
Pandu turun terlebih dahulu dengan memakai ranselnya, setelah beberapa menit tidak ada yang mengikuti turun, membuatnya harus kembali memanggil kedua orang yang ikut dengannya tadi.
"Lo mau tetap di dalam atau turun, kita sudah sampai" Pandu melempar koin ke arah Lucky yang masih bergelut dengan ponselnya, membuat Lucky melihat sekelilingnya dan langsung turun. Setelahnya Lucky membuka pintu depan dan menggendong Nia yang sedang tertidur lelap. Lucky melangkah meninggalkan Pandu yang masih syok melihat Lucky, mengucapkan salam dan langsung masuk melalui pintu garasi yang setiap hari memang tidak pernah dikunci.
"Jangan asal masuk rumah orang, keluar bisa tidak?" Pandu menarik kerah baju Lucky yang hampir masuk ke dalam garasi
"Lo lihat tidak, kasihan kalau tidak segera dipindahkan ke tempat tidur" Lucky berbicara pelan agar tidak membuat Nia terbangun
Ada kegaduhan di luar rumah, pemilik rumah membuka pintu dan melihat siapa yang ada di luar langsung memintanya masuk dan memintanya ke atas
"Lho mas, mengapa tidak panggil mbak Sri. Kalau tahu mas Lucky mau pulang dengan mbak Nia pasti sudah mbak Sri buka dari tadi" Kini Pandu yang dibuat kaget dengan orang yang membuka pintu. Dengan seenak hati mempersilakan masuk seorang tamu yang baru di kenal
"Mbak, jangan seenaknya begitu memasukkan orang yang belum dikenal" Pandu memperingatkan
"Maaf, mas ganteng siapa ya...? Sepertinya Mbak Sri belum pernah lihat" Berulang kali mbak Sri memperhatikan Pandu yang masih berdiri di teras sedangkan Lucky sudah masuk membawa Nia. ke kamarnya yang terletak di lantai atas
"Mbak Sri, biarkan teman Lucky masuk" Lucky yang melihat Pandu masih berada di teras berteriak dari dalam
"Iya mas" Sri mempersilakan Pandu untuk masuk dan memintanya untuk duduk di ruang tamu
"Bentar ya mas ganteng Sri tinggal dulu ke dapur, masnya mau dibuatin minum apa?" Sri menawari minum dengan sedikit centil
"Sebentar Mbak, tapi saya mencari Bapak Pras" Pandu tidak ingin menyia-nyiakan waktu menunggu penghuni rumah yang salah paham
"Berarti mas ganteng bukan teman mas Lucky? Tapi kok bisa barengan datangnya?" Sri masih tidak percaya ada anak muda yang mencari majikannya
__ADS_1
"Beneran mbak, saya mencari Bapak Pras" Pandu berusaha meyakinkan Asisten rumah tangga keluarga Lucky
"Ya, maaf mas ganteng, sekarang mas ganteng duduk dulu biar Sri ambilin air minum dan Panggil Pak Pras segera" Sri berlalu meninggalkan Pandu sendirian di ruang tamu untuk mencari majikannya sekaligus membuat minuman
Dari arah tangga, Lucky kini sudah mandi dan terlihat lebih segar dan wangi. Dia menuju ruang tamu menemui Pandu yang masih duduk di sana.
"Lo tidak pulang? Kok bisa tahu alamat rumah gue?" Lucky yang sebenarnya ingin bertanya sejak tadi namun dia urungkan karena merasa gerah dan memilih untuk mandi terlebih dahulu setelah menurunkan Nia di tempat tidur miliknya.
