
"Jangan banyak alasan, kalau memang Lo gagal bilang saja terus terang tidak usah sok belagu" Danny yang sudah lama menunggu cerita sahabatnya dibuat gemas dengan tingkah Vicky
"Lo tidak percaya dengan hasil kerja gue?" Vicky tidak terima dengan perkataan Danny yang sangat menyinggung hatinya
Mereka semua terdiam mendengar perdebatan kedua sahabat yang tidak pernah ada yang mau mengalah, namun sebenarnya mereka saling menghormati dan menyayangi satu sama lain.
"Kalau memang beneran lo berhasil bakal gue traktir seminggu" Danny cukup marah dengan waktu yang terus diulur oleh sahabatnya
"Wow, seminggu bakalan tidak keluar uang, tawaran yang bagus tapi sayangnya......" Vicky masih saja
"Tapi sayangnya mustahil lo bakal mendapatkan" Danny tersenyum dengan perkataannya sendiri "Sudah gue duga" Lanjutnya
"Jangan senang dulu, jangan nangis kalau gue mendapatkannya karena seminggu ke depan lo bakalan tidak jajan" Vicky tersenyum penuh kemenangan
"Nih, yang kalian butuhkan" Vicky meletakkan ponsel di atas meja yang memperlihatkan foto seorang laki-laki
Semuanya tercengang dan memperhatikan foto yang kini terpampang di ponsel pintar milik Vicky yang tergeletak di atas meja. Lucky sangat kaget melihat wajah yang tidak asing bagi dirinya. Foto Andi terpotret dengan jelas di sana, wajahnya terlihat tanpa ada penghalang apapun.
"Kalau ini gue kenal, mengapa lo bawa foto itu?" Lucky berpaling dan meninggalkan meja
"Sebentar, memangnya lo kenal di mana dengan dia?" Vicky terlihat tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Lucky
"Jelas kenal, dia teman sekolah gue dulu, dan beberapa waktu yang lalu bahkan dia membantu gue dan meminta untuk berhati-hati. Makanya gue selalu bawa mobil akhir-akhir ini" Lucky menjelaskan kejadian saat dia bertemu dengan Andi
"Kak Lucky benar kejar dengannya?" Nia ikut-ikutan nimbrung
__ADS_1
"Iya, Say*ng, kamu ingat kakak pernah cerita kejadia waktu itu, yang membuat kakak harus memakai mobil kemanapun?" Lucky mengingatkan pertemuannya dengan Andi pertama kali setelah lama tidak bertemu
"Tapi, mengapa dia mengincar Nia, padahal Nia tidak kenal, apakah dia punya dendam dengan kakak, tapi ingin balas dendam melalui Nia?" Nia jadi memikirkan yang bermacam-macam
"Kalau dia punya dendam dengan kakak, tidak mungkin dia memperingatkan kakak" Mereka paham dengan yang dikatakan Lucky, tidak mungkin orang yang akan mencelakainya tapi sudah memperingatkannya sebelumnya
"Bisa jadi, dia dibayar oleh orang lain untuk bertindak seperti itu?" Nia mengeluarkan pendapatnya
"Bisa jadi" Nara juga setuju dengan yang dikatakan Nia
"Kalau memang benar Andi dibayar oleh orang lain, kita harus berhati-hati dalam menyelidikinya. Jangan sampai kita salah mencelakai orang, apalagi orang itu sebenarnya tidak berniat mencelakai kita" Nalen ingin memanfaatkan Andi sebagai informan yang bisa dipercaya dan menangkap orang yang menjadi dalang dibalik semua peristiwa yang menimpa Nia dan Lucky
"Gue, setuju" Lucky juga tidak ingin bertindak gegabah, karena Lucky tahu bagaimana kehidupan Andi terdahulu
"Setuju" Semua yang ada di sana menyetujui pendapat Nalen
Di sebuah rumah kontrakan, Manda berteriak dan mencaci seorang laki-laki yang kini tengah duduk menikmati makan malamnya yang cukup sederhana, jauh dari kesan makanan mewah, namun bagi lelaki itu bisa makan sudah suatu kemewahan yang sangat dia syukuri.
