CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
107


__ADS_3

"Lo jangan main-main dengan gue, siapa lo sebenarnya"Laki-laki itu tampak sudah naik pitam


"Santai saja bro" Lucky masih terlihat santai


"Buka helm lo" Perintah lelaki bertato dengan keras


Lucky membuka helm dan tersenyum, lelaki bertubuh kekar itu memukul lengan Lucky disertai gelak tawa.


"Mengapa Lo ada di sini, bukannya lo tidak mau keluar rumah dan harus belajar" Lucky hanya tersenyum membalas pertanyaan si tubuh kekar


"Masih ingat gue lo?"Lucky akhirnya bertanya dengan begitu akrab, yang membuat Nia menjadi banyak pertanyaan di benaknya.


"Kak, sebenarnya dia siapa sih? Kok kakak akrab banget" Nia berbisik di dekat telinga Lucky


"Teman Kakak, kamu tidak usah takut" Lucky berusaha menenangkan Nia yang terlihat sangat takut dan panik


"Dari mana kakak punya teman yang menakutkan seperti itu?" Nia masih belum percaya dengan perkataan Lucky


"Dari mana saja kamu An, lama banget tidak ketemu?" Mereka sudah cukup lama tidak bertemu, sejak mereka lulus SMP


"Kamu tahu sendiri keadaan keluargaku bagaimana, aku harus bekerja membanting tulang demi menghidupi orang tua dan juga adikku yang masih membutuhkan banyak biaya" Andi berbicara terus terang dan tidak ada yang ditutupi, mereka berdua sahabatan ketika SMP dulu


"Kami kerja dimana selama ini?"


"Di luar kota, pekerjaan apapun aku kerjakan asal mendapatkan uang untuk makan keluargaku"

__ADS_1


"Bagaimana kalau kami kerja denganku saja, kebetulan aku membutuhkan seorang pekerja"


"Memangnya kami percaya dengan aku dengan tubuhku yang sudah tidak layak disebut sebagai orang baik"


"Percaya kok, aku tetap akan percaya denganmu, besok kamu datang ke restoranku"Lucky menyebutkan nama restoran dan juga alamatnya


Mereka berbincang sebentar sebelum Lucky pergi meninggalkan taman dan bergegas mengantarkan Nia pulang


"Baiklah, aku tunggu jam sembilan ya" Lucky berpesan sebelum menarik tuas gas sepeda motornya


Sampai di rumah keluarga Nia, Lucky berbincang sebentar dengan kedua orang tua Nia. Lucky harus segera pulang, karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di restoran. Ada beberapa petani yang menyediakan bahan makanan segar datang untuk menyelesaikan pembayaran yang sudah dijanjikan oleh Lucky beberapa waktu yang lalu.


Lucky mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang sedikit di atas rata-rata untuk membelah jalanan yang cukup ramai, dia tidak ingin para petani yang sudah bekerja sama dengannya menunggu terlalu lama. Dia tidak ingin membuat kecewa mereka.


"Selamat malam Bapak-bapak, maaf menunggu lama, tadi Lucky ada sedikit masalah" Sapa Lucky ketika dia mulai memasuki ruangan yang biasa dia gunakan untuk menyelesaikan semua transaksi


Dengan cekatan Lucky membuka dan membaca seluruh data pengiriman sayuran ke restorannya selama seminggu.


"Baiklah Bapak-bapak, saya kira tidak bagus jika kita berlama-lama untuk menyelesaikan apa yang menjadi urusan kita. Seperti biasa pembayaran melalui transfer rekening akan saya lakukan setelah pembayaran tunai selesai, dan akan saya lakukan di hadapan Bapak-bapak semua" Lucky memulai memberikan penjelasan mengenai pembayaran yang akan dia lakukan


"Mungkin sebelum saya memulainya ada yang mau bicara?" Lucky memberikan sedikit waktu untuk mereka mengeluarkan pendapat sebelum memulai transaksi


"Saya mas, sebelumnya minta maaf, apakah boleh jika uang yang akan kami terima sebagian berupa uang tunai dan sebagai dimasukkan ke rekening?" Tanya salah satu petani


