
Nara yang kebetulan tidur di sebelah Nia terbangun dan langsung membelalakkan matanya karena melihat sesuatu di bawah Nia.
Lucky dan Nalen berlarian menuju kamar dimana Nia berteriak ketika menyadari di bawahnya kini ada sesuatu.
"Ada apa Dik, adik mimpi buruk, tenang ya, kakak tidak akan ninggalin adik" Nalen memeluk Nia yang kini terduduk di pinggir ranjang sambil sesenggukan menahan malu jika nanti dilihat orang lain
"Adik tidak mimpi buruk kok, tapi..... " Nia tidak menyelesaikan perkataannya namun langsung menunjuk ke sprei yang telah kotor karena dirinya
Nalen menepuk jidatnya melihat kelakuan adiknya, namun karena dia juga sudah dewasa dan tahu yang tmenimpa adiknya, dia memakluminya apalagi sejak tadi Nia dalam keadaan menggigil dan tidak sadarkan diri.
Lucky sudah beberapa kali melihat kejadian serupa, jadi dia juga tidak begitu kaget dengan kejadian barusan.
"Bentar, kayaknya gue bawa kok, tidak usah panik" Nara beranjak dari duduknya menuju tas yang sudah rapi siap untuk dibawa pulang besok pagi, tidak menunggu lama Nara sudah menemukannya dan memberikan kepada Nia
"Terima Kasih Kak Nara, jadi tambah sayang deh...." Nia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menarik sprei yang sudah kotor
Melihat adiknya yang sudah terlihat sehat, Nalen masuk ke kamarnya untuk istirahat menyiapkan tenaga untuk kembali esok pagi, karena dia menyetir sendiri dan harus sampai di kampus sebelum jam setengah delapan.
Begitupun Lucky berpamitan ke Nia untuk istirahat juga
"Sayang, Kelihatannya kamu sudah mendingan, kakak tidur dulu ya, ngantuk... kalau ada apa-apa langsung cari kakak saja" Lucky berpamitan sambil mengusap puncak kepala Nia dan tersenyum manis
"Jangan lupa berdo'a dan mimpi indah, selamat malam sayang..." Lanjutnya
Nia mengangguk dan tersenyum mengantar kekasihnya untuk beristirahat juga.
"Woi, kalau mau mesra-mesraan jangan di hadapan gue, sekali lagi lo ngelakuin di depan muka gue, lo bakal tahu akibatnya" Nara yang melihat secara langsung kemesraan mereka berdua sangat gerah
__ADS_1
"Lo irikan.....Wek....." Lucky berlari meninggalkan mereka.
Memang akhir-akhir ini antara Lucky dan Nara kelakuannya sudah seperti anjing dan kucing, hal kecil sering menjadi pemicu keributan diantara keduanya, mungkin karena mereka berdua selama ini sama-sama tidak mempunyai teman untuk sekedar bercanda dan bersenda gurau, hingga kini mereka berdua sudah seperti saudara yang saling mengejek bahkan saling menyayangi selayaknya saudara kandung meskipun jarak usia mereka terpaut tidak jauh.
****
Seperti yang sudah direncanakan semalam, Nara dan juga Nalen harus tetap pulang terlebih dahulu, Nana juga ikut pulang bersama Nalen dengan alasan mengapa orang tuanya meminta untuk segera kembali, bahkan Danny dan Vicky juga ikut-ikutan pulang karena sudah ada rencana liburan dengan keluarga mereka sebelum masuk sekolah lagi.
Tinggallah Nia yang ditemani oleh Lucky sampai cukup kuat untuk melakukan perjalanan pulang, karena mereka hanya berdua, Nalen meminta penjaga Villa untuk menginap di sana, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diantara mereka berdua.
"Overprotektif banget sih lo, lagian mereka juga sebentar lagi pasti bakalan nikah, biarin sajalah berduaan...?" Vicky sedikit mengejek dengan tingkah Nalen yang begitu berlebihan
"Bukannya berlebihan, mencegah lebih baikkan dari pada mengobati, lagi pula jangan terlalu yakin hanya dengan sebuah cincin yang disematkan di jari manis, apapun masih bisa terjadi" Nalen masih saja bersikap melindungi adiknya
"Baik bos..., tidak akan terjadi apapun, lo tenang saja" Lucky berusaha meyakinkan Nalen untuk mempercayainya
Dengan berat hati Nalen meninggalkan Villa dan juga adiknya yang masih sakit dibawah pengawasan Lucky, meskipun Nalen sudah meminta penjaga villa untuk mengawasi mereka, tapi Nalen masih saja was-was
Seharian kepergian Nalen dan kawan-kawan, Nia hanya beristirahat di kamarkamar dan tidak melakukan aktifitas apapun, sesuai janji yang telah Lucky ucapkan dia hanya mengawasi dari jauh, karena dia juga sedang bekerja, mengecek dan membaca semua email yang dikirim oleh managernya. Untuk urusan makan dia memilih untuk pesan makanan online yang disediakan oleh salah satu aplikasi yang terkenal di Indonesia. Karena tidak ingin merepotkan penjaga villa yang sudah cukup berusia lanjut, dia hanya ditugasi membersihkan villa.
