
Nia tidak melanjutkan kegiatannya membantu Pandu karena sudah lebih dahulu tangannya ditarik oleh Nalen.
"Apa sih Kak?" Nia memprotes sikap kakaknya karena tidak ada tujuan lain selain membantu
"Tidak boleh" Jawaban Nalen singkat yang tanpa alasan menurut Pandu sangat berlebihan
"Memangnya kamu siapa, beraninya menarik dia dengan kasar seperti itu" Pandu tidak kalah ketus dalam berbicara
"Lo tidak perlu tahu siapa gue dan kita tidak akan saling kenal dari dulu sekarang ataupun diwaktu mendatang" Nalen mengajak Nia untuk segera keluar dari ruangan pengap dan gelap
"Dasar orang-orang yang aneh" Gumam Pandu
Tidak lama setelah selesai membuka semua tali pengikat, Pandu juga segera bergegas meninggalkan ruangan yang jauh dari kata bersih mengikuti langkah kaki Nia dan entah siapa yang begitu banyak jumlahnya, hanya beberapa orang saja yang dia kenal itupun hanya wajah yang tidak begitu asing baginya.
Lucky yang tadi membawa mobil sendiri langsung menaikinya, sedangkan Nia ikut dengan Nalen, Danny dan Vicky berboncengan serta diikuti yang lainnya.
"Tunggu" Teriak Pandu menghentikan mereka yang hendak pergi meninggalkan gedung yang tidak terawat
"Ada apa?" Lucky bertanya dengan ketus
"Boleh tidak gue numpang sampai di persimpangan depan"
"Tidak" Jawab Lucky yang masih sangat marah dengan keberadaan Pandu
"Kak Pandu bareng kita saja" Nia menawarkan tumpangan karena dia juga berhutang keselamatan terhadapnya
"Tidak boleh, Lo ikut gue" Dengan tatapan tajam Lucky meminta Pandu untuk naik ke mobilnya
__ADS_1
"Buruan, lo bisa buka pintu sendirikan....?!" Pandu membuka pintu mobil dengan agak kasar kemudian membantingnya
"Bisa lebih halus tidak, asal lo tahu mobil gue bukan hasil warisan" Lucky tidak suka jika barang miliknya diperlakukan seenaknya
Sesuai kesepakatan sebelum meninggalkan gedung yang penuh dengan cerita yang tidak menyenangkan, mereka menuju ke restoran milik Lucky untuk makan malam dan juga membicarakan langkah yang akan mereka lakukan esok.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mereka sudah memasuki halaman parkir yang luas dan sudah di penuhi kendaraan para pengunjung. Karena tempat parkir di depan tidak bisa menampung kendaraan mereka, Lucky mengarahkan untuk menuju tempat parkir khusus yang dia bangun di bagian belakang yang hanya mampu menampung tiga mobil dan beberapa motor saja.
Pandu sudah beberapa kali membaca mengenai restoran yang kini dia lihat, namun baru pertama kali dia menginjakkan kakinya di sini. Dia merasa begitu takjub dengan desain yang disajikan oleh pemilik restoran, menurut kabar yang dia dapat pemiliknyalah yang mendesainnya sendiri tanpa bantuan pihak luar, dia berencana bertemu dengan pemiliknya langsung dan ingin mengajukan kerja sama, sesuai dengan arahan ayahnya yang menurut beliau mereka pasti akan memiliki pemikiran yang sama, mengingat usia yang sepadan dan memiliki otak bisnis yang cukup unggul diusia yang masih belia.
Meja yang di pesan oleh Lucky sebelum mereka sampai, sudah dipersiapkan dengan beberapa makanan dan minuman yang sudah tersedia berjajar rapi menunggu tangan yang akan meraihnya.
Bagi teman-teman Lucky tidak begitu kaget jika semua sudah tersedia bahkan Nia dan Nalen kini juga sudah terbiasa dengan semua pelayanan dari karyawan di sini yang kini mulai mengenalnya. Namun bagi Pandu lebih banyak pertanyaan di benaknya, siapa sebenarnya anak-anak muda yang bersama dirinya saat ini. Mungkin salah satu dari mereka adalah anak pemilik dari restoran ini, itulah salah satu pertanyaan yang ada di benaknya.
