
"Lucky dicariin Pak Anwar suruh kesana kata beliau ada yang mau dibicaraain" Danny menyusul Lucky ke taman karena sudah sejak tadi Pak Anwar mencari-cari Lucky
"Iya, tunggu sebentar" Dalam hati Lucky sangat menggerutu karena Danny datang di saat waktu yang tidak tepat, waktu diman Lucky ingin mengatakan yang sejujurnya kepada Nia
"Lo duluan saja, ntar gue nyusul"
"Nggak bisa, lo harus datang ke tempat Pak Anwar bareng gue, kalau lo nggak sama gue bisa-bisa tamatlah riwayatku" Danny mendramatisir keadaan yang sebenarnya tidak sepenting itu, Danny hanya mengganggu Lucky yang sedang bicara serius kepada Nia
Lucky beranjak meninggalkan taman dengan cukup tergesa-gesa dan dongkol, ketika sudah sampai di dekat pintu keluar taman, Dananya berteriak "Tapi bohong" Sambil menjulurkan lidah dan berlari meninggalkan taman, Dia takut kalau Lucky ngamuk karena telah dia ganggu.
Nia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kakak kelasnya ini, baru kali ini dia melihat para cowok yang saling menggoda dan mengejek layaknya anak taman kanak-kanak yang sedang berebut sesuatu.
Dengan perasaan yang masih dongkol, Lucky berlari mengejar Danny yang sudah menjauh serta meninggalkan Nia yang masih setia duduk di gazebo taman dan rasanya tidak ingin kembali ke kamar saja.
Melamun dan berharap malam segera berganti pagi, sehingga dia bisa cepat meninggalkan tempat ini dan bertemu dengan kakak dan orang tuanya, dia merasa sudah tidak nyaman berada di tempat ini.
"Ya Allah, apasih sebenarnya salah Nia, hingga teman-teman Nia berbuat seperti itu pada Nia, bukannya Nia tidak pernah berbuat jahat kepada mereka, tetapi mengapa mereka tega melakukan semua ini..." Nia sambil menengadahkan kepalanya mengadu kepada sang pemilik malam, dia berharap memiliki seorang sahabat yang benar-benar bisa dipercaya dan bisa menerima dia apa adanya.
Ketika malam semakin larut, tak di duga langit yang awalnya cerah kini berubah menjadi mendung yang sangat gelap, belum juga Nia sempat menginjakkan kakinya ke tanah gerimis mulai turun dari langit dengan cepat Nia berlari meninggalkan taman dan menuju penginapan. Namun malang baginya penginapan yang tinggal selangkah hanya tinggal harapan, hujan semakin deras dan Nia tidak membawa pelindung apapun, dia memutuskan untuk berteduh di depan sebuah kios yang sudah ditinggal oleh pemiliknya sambil menunggu hujan reda Nia membuka ponselnya berselancar didunia maya.
Karena terlalu terlena dengan dunia maya, Nia tidak menyadari ada orang yang sejak tadi memperhatikan dari jauh, dengan tatapan yang sulit diartikan, seorang laki-laki dengan celana jeans dan juga Kaos yang melekat ditubuhnya, tak lupa hoodie yang bertengger manis di sana masih saja memandang dengan tatapan intens beberapa kali menyipitkan mata untuk memfokuskan pandangannya di tengah guyuran hujan yang cukup deras disertai suara gemuruh petir yang menyambar beberapa kali.
Ketika sudah benar-benar yakin dengan pandangan matanya, laki-laki itu berlari mendekat ke arah gadis yang masih setia dengan ponselnya yang sesekali tersenyum, sesekali mengernyitkan dahinya, entah apa yang sedang dia lihat, tak butuh waktu lama untuk sampai ke hadapan gadis itu, hingga beberapa menit berada di sana namun tidak bisa mengalihkan perhatian gadis itu dari ponselnya.
