CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
137


__ADS_3

Burhan meninggalkan kediaman keluarga Lucky dengan cukup santai karena sebentar lagi dia terlepas dari beban yang sangat berat selama bertahun-tahun yang beliau emban. Menyetir mobil sendiri tanpa ada sopir yang mendampingi sudah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun terakhir.


Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, beliau dipepet oleh sebuah mobil dan pengendaranya menghampiri beliau dan berterian dengan keras


"Hei Burhan, turun Lo sekarang!" Perintah wanita itu kepada Burhan


"Apalagi Sa, bukannya kamu sudah mendapatkan tabungan yang nominalnya cukup banyak? Untuk apa lagi kami menghentikan kendaraan saya, sepertinya sudah tidak ada urusan lagi denganmu" Burhan dengan santai menjawab dobrakan dari kaca mobilnya


"Masih ada yang harus kita selesaikan mengenai harta si tua bangka itu"Elsa masih saja dengan suara tinggi


"Sepertinya semua sudah selesai setelah kamu mendapatkan rekening itu"


"Masih ada wasiat untuk anakku di sana, kamu harus memberikan sekarang juga"


"Kamu lupa, apa syarat untuk mendapatkan hak itu, sedangkan anakmu tidak punya syarat itu"


"Saya pastikan anak si**an itu bakalan cerai dan menikah dengan anakku"


"Meskipun nantinya mereka cerai, sudah tidak ada hak lagi untukmu"


"Siapa bilang, di sana tidak tertulis menjadi istri keberapa saja"


"Silakan saja berharap sampai kalian meninggal, kalian tidak akan pernah mendapatkan sesenpun"


Elsa berusaha memasuki mobil yang dikendarai oleh Burhan karena lampu lalu lintas sudah berubah warna, dia mencari tas kerja milik Burhan dan ingin menghilangkan semua berkas yang tinggal selangkah lagi berubah nama. Tas sudah ditangan Elsa, dia berusaha mencari berkas yang dimaksudnya dan segera memindahkan ke dalam tas jinjingnya. Kemudian meminta Burhan untuk menepikan mobil, terjadi perebutan berkas di pinggir jalan beberapa saat.


"Kamu tidak berhak atas berkas itu, lebih baik segera kami kembalikan" Burhan mulai menggertak Elsa yang berusaha lari dari hadapannya


"Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan berkas ini, apalagi mereka anak dan cucu tua bangka itu. Jika aku tidak bisa mendapatkannya maka mereka juga tidak bisa mendapatkannya"


"Elsa, kamu jangan sembarangan semua berkas itu tinggal menyelesaikan proses akhirnya, dan kami tidak berhak berkata seperti itu" Burhan menarik tas yang berada di pelukan Elsa


Disana terjadi tarik menarik antara Burhan dan Elsa untuk saling mempertahankan berkas yang sangat penting dan sudah bertahun-tahun hanya tinggal di dalam brankas.


*****


"Kak, mengapa Kakek memberikan harta yang sangat banyak kepada kita? Memangnya beliau pengusaha apa?" Nia yang belum pernah bertemu dengan Kakek Lucky penasaran dengan sosok sang Kakek


"Jangankan kamu, Kakak saja belum pernah bertemu dengan beliau" Lucky mengingat bahwa selama ini dia belum pernah bertemu dengan kakek dan neneknya

__ADS_1


"Berarti mereka sudah meninggal sebelum Kakak lahir?"


"Kalau membaca dari berkas yang kita tanda tangani tadi, sepertinya beliau masih ada ketika Kakak lahir, dan beri meninggal tujuh tahun yang lalu" Lucky menalar setelah mengingat tanggal yang sempat dia baca dalam berkas tadi


"Kalau baru tujuh tahun yang lalu, harusnya Kakak tahu pemakamannya serta sudah paham dan ingat karena kakak juga sudah remaja"


"Seingat kakak, sama sekali tidak pernah menghadiri pemakaman siapapun"


"Apakah selama itu juga Kakak tidak pernah bertemu beliau?"


"Ayah dan Bunda tidak pernah membicarakan ataupun mengajak Kakak ke tempat beliau"


"Apakah kakak tidak merasa ada yang aneh?"


"Maksudnya?"


