sama dengan Nia, karena tidak mungkin juga dia harus turun tangan sendiri, selain mereka dulu juga bertetangga, keluarganya juga sering dibantu oleh Dewa waktu masih hidup susah dan awal meninggalnya sang ayah. Kini kehidupan Manda dan mamanya sangat baik berkat kegigihan mamanya dalam mencari rezeki dengan berdagang.


"Sudahlah, mulai sekarang kita harus berhati-hati jika akan melakukan sesuatu"


Manda kembali ke kamarnya setelah selesai berbicara dengan mamanya.


****


"Nia, ini ada hadiah dari Om, sebenarnya ini bukan milik Om, tapi milik Lucky yang sudah dikembalikan kepada Om, dan sekarang kartu serta semua yang ada di dalamnya ada milikmu" Nia sebenarnya tidak enak jika harus menerimanya

__ADS_1


"Terima saja, sebenarnya yang ada di dalam sana semua milik Lucky yang setiap bulan akan terisi secara otomatis dari sistem Om selama Lucky masih sekolah dan kuliah bahkan Lucky juga mengisinya setiap bulan" Rahma juga membujuk Nia agar mau menerima hadiah dari suaminya


"Tapi Nia benar tidak enak jika harus menerimanya, bahkan tidak pantas menerimanya" Nia masih saja menolak kedua kartu yang diberikan kepadanya secara cuma-cuma


"Anggap saja sebagai hadiah ulang tahunmu" Pras masih memaksannya agar mau menerima "Kami benar-benar ikhlas memberikannya kepadamu" Lanjutnya


"Tidak usah ada tapi, sekarang ini adalah milikmu" Rahma memaksa memasukkannya ke dalam tas milik Nia


Mereka semua pulang dalam keadaan bahagia yang terpancar jelas dari wajah yang selalu dihiasi dengan senyuman, mereka terpisah di parkiran restoran dengan mengendarai kendaraan masing-masing, sedangkan Lucky harus mengecek ulang semua kebutuhan yang di butuhkan untuk operasional restorannya.


****


"Gila lo bro, siap nikah muda ya? semua sudah dipersiapkan dengan matang, cewek mana sih yang tidak mau jika dikasih segitu banyak, dua kartu sekaligus" Danny sangat kagum dengan kesiapan sahabatnya mengenai materi untuk masa depannya, yang tak kalah membuatnya kaget adalah kepemilikan restoran yang sangat terkenal namun tidak ada campur tangan orang tuanya sama sekali, hal itu sebenarnya sangatlah mustahil bagi seorang pelajar seperti mereka, namun Lucky sudah membuktikannya dengan kesungguhan dan keuletan dia bisa mencapainya


Mereka terpacu dengan apa yang selama ini dilakukan oleh Lucky dan ingin membuka sebuah usaha supaya tidak terus membebani kedua orang tuanya, meskipun keluarga mereka sangat mampu menghidupi sampai selesai kuliah.


"Kayaknya gue harus belajar banyak dari lo" Danny mengungkapkan keinginannya


"Kita belajar bersama-sama karena gue juga masih bertanya kesana kemari untuk mengembangkan yang sudah ada


"Siapa takut, tapi gue akan usaha apa ya" Kata Vicky yang awalnya seperti menggebu namun pada akhirnya merasa kebingungan


"Lo bisa memulai dari sesuatu yang kamu sukai, karena sebenarnya semua yang dijual di restoran ini adalah makanan kesukaanku dan juga Nia" Lucky membuka rahasianya sendiri kepada para sahabatnya


Mereka dibuat kaget lagi mendengarnya sedetail itukah sahabatnya ini mengagumi seorang Nia hingga makanan kesukaannya saja hafal betul.

__ADS_1


****


Manda melakukan panggilan telephone dengan Sonya yang dulu pernah dia mintai tolong untuk berbuat jahat terhadap Nia, menanyakan tentang perbuatan mereka apakah ada tanda-tanda mencari pelakunya


"Sampai saat ini sih belum ada pemeriksaan dari pihak sekolah, memangnya ada apa sih?" Sonya bertanya seperti itu seolah-olah dia paham bahwa pihak sekolah pasti tidak akan melakukan pencarian terhadap pelakunya


"Lo harus hati-hati jika suatu saat ada yang memanggilmu, sepertinya mereka sedang mengumpulkan bukti-bukti agar tidak ada meleset dari. perkiraannya, jangan menganggap enteng mereka" Manda memberi peringatan terlebih dahulu sebelum semuanya benar terjadi


"Iya, lo tenang saja, gue akan hati-hati" Sonya memilih untuk mengalah


"Dan satu lagi, seandainya lo ditanya jangan pernah bawa-bawa nama gue, lo harus ingat itu" Manda memberikan ancaman terhadap Sonya agar lebih jangan pernah membawa namanya jika suatu saat ada yang bertanya


"Baiklah, tidak akan gue bawa nama lo"


****


"Tidak usah dipandangi terus Dek.... tuh cincin tidak akan lari dari jarimu kecuali kalau kamu sendiri yang melepasnya" Nalen sangat terganggu dengan apa yang dilakukan oleh adiknya sejak keluar dari restoran hingga sampai di rumah, memandangi cincin yang ada di jarinya sambil senyum-senyum


"Apaan sih Kak, tidak tahu ya...bagaimana perasaan Nia saat ini, sampai saat ini Adik seseper mimpi dalam waktu sekejap adikmu yang cantik ini seperti seorang putri mendapatkan barang mewah, sebuah kartu debit platinum, dan juga sebuah kartu debit yang meskipun biasa tapi isinya juga sangat lumayan


"Dasar Matre, kami tidak boleh seperti itu Dik" Nia hanya bisa mendengus dikatain oleh kakaknya matre


"Tapi Nia kan tidak pernah memintanya, mereka memberikannya dengan senang hati kok" Nia mulai terbawa emosi


"Iya, kamu memang tidak meminta, tapi adik harus hati-hati dalam menggunakannya, jangan sampai karena kartu itu kamu nanti terjebak dalam keadaan yang merugikan diri kamu sendiri" Nalen memberikan nasihat kepada adiknya

__ADS_1


__ADS_2