"Boleh, asal sudah ada rekening atas nama bapak sendiri, saya tidak akan pernah mentrasfer ke rekening selain ke rekening milik pribadi bapak, sekalipun rekening itu milik putra bapak sendiri. saya tidak mau nantinya terjadi sesuatu yang membuat kita saling tidak percaya" Lucky selalu mengantisipasi segala sesuatu agar tidak terjadi sesuatu yang fatal dan mengakinatkan kerugian dikedua belah pihak

__ADS_1


"Baik mas, untuk sekarang lebih baik bagi kami yang belum memiliki rekening diberikan secara tunai saja, untuk pembayaran berikutnya kita lakukan sesuai dengan yang mas katakan" Kata petani itu mengerti


Lucky memulai transaksi yang dilakukan oleh pihak manajer restoran, karena keberadaannya saat ini hanya mengawasi jalannya pembayaran agar sesuai dengan yang sudah dia janjikan sebelum para petani itu memasok hasil panen mereka.


Lucky segera beranjak pulang setelah menyelesaikan pekerjaan di restoran. Di tengah perjalanan pulang Lucky dihadang oleh segerombolan orang yang tidak dia kenal. Dengan beringas mereka berusaha mengh*j*r Lucky dari segala sisi. Lucky yang sendirian dan tidak ingin m*t* konyol memilih untuk memutar gas dengan kecepatan tinggi.


Beberapa orang diantaranya berusaha mengejar dengan menggunakan sepeda motor. Seorang pengendara motor berhasil menghentikan laju kendaraan Lucky dengan menghadang di depannya.


"Turun Lo" Lucky masih duduk diam di atas motornya sambil berusaha waspada


"Sekali lagi, kalau Lo tidak turun juga, jangan salahkan dengan apa yang akan terjadi" Lucky mulai membuka helm dan turun dari motornya. Cahaya remang-remang membuat mereka tidak mengenal satu sama lain.


Lucky bersiap jika ada serangan mendadak dari musuh. Beberapa pukulan berhasil mengarah kepadanya, namun Lucky berhasil menangkisnya. Lucky juga tidak terhindar dari pukulan yang mengenai badannya. Terdengar suara sepeda motor yang mengarah kepada mereka, membuat Lucky sedikit ciut nyalinya. Dia berusaha tetap bertahan dan mengalahkan dia orang sekaligus.


Sorot motor semua mengarah ke badan Lucky, dan tiba-tibavsalah satu dari gerombolan itu berteriak dengan keras, berusaha menghentikan aksi seluruh gerombolan


"Berhenti semua, jangan kalian lanjutnya" Semua anggotanya mengangkat kepala dan bertanya satu sama lain.


"Ada apa Bos, kita belum selesai melaksanakan tugas" Teriak salah satunya


"Gue bilang berhenti, Dia adalah sahabat gue. Tidak mungkin gue akan menghabisinya, lebih baik kita. pergi sekarang" Andi mengomando. Benar yang kini dihadapan Lucky adalah Andi, sahabatnya sendiri. Yang menjadi pertanyaan dibenaknya, mengapa mereka menyerangnya.


Semua sudah berbondong-bondong menuju motor masing-masing dan bergegas meninggalkan lokasi sebelum ketua mereka mengamuk. Kecuali Andi yang kini berusaha membantu Lucky.


"Maaf, gue tidak tahu jika sasaran kami tidak lain adalah dirimu" Andi meminta maaf karena mereka hanya di beri nomor polisi sepeda motor yang dikendarai oleh target

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tapi siapa yang menyuruhmu? Apakah ini pekerjaanmu sampai saat ini?Lucky tidak bisa lagi membendung rasa ingin tahunya


Andi menganggukkan kepalanya dengan menahan rasa malu. "Sekali lagi maafin gue" Andi terlihat sangat menyesal setelah melihat korbannya adalah sahabatnya sendiri yang kini mengalami beberapa lebam di wajahnya


__ADS_2