"Mengapa lo tidak membuatnya mati sekalian?" Manda melontarkan pertanyaan yang cukup. ekstrim
"Memangnya Lo tidak berfikir, bagaimana dengan restoran pacar lo setelah ada orang yang meninggal di tempat setelah makan di sana?" Andi juga masih otak yang bisa untuk berfikir
"Tidak peduli, mau restoran itu tutup, restoran itu tidak ada pelanggannya ataupun restoran itu tersegel, yang paling penting bagi gue, dia harus mati" Manda semakin marah ketika mendengar keadaan Nia yang sudah membaik
"Kalau restorannya ditutup, apakah Lo tidak berfikir dari mana keluarganya bisa mendapatkan uang untuk kehidupannya dan juga kehidupan di masa mendatang dengan Lo?" Andi masih tidak bisa berfikir dengan perkataan Manda
__ADS_1
"Kalau dia sudah tidak punya uang, tinggal pergi dan cari yang lebih ganteng, lebih mapan, harta yang banyak. Mengapa harus repot memikirkan orang lain, yang paling penting tetap satu bagi saya, Nia harus mati secepatnya" Manda sudah tidak peduli lagi dengan ocehan Andi yang lebih banyak memojokkannya dan menyebutnya cewek gila dan tidak berhati nurani
"Gue kasih waktu seminggu dan harus Lo selesaikan, kalau tidak, Lo akan tahu akibatnya" Manda meninggalkan rumah kecil nan pengap itu dengan meninggalkan segepok uang tanpa menghiraukan bagaimana Andi menjawabnya
"Gue tidak akan pernah lagi melakukan pekerjaan yang Lo perintahkan" Andi memgeraskan suaranya agar bisa didengar oleh Manda
"Dan lo ingat yang kemarin adalah pekerjaan gue untuk Lo yang terakhir, semua sudah impas" Andi mengingatkan jika perjanjiannya bekerja untuk Manda sudah berakhir kemarin
Manda tidak peduli dengan perjanjian yang sudah mereka sepakati, baginya Andi masih di bawah kendalinya, yang sewaktu-waktu dia butuhkan, tetap akan datang untuk membantunya.
Manda yang cukup lelah, membanting pintu rumahnya dengan keras dan menimbulkan dentuman yang mengagetkan seisi rumah, Nana yang sedang belajar di lantai atas juga terlonjak dan menjatuhkan buku yang sedang dia baca, alunan musik yang sedang bergema bisa dikalahkan dengan suara pintu yang dibanting.
"Siapa sih yang membanting pintu, memangnya tidak mahal apa harga pintu?"Nana bergumam sendirian, tanpa ada keinginan untuk melihat pelakunya, dalam hatinya sudah ada jawaban pasti salah satu dari penghuni rumah ini yang lain.
"Ma, mama...."Manda lagi-lagi berteriak dengan suara keras mencari ibunya yang sedang bersiap untuk pergi bersama teman sosialitanya
"Mama, mau kemana? Mengapa mama mau pergi disaat Manda membutuhkan mama?" Manda langsung marah ketika mendapati ibunya yang sudah bersiap untuk meninggalkan rumah
"Manda, kamu sekarang sudah besar, apapun yang kamu lakukan, lakukanlah, mama juga akan melakukan apa yang ingin mama lakukan" Elsa sudah cukup terburu-buru untuk mendengar ocehan anak perempuannya, pada dasarnya dia juga sudah ditunggu teman-temannya di kafe yang sudah disepakati sebelumnya, bagi yang terlibat hadir harus membayar semua makanan yang mereka makan, bagi Elsa dia juga tidak mau rugi, dia harus segera berangkat dari pada menyia-nyiakan uang hanya untuk membayar makanan yang orang lain makan.
Elsa meninggalkan Manda yang masih saja berteriak memanggil ibunya.
"Mama memang jahat, mama sudah tidak peduli dengan Manda, mama egois, lebih baik Manda pergi dari sini" Manda melampiaskan kemarahannya dengan membuang apa saja yang ada di hadapannya
"Baiklah, kalau mama sudah tidak peduli dengan Manda, Manda juga tidak akan pernah mempedulikan keadaan mama lagi" Manda sangat Frustasi disaat dia membutuhkan ibunya, tetapi ibunya tidak peduli
__ADS_1
Di seberang jalan tampak seorang lelaki yang masih muda memperhatikan rumah yang baru saja ditinggalkan oleh wanita setengah baya dengan mengendarai mobil merah yang cukup mewah. Dia tersenyum memperhatikan rumah itu.