
Pagi ini merupakan sarapan terakhir bagi Lucky dan Nia di rumah keluarga Lucky, rencananya siang ini juga mereka akan pindah ke apartemen yang sudah mereka beli. Mengakhiri sarapan dengan berbincang dengan orang tua mereka adalah suatu hal yang langka karena seperti biasa Pras akan segera beranjak pergi ke kantor sedangkan Lucky akan pergi sekolah. Pras tidak enak hati jika langsung meninggalkan meja makan sedang di sana ada Nia.
"Yah, hari ini kami akan pindah" Lucky membuka obrolan pagi setelah selesai sarapan
"Pindah? Pindah ke mana? Apakah mau pindah ke rumah Nia karena dia tidak leluasa kalau di sini?" Rahma yang mendengarnya langsung kaget
"Bukan begitu Bun, kami akan pindah ke apartemen"
"Apartemen mana, apakah harus menyewa apartemen kalau hanya untuk tidur kalian, sedangkan di rumah ini juga ada banyak kamar, Dan Bunda janji tidak akan pernah mengganggu privasi kalian jika tetap tinggal di sini, lebih baik uang sewa kalian tabung untuk masa depan nanti" Rahma masih tidak merelakan anaknya jika harus hidup berpisah dengannya
"Kemarin, setelah dari restoran, Lucky iseng jalan-jalan di sekitar sekolah dan melihat sebuah apartemen yang memang belum lama selesai dibangun, karena Lucky melihat nilai investasinya sangat menjanjikan, maka kami memutuskan untuk membeli sebuah unit di sana"Lucky menjelaskan dengan hati-hati
"Kalian membeli rumah seperti membeli kacang, memangnya kalian sudah tahu bagaimana lingkungan di sana?" Rahma terus saja mencoba untuk menggagalkan rencana anak-anaknya
"Kami sudah tahu Bun, sebenarnya sebelum kemarin Lucky pergi bersama Nia ke sana, Lucky sudah mencari informasi mengenai seluk beluk apartemen itu" Lucky menundukkan kepalanya karena sebelumnya berbohong pada Nia
"Sudahlah Bun, lagi pula mereka sudah menikah dan sudah menjadi kewajiban bagi anak kita untuk bertanggung jawab terhadap istrinya" Pras berusaha menengahi anak dan istrinya yang masih saja berdebat
"Terserah kalian, yang penting kalian tidak melupakan kami dan sering-sering main ke sini" Rahma akhirnya mengalah
"Tapi mereka juga menikah karena rencana Bun...., Ups.... kelepasan" Rahma segera menutup mulutnya
"Maksud Bunda apa ya...?" Nia yang memperhatikan gelagat Rahma yang tidak seperti biasanya ingin mengetahui apa yang beliau rahasiakan
"Bukan apa-apa kok" Rahma sudah terlihat santai
"Mengapa ada rencana Bunda dalam pernikahan kami?" Nia terus saja mendesak Rahma untuk bicara
"Baiklah, Bunda akan berkata jujur. Sebenarnya pernikahan kalian memang sudah direncanakan, namun bukan hanya Bunda saja, Ayah, Mama dan Papamu bahkan Nalen dan Lucky juga mengetahuinya"
__ADS_1
"Berarti hanya Nia yang tidak mengetahuinya"
"Iya, tukang buah yang jualan di sana, adalah bagian dari rencana itu"
"Karena itu, Bunda meminta Nia untuk membelikan buah di tempat yang Bunda pilih dan tidak mau membelinya di tempat lain?"
Rahma mengangguk, mereka semua terdiam karena sudah menjebak Nia secara tidak langsung.
