CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
38


__ADS_3

"Mas Pandu?" Pak Parno menepuk bahu Pandu yang membuatnya berjingkat kaget


"Ada apa Pak?" Tanya Pandu gelagapan


"Mas Pandu mikirin apa, mengapa diam saja? Kalau penasaran lebih baik ditanya, biar tidak timbul su'udzon"Saran Pak Parno


"Mungkin mereka saudara, jadi terlihat dekat satu sama lain" Potong Pandu "Untuk pemesanan kamar tadi atas nama siapa Pak? lanjutnya


"Atas nama mbak Nia, tapi yang bayar yang cowok tadi Mas?"Jelas Pak Parno


Pandu mengecek data pemesanan kamar baru yang diisi oleh Nia mengamati dan menyalin beberapa data ke ponselnya. Tanpa ragu Pandu menyimpan nomor handphone yang tertera di sana.


"Ok, sudah gue dapatkan" Batin Pandu dengan sedikit menarik bibirnya ke atas membentuk sebuah senyum puas


Pandu menuju kamar pribadinya dan merebahkan tubuhnya di sana, sambil menikmati langit-langit kamarnya yang dia hiasi dengan desain khusus kesukaannya tanpa ada kata bosan meskipun sudah setiap hari dia memandangnya.


Tidak membutuhkan waktu lama mata Pandu mulai terpejam karena memang sudah larut malam serta rasa capek yang menderanya.


****


Nalen sejak sore hari mengamati hasil rekaman CCTV yang telah diperoleh dengan cara meretasnya yang dibantu oleh gadis imut yang bernama Nara. Nama itu sesuai dengan nama yang tertera di ponsel dimana dituliskan sendiri oleh pemilik nama, baru malam hari Nalen melihatnya.

__ADS_1


"Nama yang unik" Batin Nalen, "Orangnya juga unik, tidak disangka gadis imut itu jago IT bahkan mampu meretas CCTV seluruh kota, sungguh istimewa" Nalen menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat dirinya teringat kejadian tadi siang yang mempertemukan dirinya dengan Nara.


Nalen menelpon adiknya yang esok mungkin sudah sampai rumah, beberapa hari tidak melihat adiknya ada rasa rindu yang mendera meskipun kadang kalau bersama mereka tidak pernah akur, hal itulah yang membuat mereka saling merindukan satu sama lain.


Seperti ada sesuatu yang adiknya tutupi ketika dia menelponnya, karena Nisa adalah seorang gadis yang jarang keluar rumah apalagi diwaktu malam. Sebelum dia bertemu Nia, dia tidak ingin menduga-duga apalagi ketika dia menelpon di sana ada Lucky yang bersamanya, jadi hal itu tidak di ambil pusing oleh Nalen.


****


Lucky kembali lebih dahulu ke penginapan saat Danny memanggilnya dan berujung hanya mengelabuhinya. Sudah dua jam setelah kembalinya Lucky ke penginapan, Nia belum juga terlihat kembali hingga akhirnya turun hujang yang semakin lama semakin deras, ada rasa was-was karena Nia belum juga kembali, dia berusaha bersikap normal dan tidak terlihat panik ketika memasuki kamarnya.


Karena masih panik, Lucky keluar kamar lagi dengan dalih ingin mengambil air minum ke dapur, agar teman-temannya tidak mencurigainya, padahal dia berniat untuk mencari Nia, kalau-kalau sampai detik ini blm juga kembali. Baru keluar kamar, Lucky melihat sekelebat bayangan baju yang dikenakan oleh Nia waktu di taman tadi. Untuk memastikan Lucky mulai mendekati lobby yang ternyata benar, ada Nia di sana yang sedang berbaring menggunakan selimut entah siapa yang memberinya.


Lucky mendekati Nia dan sedikit mengobrol dengannya, pada kesempatan itulah Lucky berterus terang mengenai siapa gadis yang selama ini telah mengisi hatinya dan tidak mungkin tergantikan dengan yang lain.


