
Alangkah terkejutnya Nia, saat memasukkan kue yang sudah dia sendok malah berteriak mengagetkan semuanya "Aaaaaaa..... Ini apaan??kenapa ada benda seperti ini"
"Apaan sih Dek...?" Nalen juga ikut berteriak karena kaget.
"Ini Kak, ada...... " Nia menggantungkan perkataannya setelah melihat apa yang ada di hadapannya saat ini
"Wow, ini sih keren kak" Nia kegirangan mendapatkan hadiah sebuah kalung dengan lionton berbentuk hati di tengahnya terdapat matahari yang bersinar tak lupa ada permata kecil yang bertengger dengan manis di pusat liontin
"Mana Kakak lihat" Nalen ikut berdiri mendekati adiknya yang sedang terpesona melihat hadian yang ada di tangannya
"Wah, ini sih tidak hanya keren Dik, siapa yang memberi kejutan sebagus ini, Mama ya....?" Nalen beralih memandang mamanya seolah meminta jawaban dengan segera
"Mama mana ada uang untuk membeli barang seperti itu, meskipun kecil barang itu juga membutuhkan uang yang banyak.
"Lalu siapa? apa mungkin Papa?"Nalen masih saja mencari siapa yang telah memberi adiknya hadiah yang sangat fantastis
"Kapan papa membelinya, kamu sendiri tahu papa baru saja pulang" Dewa merasa tidak memberikannya bahkan hadiah yang akan dia berikan baru sampai besok pagi.
Dari keluarga Nia semua tidak ada yang mengaku, lalu hadiah semahal itu di berikan oleh siapa, tidak mungkin kan chef yang membuat kue ulang tahun kehilangan kalung?
"Ah, nggak lucu, padahal Nia sudah bahagia banget mendapat hadiah sebsgus ini, eh tahunya milik chef" Nia hanya bisa menatap dengan lesu kalung yang ada di tangannya dan belum berpindah tempat
"Coba adik tanya langsung saja ke chef ya g membuat kue ini" Nalen memberika saran ke adiknya dari pada nanti Nia disebut pencuri kan lebih tidak bagus lagi
Nia beranjak dari duduknya menuju dapur untuk mencari chef yang telah membuat dan mendekor kue ulang tahunnya, namun sayang chef yang dimaksud sudah pulang dan tidak bisa menemukannya di dapur.
"Lucky ijin ke toilet dulu sebentar" Lucky berdiri meninggalkan meja yang masih berisi banyak makanan karena memang belum disentuh sama sekali, dia berjalan menuju ke dapur untuk mencari Nia dan memberitahu yang sebenarnya
__ADS_1
"Eh, kak Lucky juga mau mencari chef?" Nia bertanya ketika Lucky mulai memasuki dapur
"Siapa bilang kakak mencari chef, kakak mencari kamu"
"Ada apa?"
"Chefnya tidak usah dicari, kalung itu memang hadiah untukmu, kalung itu dari Kakak, atas permintaan kakak kalung itu diselipkan di kue yang paling puncang dengan hiasan yang bagus" Lucky menjelaskan asal kalung itu, agar Nia bisa segera kembali ke meja untuk makan malam
"Tapi Kak, apa hadiah ini tidak terlalu berlebihan, harganya juga tidak murah, Nia nggak mau Kak, lebih baik kakak simpan saja, kasih hadiah untuk Nia yang wajar saja" Nia tidak enak hati kalau harus menerima hadiah semewah ini, apalagi harganya yang mahal membuat Nia semakin tidak mau menerimanya
"Memangnya kenapa, Nia tidak mau menerima hadiah dari Kakak, padahal hadiah ini sudah kakak siapkan dengan pesanan desain khusus dan tidak ada yang bakal menyamainya, tapi malah di tolak" Lucky memperlihatkan wajah sedih ketika mengucapkan kata-kata itu agar Nia merasa bersalah telah menolak hadiah pemberiaannya
"Baiklah, Nia Terima, tapi apakah orang tua kakak tidak marah, memberikan Nia hadiah sebagus ini?" Nia takut kalau hanya karenanya Lucky nanti mendapatkan masalah
"Tidak akan ada yang marah, asal kamu tidak cerita ke siapapun, ini adalah rahasia kita berdua, jangan pernah memberitahukan hal ini termasuk kepada Nalen" Bukannya Lucky takut untuk dimarahi orang tuanya, namun dia lebih tidak ingin diketahui orang lain, bahwa dia telah mempersiapkan hadiah yang istimewa itu jauh-jauh hari, masih ada rasa sedikit malu untuk mengakuinya
"Ya sudah, terima kasih banyak Kak, Nia tidak akan bercerita ke siapapun" Nia berjanji sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V ke udara
"Maaf, kami lama" Namun Luckylah yang akhirnya menjelaskan
Mereka tidak mempermasalahkan lagi dan mulai mengambil makanan yang sudah tersedia.