"Mana gue tahu ini rumah lo, gue nyari Om Pras dan ingin bertemu dengan beliau" Pandu berkata seperti itu sambil memalingkan muka ke arah lain
"Tidak mungkinkan lo anaknya Om Pras, pasti lo anak pembantunya Om Pras" Lanjut Pandy
"Kalau gue bukan anaknya, terus siapa anak beliau?" Lucky berkata dengan sedikit sombong
"Anak Om Pras jelas pasti Nia, tidak mungkin Om Pras punya anak songong kayak Lo" "Lo numpang tidur di sini dan ikut-ikutan manggil mamanya Nia dengan sebutan "BUNDA" seperti di sinetron-sinetron di televisi, anak pembantu manggil majikannya seolah orang tuanya sendiri karena usia anak mereka sepantaran" Lucky tersenyum mendengar perkataan Pandu
"Buktinya, Nia lo bawa ke kamarnya dan kamar lo juga ada di lantai atas"
"Siapa bilang, Nia berada di kamarnya? Saat ini dia sedang tidur di kamar gue"
"Berani banget Lo bawa Nia ke kamar lo"
Mendengar perdebatan dua orang di ruang tamu, Pras dan Rahma segera keluar menghampiri mereka, meskipun mereka tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kalian sedang bicara apa sih, kok asyik banget?" Rahma segera melerai keduanya sebelum percakapan semakin berkepanjangan
__ADS_1
"Tidak ada kok Bund, cuma bicara hal yang tidak penting" Lucky berkilah
"Oh, kirain bicara hal penting. Oh iya, kata mbak Sri menantu bunda di sini, di mana dia?" Pandu mendengar Rahma membulatkan matanya dan bertanya
"Maksud tante...."
"Maksud tante, Nia. Dia adalah tunangan Lucky yang sudah tante anggap seperti anak tante sendiri. Dia anak dari sahabat Om dan Tante" Rahma begitu santai menjelaskan siapa Lucky dan juga Nia
"Eh, maaf, bukan maksud tante untuk bicara yang tidak-tidak, tapi memang seperti itu kenyataannya" Rahma melihat gelagat Pandu yang sepertinya memendam rasa untuk Nia, karena hal itu dengan senang hati dia bercerita tentang keduanya. Namun, belum juga puas suaminya sudah mendatangi mereka dan menyapa Pandu.
Pandu merasa tidak enak hati mendengar ucapan Rahma yang sepertinya memang ada tujuan lain, rasa
"Pandu ya? Maaf Om tidak bisa menjemputmu, tapi ayahmu menelpon Om, harusnya sudah kemarin kamu sampai, tapi mengapa baru tiba saat ini?" Pras yang sudah ditelpon oleh salah satu sahabat sekaligus saudara yang agak jauh dan telah mengetahui perihal akan kedatangan putra dari sahabatnya
****
Nia baru saja membuka matanya dan mengerjap beberapa kali, dilihatnya kanan dan kiri terlihat tidak asing ruangan yang saat ini dia tempati. Nia turun dari tempat tidur dan merapikannya kembali setelah tahu dimana kini dia berada. Dia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri yang sudah terasa sangat lengket karena sejak kemarin belum terkena air sedikitpun.
Nia melihat ke sekeliling dan mengambil baju milik Lucky, karena dia sendiri tidak punya baju ganti. Selesai dengan semuanya, Nia turun menghampiri semua orang yang sedang bercengkerama di ruang tamu.
"Siang Bunda, Ayah. Maaf, Nia baru bangun" Sikap manja Nia kini juga bisa dirasakan oleh orang tua Lucky yang notabene mereka tidak memiliki anak perempuan
"Sini, duduk dekat bunda. Maafin Bunda ya mengenai kejadian kemarin, semua salah bunda" Rahma menunjukkan kedekatannya dengan Nia di depan Pandu, dia tidak ingin Nia diambil orang lain
"Ini, mengapa pakai baju kayak begini. Tapi tidak apa, inikan baju calon suami, jadi tidak masalah jika kamu pakai. Benar tidak Yah?" Rahma semakin menjadi melancarkan aksinya. Pandu hanya memperhatikan interaksi keluarga Pandu dengan Nia yang terlihat begitu dekat
__ADS_1
Nia baru menyadari ada orang lain di antara mereka ketika dia sudah menyeruput sedikit minuman yang ada di hadapannya
"Kak Pandu belum pulang, mengapa bisa ada di sini?" Nia yang tidak tahu apa yang terjadi tadi pagi bertanya.