CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
126


__ADS_3

"Bagaimana tidak bingung, kamu yang masih harus sekolah sudah mengandung, lalu bagaimana dengan pendidikanmu, Kakak tidak mau jika kamu harus putus sekolah" Nia semakin terpingkal-pingkal dengan respon Lucky


"Buat apa punya suami yang sukses kalau suami tidak mau mencarikan guru di rumah" Nia masih melanjutkan sandiwaranya


"Tapi kamu juga butuh teman untuk sekedar mengobrol Y*ng, kalau kakak boleh pilih nih ya sebenarnya kakak pingin menikah sekarang dan kalau seandainya kamu nanti mengandung bisa sekolah di rumah tanpa harus capek nunggu kamu lulus baru menikah, pegel tahu tidak Y*ng harus nunggu setahun lagi"Lucky yang merasa sudah siap segalanya untuk menikah selain usianya yang masih kurang secara hukum negara, tidak menyurutkan niatnya untuk segera membina rumah tangga dengan Nia karena menurutnya syarat secara agama sudah terpenuhi.


"Baiklah, Nia akan ikut kata suami" Selesai perdebatan yang tidak berdasar mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Rahma dengan beberapa buah di tangan Nia


Sampai di halaman, Rahma sudah menunggu mereka di teras rumah dengan ditemani beberapa makanan ringan dan juga peralatan berkebun yang sudah dipersiapkan oleh Rahma sebelum Nia datang. Rahma sangat antusias berkebun kali ini ada teman meskipun belum tentu orang yang menemani tahu tata cara berkebun.


"Bun, jangan dibuat capek ya Nianya kasian yang di dalam perutnya!" Pesan Lucky seketika membuat Rahma kaget dan memandang perut Nia dengan seksama hal itu membuat Nia dibuat kalang kabut dan langsung memelototkan kedua matanya ke arah Lucky


"Memangnya ada apa dengan perut Nia?" Rahma terlihat penasaran karena tidak ada yang aneh di perut Nia


"Masak Bunda tidak tahu, di dalam perutnya akan ada Lucky juniornya Bun....." Lucky sebenarnya sudah tahu jika Nia sejak tadi membohonginya, maka saat ini dia ingin membalasnya


"Apa, kapan kalian buatnya, jangan sembarangan berbuat sesuatu yang dilarang agama" Rahma berbicara keras terhadap keduanya


"Tapi Bun, kan enak buatnya, mana bisa Lucky tahan sampai setahun lagi"


"Dasar, bocah gila kesini kamu, anak yang tidak sopan, melanggar agama, ingin muka kedua orang tuamu menahan malu atas perbuatan kalian?" kemarahan Rahma semakin menjadi


"Kamu juga Nia, mengapa mau diajakin anak gemblung itu kamu dipaksa ya...?" Nia menggelengkan kepalanya, sebenarnya bukan memberi jawaban atas pertanyaan Rahma namun dia berusaha menyangkal semua pengakuan Lucky, tapi malah membuat salah paham Rahma

__ADS_1


"Dasar kalian berdua, apa susahnya sih nunggu setahun lagi, kalau seperti ini kalian harus secepatnya untuk dinikahkan, Bunda tidak ingin punya cucu dari hubungan yang tidak jelas seperti yang kalian lakukan" Rahma berlalu masuk ke rumah mengambil gagang telepon dan segera memutar beberapa nomor untuk menghubungi orang tua Nia dan juga suaminya.


Mendengar cerita Rahma mereka semua kaget bukan kepalang, Ryasmi dan Dewa yang awalnya ingin pergi harus membatalkanya dan langsung memutar ke arah rumah Rahma segera melakukan ijab qobul untuk putrinya. Nia dan Lucky juga merasa bersalah telah berbohong kepada orang tua mereka, awalnya mereka hanya ingin bercanda, namun ditanggapi serius oleh kedua orang tua mereka.


Pras juga terlihat kalang kabut, dia yang seharusnya mendatangi acara ke luar kota juga harus dia batalkan. Dia bergegas mencari seorang penghulu untuk dia bawa ke rumahnya, karena Dewa dan Ryasmi juga sudah dalam perjalanan ke rumahnya. Jadi, untuk ijab akan dilaksanakan di kediaman orang tua Lucky, itu semua atas permintaan Dewa dan Ryasmi ketika menelponnya.


