
"Aku tahu siapa dia" sekali lagi Lucky memperhatikan video di handphonenya untuk memastikan kebenarannya
Danny dan Vicky saling berpandangan, mengerutkan dahi dan mengangkat pundaknya sebagai tanda mereka tidak mengetahui yang dia maksud
"Lo kenal dari mana Luck? Bukannya dia bukan siswa di sini?" Itulah yang diambil kesimpulan oleh Danny karena melihat dari wajahnya begitu asing baginya
"Bukan siswa di sini tapi bukan tidak mungkin kan bagiku untuk mengenalnya?" Lucky menjawab dengan wajah geram sambil memandangi gambar gadis itu
"Lo ingat tidak, sewaktu kita ke mall untuk makan kira-kira satu tahun yang lalu, pada waktu itu kita bertemu Nalen dan gue dipanggil oleh seorang siswa Menengaj atas?" Lucky mengingatkan kejadian setahun yang lalu ketika mereka meminta Nia untuk mentraktir namun Nia malahan tidak masuk sekolah
"Oh iya ingat, dan itu awal mula lo bertemu gadis kecil pujaan hati lo kan...." Danny mulai mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang
"Dialah orangnya yang meminta kita untuk duduk semeja dengan mereka" Lucky menjelaskan siapa sebenarnya gadis itu
Danny dan Vicky baru teringat dengan apa yang disebutkan oleh sahabatnya, memang benar gadis yang dimaksud adalah teman SMP Lucky dulu. Namun, yang menjadi pertanyaan mengapa dia melakukan sebuah kejahatan kepada Nia, yang notabene mereka tidak saling mengenal.
"Memangnya Nia kenal dengan temanmu itu?" Danny mempertanyakan, sedangkan mereka saja yang sudah pernah ketemu tidak mengenalnya
__ADS_1
"Gue kira mereka tidak saling mengenal" Lucky mengingat-ingat apakah antara Nia dan Manda pernah bertemu atau mengenal sebelumnya.
"Dengan alasan apa teman lo berusaha melukai Nia?" Danny tidak habis pikir mengapa bisa melakukan kepada orang yang tidak dikenal
"Kurang tahu juga"
"Nanti kita bicarakan lagi di rumah gue dengan Nalen, Nia dan juga Nara, langkah apa yang sebaiknya kita ambil supaya tidak ada yang saling dirugikan, gue juga tidak enak hati kalau harus membalasnya dengan kejahatan" Lucky menyampaikan sedikit rencananya agar sahabatnya ikut memikirkan langkah yang tepat untuk memberi pelajaran kepada Manda
Sore hari seperti yang sudah direncanakan oleh Lucky semua berkumpul di rumahnya kebetulan kedua orang tua Lucky juga berada di rumah saat ini. Dengan senang hati mereka menerima kedatangan sahabat-sahabat Lucky, bahkan ada Nia yang turut serta.
Tidak membiarkan begitu saja Nia untuk bergabung dengan Lucky dan kawan-kawan, Rahma langsung menariknya ke kamar beliau untuk diperlihatkan sesuatu.
Nia digandeng Rahma seperti anak TK yang mau menyeberang jalan dilindungi agar tidak jatuh dan tertabrak sepeda menuju kamar beliau.
"Ada apa sih Tante?" Nia yang digandeng Rahma menjadi bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dibicarakan
Rahma tidak suka jika Nia memanggilnya dengan sebutan tante, dia sudah menganggapnya sebagai anak sejak pertunangannya dengan Lucky yang dadakan.
__ADS_1
"Bunda tidak suka jika kamu manggil Bunda dengan kata tante, lebih baik jika kamu memanggik seperti Lucky dengan sebutan Bunda, tidak ada tawar menawar dan tidak ada penolakan, TITIK" Dengan menekankan kata titik berharap Rahma bisa dipanggik Bunda
"Sssst, nanti setelah berada di kamar, Bunda akan cerita" Lanjutnya
Sampai di kamar Rahma mengajak Nia untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya, beliau mengambil sebuah buku namin Nia tidak tahu buku apa yang Rahma pegang. Dibukanya buku yang ada ditangannya sembari duduk di samping Nia, beliau memperlihatkan beberapa gambar entah tahun berapa gambar itu diambil, ada beberapa anak kecil yang sedang bermain di tanah lapang, yang membuatnya kaget adalah ada gambarnya dan juga Nalen di sana serta ada anak-anak kecil dengan riang bermain-main.
