
"Di sini saya akan mengatakan dengan sejujurnya dan tidak ada paksaan dari pihak manapun serta berasal dari hati nurani saya sendiri, akan mengatakan beberapa poin mengenai saudara terdakwa yang merupakan kakak tiri saya.
Yang pertama benar dia adalah anak tiri ayah saya dan berhak atas perusahaan meskipun hanya kecil. Kedua memang benar adanya seluruh tuduhan yang kami layang kepada yang bersangkutan dan juga bukti-bukti yang diserahkan kepada pihak pengadilan. Ketiga banyak kesalahan-kesalah yang sudah dia lakukan yang melanggar hukum dan menimbulkan kerugian bagi orang lain. Namun, saya sebagai seorang wanita muda yang berusia tidak jauh dari terdakwa maka dengan segala hormat kami sampaikan kepada bapak hakim, untuk memberikan putusan yang seadil-adilnya bagi saudara tiri saya. Dan yang terakhir saya sampaikan bahwa semua tuduhan yang kami layangkan kepada terdakwa mulai detik ini kami cabut dan membebaskannya dari semua tuduhan. Kami dengan rela dan ikhlas memberikan maaf kepada saudara terdakwa demi kehidupannya di masa yang akan datang. usianya yang masih sangat muda tidak akan kami rusak hanya dengan sebutan seorang bekas Nara pidana" Nana bicara panjang lebar, dia tidak ingin saudaranya kelak mendapatkan nama yang kurang baik dalam kehidupan bermasyarakat bagaimanapun juga Manda adalah saudaranya dan terbukti bisa hidup dengan baik dan berbaur dengan masyarakat yang sangat menyayanginya, Nana yakin jika Manda terbebas, pasti akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Mendengar perkataan Nana, pihak hakim, pengacara dan Jaksa melakukan rapat singkat untuk memberikan putusan terbaiknya. Mereka tidak mau mengambil keputusan yang salah setelah mendengar penuturan dari Nana tentang Manda.
Keputusan dibacakan oleh hakim ketua setelah setengah jam melakukan pembicaraan tertutup. Seluruh hakim dan Jaksa kembali memasuki ruang sidang dan bersiap untuk membacakan keputusan.
"Sebelumnya kami mohon maaf karena harus melakukan rapat kecil untuk membuat keputusan pada siang hari ini. Setelah kami mendengarkan keterangan dari saudari Nana selalu saudara tiri dari saudari Manda dan disertai dengan saksi-saksi lain yang meringankan, maka kami memutuskan untuk membebaskan saudara Manda dari hukuman penjara, sebagai gantinya maka diwajibkan saudara Manda untuk melakukan wajib lapor seminggu dua kali dan tidak diperbolehkan untuk bepergian ke luar kota. Namun, apabila dalam jangka waktu satu tahun yang bersangkutan melakukan suatu kejahatan lagi, maka proses hukum tetap akan kami lakukan seadil-adilnya dan tidak akan memberatkan salah satu pihak. Demikian surat putusan persidangan kali ini, dan kami anggap sidang kali ini sudah selesai" Hakim mengetukkan palunya sebanyak tiga kali dan disambut tangis bahagia dari Manda karena akhirnya dia bisa terbebas dari seluruh tuduhan yang dilayangkan kepadanya berkat kebaikan yang sudah dia lakukan di tempat persembunyiannya, bahkan Manda berjanji akan tetap menjadi orang baik meskipun sudah tidak tinggal di desa itu lagi.