"Assalamu'alaikum" Ryasmi dan Dewa sudah sampai di kediaman Rahma dan Pras


"Wa'alaikum salam" Jawab serentak Rahma, Nia dan juga Lucky yang saat ini mereka duduk di ruang tamu menunggu semua orang


"Dek, apa sih yang kamu lakukan, jangan buat malu keluarga bisa tidak, dikiranya mama tidak bisa mendidik kamu" Ryasmi langsung memarahi Nia ketika berada di dekatnya


"Tapi Ma.... Nia... " Belum sempat Nia selesai bicara, Ryasmi sudah memotongnya


Nia sudah kewalahan dengan semua kata-kata mamanya juga Rahma, dia hanya pasrah karena tidak diberi kesempatan untuk memberikan pembelaan. Lucky juga hanya diam, kalaupun dia bicara mereka tidak akan percaya lagi dengan pembelaannya juga.


Sepuluh menit kemudian Pras sampai di rumah dengan seorang penghulu dan juga petugas dari Kantor Urusan Agama untuk mencatatkan pernikahan antara Lucky dan Nia agar terdaftar secara negara. Sebenarnya dari pihak Kantor Urusan Agama Kecamatan tidak bisa mendaftarkannya karena mereka masih di bawah umur, tetapi Pras menunjukkan surat dispensasi untuk menikah dari Pengadilan Agama jadi tidak ada alasan lagi bagi mereka menolak untuk mencatatkan pernikahan tersebut.


Semua berkas yang diperlukan untuk pernikahan semua diperiksa oleh petugas Kantor Urusan Agama. Entah sejak kapan berkas itu disiapkan oleh orang tua mereka, harusnya itu semua melalui proses yang cukup lama terutama surat dispensasi dari Departemen Agama, tetapi pada kenyataannya sudah siap semua dan tinggal pelaksanaan ijab qobul.


"Baik, semua berkas sudah siap dan sudah terpenuhi, namun siapa yang akan menjadi saksi pernikahan?" Penghulu mempertanyakan saksi-saksi pernikahan


"Maaf Pak, sebentar lagi mereka datang" Pras menjawabnya dengan percaya diri

__ADS_1


Yang dikatakan Pras memang benar adanya, ketua RT tempat tinggal Lucky dan juga beberapa warga datang untuk menyaksikan pernikahan yang dilaksanakan mendadak, Nia dan Lucky seperti orang yang dinikahkam karena tertangkap basah melakukan hal yang tidak terpuji, namun sebenarnya tidak demikian.


"Sudah Pak, saksi pernikahan Bapak ketua RT dan juga wakil Ketua RT" Pras memperkenalkan para saksi kepada petugas KUA dan penghulu


"Maaf Yah, boleh tidak Lucky menelpon Danny dan Vicky?" Lucky bermaksud ingin mengulur waktu agar prosesi ini tidak berlanjur sekarang, namun Pras langsung menjawab "Mereka sudah dalam perjalanan ke sini" Lucky melotot mendengar perkataan ayahnya.


Dalam hati Lucky dan Nia terbersit sesuatu yang disembunyikan.


"Dasar, orang tua penuh drama" Lucky mengumpat dalam hati, karena menurutnya semua ini sebenarnya sudah dipersiapkan entah sejak kapan dan hanya nunggu mereka berkata sesuatu yang bisa mempercepat pernikahan ini, Meskipun Lucky mengumpat, tetapi dalam hatinya juga sangat bahagia bisa melakukan prosesi ijab qobul hari ini.


"Kak Nalen bagaiman Pa, bukannya Nia seharusnya minta ijin dulu kepada Kak Nalen?" Nia mengetahui maksud Lucky untuk mengukur waktu, namun karena gagal akhirnya Nia juga berusaha mengulurnya


"Ada apa Dik, ijin kemana?" Nalen yang berada di depan pintu masuk mendengar perkataan adik kesayangannya membicarakannya


"Lho, Kak Nalen kapan datang?" Nia tidak menyangka jika Nalen juga datang tepat waktu, seolah-olah rencananya sangat matang


"Bagaimana Kakak tidak datang, jika adik kakak Satu-satunya akan melangsungkan pernikahan" Nalen mengedipkan matanya ke arah Nia


Semua sudah berkumpul untuk menyaksikan prosesi hari ini, namun lagi-lagi Nia berusaha menghentikannya "Sebentar Pak, boleh tidak Nia ke toilet sebentar?"


"Kenapa Dik, grogi ya..." Goda Nalen


"Tidak ada, ke toilet setelah selesai prosesi ijab qobul" Jawab orang tua Nia dan Lucky serentak

__ADS_1


__ADS_2