
Mendengar namanya di sebut Lucky dan Nia serentak mengangkat kepala dan mengernyitkan dahi, mencoba mengingat apakan mereka mengenali mereka atau tidak.
"Hai, lo lupa dengan gue, mentang-mentang bersama cewek cantik, teman lama dilupain, ya sudah gue pergi kalau lo benar-benar tidak ingat" Remaja laki-laki itu hampir pergi meninggalkan mereka berdua, namun belum juga sempat melangkah sudah ada yang menyebut namanya
"Anton ya...." Lucky mengingat teman kecilnya dulu, teman yang selalu setia menemaninya meski terus-terusan dia cuekin
"Akhirnya lo mengenali gue, meski dulu lo tidak pernah peduli dengan keberadaan gue di samping lo" Remaja lelaki itu mulai mendekat dan menjabat tangan sahabatnya
"Maaf, tadi gue nggak memperhatikan, stand ini milik lo?" Lucky berbasa-basi menanyakan
"Bukan, tapi milik bokap, gue bantuan beliau kasihan kalau nggak dibantuin maklum sudah tua" Anton menceritakan keadaannya yang harus membantu orang tuanya pada waktu malam sejak dia masuk bangku Menengah Atas.
Begitupun Lucky mengatakan hal yang sama jika dirinya juga bekerja. Mereka asyik bercerita sendiri dan melupakan keberadaan Nia yang kini sudah menghabiskan seporsi lontong sayur beserta teh hangat yang hampir tandas.
"Hmmm.... Kakak sudah selesai belum, Nia sudah habis nih..." Lucky membalikkan badannya melihat Nia yang memang sudah menghabiskan makanannya, sedangkan dia sendiri baru habis setengah karena mengobrol dengan sahabatnya
"Kamu mau nambah sayang..." Lucky menawarkan untuk menambah porsi makannya
"Tidak, Nia sudah kenyang, bisa-bisa sakit perut kalau Nia nambah lagi" Nia menolak tawaran Lucky untuk menambah
"Oh, iya, kenalin ini teman kakak dulu namanya Anton, dialah yang selalu setia berteman dengan kakak meskipun selalu kakak cuekin dan sibuk dengan pikiran kakak sendiri" Lucky mengenalkan keduanya
"Anton kenalin dialah Fara, yang kini memilih dipanggil Nia, Lo tahukan siapa dia..." Anton tidak menyangka jika sahabatnya sudah menemukan gadis kecilnya yang dulu membuatnya selalu murung dan mengacuhkannya keberadaan di dekatnya
__ADS_1
"Jadi dia yang membuat lo tidak peduli dengan siapapun, manis sih...." Anton memberikan penilaian terhadap gadis yang membuat sahabatnya tidak ingin berpaling sedikitpun meski beberapa kali didekati gadis cantik di sekolah mereka
"Sudah... jangan dilihatin terus takutnya lo bakal naksir lagi... Bisa gila gue" Lucky menutup mata sahabatnya untuk tidak terlalu lama menatap Nia, Bukannya takut Nia bakal naksir sahabatnya tapi lebih karena dia sendiri yang cemburu melihat orang lain menatap kekasihnya...
"Apakah sekarang sudah resmi...?" Anton berbisik di telinga Lucky
"Resmi apa nih...?" Lucky berlagak tidak tanggap dengan pertanyaan temannya
"Pacaran atau bahkan malah sudah.... " Anton menggantungkan pertanyaanya untuk menggali informasi
"Tau saja lo, baru resmi tunangan...." Lucky menjawab dengan jujur pertanyaan sahabatnya
"Gue balik dulu, kasihan dia baru sembuh" Lucky pamit dengan menyerahkan dua lembaran merah ke tangan sahabatnya, karena sudah terlalu lama di luar Lucky takut Nia kambuh lagi.
Lucky dan Nia berjalan bergandengan tangan, Lucky tidak ingin Nia tertinggal di tengah kerumunan orang asing yang tidak sedikit jumlahnya. Ditengah perjalanan menuju motor, Nia melihat ada pedagang yang menjajakan jagung bakar, dia meminta Lucky untuk memebelikannya.