"Terima kasih, Nana.... Maaf atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat selama ini" Manda memeluk Nana yang kini duduk di belakangnya menyaksikan pembacaan putusan pengadilan
"Sudah aku maafkan, mulai saat ini kita tetap saudara dan kami berhak tetap tinggal di kamarmu yang dahulu"
"Terima kasih, tetapi sepertinya aku akan mencari tempat tinggal sendiri, karena tidak enak juga karena sekarang kamu sudah bersuami"
"Beberapa hari ke depan lebih baik pulang ke rumah dahulu, dan setelahkan kita akan cari rumah lain untuk kamu tempati"
__ADS_1
"Terima kasih sekali lagi atas kebaikanmu, padahal selama ini aku sudah jahat padamupadamu, Oh iya aku juga akan minta maaf kepada Nia dan Rasya"
"Mereka saat ini sedang di rumah sakit, nanti kita mampir kesana dahulu, aku juga belum menjenguknya"
Nana, Andi dan juga Manda mereka meninggalkan tempat persidangan dan menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Nia yang saat ini harus istirahat terlebih dahulu. Namun, mereka mampir untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Lucky berjalan kesana kemari melihat istrinya dibawa ke ruang operasi, keadaan Nia semakin menurun hingga dokter memutuskan untuk melakukan tindakan untuk Nia. Mulut Lucky tidak hentinya mengucapkan Do'a-do'a untuk kelancaran istrinya.
Dalam keheningan di depan ruang operasi Nana dan yang lain berdatangan memberikan dukungan untuk Lucky. Satu jam berlalu seorang perawat memanggik Lucky untuk menyambut kelahiran sang putra dan segera mengumandangkan adzan dan iqomah untuk pertama kalinya di telinga bayi mungil nanti putih.
"Terima kasih, berkat bantuan Do'a-do'a kalian semua akhirnya putraku lahir"
Semua orang memberikan ucapan selamat, Lucky belum menyadari salah satu diantara mereka ada Manda yang sejak tadi tidak berani mendekat kearahnya.
"Kak, katanya tadi mau minta maaf" Nana memanggik Manda yang duduk sendirian dalam jarak yang cukup jauh
Manda tersenyum dan berjalan mendekat ke arah mereka, mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat sebelum dia meminta maaf. Lucky menunjukkan rasa heran mengapa Manda saat ini berada di rumah sakit ini, bukannya seharusnya saat ini dia berada di balik jeruji besi. Nana dan Andi memberikan isyarat dan berjanji akan memberikan penjelasan nanti.
__ADS_1
"Sya, selamat atas kelahiran putra pertamamu dengan Nia, saya di sini hanya ingin meminta maaf kepada kalian karena semua kejahatan yang pernah saya lakukan selama ini, terutama kepada Nia, aku berharap kamu dan Nia bersedia memberikan maaf kepada orang sepertiku" Manda menundukkan kepalanya ketika mengucapkan maaf di depan Lucky
"Manda, kita semua adalah teman, dan tidak baik jika ada yang meminta maaf namun aku tidak memaafkan, rasanya tidak adik bagimu sedangkan maha pencipta saja dengan mudahnya memberikan maaf untuk umatnya yang mau meminta maaf dengan sungguh-sungguh" Lucky mengucapkan dengan penuh keikhlasan
"Terima kasih Sya"
Manda kembali menjauh dan menunggu Nana yang masih ikut menunggu Nia keluar dari ruang operasi.
Dari kejauhan Orang tua Nia dan Lucky mendekat dan berhambur bergantian memeluk Lucky dan memberikan selamat kepadanya. Nalen dan Nara juga tidak ketinggalan meskipun hari ini adalah hari bahagia mereka, setelah semua tamu meninggalkan tempat resepsi mereka juga menuju tempat bahagia yang lain menyambut kelahiran keponakan yang sudah ditunggu-tunggu.
"Eh.. pengantin baru ikut ke sini juga, bagaiman dengan tamu-tamunya" Lucky menyambut kakak iparnya
"Tidak ada yang lebih penting saat ini selain menyambut kelahiran ponakan yang ganteng, masalah tama bukannya mereka seharusnya datang sesuai dengan waktu yang tertera di undangan dan saat ini sudah lebih dari waktu undangan, untuk yang belum datang bukan tanggung jawab kita lagi" Nalen menjawab dengan santai, mereka yang hadir di sana juga membenarkan perkataan Nalen
"Maaf, keluarga pasien kami mohon untuk ke ruang dokter" Seorang perawat memanggil
"Ada apa Sus, Apakah ada sesuatu yang terjadi pada pasien?" Mereka bertanya bersamaan
__ADS_1