__ADS_1
"Liatin apa sih, hingga tak sadar ada orang lain yang kini berada di dekatnya" Batin laki-laki itu, dengan berhati-hati laki-laki itu menyapa
"Hai, selamat malam, kenapa tengah malam masih di luar?" Tanya laki-laki itu
"Eh, eh siapa anda, jangan berani mendekat lagi, kalau berani mendekat ke sini gue teriak" Respon Nia dengan sedikit ada rasa was-was yang menguasai hatinya,
"Gue Pandu, kebetulan tadi keluar rumah sebelum hujan nyari makan" Jawabnya menerangkan
"Terus ngapain di sini?" Dengan bodohnya Nia bertanya
"Ngapain???memangnya nggak lihat sedang
, ya gue berteduhlah?" Dengan sedikit ketus Pandu menjawab pertanyaan Nia
Kini ponselnya sudah dia simpan sebagai penjagaan diri untuk tidak terlena, mengingat apapun bisa terjadi, meskipun kelihatannya lelaki itu baik namun tidak menutup kemungkinan hal buruk, Nia harus selalu waspada.
"Ngeliatinnya jangan gitu amat, gue nggak bakal gangguin lo, gue cuma bermaksud nemenin lo agar tidak di ganggu orang yang tidak bertanggung jawab" Pandu melihat Nia terlalu khawatir dengan keberadaannya, padahal dalam lubuk hatinya dia tidak pernah terbersit untuk mengganggunya,
Sebenarnya lelaki itu adalah pemilik dari penginapan yang Nia dan teman-temannya sewa, Pandu mengenali Nia adalah salah satu penghuni di penginapannya, untuk menjaga keamanan ketika Pandu melihat ada seseorang yang tak asing sedang berlindung dari hujan, dia memutuskan untuk menemani mengingat sudah larut, tidak baik seorang perempuan masih di luar dalam kondisi seperti ini.
"Gue cuma waspada saja, sapa tahu lo orang jahat yang berpura-pura baik" Nia terlalu berterus terang dengan apa yang dirasakan saat ini
"Lo bisa percaya dengan kata-kata gue, nggak mungkin gue mencoreng nama baik gue sendiri, kalau sampai gue berlaku yang tidak senonoh dengan salah satu penghuni di penginapan gue" Pandu masih tenang dalam menjelaskan siapa dirinya
__ADS_1
"Berarti lo pemilik penginapan itu?" Nia tidak langsung mempercayai perkataan Pandu, mana mungkin orang yang masih terbilang sangat muda pemilik sebuah penginapan yang begitu besar dan cukup mewah
"Iya, gue pemiliknya" Dengan terang-terangan Pandu mengatakannya
"Mana mungkin....??" Nia masih tidak percaya
"Mengapa tidak percaya? bahkan gue sekarang bisa menelpon seseorang yang berjaga di penginapan ini untuk mengantarkan payung untung kita" Pandu mulai sombong berkata seperti itu di depan Nia, bukan sombong sebenarnya, tapi untuk meyakinkan bahwasannya dia tidak akan macam-macam
Hal itu dimanfaatkan oleh Nia dengan cukup cerdij "Kalau memang benar apa yang lo katakan barusan, coba sekarang lo telpon orang yang ada di sana untuk nganterin payung ke sini, gue sudah nggak kuat lagi"
Pandu mulai mencari sebuah kontak seorang penjaga penginapan miliknua yang tersimpan di ponselnya, berulang kali dia menscroolnya, namun belum juga menemukannya dia lupa menyimpan dengan nama apa
Dengan sedikit curiga Nia berkata"Kenapa, lo ngibul ya.... dan lo nggak punya nomor kontak orang yang di dalam, sok-sokan bisa memerintah"
Sekali lagi Pandu mencari, kali ini dia mencari melalui sebuah group dari pegawai di penginapan, dan tak lama dia mulai menempelkan benda pipih itu di telinganya.
Seorang bapak-bapak dengan mengenakan mantel datang membawa dua buah payung dan menyerahkan kepada Pandu
"Ini mas payungnya, bukannya mas tadi mau pulang, kenapa masih di sini"
"Nih nemenin bocah ingusan yang sok-sokan berani tengah malam masih di luar. Pak tolong anterin dia ke penginapan, saya mau pulang dulu tapi gerbang jangan ditutup, saya hanya sebentar dan akan kembali ke penginapan lagi" Perintahkan pada laki-laki setengah baya itu
"Baik Mas, jangan takut mbaknya pasti selamat sampai di penginapan, mas Pandu hati-hati karena sudah terlalu larut"
__ADS_1