"Iya, mengapa mereka tidak pernah membicarakan beliau bahkan tidak pernah mengajak mengunjunginya"


"Kakak tidak mau ambil pusing dengan mereka, yang penting bagi kakak saat ini adalah bagaimana kita bisa menjalani hidup kita sendiri"


"Tidak bisa begitu juga dong Kak, kalau anak-anak kita nanti tanya di mana kakek buyutnya bagaimana?"


Mereka berdua berdebat sendiri tanpa tahu apa yang menjadi jawabannya kelak. Merasa capek berdebat mereka terlelap di sofa ruang tamu, hingga melupakan janji yang sudah Lucky buat untuk menemui ayahnya di kantor. Hanphonenya berdering berulang kali sebagai tanda ada sebuah panggilan yang sedang menunggu. Dengan mata yang masih sedikit terpejam, Lucky mengambil dari saku celananya dan terpampang nama sang ayah di sana


"Iya Yah...." Lucky menjawab dengan suara yang masih serak khas orang yang baru bangun tidur


"Kamu tidur Lucky?"


"Iya Yah, memangnya ada apa, Lucky capek banget"


"Pengantin baru, buat janji dengan Ayah saja sampi lupa" Pras menggoda anaknya yang mengeluh kecapekan


"Oh iya, maaf Yah, Lucky benar-benar lupa. Bahkan Lucky belum ke restoran mengecek bahan-bahan yang sudah habis"


"Ya sudah kalau capek nanti di rumah saja, temui ayah di ruang kerja. Jangan sampai lupa lagi"


"Baik Yak"


Mendengar ada orang yang berbicara disampingnya, Nia mulai mengerjapkan matanya. Dia tidak menyadari jika dirinya sejak tadi tidur di samping Lucky pada sofa kamar tamu yang begitu sempit. Setelah menyadarinya Nia langsung berdiri dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


"Ada apa?" Lucky berusaha bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa


"Tadi kakak tidak ngapa-ngapain Nia kan?"


"Tidak, memangnya mengapa?"


"Untunglah tadi hanya mimpi" Nia berguman namun Lucky masih mendengarnya


"Memangnya kami mimpi apa Y*ng?"


"Mimpi kakak menc**m bibir Nia berulang kali"


"Kalau itu bukan mimpi dan memang benar terjadi" Lucky menjawab dengan tanpa berdosa


"Kakak jahat, mengapa melakukannya ketika Nia sedang terlelap?"


"Memangnya kamu mau Kakak c**m dalam keadaan sadar, kalau kami tahu pasti kamu juga sudah lari"


"Tapi kan..."


"Tapi apa? Mau lagi? Nanti malam saja ya, kakak buru-buru mau ke restoran, kamu ikut tidak?"


Nia menganggukkan kepalanya bukan karena mau ikut bekerja namun lebih memikirkan makanan, karena sejak pagi dia belum makan.


Mereka bergegas mandi dan berganti pakaian, mobil yang terparkir segera melaju ke jalanan yang cukup padat lalu lintasnya karena sudah beranjak waktu makan siang, banyak pekerja kantor yang akan mencari tempat untuk makan. Lucky mengendarai mobilnya dengan lambat dan berhati-hati, dia ingin menikmati kebersamaannya hanya berdua dengan Nia.


"Y*ng, kalau kita membeli rumah bagaiman? Biar kita bisa hidup mandiri dan tidak canggung dengan orang tua kita?" Lucky berharap Nia menyetujui usulnya, namun ternyata Nia menjawab diluar rencananya


"Nia belum siap jika harus berpisah dengan mereka Kak"


"Siap atau tidak siap kamu suatu saat juga akan meninggalkan mereka, karena tidak mungkin kita serumah dengan mereka selamanya, sebagai antisipasi lebih baik kita membeli rumah terlebih dahulu"


"Jangan rumah Kak, kalau rumah pasti besar. Sedangkan Nia masih harus bersekolah, lalu siapa yang akan membersihkan dan menjaga rumah. Apalagi Kakak juga bekerja"


"Jadi, kami setuju kita beli rumah?"


"Nia ikut Kakak saja, lagi pula kita pasti akan lebih nyaman jika berada di rumah kita sendiri"


"Setuju" Lucky menjentikan jarinya dan merasa sangat senang karena Nia sudah setuju untuk membeli rumah sendiri

__ADS_1


"Setelah dari restoran, kita keliling mencari tempat yang cocok untuk kita. Pastinya yang tidak jauh dari sekolahmu"


__ADS_2