CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
45


__ADS_3

"Siapa bilang, Kakak senyum-senyum" Nalen membela diri karena telah ketahuan senyum tanpa sebab


Nalen memilih untuk mengajak Nia untuk mampir sebentar ke sebuah kafe yang berada di seberang jalan sekolah adiknya itu, bukan tanpa alasan dia mengajak adiknya itu tak lain adalah ingin bertemu lagi dengan seseorang yang dalam beberapa hari ini selalu membayanginya kemanapun dia pergi yang tak lain adalah Nara yang kini tengah duduk sendirian sambil menggenggam es yang ada di plastik persis seperti anak kecil yang baru jajan dari kantin sekolah. Namun siapa sangka dia adalah seorang gadis yang memiliki pengetahuan yang mumpuni dibidang IT, yang jarang sekali ditekuni oleh seorang perempuan.


Nalen memilih mengajak Nia duduk di meja yang berada di luar kafe sambil pandangannya tidak lepas dari gadis imut itu, Nia sesekali memperhatikan Kakaknya yang kadang seperti tersenyum namun sebisa mungkin ditahan.


"Kakak sebenarnya lihat apa sih, dari tadi kelihatannya tidak fokus, bahkan mungkin kakak mengajak Nia ke sini cuma alasan saja, Kakak ingin menemui seseorang ya..." Nia bicara lumayan keras karena dia dalam mood yang kurang baik dan terlalu lelah, kini malah diajak nongkrong di kafe dengan tujuan yang tidak jelas. Bahkan saat ini untuk mengembalikan moodnya, Nia memesan banyak makanan dan cemilan, untuk membalas kakaknya yang seenak jidat malah mengajaknya berada di sini, yang seharusnya kini dia sudah berada di kamarnya yang nyaman untuk menghilangkan rasa capeknya


Nia menggulung kaos lengan panjangnya sampai ke siku agar dia bisa leluasa menikmati makanannya. Perhatian Nalen mulai teralihkan dari seorang Nara kembali ke adik kesayangannya ketika terlihat beberapa luka baret yang ada di lengan adiknya


"Kamu jatuh Dik" Nalen menarik tangan Nia dan memeriksanya dengan teliti, ternyata banyak luka yang ada di tangan Nia, bahkan tidak hanya di tangan, di kaki pun ada luka-luka juga. Nalen mengernyitkan alisnya tidak habis pikir mengapa adiknya hanya diam seolah tidak pernah terjadi apa-apa padanya.


"Bukannya Nia pernah cerita ke kakak waktu telphone kemarin?" Nia berusaha membela diri


"Mana ada, kamu tidak cerita apapun sama kakak" Nalen mulai ngegas mendengar perkataan adiknya


Karena terlalu asyik berdebat dengan adiknya, Nalen tidak menyadari ada seseorang yang mendekat dan menyaksikan interaksi sepasang kakak adik itu, bahkan orang yang tidak tahu akan mengira meraka adalah sepasang kekasih karena interaksi mereka sangat dekat.


"Hai, selamat sore..... sudah baikan dengan pacarnya Kak?" Nara menyapa Nalen yang sedang asyik memperhatikan luka-luka yang ada di badan adiknya


Nalen langsung melepaskan tangan Nia begitu saja ketika mendengar suara perempuan yang menyapanya "Aduh....Sakit Kak" Nia meringis menerima perlakuan kakaknya "Apaan sih Kak, tadi saja dielus-elus tapi kenapa sekarang dilempar?" Nia masih saja menggerutu, namun Nalen hanya tersenyum mendengar ocehan adiknya


"Hallo selamat sore....." Ucap Nara lagi, karena ucapannya yang tadi belum ada respon

__ADS_1


"Eh, Hai..... sore... " Nalen menjawab dengan terbata-bata


"Sudah baikan dengan pacarnya mas?" CCTV nya sangat bermanfaat ya....?" Nara berkomentar dengan santainya


Nia geleng-geleng kepala mendengar perkataan seseorang yang belum pernah dia temui, bisa-bisanya dibilang pacaran sama kakaknya sendiri.


