CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
112


__ADS_3

Setengah jam berlalu, hasil laboratorium milik Nia sudah keluar, Lucky segera berlari menghampiri ruang dokter setelah mendengar seorang suster memanggilnya untuk masuk. Nia masih menerima cairan infus yang terpasang di lengan kirinya dalam keadaan lemah dan belum pulih sepenuhnya meskipun sudah hampir habis satu kantong.


Lucky melewati kamar Nia tanpa mampu untuk sekedar menengokkan kepalanya untuk melihat keadaan kekasih hatinya. Dia merasa hatinya tersayat melihat keadaannya beberapa menit yang lalu.


Terlihat seorang dokter tengah fokus memandangi kertas yang kini berada di tangannya. Lucky bergegas duduk di depan dokter yang masih terlihat sangat muda itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, antara panik, resah dan penuh tanda tanya.


"Siang Mas" Sapa dokter itu ketika melihat Lucky kini sudah duduk dihadapannya


"Maaf sebelumnya, sepertinya kami harus segera melakukan tindakan yang lebih mendalam, karena dilihat dari hasil laboratorium ini, pasien mengalami keracunan makanan yang disebabkan oleh zat kimia, meskipun kandungannya tidak terlalu banyak, namun jika tidak segera mendapatkan penanganan, ditakutkan akan berefek lebih lanjut"Lanjut dokter muda itu menjelaskan


"Lakukan yang terbaik dom, berapapun biayanya yang penting Nia segera sembuh dan pulih seperti biasanya" Lucky menjawab dengan suara yang sedikit lemah


"Baiklah, akan segera kami tangani. Namun kami butuh persetujuan dari wali yang sah"


"Menurut informasi Orang tuanya kini sedang dalam perjalanan ke luar kota satu jam yang lalu, sebelum kejadian, sedangkan kakaknya saat ini sedang ada kuliah dan sebentar lagi akan menuju kesini. Sedangkan saya adalah tunangannya Dok, apakah tidak bisa kalau saya saja yang bertanggungjawab?"Lucky mengiba agar dia yang bertanggungjawab, namun permohonanya ditolak oleh pihak rumah sakit, karena ini menyangkut nyawa jadi lebih baik menunggu anggota keluarganya


Pandu masih berusaha menghubungi Malem agar segera ke rumah sakit, namun belum juga mendapat respon. Hampir dia frustasi mendengar informasi dari Lucky, jika harus menunggu keluarganya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Lucky hanya bisa duduk sambil memandangi hanphonenya dan berusaha menghubungi Nara dari Ponsel milik Nia.

__ADS_1


Panggilan kelima baru mendapatkan respon dari Nara, namun, belum juga sempat berbicara handphone yang Lucky pakai mati dan tidak bisa dinyalakan lagi.


"Len, mengapa Nia menelponku?" Nara berbisik ditengah dosen sedang menerangkan


"Mana mungkin dia menelponmu" Malem masih juga acuh dengan perkataan Nara


"Coba kamu cek handphone kamu, mungkin dia tidak bisa menghubungimu" Malem. mengambil handphone yang berada di dalam tas miliknya. Membuka dan mengerutkan dahinya melihat notifikasi panggilan yang begitu banyak dari Pandu maupun Lucky.


"Kenapa?" Tanya Nara penasaran melihat raut wajah Nalen yang sudah berubah


"Tidak tahu, tapi ada banyak notifikasi panggilan dari Lucky dan Pandu, biar aku telpon balik saja" Nalen meminta ijin untuk keluar sebentar melakukan panggilan


"Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu" Pesan Nara kepada Nalen sebelum Nalrn benar-benar keluar kelas. Nalen hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban


Nalen berlari menuju bagian administrasi untuk menandatangani berkas untuk pemerikasaan lebih lanjut. Dengan wajah yang panik kalut, Nalen berjalan menghampiri Lucky dan Pandu yang berada di dalam kamar Nia.


"Bagaimana bisa terjadi?" Nalen bertanya tanpa menyebutkan siapa yang dia tanya

__ADS_1


"Maaf Len, tadi gue lihat Nia makan di restoran depan kampus lo, tapi dia sudah selesai makan ketika gue masuk ke sana. Karena permintaan gue, Nia memesan makanan ringan sebagai teman mengobrol. Karena Nia memutuskan untuk menemani gue makan" namun Pandu belum selesai bercerita sudah dipotong oleh Nalen


"Lo, berbuat sesuatu kepada adik gue ya?"Nalen dengan wajah marah menghampiri Pandu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri


"Tidak sama sekali, bahkan Nia belum menyentuh makanan yang dia pesan bersamaku" Pandu juga tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi


"Lalu, bagaimana semua ini bisa terjadi?" Nalen mengamati wajah adiknya yang terbaring lemah di atas brangkat


"Kak...." Nia bersuara lemah memanggik kakaknya


"Iya Dik, Kakak ada di sini. Bagaimana keadaanmu?" Nalen berusaha tersenyum melihat adiknya yang sudah sadarkan diri, dia tidak ingin terlihat lemah di depan adiknya


Nia tersenyum sebelum memberikan jawaban "Kakak tidak usah khawatir, Nia kuat kok"Hanya itu yang keluar dari mulut Nia


"Dik, kamu tidak usah berpura-pura kuat, kalau memang sakit bilang kakak ya..." Nalen menggenggam tangan Nia untuk menyalurkan energi agar adiknya lebih kuat dalam menghadapi rasa sakitnya


Nalen belum bisa banyak bicara dengan Nia, karena keadaan Nia yang belum pulih betul. Apalagi kini dokter dan juga ditemabi beberapa perawat sudah mulai bersiap untuk melakukan penanganan lebih lanjut.

__ADS_1


"Maaf mas, lebih baik kalian keluar terlebih dahulu, kami mau melakukan pemeriksaan kepada pasien" Seorang perawat meminta Pandu, Lucky dan Nalen untuk berada di luar kamar terlebih dahulu


Dengan berat hati mereka bertiga keluar dari kamar Nia dan berdiri di dekat pintu sambil menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaan.


__ADS_2