"Tan... Eh... Bund bukannya ini Nia dan juga kak Nalen?" Nia menunjuk sebuah gambar yang ada dirinya juga Nalen
"Benar, mereka adalah kalian berdua sewaktu masih kecil, gambar ini sengaja Bunda ambil untuk kenang-kenangan ketika Bunda mengetahui rencana kepindahan kalian sekeluarga" Rahma mengingat kejadian waktu sore itu
"Kalian masih bermain dengan riang tanpa tahu kalian akan pergi jauh meninggalkan teman-teman kalian di sini, termasuk Lucky. Kamu tahu apa yang dilakukan Lucky setelah kepergian kalian? Dia menangis berlari ke rumahmu dan mencarimu kesana kemari, dia tidak percaya jika kami secepat itu akan pindah, meskipun dia sudah tahu rencananya tapi dalam pikirannya tidak mungkin hari itu jugaa kamu akan pergi, pagi hari, siang, sore dan malam dalam beberapa hari dia selalu mondar-mandir di sana, memanggil dan mencarimu, bahkan kami kewalahan untuk membujuknya, beberapa hari kemudian dia sempat demam dan tidak kunjung turun, membuat kami sangat khawatir, kami membujuknya untuk mencarimu dan membawamu ke sini lagi jika dia cepat sembuh, dengan bujukan itu sedikit demi sedikit demamnya turun dan kami berusaha mencari informasi keberadaan keluargamu, namun sayangnya tidak ada yang mengetahui sama sekali, kalian hilang seperti ditelan bumi" Rahma sedikit menjeda untuk mengusap air matanya yang sudah tidak bisa dia tahan.
"Bund, sudahlah tidak usah diceritakan lagi, sekarang kita sudah bertemakan....." Nia berusaha membujuk Rahma untuk tidak melanjutkannya lagi, dia takut nantinya dia juga ikutan menangis
"Tidak, Bunda tidak akan berhenti bercerita sebelum selesai, agar kami tahu bagaimana Lucky selama ini kehilangan dirimu dan tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi"
"Kemudian setelah beberapa bulan, dia mengurung diri di kamar, dia hanya keluar ketika pergi ke sekolah selebihnya dia habiskan di kamar. Hingga ada anak kecil yang seusia dengannya mencoba mendekatinya untuk diajak bermain, dialah anaknya" Nia memperhatikan gambar gadis kecil yang cantik, dialah yang selama ini Nia kira yang sebenarnya disukai oleh Lucky
__ADS_1
"Namun, tidak begitu lama Lucky hanya mau bermain dengannya beberapa saat saja, dan kamu tahu tidak bahkan dia nekat menyatakan cinta kepada Lucky di depan Bunda dan Ayah, Lagi-lagi Lucky menolaknya, dengan alasan dia sudah punya pacar dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya, pada waktu itu Bunda sangat kaget mendengar penuturannya, Bunda sendiri tidak pernah melihatnya bermain dengan gadis manapun, tapi mengapa bisa mengatakan sudah punya pacar, Bunda takut dia hanya berhalusinasi saja akibat banyak memikirkan dirimu yang tidak kunjung ketemu, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, Bunda memutuskan untuk meninggalkan desa kita dan pindah ke sini sewaktu Lucky akan memasuki sekolah menengah atas, Namun usaha bunda tidak berhasil juga agar dia melupakanmu, dia hanya bersekolah dan bermain dengan Danny dan Vicky, hanya mereka yang bisa membantu Lucky untuk bisa sedikit demi sedikit keluar rumah untuk menikmati suasana di luaran, hingga suatu saat kalian bisa bertemu lagi dan membuatnya sering melakukan kegiatan di luar rumah, awalnya Bunda sangat senang karena mengira dia sudah melupakanmu, namun diluar dugaan bunda semuanya karena dia berhasil menemukanmu"