
Hanya berselang tidak lebih dari dua puluh empat jam, polisi menghubungi nomor Lucky yang sempat diberikan kepada polisi.
"Selamat siang Mas Lucky, kami dari kepolisian" Sapa seorang Polisi yang bernama Roni
"Selamat siang Pak, apakah sudah ada kabar baik mengenai peristiwa tadi malam?" Lucky sangat bersemangat ketika mendengar kata dari pihak berwajib
"Alhamdulillah, berkat kerja sama dari banyak pihak, pelaku sudah ditemukan dan saat ini berada di kantor polisi, apakah Mas Lucky bersedia datang sekarang?"
"Bisa Pak, sekarang saya akan bergegas ke kantor polisi" Lucky segera memakai helm dan menghidupkan mesin motornya, untuk menghindari Nia mencarinya, dia sudah menghubungi istrinya yang saat ini masih di sekolah, bahwa dia akan pergi ke kantor polisi untuk melihat penabrak mobil mereka semalam.
Jarak yang tidak terlalu jauh antara rumah dan kantor polisi membuat Lucky segera tiba di sana. Sudah ada seorang lelaki yang masih cukup muda duduk berhadapan dengan seorang polisi yang saat ini sedang melakukan interogasi.
"Selamat siang Pak?" Sapa Lucky ketika memasuki kantor polisi
"Selamat siang Mas Lucky, dialah yang menjadi pelakunya semalam, mungkin Mas Lucky mengenalnya?"
Lucky berfikir sejenak, namun tidak terlintas sedikitpun wajah di depannya itu dikenalinya
"Maaf Pak, saya tidak mengenalnya"
"Terima kasih atas kerja samanya Mas, jika nanti ada informasi lagi akan segera kami hubungi" Lucky sangat berterima kasih atas kinerja polisi yang sangat bagus. Dia meninggalkan kantor polisi dan beranjak pergi untuk menjemput istrinya yang sebentar lagi bel pulang berbunyi.
"Hai Luck, maunjemput juga? Bagaimana dengan peristiwa semalam apakah sudah ada kabar dari pihak berwajib?" Lucky tersenyum menghampiri Andi yang saat ini juga berada di depan gerbang sekolah yang sama dengan dirinya
"Alhamdulillah, baru saja gue dari sana, pelakunya sudah di temukan, tetapi belum diketahui motif dari pelaku melakukan, karena gue tidak mengenalinya menurut analisa dari pihak berwajib kemungkinan dia hanya suruhan. Kamu menjemput Nana?"
"Iya, dia masih trauma dengan peristiwa semalan, dia takut jika sebenarnya dialah yang menjadi incaran sebenarnya, karena menurutnya mama tirinyalah yang mendalangi semua itu"
"Bisa jadi analisa Nana benar, Lo harus bisa menjaga Nana dengan baik, jangan sampai dia terluka" Pesan Lucky kepada Andi, dia sangat percaya dengan Andi bahwa dia bisa menjaga Nana dengan baik
"Gue akan berusaha maksimal, gue juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan dia"
__ADS_1
Kedua orang yang mereka tunggu sudah semakin mendekat ke gerbang sekolah. Seperti biasa mereka selalu bergandengan tangan kemanapun mereka pergi. Nia tahu betul bagaimana kehidupan temannya setelah sepeninggal orang tuanya pastinya sangat menyedihkan, Nia berusaha menjadi sahabat yang baik untuknya.
"Hai Sayang, bagaimana dengan sekolahmu hari ini?" Lucky mengenakan helm di kepala Nia ketika sudah berada di depannya
"Semua berjalan lancar, namun ada pekerjaan rumah yang Nia belum paham"
"Ya sudah nanti kita bahas di rumah" Semua warga sekolah sudah mengetahui jika Lucky dan Nia adalah sepasang kekasih sejak setahun terakhir, sehingga tidak ada yang kaget melihat perlakuan Lucky terhadap Nia. Siapapun akan sangat iri dengan yang dilakukan Lucky, dia sangat perhatian yang terlihat sangat setia, tidak terkecuali Nan uang melihat kemesraan mereka berdua juga terlihat iri.
"Ada apa? Mau juga seperti mereka?" Nana gelagapan ketahuan jika dirinya saat ini tengah memperhatikan interaksi sahabatnya dengan suaminya
"Eng... Enggak, siapa juga yang...." Andi segera membantu memakaikan helm kepada Nana sebelum Nana menyelesaikan perkataannya Nana terlihat canggung dengan perlakuan Andi yang tiba-tiba.
"Cie... cie...." Nia yang melihat keromantisan sahabatnya terus menggoda
"Jangan diganggu Yank.... biarkan mereka menikmatinya, yuk kita ke restoran. Makan dan mengecek pekerjaan mereka" Lucky mengajak istrinya untuk melihat restorannya dan makan siang bersama istrinya
*****
"Kami tenang saja, jika nanti dia menyebutkan nama kita, sebisa mungkin kamu pergi dan bersembunyi, biar mama yang akan menjelaskan"
"Manda harus bersembunyi di mana Ma? Sedangkan kita tidak punya tempat lain"
Elsa memberikan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat yang cukup jauh dari rumah yang mereka tempati saat ini.