Mereka mulai menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji tanpa ada rasa canggung sambil membicarakan beberapa rencana yang menjadi prioritas mereka. Nara juga ikut bergabung disana ikut membantu menyiapkan rencana.
"Maaf, gue mau ke toilet dulu"Pandu meminta ijin untuk ke toilet, namun mendapat jawaban yang tidak mengenakkan dari Lucky
"Mengapa kalian memandangku seperti itu" Lucky tidak merasa bersalah sedikitpun
Pandu bergegas karena memang sudah tidak tahan untuk melepas panggilan alamnya. Namun meluapkan kekesalan atas sikap Lucky yang berlebihan terhadap Pandu.
"Kalau Kak Lucky keberatan atas kebedaan Kak Pandu diantara kita semua, lebih baik Nia pergi dari sini juga"
"Bukan begitu Yang, tapi Kakak tidak suka dengan sikapnya"
"Bukannya sikap Kak Lucky yang begitu sangat keterlaluan, asal kakak tahu sebenarnya dia berusaha membantu Nia namun karena jumlah mereka yang banyak dia akhirnya ikut diikat disana, dimana rasa empati kakak" Nia begitu marah dengan sikap Lucky yang tidak seperti biasanya yang selalu ramah terhadap orang lain
__ADS_1
"Jadi, sekarang kamu membela dia dibandingkan dengan calon suamimu?" Lucky juga tersulut emosi dengan perkataan Nia
"Iya, saat ini Nia lebih respek dengan Kak Pandu dibanding dengan Kak Lucky yang begitu kekanak-kanakan" Nia pergi meninggalkan mereka keluar restoran
Nalen langsung mencegahnya sebelum Nia keluar dari pintu restoran
"Dik, kamu lupa jika saat ini keselamatanmu sangat kami lindungi, Kakak mohon kamu bisa mengendalikan emosimu, kakak tidak tahu apa alasan Lucky bisa semarah itu dengan Pandu, namun kakak mohon kami bisa meredamnya dan jangan memancing kemarahannya lagi"
Dilain pihak Lucky juga mendapat ceramah dari Danny, Vicky dan juga Nara
"Mengapa sikapmu berubah begitu drastis mana Lucky yang gue kenal baik, supel dan ramah kepada setiap orang, hingga gue tidak bisa mengenalimu lagi" Nara yang sudah seperti kakak bagi Lucky mengungkapkan ketidaksepakatannya terhadap sikap Lucky meskipun dia tidak tahu apa yang menyebabkan sikapnya berubah begitu drastis terhadap Pandu
"Benar apa yang dibilang Kak Nara, baru kali ini gue sebagai sahabat lo melihat sikap lo yang seperti ini, lo harus bisa mengendalikan diri dalam keadaan seperti ini, jangan seperti anak kecil" Danny ikut mengomentari sikap Lucky yang terlihat seperti anak kecil yang tidak suka mainannya direbut orang lain
"Ok, gue salah dan akan meminta maaf kepadanya" Mendengar ceramah dari teman-temannya membuat dia mengalah dan menurunkan egonya
Lucky menemui Nia dan meminta maaf atas sikapnya terhadap Pandu yang terlihat begitu berlebihan.
"Tapi Nia tidak ingin melihat sikap Kak Lucky yang seperti tadi, bagaimanapun juga Nia berhitang budi kepada Kak Pandu"
"Baiklah, Kakak akan menuruti semua keinginanmu, tapi sekarang lebih baik kamu bersama kami demi keselamatanmu"
Nia ikut masuk, karena sebenarnya dia juga masih merasa takut, jika nanti orang yang berbuat jahat kepadanya melihat keberadaannya saat ini, semua bisa bertambah masalah.
"Lebih baik kamu sekarang masuk ke kantor kakak dan istirahat di sana"
Nia menuruti perkataan Lucky, karena sebenarnya dia juga merasa lelah
__ADS_1
Pandu ikut bergabung lagi dengan orang-orang yang baru dia kenal beberapa jam yang lalu dan melihat ke sekelilingnya mencari keberadaan Nia yang sudah tidak bersama dengan mereka.
"Nia kemana?" Tanyanya tiba-tiba