Setelah Nia mengetahui perasaan Lucky yang selama ini dia pendam, Nia memberanikan diri untuk mengatakan kekhawatirannya terhadap teman-teman sekamarnya, sepertinya mereka ada sesuatu yang direncanakan dan meminta pendapat Lucky apabila dia mengambil kamar lain untuk berjaga-jaga agar kejadian seperti kemarin-kemarin dapat diminimalisir.


Lucky menyetujui usul Nia, dia sendiri merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan teman sekamar Nia yang menurut desas-desus dari para instruktur kecelakaan yang dialami Nia bukan kecelakaan alami namun sudah diperhitungkan dengan cukup matang.


"Kalau begitu, ambil kamar lain saja dari pada kamu tidak bisa istirahat dengan nyaman" Saran Lucky karena meras kasihan juga jika Nia harus istirahat di lobby dan tidak diketahui bagaimana keamanannya


"Tapi Kak" Belum juga Nia menyelesaikan perkataannya Lucky sudah memotongnya

__ADS_1


"Nggak bawa uang" Nia berkata dengan malu-malu


"Biar saya yang bayar" Lucky dengan gagah menanggungnya


Keduanya menuju ke resepsionist untuk meminta sebuah kamar single dan meminta berada di kawasan yang nyaman. Setelah menyelesaikan semua prosedurnya Nia menuju ke kamarnya diantar oleh Lucky. Ketika Lucky sudah mau menutup pintu Lucky berpesan "Jangan lupa kunci pintu dengan benar, apabila ada sesuatu segera telpon Kakak, jangan membuka pintu jika ada mengetuk, karena tidak ada yang tahu kalau kamar ini ada penghuninya, ingat ya...."


"Siap boss" Nia tersenyum manis sambil mengangkat tangannya layaknya anak SD yang sedang melakukan upacara bendera di hari Senin.


Lucky segera meninggalkan ruangan Nia menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat setelah memastikan Nia masuk ke kamar dan menguncinya dengan benar, Dia juga merasa badannya cukup lelah dengan kegiatan seharian ini dengan mengurusi kegiatan ini dan itu.


****


Sonya bertanya-tanya dalam hati, kemana perginya Nia karena sudah sejak sore hari setelah membersihkan diri selesai kegiatan dia tidak terlihat di kamar mereka, bahkan ketika makan malam mereka tidak bertemu hingga tengah malam ketika dia terbangun dari tidurnya untuk mengambil air minum, Nia belum juga kembali.


"Kemana perginya tuh anak, sudah pergi sejak sore tapi sampai tengah malam begini belum juga kembali" Sonya melihat jam yang melingkar di tangannya sambil bertanya-tanya


Sonya membangunkan Risma dengan hati-hati dan bertanya "Kemana perginya Nia, mengapa sampai jam segini belum juga pulang, padahal di luar hujan"


Masih dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna dan beberapa kali mengedipkan matanya Risma berusaha menjawab sekenany "Tadi gue melihatnya di taman kota dengan Kak Lucky sedang makan, tapi itu waktu malam belum seluruh ini"


"Kamu nggak khawatir kalau besok pagi kita di tanya oleh par guru pendamping? dan kita tidak mau memberi tahu ke mereka jika salah satu teman kita tidak kembali" Sonya berkata dengan sedikit was-was, dia takut jika aksinya mencelakai Nia diketahui oleh orang lain

__ADS_1


"Dia sudah besar, pastinya sudah dia pikirkan dengan apa yang dia lakukan, kita tinggal bilang saja tidak tahu kemana perginya" Risma memberi jawaban yang semakin membuat rasa khawatir Sonya


"Tapi, kalau Nia tidak kembali juga bagaimana....." Sonya tidak menghawatirkan Nia namun mengkhawatirkan dirinya sendiri, takut kelakuannya diketahui oleh guru pembimbing jika dia bersikap acuh terhadap kejadian ini.


__ADS_2