"Wah, semuanya enak, ayo kita habiskan" Danny mulai mengambil piring dan mengisinya penuh dengan makanan diikuti oleh Vicky yang tidak mau kalah
"Itu mengambil makanan sebanyak itu, apakah nanti habis?" Pras geleng-geleng kepala melihat tingkah polah sahabat-sahabat anaknya
"Habis kok Om, kalau nanti tidak habis bakal Vicky bungkus buat ngasih makan kucing Vicky
__ADS_1
Semua tertawa mendengar perkataan Vicky yang sangat berterus terang. Padahal sudah biasa mereka makan sebanyak itu.
"Ya sudah segera dimakan, takutnya nanti dingin kalau kita tinggal berdebat terus" Dewa mempersilakan sahabat lamanya untuk segera mengambil makanan yang sudah tersedia
"Iya tidak bagus berdebat di depan makanan" Rahma juga mengiyakan ajakan Dewa untuk segera makan
Ryasmi dengan cekatan mengambilkan beberapa makanan ke atas piring milik Dewa dan memberikan kepada suaminya. Tidak mau kalah Rahma juga melakukan hal yang sama. Para anak muda hanya bisa melihat keharmonisan kedua orang tua itu. Mereka terlihat saling menyayangi dan menghormati.
"Wah, alangkah senangnya kalau kita juga punya istri, apa-apa ada yang ngambilin, ada yang nyiapin semua kebutuhan kita" Lagi-lagi Vicky berceloteh membuat mereka melihat Vicky secara bersamaan
"Memangnya lo sudah ada calonnya?" Danny menimpali
"Calon sih ada, tapi belum juga dipertemukan" Vicky menerawang sambil meratapi nasibnya yang selama ini belum pernah memiliki pacar
"Itu sih namanya baru ada di dalam khayalan" Danny lagi-lagi mengejek Vicky
"Tapi, harusnya jodohku sudah diciptakan oleh Tuhan kan?"
"Mana gue tahu, mungkin jodoh lo baru lahir, itulah sebabnya selama ini kami belum pernah ketemu dengannya" Vicky langsung menoyor kepala sahabatnya. Mana mungkin jodohnya baru lahir, kalau memang baru lahir terus mereka harus nikah dengan usia yang terpaut jauh gitu, Vicky sudah tua sedang istrinya masih belia. Vicky bergidik ngeri membayangkan jika seandainya hal itu benar terjadi
"Sudah, tidak usah menghayal, kita nikmati saja hidup ini, kalaupun sudah ada jodoh pasti bakalan ketemu" Pras akhirnya membuka suara agar para anak muda ini berhenti berdebat
"Iya Om, gara-gara Danny nih, kita nggak jadi makan"
"Sudah, ayo duduk yang bagus dan makan, kasihan makanannya hanya dianggurin" Ryasmi berkomentar sebelum perdebatan itu berlanjut lagi
Semua menikmati makan malam kali ini dengan rona wajah yang bahagia, setelah lama tidak bertemu mereka dipertemukan lagi dengan keadaan yang lebih baik dan sangat bahagia.
__ADS_1
Dari kejauhan ada yang tidak suka melihat keharmonisan kedua keluarga itu, yang dari dulu selalu bersahabat dengan baik, meskipun mereka bertetangga tapi, mereka tidak pernah bisa bersahabat dengannya
"Mengapa mereka dipertemukan lagi sih, bagus dulu berpisah, hingga Pras dan keluarganya mau berteman dengan keluargaku, tapi sekarang mereka sudah dekat lagi"Orang itu berguman dengan wajah marah