"Maafkan Bunda, tidak ada maksud untuk menjebakmu, namun semua kami lakukan karena ingin melihat kalian hidup bersama, itu saja"
Nia masih saja diam, seolah tidak. menerima pernikahan yang sudah direncanakan tanpa dirinya
"Sudahlah Yang.... lagi pula semua juga sudah selesai, tidak usah dipermasalahkan lagi" Lucky yang juga terlibat dalam rencana pernikahan dadakan juga merasa bersalah
"Tidak bisa, Nia masih marah"
"Lalu, kalau kamu sudah tahu apakah mau mundur dari pernikahan kita, Kakak sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab, apakah semua itu tidak cukup?"
"Jadi, kamu tidak menyesalkan bisa akad kemarin, kalau hanya ingin pergi ke salon sekarang juga tidak apa-apa, biar kakak antar"
"Sekarang, ayo berangkat, Bunda ikut tidak?"
"Tidak, tidak Bunda tidak mau, Bunda ingin istirahat dulu. Kalian saja yang pergi dan ambil paket yang termahal biar Lucky yang membayar"
Nia semangat mengambil tasnya yang berada di kamar juga mengganti bajunya yang sudah terlihat lusuh.
"Kak, nanti sekalian membeli baju ya.... Baju Nia sudah minta diganti juga" Lucky menoleh ke arah Rahma sambil menarik napas dalam
"Kamu kan tahu say*ng, uang kakak sudah untuk membayar apartemen juga untuk membeli material pembangunan rumah kita"
__ADS_1
"Nia tidak mau tahu, pokoknya kalau ingin mendapat maaf dari Nia, seharian ini Kakak harus menuruti semua keinginan Nia"
Tidak ingin membuang waktu Nia bergegas menuju mobil diikuti Lucky yang berjalan lesu di belakangnya. Menyusuri jalanan yang ramai, Lucky berusaha mencari celah untuk bisa mendahului mobil-mobil yang ada di depannya, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah supermarket terbesar di kota itu.
Berputar-putar mengelilingi supermarket, tanpa tahu apa yang menjadi tujuan utama Nia mengajaknya ke sini.
"Y*ng, sebenarnya kamu mau mencari apa? Dari tadi cuma mutar sana muter sini. Kalau belum ada yang mau di beli lebih baik kita istirahat dulu, kakak capek dari tadi muter-muter"
"Ssst... Kakak diam, kalau masih bicara, jangan harap dapat maaf dari Nia"
"Wah... wah, pengantin baru lagi jalan-jalan" Danny dan Vicky kebetulan juga berada di mal yang sama dan berpapasan dengan mereka
"Iya, Kak Danny dan Kak Vicky mau ikut tidak? Mumpung lagi ada yang mau bayarin" Nia mengajak mereka dengan santai
"Mau banget, gratiskan?" Vicky terlihat semangat mendengar ajakan Nia
"Iya, gratis, apapun yang kakak inginkan akan dibayar oleh Kak Lucky"
"Kalau nanti disuruh mengganrinya bagaiman?" Danny yang masih belum percaya meminta penjelasan
"Kalau sampai Kak Lucky minta ganti, Kak Danny bisa menghubungi Nia"
"Sepertinya ada yang telah berbuat salah dan berusaha meminta pengampunan" Ledek Danny sambil menatap ke arah Lucky yang sejak tadi hanya diam
"Jangan banyak bicara, kalau kalian mau segera ambil dan pergi dari hadapan gue" Lucky yang diledek oleh sahabatnya bersungut menahan marah
"Oke jangan kaget jika nanti kartu debitmu berkurang banyak" Danny segera mengambil beberapa potong pakaian yang sudah dia incar dari beberapa waktu yang lalu, namun belum ada uang untuk membelinya
Vicky juga berlomba mencari barang yang sangat dia inginkan. Sedangkan Nia tersenyum puas melihat sahabat-sahabat suaminya yang sedang antusias mencari barang yang mereka inginkan.
__ADS_1
Benar saja Danny dan Vicky memang sudah ada niatan untuk menguras dompet sahabatnya sekaligus mendapatkan barang tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.