"Katanya sudah kenyang dan mau pulang?"Bukannya Lucky ridak mau membelikannya tapi lebih takut kelamaan di luar bisa sakit lagi
"Kita kembali ke Villa dulu, biar nanti kakak kembali ke sini lagi membeli jagungnya" Lucky memberikan pilihan, namun Nia tidak mau
"Tapi Nia maunya makan di sini, yang masih anget...." Nia mulai mengeluarkan tingkah manjanya, yang membuat Lucky gemas dan tidak bisa menolak keinginan kekasihnya
"Mang, jagungnya dua" Lucky memesan jagung dan mengajak Nia untuk duduk di tikar yang disediakan oleh penjual jagung, Lucky memilih berbaring sambil memandang bintang-bintang yang ada di langit, dia juga merasa lelah seharian berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk dalam beberapa terakhir ini
__ADS_1
"Kakak capek? Sini tangannya biar Nia pijit" Nia mendekat dan memijit tangan Lucky, meskipun sebenarnya dia tidak bisa memijit namun hal kecil yang dilakukan oleh Nia membuat hati Lucky berbunga-bunga
"Enak tidak?" Tanya Nia, karena Lucky tidak berkomentar apapun
"Heem.... lanjutin ya.... selesai yang kanan yang kiri juga mau kayaknya" Meski cara memijat Nia tidak seperti tukang pijat profesional, namun bisa membuat Lucky memejamkan mata sejenak melepas lelah bahkan tanpa Nia sadari Lucky sudah terlelap tidur dengan berbantalkan satu tangan.
Melihat kekasihnya yang telah lelap, Nia tidak ingin mengganggunya. Dia menikmati sendiri jangung bakar yang sudah matang sambil memandangi wajah tampan sang kekasih yang terlihat sangat lelah. Meski lelah masih terlihat segar dan enak dipandang, bahkan sebuah jagung sudah hampir habis dinikmati olehnya sambil memandang wajah sang kekasih.
Merasa ada yang memandangi, Lucky pura-pura masih memejamkan mata meskipun sebenarnya dia sudah tidak nyaman dipandangi terus sejak tadi. Lucky membuka matanya dengan tiba-tiba membuat Nia salah tingkah, Lucky meraih tangan Nia yang memegang jagung dan mengarahkan ke mulutnya yang sebenarnya jagung itu sudah berada di depan mulut Nia dan sudah ingin menggigitnya. Hingga membuat mata keduanya bertemu dan saling mengunci beberapa saat, pandangan yang saling memuja satu sama lain.
Untuk melepaskan kecanggungan mereka, Lucky malah menarik Nia ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala Nia dan berucap "Sepertinya Kakak benar-benar tidak ingin kehilangan kamu lagi dan ingin segera meresmikan Hubungan kita deh" Lucky berkata sungguh-sungguh, karena dia juga takut jika dia tidak bisa menahan na*sunya jika selalu berdekatan dengan Nia sedang mereka belum ada ikatan resmi
"Tapi kitakan masih sekolah Kak..." Nia takut jika rencana Lucky tidak bisa dirubah lagi
"Tapi kakak sudah mau lulus, tinggal nunggu ujian saja sayang..." Lucky masih saja berusaha membujuk Nia agar mau diajak menikah
"Tapi usia kita belum boleh untuk menikah" Nia masih menolak
"Siapa bilang, secara agama kita sudah bisa menikah, kita sudah dewasa dan kakak sudah mampu untuk mencukupi semua kebutuhan kita berdua, kakak takut suatu saat akan khilaf jika sering bersama" Lucky mengakui ketakutannya selama ini yang sudah berusaha dia tahan
Lucky menggenggam kedua tangan Nia dan memandanginya seolah memohon agar Nia mendukung apa yang dia rencanakan
"Apakah kakak nantinya tidak akan bosan dengan keberadaan Nia yang masih manja bahkan Nia tidak bisa memasak, Nia takut Kakak akan berpaling ke cewek lain nantinya" Lucky berusaha meyakinkan Nia lagi "Apakah selama sepuluh tahun berlalu, kesetiaan kakak masih belum cukup, banyak cewek yang mendekati kakak tapi sama sekali hati ini tidak bisa berpaling darimu"
__ADS_1
Sekali lagi Lucky mengecup puncak kepala Nia dengan semakin dalam dan sangat dinikmati oleh keduanya, karena hanya sebatas ini yang bisa dia lakukan. Meskipun sebenarnya mereka tahu hal itu juga belum boleh dilakukan, namun karena terhanyut dalam suasana mereka menikmatknya tanpa mereka sadari.
"Bagaimana apakah kamu mau... Biar nanti setelah pulang dari sini kakak akan bicara dengan ayah dan bunda, mereka pasti juga akan setuju" Nia sedikit berfikir, namun dia juga tidak ingin melakukan dosa lebih banyak lagi dan dia memutuskan untuk menganggukkan kepalanya