"Bukan, dia bukan pacar saya" Nalen berusaha memberikan penjelasan


"Bukan pacar kok mesra?" Nara kaget ketika Nalen bilang bukan pacarnya,


"Dia Nia, adik kandung saya" Nalen menjelaskan dengan cepat, agar tidak terjadi kesalahpahaman


"Oh.... Senang ya punya saudara yang saling pengertian" Raut wajah Nara langsung berubah ketika mendengar kebenaran mereka berdua, pasalnya dia punya saudara sudah kayak anjing dan kucing alias tidak pernah akur.


"Mengapa kamu sering banget bawa es dipastikan kayak begitu, macam anak SD pulang sekolah saja?"Nalen mencoba mengorek penjelasan, karena dia kali bertemu, Nara selalu terlihat membawa es yang dipastikan


" Lebih enak saja, dari pada harus nongkrong di warung hanya buat menghabiskan segelas es, mending dibawa keluar warung sambil menikmati orang yang lalu lalang


"Maaf, Kakak ini sebenarnya siapa sih, kok kelihatannya akrab banget dengan Kak Nalen?" Nia memotong pembicaraan antara Nalen dan Nara, karena sejak tadi dia dicuekin setelah kedatangan gadis ini


Nalen kemudian memperkenalkan keduanya "Nia, dia adalah Nara baru beberapa hari yang lalu kenal dengan Kakak"


"Oh.... Nia kira diam-diam kakak pacaran" Nia menunjukkan rasa kecewa, dia berharap gadis yang saat ini berada di depannya adalah pacar kakaknya, namun kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasi

__ADS_1


"Bukan, kami tidak pacaran, saya hanya pernah membantu dia meretas CCTV kota hanya untuk mencari tahu tentang ceweknya" Nara dengan entengnya berkata seperti itu


"What...." Nalen memelototkan matanya mendengar Nara berkata seperti itu


"Bukan... waktu itu bukan mencari tentang pacar saya" Lanjutnya


"Iya, mana mungkin kak Nalen punya pacar, sedangkan dia setiap hari hanya ngerecokin hidup Nia kok, mana sempat dia pacaran...?!" Nia membenarkan perkataan Nalen


Nia berkata seperti itu bukan tanpa alasan, karena memang setiap hari Nalen hanya sibuk dengan dirinya sejak pagi, mengantar ke sekolah lanjut pergi kuliah, jemput sekolah dan kembali berkutat dengan kuliahnya, bahkan mungkin malah bisa di bilang sebagai sopir pribadi Nia, karena Nalen selalu siap ketika sang adik meminta diantar kemana saja.


Nalen melirik tajam ke arah adik mengisyaratkan agar tidak lagi melanjutkan ocehannya. Karena sebenarnya Nalen merasa malu dikatakan tidak sempat pacaran.


"Kak Nara, duduk sini, minta tolong dong temenin Nia menghabiskan ini semua" Nia menunjukkan makanan yang ada dimeja begitu banyak, mustahil jika dia sendirian bisa menghabiskan makanan ini


"Ok, tapi gue tidak mau banyak-banyak" Nara duduk di samping Nia ikut memakan beberapa makanan yang tersaji di meja


"Kakak diet? Tidak usah diet Kak, ngapain juga diet, badan kakak saja bagus begini kok"


Nia dan Nara menikmati makanan sambil mengobrol kesana kemari tidak jelas, bahkan mereka berdua melupakan keberadaan Nalen yang hanya bisa memandang dengan lesu mereka yang tidak tahu waktu, bahkan saat ini sudah hampir maghrib mereka belum juga beranjak dari sana, Nalen berdiri dan berucap "Kalau kalian mau bermalam di sini silakan, tapi kayaknya Kakak tidak sanggup, karena kakak ada pekerjaan yang harus di selesaikan"


Keduanya baru tersadar jika hari sudah mulai gelap, Nia memilih untuk segera mengikuti kakaknya yang sudah menjauh dari mereka


"Kak Nara kapan-kapan kita ngobrol lagi ya..." Teriak Nia sambil berlari meninggalkan Nara sendirian ditemani beberapa makanan ringan yang di tinggal oleh Nia.

__ADS_1


Ditentengnya Plastik yang kini berada di tangannya berlalu pergi meninggalkan kafe dan hendak pulang, namun seseorang memanggilnya "Nara... berhenti"


__ADS_2