
Lucky hanya sebentar berada di restorannya, dia menyerahkan seluruh pekerjaan untuk bulan ini kepada managernya. Saat ini dia tidak mau pusing memikirkan kebutuhan restoran, karena ingin menikmati kebersamaan bersama Nia sebagai pasangan suami istri sebelum Nia masuk sekolah lagi. Satu tahun kedepan Nia masih harus menyelesaikan pendidikannya di tingkat atas. Sedangkan Lucky tahun ini kuliah mengambil manajemen yang akan dia manfaatkan untuk lebih mengembangkan usahanya.
Menyusuri jalanan serta mencari melalui media sosial mereka berusaha mencari rumah yang tidak begitu besar, karena hanya akan mereka manfaatkan selama Nia menyelesaikan pendidikannya. Kalau untuk rumah tinggal berikutnya Lucky sudah mempersiapkan sebuah rumah yang saat ini masih dalam tahap pengerjaan dan baru menyelesaikan setengahnya dari seluruh projek.
"Kalau tidak menemukan rumah yang sesuai dengan keinginan kita, lebih baik cari rumah kontrakan atau kos saja tidak apa-apa kok Kak, yang penting kita mandiri" Nia sudah lelah seharian berkeliling mencari rumah yang dekat dengan sekolahnya
"Kita tanya dulu sekali lagi, seandainya tidak dapat, kita bisa ambil apartemen yang dekat dengan sekolahmu, Sayang" Lucky dari awal berniat untuk membeli sebuah apartemen yang dijual dekat dengan sekolah Nia, unitnya juga sudah selesai tinggal menempati saja, semua perlengkapan yang dibutuhkan juga sudah disediakan oleh pihak developernya.
"Bukannya apartemen di sana mahal Kak?"Nia juga sedikit tahu tentang apartemen yang dibangun dekat dengan sekolahnya, selain fasilitasnya yang mumpuni juga dilengkapi dengan minimarket di dalamnya, serta ada sebuah kafe dan juga tempat olahraga bahkan klinik kesehatan juga ada di dalamnya
"Kita tanya dulu saja, kalau uang kakak cukup kita ambil, kalau masih kurang kita mundur dan cari yang lain"
"Terserah Kakak saja"
Lucky memutar mobilnya dan menuju ke kantor pemasaran yang tidak jauh dari posisinya saat ini. Lucky sudah mengenal betul dengan lingkungan apartemen yang tidak jauh lokasinya dari sekolahnya dulu. Menemui seorang karyawan pemasaran, Lucky mulai berbincang-bincang dan bertanya mengenai apartemen di sini, awalnya mereka tidak begitu percaya jika Lucky ingin mengambil sebuah unit yang sudah selesai dibangun, karena manager yang menemuinya saat ini tahu betul jika Lucky baru lulus sekolah tahun ini, karena sering melihatnya berada di lingkungan sekolah.
"Kalian jangan main-main dengan pekerjaan kami, kami sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk meladeni anak kemarin sore seperti kalian" Manager itu sangat emosi karena sejak tadi Lucky hanya bertanya-tanya terus
"Maksud Bapak apa? Kami tidak main-main, kami berniat untuk mengambil sebuah unit di sini, kalau Bapak tidak ramah kepada pelanggan, bagaiman unit kalian akan terjual?" Lucky yang dikatakan hanya mempermainkan tersulut emosi juga
"Meskipun kami masih muda bahkan masih kecil di mata Bapak, namun asal Bapak tahu kami sudah menikah dan saat ini membutuhkan tempat tinggal" Lanjut Lucky
Manager itu tersenyum seolah mentertawakan Lucky dan berfikir mungkin mereka akan menyewa unit hanya untuk perbuatan yang senonoh.