Hingga malam menjelang pekerjaan Lucky baru selesai, dia mulai melihat Nia yang kini tengah duduk di tepi ranjang sambil memainkan kakinya, dia tidak tahu harus melakukan apa jika sendirian seperti ini, rasanya sepi mau ngajak bicara tapi sibuk dengan laptop dan handphone, dia takut mengganggu jika mendekat.
Lucky memanggilnya dari luar kamar setelah melihat Nia yang tidak melakukan apapun
"Sayang, kamu mau nemenin Kakak tidak" Lucky memilih bertanya dulu
"Kemana?" Nia balik bertanya
__ADS_1
"Kalau kita keluar Villa kamu bagaimana, sudah kuat belum?"Nia nampak berseri ketika mendengar akan diajak keluar villa, dia sudah sangat jenuh seharian hanya tiduran di kamar tidak melakukan aktifitas apapun
"Kuat kok" Nia semangat keluar kamar dengan mengenakan jaket dan juga sneakers putihnya
"Semangat benar, sudah siap saja" Lucky malah menggoda Nia yang kini sudah berdiri di hadapannya siap untuk pergi
"Ayo.... jadi tidak, kalau tidak Nia tidur saja" Merasa dibohongi Nia sempat frustasi dan ingin kembali ke kamar karena Lucky tidak segera bersiap-siap
"Iya, sebentar, Kakak beresin pekerjaan dulu, tinggal sedikit ini" Lucky mematikan laptopnya dan mengemasi semuanya serta membawanya ke kamar untuk di simpan sekaligus mengambil jaket.
Kebetulan di Villa ada motor sport yang bisa digunakan oleh penyewa Villa. Lucky mengeluarkan motor dari garasi menunu halaman Villa, di sana Nia sudah menunggu. Tujuan mereka adalah mencari makan untuk mengisi perut malam ini, menyusuri jalanan dengan kecepatan rendah sambil menikmati jalanan yang dilalui, meskipun hanya terlihat villa-villa lain di sisi kanan dan sisi kiri.
Sampai di pusat kota, banyak orang berjualan makanan di sana baik makanan ringan maupun makanan berat serta banyak pernak-pernik yang di jajakan.
"Sayang, kamu mau makan apa? Atau kita mutar-mutar dulu?" Lucky menawarkan untuk berputar dulu, melihat-lihat dan membelinya jika diinginkan.
Kebetulan banyak sekali makanan khas di sini yang tidak ditemui di kota, hingga membuat Nia menjadi kalap dan ingin mencoba semuanya, kebanyakan hanyalah makanan ringan jadi tidak masalah jika mereka membelinya cukup banyak.
"Kak, beli ini ya, lalu ini, yang ini juga dan yang itu" Nia menunjuk beberapa macam makanan dan meminta penjual untuk membungkusnya, tanpa rasa bersalah malah meminta Lucky untuk membayar serta membawanya, sedangkan dia hanya berjalan tanpa membawa apapun dan melihat-lihat barang dagangan yang dijajakan di sana.
"Sayang, kita makan dulu ya... lagi pula ini sudah banyak banget makanannya" Lucky memperlihatkan tangannya yang sudah penuh dengan makanan ringan yang dibeli oleh Nia
Berhenti pada stan penjual lontong sayur, mereka memesan dua porsi serta dua teh hangat, menunggu beberapa saat, pesanan sampai dan dihidangkan oleh seorang laki-laki yang seusia dengan mereka.
"Rasya ya..." Remaja itu memperhatikan dan menyapa Lucky yang sedang sibuk dengan ponselnya
Mendengar namanya di sebut Lucky dan Nia serentak mengangkat kepala dan mengernyitkan dahi, mencoba mengingat apakan mereka mengenali mereka atau tidak.
__ADS_1