
Benar saja hingga pagi menjelang teman sekamar Nia tidak ada yang peduli keberadaan Nia yang entah dimana, mereka beraktifitas seperti biasa dan mulai mengepak dan membereskan semua barang-barang pribadi mereka setelah selesai membersihkan diri.
"Semalam Nia tidak masuk kamar ya?" Tanya Nana kepada teman-temannya
"Tidak tahu, gue sudah tidur sejak sore dan tidak terbangun sama sekali" Kilah Sonya
"Gue juga tidak terbangun mungkin karena gue kecapean, jadi tidak dengar ada yang masuk atau tidak"Risma juga berbohong, padahal tadi malam mereka terbangun.
" Ya sudah, kalau sudah selesai semua kita turun dulu untuk sarapan barang-barang siapa tahu Nia sudah ada di sana"Nana khawatir dengan keberadaan Nia yang sejak kemarin tidak menemuinya ataupun tidak kembali ke kamar.
Sebenarnya Nana terbangun beberapa kali, tetapi ketika dia mengecek dipan bagian Nia, dia belum mendapati Nia berbaring di sana, mau mencari keluar dia tidak berani kalau sendirian.
Mereka bertiga menuju aula untuk sarapan dan mencari keberadaan Nia, bagaimanapun pastinya mereka yang akan menjadi sasaran utama guru pembimbing untuk mengetahui keberadaan Nia, karena mereka satu kamar.
Namun, pagi ini Nia memutuskan untuk tidak keluar kamar untuk sarapan, dia berencana kembali ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya setelah melihat teman sekamarnya pergi keluar untuk sarapan dan membawa barang-barang itu ke kamarnya yang sekarang.
Lucky mengetuk pintu kamar Nia, namun sebelumnya dia sudah menelpon Nia untuk menemaninya mengambil barang-barangnya di kamar yang lama ditemani juga oleh Danny dan Vicky. Kedua sahabatnya itu juga sudah tahu apa yang dialami oleh Nia tadi malam, jadi mereka memutuskan untuk membantu Nia, mereka takut kalau membiarkan Nia kembali ke kamarnya yang lama sendirian akan terjadi su'udzon apabila terjadi sesuatu.
Flashback On
Lucky baru masuk ke kamarnya setelah menyelesaikan administrasi pemesanan kamar untuk Nia. Danny terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara pintu terbuka. Terlihatlah Lucky yang mulai memasiku kamar dengan wajah yang cukup berseri, membuat Danny penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Dari mana Luck, malam-malam gini keluar kamar?" Tanya Danny penasaran
"Dari dapur, ambil air minum" Jawab Lucky sekenanya
"Terus mana airnya?" Danny tidak mendapati Lucky membawa air barang sedikitpun, tapi mengapa bilang ambil air di dapur? Danny menjadi semakin penasaran, karena tidak biasanya temannya ini berbohong. Matanya yang awalnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, kini malah terbuka lebar demi mengorek informasi dari sang sahabat.
Mau tidak mau Lucky bercerita juga mengenai keadaan Nia yang saat ini seperti ketakutan untuk kembali ke kamarnya dan memilih untuk tidur di lobby penginapan yang menurutnya sangat berbahaya, yang pada akhirnya dia memerankan sebuah kamar untuk Nia karena khawatir tidak bisa istirahat dengan nyaman padahal besok mereka sudah harus perjalanan pulang.
Danny memiliki pemikiran yang sama, mengenai kejadian yang menimpa Nia. Namun dalam benaknya tidak mungkin hal itu sudah direncanakan, karena menurut sepengetahuan mereka, hanya Nana yang dekat dengan Nia selama ini serta tidak mengenal Sonya. Hal itu sangat mustahil Nia sendiri tidak pernah membuat onar di sekolahnya, apalagi di kelasnya. Yang menjadi misteri adalah apa motif yang digunakan oleh si pelaku.
Flashback Off
Mengambil sarapan di aula dengan di kawal cowok-cowok keren di Sekolahnya, Nia menjadi pusat perhatian karena semua siswa sudah duduk rapi di kursi yang tersedia, jadi ketika mereka memasuki aula semua mata tertuju ke pintu utama yanga memperlihatkan pemandangan yang sudah tidak asing lagi bagi mereka, di sekolah pun mereka sering terlihat bersama.
