CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
78


__ADS_3

Dengan perasaan emosi yang memuncak Lucky keluar kamar menuju ke dapur untuk mencari es batu dan juga kain untuk mengompres wajahnya yang terkena tonjok Nalen beberapa kali, Lucky mencari beberapa nomor di handphonenya dan menghubungi seseorang agar datang kee villa dengan segera.


Nalen mendekati ranjang yang kini ditempati adiknya, melihat badan Nia menggigil dia mendekat dan mencoba memeriksa dahinya, didapatinya suhu badan yang begitu tinggi Nalen menjadi kalang kabut dan berteriak sejadi-jadinya meminta semua orang untuk segera mencari pertolongan.


Nara mencoba mencari nomor darurat di sekitar villa sambil mondar mandir di depan Lucky yang kini sedang mengompres luka memarnya yang terasa ngilu, bagaimanapun pukulan yang dilayangkan Nalen cukup keras dan meninggalkan lebam yang nampak jelas.


"Lo ngapain mondar-mandir kayak setrikaan, duduk tenang tidak bisa, jangan bikin gue makin emosi" Lucky yang melihat Nara mondar mandir di depannya sedikit terganggu


"Gue lagi panik mencari bantuan, lo suruh gue untuk duduk tenang, dimana otak lo, calon istri keadaannya kurang baik, lo malah santai" Nara juga tersulut emosi melihat Lucky yang duduk santai tanpa beban


"Gue bilang duduk, gue juga tidak akan ngebiarin dia kesakitan, lebih baik lo simpan tenaga lo, lagi pula sebentar lagi dokter akan sampai" Di luar dugaan Nara, meskipun Lucky terlihat santai tetapi nyatanya dia sudah bertindak cepat, lebih dari yang dia bayangkan sebelumnya.


"Memang kalau otak pengusaha, bisa memanfaatkan waktu meski dalam keadaan apapun serta hanya sedikit untuk melakukan yang terbaik" Gumam Nara, dia tersenyum mendengar ucapan Lucky yang begitu santai meskipun sebenarnya hatinya tidak sesantai perilakunya, terbukti masih mencoba untuk menghungi dokter meski dalam keadaan emosi


"Lo bilang ke Nalen, tidak usah khawatir dokter pasti akan membantu mengembalikan kesehatan Nia" Namun Nara malah berucap


"Lo bilang saja sendiri, lo kan calon iparnya"


"Lo kan calon istrinya" Nara membelalakkan matanya ketika mendengar Lucky berucap


"Lo bilang apa?" Nara mulai melotot ke arah Lucky


Hingga keduanya terlibat adu mulut sampai terdengar ke kamar Nia, yang membuat Nalen berteriak "Kalian bisa diem tidak"

__ADS_1


Keduanya menjawab dengan serentak "Tidak"


"Terserah kalian, mau adu mulut, mau adu jotos terserah, tapi sebelumnya apa kalian sudah menghubungi dokter?"


"SUDAH" Keduanya kompak menjawab lagi dengan nada ketus


"Kalian apa-apaan sih, sudah gede juga masih kayak anak kecil" Gerutu Danny


"Adik-adik mau permen...." Goda Vicky


"Bisa pergi nggak lo" Mereka berdua makin marah dan membuat semua orang ogah untuk mendekat, kalaupun mendekat pasti kena semprot.


Suara ketukan di pintu utama membuat mereka berdua tidak bergeming sama sekali, membuat Danny harus turun tangan beranjak dari duduknya untuk membuka pintu, berjalan beriringan dengan seseorang yang membawa tas berisi peralatan medis, tidak menghiraukan keberadaan mereka berdua, melintasi dan menuju kamar dimana Nia sedang menahan rasa sakitnya.