"Lebih baik kamu sekarang bersiap-siap pergi terlebih dahulu, takutnya polisi segera bertindak"
Manda segera menyiapkan baju-bajunya dan dimasukkan ke dalam tas, tidak lupa membawa rekening dan juga uang cash untuk berjaga-jaga jika dia membutuhkannya
"Mama sudah memesan taksi online yang saat ini sudah menunggu di jalan seberang"
"Mengapa tidak di suruh ke sini saja Ma?"
__ADS_1
"Kamu bodoh atau bagaiman, jika kamu naik dari sini, maka kamu akan mudah untuk dilacak, jadi sebisa mungkin kamu membeli handphone dan nomor baru, agar tidak mudah untuk dilacak. Dan juga jangan menghubungi mama terlebih dahulu, apapun yang terjadi" Manda menganggukkan kepalanya dan memeluk Elsa dengan erat
Benar saja, sepeninggal Manda yang baru satu jam yang lalu, ada seseorang yang mengetuk pintu utama.
"Selamat sore, apakah benar di sini rumah Elsa?" Seorang berseragam coklat membawa dan menyerahkan kertas perintah penangkapan
"Maaf Pak, atas dasar apa anda melakukan penangkapan kepada saya?"
"Adab seseorang yang saat ini berada di kantor polisi menyebutkan andalah yang memberi perintah kepadanya untuk melakukan suatu kejahatan" Polisi itu menjelaskan agar tidak ada pertanyaan lagi
Elsa menurut mengikutimengikuti langkah polisi di depannya, dibelakang, samping kanan dan samping kiri diapit oleh polisi. Sampai di kantor polisi Elsa dimintai keterangan. Selesai melakukan interogasi, polisi sudah menemukan motif dari kecelakaan yang disengaja, sebenarnya tujuan mereka hanya ingin membuat kerusuhan di tempat Nana anak tirinya sedang mengadakan syukuran, dan tidak ada niatan untuk berurusan dengan Lucky, namun nasi sudah menjadi bubur, dalam hati Elsa merasa senang karena dia tiga pulau terlampaui, syukuran yang dibuat Nan kacau serta bisa merusak barang milik Lucky yang telah diketahui membantu merebut perusahaan dari tangannya.
Dalam interogasi tersebut, sebisa mungkin Elsa tidak menyebutkan nama anaknya yang sudah membantu mempersiapkan semuanya, dia ingin nanti Manda membuat perhitungan dengan mereka karena sudah mengambil semuanya dari tangannya.
Berita tertangkapnya dalang dari kerusuhan di suatu restoran sudah tersebut di media elektronik, Manda yang sempat melihat wajah ibunya, membuat otaknya mendidih dan memikirkan bagaimana dia bisa balas dendam lebih ekstrim, apalagi dia tahu yang memburu polisi untuk menyelidiki kasus itu adalah Lucky. Kali ini dia berupaya membuat perhitungan dan mengabaikan rasa cintanya kepada Lucky yang saat ini sudah berubah menjadi rasa dendam.
Lucky tidak menyangka dalang dari kerusuhan tersebut adalah Elsa, benar sesuai dengan analisa yang dibuat oleh Nana, hal itu membuat Lucky untuk memperingatkan Andi agar dengan ketat menjaga Nana, karena bukan tidak mungkin Manda akan melakukan balas dendam, karena dalam pengakuan Elsa hanya dirinyalah yang merencanakan serta tidak ada pihak lain yang membantu. Bahkan saat ini keberadaan Manda tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.
"Kak, Nia takut jika nanti mereka menargetkan kita" Nia yang saat ini semakin manja kepada Lucky bersandar di bahu suaminya
"Kamu tenang saja sayang, kakak pasti akan melindungimu"
"Bagaimana caranya, sedangkan kakak sekarang juga sibuk dengan kuliah serta pekerjaan di kantor"
"Percayalah pada kakak, sebisa mungkin untuk berangkat dan pulang sekolah menjadi tanggung jawab sepenuhnya kakak" Janji Lucky untuk terap menjaga dan memberikan rasa aman kepada istrinya yang terlihat ketakutan setelah melihat berita di televisi, bukan tanpa alasan. Hanya karena ingin mendapatkan hati Lucky saja Manda sudah melakukan banyak hal yang di luar nalar untuk dilakukan oleh anak usia mereka, apalagi saat ini mamanya dipenjara yang disebabkan oleh suaminya.
Menunggu Lucky yang sedang bekerja membuat Nia merasakan rasa kantuk yang tidak tertahankan, dengan perut yang sudah terisi dengan penuh, matanya tidak bisa diajak kompromi lagi. Dengkuran halus terdengar di telinganya Lucky yang saat ini tengah fokus dengan pekerjaannya. Melihat istrinya yang hanya bertumpu menggunakan tangan di atas meja, membuatnya merasa kasihan dan ingin memindahkannya ke kamar yang berada di samping kantornya.
Entah sejak kapan Lucky merasa berat badan Nia bertambah dengan cepat hingga membuatnya merasa sedikit kewalahan untuk mengangkatnya
"Aduh kakak sakit...." Teriak Nia
__ADS_1