__ADS_1
"Kalian jangan berbohong, tidak mungkin kalian sudah menikah, Usia kalian saja belum ada delapan belas tahun, kalau mau berbuat mes*m jangan di tempat kami"
"Lihat Pak, ini dokumen pernikahan kami dan ini adalah sah dimata hukum negara kita" Lucky mengeluarkan Buku Nikahnya serta dokumen lain yang berkaitan dengan pernikahannya untuk berjaga-jaga jika dibutuhkan
"Jangan-jangan kalian bunting duluan?" Manager itu semakin merendahkan
"Maaf Pak, lebih baik kami berbicara langsung dengan pimpinan Anda" Lucky yang sudah tidak tahan dengan ucapan manager ituitu, memilih untuk bertemu langsung dengan pimpinan
"Maaf, beliau sedang tidak ada di kantor"
"Baiklah, akan saya telepon sendiri. Jika beliau ada di kantor jangan harap Bapak masih bekerja di sini esok hari" Lucky mulai mengancam
"Silakan, dan juga jika kalian tidak bisa membayar salah satu unit disini, kalian tidak berhak mengatakan apapun tentang saya kepada pimpinan kami"
"Kita lihat saja nanti"
Selesai bicara di telepon ada seseorang yang menghampiri mereka dengan membawa sebuah map di tangannya.
"Hallo, selamat siang. Bagaimana apakah kamu tertarik dengan unit yang sudah kami perlihatkan sebelumnya?" Kata pimpinan bagian pemasaran apartemen. Meneger terlihat sangat pucat pasi melihat interaksi antara pimpinannya dengan anak kecil dihadapannya.
"Sebelum, saya memutuskan untuk mengambilnya, biarkan istri saya melihatnya terlebih dahulu, kalau dia setuju maka akan kami ambil"
"Baiklah. Jadi, kalian benar-benar sudah menikah?"
__ADS_1
"Iya, baru kemarin kami mendapatkan buku nikah"
"Saya salut denganmu, usiamu masih muda namun kamu seberani itu mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupmu, mungkin saya harus banyak belajar darimu"
"Silakan kalian melihat unitnya terlebih dahulu, kalau memang tertarik akan segera kami siapkan berkas jual belinya dan kalian bisa langsung menempatinya"
Mereka berjalan beriringan menuju sebuah unit yang sangat strategis dan memiliki nilai investasi yang sangat menjanjikan. Nia yang kurang mengetahui tentang seluk beluk investasi properti hanya mengekor di belakang Lucky.
Setelah puas melihat unit mereka menuju kantor untuk membicarakan lebih lanjut.
****
Elsa yang berhasil membawa berkas yang berada di dalam tas milik Burhan, segera berlari ke tempat yang cukup sepi dan membakarnya di sana. Burhan yang mengikuti dari belakang terlihat pucat melihat berkas yang ada di dalam tasnya sudah berubah menjadi abu dan tidak bisa diselamatkan.
"Dasar biad*b kamu Elsa, apa belum cukup dengan rekening yang sudah beralih menjadi namamu yang nominalnya cukup banyak itu?"
"Saya tidak akan pernah bisa merasa pu*s sebelum bisa menguasai semua kekayaan tua bangka itu"
"Serakah, bahkan kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan"
"Kalau semua berkas sudah menjadi abu, maka tidak akan ada hitam di atas putih yang bisa digunakan untuk menguatkan secara hukum mengenai harta-harta itu, dan saya harap kamu bisa membuat berkas baru yang berisi semua pengalihan atas namaku"
"Tidak semudah itu merubah berkas yang sudah di tanda tangani dan kini sedang proses penyelesaian"
__ADS_1
"Maksudmu apa, sudah proses penyelesaian bahkan berkasnya saja sudah tidak berbentuk"
"Sudah saya perkirakan mengenai kejadian saat ini, maka sebelum kamu berhasil menghilangkan berkas-berkas itu, saya sudah meminta pegawai untuk membawa dan menyelesaikan semua proses lebih lanjut" Burhan sudah memperkirakan kejadian ini, maka untuk mengantisipasi, dia sudah meminta seorang karyawannya untuk menyelesaikan proses selanjutnya, dan berkas yang berada di dalam tas hanyalah berkas-berkas salah cetak yang pastinya memang harus segera dimusnahkan.