Dengan cekatan Dokter mengeluarkan peralatan yang diperlukan dan mulai memeriksa Nia didampingi oleh Nalen yang selalu siaga menjaga adiknya.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, keadaan adik anda tidak terlalu parah, dia hanya kecapean dan demam butuh istirahat untuk satu atau dua hari ke depan serta jangan lupa obat yang sudah saya berikan di minum sesuai dengan anjuran" Dokter menerangkan keadaan Nia saat ini


"Tapi Dok, kami berencana pulang besok pagi, apakah aman jika kami melakukan perjalanan untuk kembali ke rumah?" Karena rencana besok pagi mereka pulang, Nalen menanyakan keamanan sang adik jika melakukan perjalanan


"Lebih baik kalian urungkan untuk kembali besok pagi, mengingat kesehatan adik anda yang masih drop dan butuh istirahat" Dokter berlalu meninggalkan kamar Nia dan berpamitan, berjalan melewati Nara dan Lucky yang masih saling berdiam diri


"Luck, paman pamit dulu, kalau ada apa-apa cepat hubungan paman" Dokter berpamitan kepada Lucky, namun setelah melihat dengan seksama wajah Lucky terlihat bengkak, beliau mengurungkan untuk segera pulang malah mengeluarkan kembali peralatan lainnya untuk mengecek keadaan keponakannya

__ADS_1


"Merasa sudah jadi jagoan kamu Luck, wajah bengkak gini diam saja, ini Paman beri salep dan jangan lupa dioles agar cepat sembuh, temanmu hanya butuh istirahat, dan usahakan tidak mengajaknya untuk melakukan perjalanan jauh kalau tidak ingin menjadi lebih parah" Dokter memberikan pesan sambil membereskan semua peralatannya ke dalam tas dan berpamitan kepada Lucky


"Terima kasih Paman, tengah malam begini Lucky merepotkan Paman" Sebenarnya Lucky tidak enak hati karena sudah mengganggu istirahat Pamannya yang berprofesi sebagai dokter ini


"Tidak apa-apa, sudah menjadi tanggung jawab seorang dokter membantu orang sakit" Lucky beranjak dari duduknya mengantar Paman menuju pintu utama


"Untuk biayanya biasa ya Paman" Lucky mengetik di aplikasi perbankan miliknya dan terdengar lagi notifikasi di handphone pamannya


"Terima kasih Luck, Paman pamit dulu jangan lupa kalau terjadi sesuatu dengan temanmu langsung kabari Paman"


"Siap Paman"


Setelah memastikan keadaan Nia mulai membaik, semua istirahat di kamar masing-masing, kecuali Nalen dan Lucky yang masih setia di depan kamar Nia untuk memantau keadaannya.


"Sya, maafin gue, karena tidak tahu yang sebenarnya, gue terbawa emosi melihat keadaan kalian yang seperti tadi" Nalen meminta maaf terlebih dahulu setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, Lucky hanya bermaksud menolong Nia yang sedang sakit, sedangkan dia sendiri tidak mengecek sama sekali handphone miliknya


"Iya, nggak apa-apa, lain kali lihat dulu sebelum bertindak gegabah, untung gue yang kena bogem lo, kalau sampai orang lain bisa kena pasal lo...."Lucky juga memakluminya, siapapun yang melihat kejadian barusan pasti juga akan berdikiran macam-macam apalagi Nalen sangat sayang kepada adiknya, naluri untuk melindungi sangat besar


"Bagaimana rencana besok pagi, Nia disarankan untuk tidak bepergian dulu, sedangkan gue dan Nara ada tugas kampus, bagaimana dengan kalian?"Nalen sebenarnya tidak ingin meninggalkan adiknya namun mengingat tugas kampusnya kali ini sangat penting, dia tidak bisa meninggalkan tugasnya


"Biar gue sama anak-anak yang jagain Nia, lo tidak usah khawatir, percayakan kepadaku" Lucky tidak I gin membuat keadaan kekasihnya semakin memburuk, jadi dia memilih untuk menunggu Nia sampai sembuh meskipun restorannya kini juga membutuhkan kehadirannnya di sana, selama manajernya masih mampu mengatasi, jalannya restoran tidak akan ada masalah


"Makasih banyak ya...., Lo memang yang terbaik" Nalen memuji calon iparnya, karena memang Lucky tidak pernah macam-macam dan terlihat sayang sekali terhadap adiknya.

__ADS_1


"Sudah jadi tanggung jawab gue, santai saja dia tidak akan kekurangan apapun selama ada gue di sisinya"


"Tolong kak....." Tiba-tiba Nia berteriak di tengah tidurnya yang lelap.....


__ADS_2