"Bukannya itu Nia, pantesan semalam tidak balik ke kamar, mereka pasti pergi bersama, bukannya tadi malam Nia dan Kak Lucky berada di taman kota?" Risma langsung berkomentar ketika melihat Nia dan para bodyguardnya masuk ke aula dan langsung menuju ke stand makanan yang sudah tersedia dan mengambil kursi yang belum ada penghuninua.
"Nia, duduk sini" Nana memanggil Nia untuk duduk bersama dengan mereka
"Terima kasih, gue duduk dengan mereka saja" Nia menolah dengan cukup sopan
Namun, banyak mata yang memandang tidak suka dengan kedekatan antara Nia dengan ketiga lelaki yang sudah bersahabat lama itu. Mereka iri, anak kelas satu bisa sedekat itu dengan kakak kelas bahkan mereka sering melihat, jika Lucky selalu berangkat dan pulang bersama, padahal sebelum ada Nia di sekolah mereka, Lucky terkenal dengan siswa yang sulit untuk didekati oleh cewek manapun.
__ADS_1
"Kita duduk di sana saja" Lucky memimpin teman-temannya untuk menuju sebuah bangku yang masih kosong dan kebetulan berdekatan dengan meja pemilik penginapan yang tak lain adalah Pandu, karena rencananya setelah sarapan mereka akan berpamitan secara resmi dan berterima kasih atas semua jamuan yang sangat memuaskan selama berada di sini.
"Pagi, Kak Pandu...." Nia menyapa Pandu dengan sopan ketika melewati meja Pandu, Cowok tinggi dan ganteng pemilik penginapan itu hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.
Sebenarnya Pandu ingin meminta Nia untuk duduk di dekatnya, namun dia urungkan karena Pandi melihat Nia datang dengan cowok yang sama tadi malam yang bersedia membayarkan kamar untuk seorang gadis, bahkan harganya juga tidak murah bagi seorang pelajar seperti mereka meskipun hanya satu malam.
Ada rasa sedikit sakit di ulu hati Pandu ketika melihat kedekatan mereka. (Hlo ngapain Pandu merasa sakit hati melihat Nia dengan cowok lain? Jangan-jangan dia naksir Nia?) Pandu baru kali ini merasakan seperti ada yang menyayat hatinya hanya melihat seorang gadis ingusan dekat dengan cowok, mustahil bukan Pandu tertarik dengan Nia yang baru dia temui semalam karena membantunya kembali penginapan dan memberinya sebuah selimut.
"Pandu siapa?" Danny bertanya pada Nia, dia penasaran sejak kapan Nia bisa mengenal penduduk asli sini
"Itu, Kakak yang duduk di sana, ngakunya sih pemilik penginapan sini, tapi kan nggak mungkin masih muda sudaj memiliki penginapan sebesar dan seramai ini" Nia menjelaskan siapa sebenarnya Pandu, meskipun Nia sendiri masih belum percaya dengan yang dikatakan Pandu semalam
"Sejak kapan lo kenal dengan dia?" Vicky juga penasaran sedangkan Lucky hanya menyimak apa yang mereka obrolan namun dalam hati kecilnya ada sedikit rasa cemburu.
"Semalam, Kak Pandu nemenin aku pas hujan deras di emperan kios depan sana, bahkan dia juga membantu mencarikan payung agar bisa kembali ke penginapan, dia juga yang nemenin Nia duduk di lobby sebelum Kak Lucky datang" Nia berbicara jujur tanpa ada yang ditutupi
"Wah... wah wah ada yang bau gosong nih.... Lo bau nggak Vick...?" Danny mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya sambil tersenyum mengejek ke arah Lucky
Lucky yang menyadari langsung melihat ke arah Danny dengan tatapan tajam dan menusuk
"Bau gosong apaan sih, kenapa Nia tidak bau sama sekali?" Tanya Nia dengan polosnya yang malah membuat Danny dan Vicky semakin tertawa lebar sedangkan Lucky makin mempertajam pandangannya ke arah kedua temannya itu dan memalingkan muka ketika Nia melihat ke arahnya.
__ADS_1