
"Sayang, kita pulang sekarang ya, takutnya setan satu ini tidak mau pergi" Lucky mengajak Nia untuk segera pulang sambil melirik ke arah Danny
"Sial Lo, sekarang bisa bicara begitu, tiga tahun yang lalu siapa yang selalu ada untukmu" Danny cukup kesal dengan perkataan temannya
"Itu dulu...., sekarang gue sudah ada lebih perhatian" Lucky berkata dengan sombongnya
"Selamanya menikmati kesendirianmu..., Mudah-mudahan bukan nenek lampir yang datang" Lucky berlalu meninggalkan sahabatnya yang saat ini sedang menggerutu dan berkata sumpah serapah yang sudah tidak bisa di dengar oleh Lucky
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Lucky dan Nia untuk sampai di apartemen baru mereka. Lucky memarkirkan mobil di basement dan mengeluarkan barang-barang belanjaan mereka. Sampai di unit, mereka belum sempat untuk mengeluarkan semua belanjaan mereka karena waktu yang sudah cukup malam dan badan mereka terasa lelah dan mata yang sudah tidak bisa diajak untuk kompromi, Nia mengambil selimut yang berada di lemari dan segera naik ke atas ranj_ang untuk melepas lelah.
Lucky yang baru keluar dari kamar mandi terlihat sangat segar setelah menggosok gigi dan mencuci muka.
"Sayang, cuci muka dulu sana" Lucky membelai pipi istrinya yang sudah setengah sadar untuk membangunkannya
"Hmmm" Nia tidak juga membuka matanya
"Sayang, bangun dulu... cuci muka biar segar. Baiklah kalau tidak mau bangun, nanti biar aku gendong ke kamar mandi" Namun lagi-lagi Nia tidak bergeming sedikitpun
Lucky menyibakkan selimut yang sudah menutupi tubuh Nia sampai di lehernya. Sudah menjadi kebiasaan Nia jika di rumah selalu tidur hanya memakai celana pendek dan juga atasan yang minim. Lucky bergegas menutup kembali tubuh istrinya dengan selimut.
"Aduh, kapan dia berganti baju" Gumam Lucky
Lucky membiarkan istrinya tidur dengan lelap, dia sendiri berbaring di sebelah istrinya tanpa membuka selimut.
Malam semakin malam semakin dingin, tanpa sadar Lucky menyibakkan selimut dan mulai berada di bawah kain tebal itu dan tertidur dengan lelap. Hingga pagi menjelang tanpa sadar kedua insan berada di bawah selimut yang sama sudah berubah posisi yang awalnya mereka memeluk guling yang berada di dekat mereka, entah kemana perginya guling mereka, yang ada satu sama lain saling memeluk dengan Nia berada dalam rengkuhan tangan Lucky, kepalanya tepat berada di depan dada suaminya, saat ini mereka berada di posisi yang sangat in_tim.
__ADS_1
Nia membuka matanya perlahan, namun dia merasakan ada sesuatu yang cukup berat kenapa perutnya yang rata.
"Apaa ini?" Nia bertanya dalam hati
Setelah tersadar sempurna, Nia mulai berteriak "Kak Lucky...., Mengapa kakak bisa tidur di tempat Nia?" Nia lupa lagi jika dirinya saat ini sudah bersuami
"Ada apa sayang...?" Suara Lucky khas orang yang baru bangun tidur dan masih mengumpulkan nyawa malah membuat Nia bergetar
"Kakak bangun... Maaf, Nia lupa"
"Lupa apa?"
"Lupa jika saat ini kita tinggal bareng" Nia cengengesan mentertawakan dirinya sendiri
"Kamu mengapa tertawa, kamu mentertawakan kakak?"
Suara adzan yang berkumandang bersahutan membuat Lucky beranjak dari tempat tidurnya, sebenarnya mata Lucky masih terasa berat, namun karena kewajiban yang harus ditunaikan.
Mencuci muka dan ambil air wudhu bergantian dengan Nia yang harus berwudhu. Mereka sholat berjamaah berdua untuk pertama kalinya, ada perasaan nyaman, ada perasaan haru dan bermacam-macam perasaan yang sulit mereka jabarkan dengan kata-kata.
Selesai menjalankan kewajiban, karena masih terlalu pagi mereka berbincang-bincang membicarakan apapun yang menarik bagi mereka.
"Sayang, kamu tahu kabar Nana tidak? Dengar-dengar dia jadian dengan Andi"
"Andi siapa?"
__ADS_1
"Teman kakak waktu SMP dulu, tadi malam Andi telpon kakak meminta pendapat"
"Mengenai apa?"
"Kamu tahu, Nana dan Manda adalah saudara tiri. Mamanya Manda, Tante Elsa menguasai perusahaan milik almarhum papanya Nana, dan akan beralih ke tangan Nana jika dia sudah berusia tujuh belas tahun, kebetulan kemarin tepat usia Nana tujuh belas. Namun, dari tante Elsa belum ada niat untuk menyerahkan perwaliannya kepada Nana. Andi meminta pendapat bagaimana Nana harus bertindak"
"Lalu bagaimana? Kasihan Nan, jika semua dikuasai oleh mereka"
"Menurut pemikiran kakak, mungkin saja mereka mencoba mendekati orang tua Danny karena mengetahui mereka punya anak yang seusia dengan Manda dan berharap mereka bisa dijodohkan, maka ketika mereka kehilangan pendapatan dari perusahaan milik keluarga Nana, mereka masih bisa mendapatkan dari yang lain"
"Nana harus segera mengurus pengalihan perusahaannya jika tidak ingin kehilangan semua milik Papanya"
"Apakah dia mampu berjalan sendiri mengurus pengalihan perusahaan itu?"
"Makanya Nana meminta Andi untuk menemaninya"
"Syukurlah jika ada yang menemaninya, tapi apakah Andi bisa dipercaya Kak?"
"Bisa, meskipun dulu dia seorang preman, tetapi dia termasuk orang yang bisa dipercaya dan tidak pernah menghianati siapapun yang menggunakan jasanya"
"Urusan orang lain jangan terlalu ikut campur, yang penting bagaiman keberlangsungab keluarga kita sendiri"Lucky memberi saran kepada Nia agar tidak terlalu mencampuri urusan sahabatnya
"Kalau untuk kita, semua Nia serahkan ke kakak saja bagaimana baiknya"
"Jadi, jika kakak ingin punya baby sekarang apakah kamu siap?" Lucky mengerlingkan matanya
__ADS_1
"Hmmm"