
Seorang lelaki muda berjalan dengan tergesa-gesa setelah memarkirkan motornya. Dia menuju ke sebuah rumah yang cukup bagus di lingkungan tersebut. Mengetuk pintu dengan keras dan berulang kali tanpa ada jeda sedikitpun. Wajahnya terlihat sangat kesal dan marah.
Pemilik rumah segera menuju pintu utama untuk membukakan tamunya. Alangkah terkejutnya dia melihat ada sosok lelaki muda yang belum pernah dia kenal sebelumnya bertamu ke rumah dengan wajah yang sangat terlihat kemarahannya.
"Maaf, anda mencari siapa?" Tanya Nana sangat pemilik rumah yang membuka pintu
"Mungkin anda salah alamat, karena kami tidak mengenal anda" Nana masih bersikap hormat kepada tamunya meskipun wajah tamu di depannya saat ini sama sekali tidak bersahabat
"Saya, tidak pernah salah mendatangi rumah orang yang saya perlukan, dimana dia?" Tanya Andi, tamu yang datang adalah Andi teman Lucky dulu.
"Maksud anda dia siapa?" Nana semakin tidak mengerti siapa yang dicari oleh tamunya
"Manda, dimana dia sekarang. Dasar br*ngs*ek beraninya dia menipuku" Andi berkata dengan sangat kasar membuat nyali Nana sedikit menciut
"Tapi, saat ini Manda tidak ada di rumah, mungkin anda bisa datang lain waktu dan alangkah baiknya jika membuat janji terlebih dahulu" Nana mulai menata hatinya agar lebih tenang menghadapi tamu yang tidak memiliki rasa sopan sama sekali
"Jangan Coba-coba membohongiku, biarkan gue masuk dan mencarinya" Andi menyibakkan tangan Nana yang berusaha menghalangi pintu agar Andi tidak bisa menerobos masuk ke dalam rumah, namun pada kenyataannya tenaga Nana tidak sebanding dengan kekuatan Andi. Bahkan dengan mudah Andi masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Andi langsung duduk di sofa ruang tamu dan meletakkan kakinya di atas meja, laksana seorang bos yang siap memberikan titah kepada bawahannya.
"Hei Lo, bisa. kesini tidak?" Andi memanggil Nana yang masih berdiri di depan pintu yang terbuka lebar untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan
Karena tidak mendapat respon dari Nana, Andi berteriak lagi "Hei, lo bisa duduk di sini tidak" Kini suara Andi terdengar lebih lantang
Merasa takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Nana berjalan menuju sofa diseberang Andi dan duduk di sana. Andi tersenyum simpul melihat bagaimana Nana bertingkah laku.
"Lo, bisa ambilin minum tidak? Masak tamu cuma didiemin" Andi berlagak memerintah dan sangat senang disaat melihat ekpresi ketakutan Nana
"Ma... maaf Kak, kakak mau minum apa, biar Nana ambilin" Nana berbicara lirih menahan rasa takut di dadanya
Nana beranjak dari sofanya dan bergegas mengambil air putih dingin di dalam kulkas serta sedikit berlari untuk menghindari kemarahan tamunya
Tanpa basa-basi Andi merebur gelas yang ada digenggaman Nana dan langsung menegakkan hingga tandas tak bersisa. "Gue akan tidur disini, sembari menunggu kedatangan Manda, kalau lo tidak suka. boleh pergi dari hadapan gue" Andi seolh menguasai rumah yang bukan miliknya.
Mendapat kesempatan untuk pergi, tidak disia-siakan oleh Nana untuk kembali ke kamarnya. Melihat Nana yang bertingkah layaknya anak kecil, membuat Andi kembali mengulaskan senyum dibibirnya meskipun amat sedikit hingga tidak terlihat oleh siapapun bahkan jika posisinya tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Manis sih... tapi sayang saudaranya jahat banget" Gumam Andi seraya merebahkan badannya di sofa layaknya pemilik rumah tanpa ada rasa canggung sedikitpun
*****
Seorang suster keluar dari ruang pemeriksaan meminta salah satu keluarga untuk masuk mendengarkan penjelasan dari Dokter. Nalen masuk ditemani oleh Lucky duduk berdampingan bersial mendengar apa yang akan dikatakan oleh Dokter muda itu.
"Maaf sebelumnya, saya benar-benar harus berbicara dengan keluarganya" Sebelum mengatakan hasil pemeriksaan Dokter ingin memastikan hanya keluarganya saja yang mendengarnya
"Saya kakaknya Dok, maaf orang tua kami sedang dalam perjalanan ke luar kota, jadi belum bisa kami hubungi, dan yang ini adalah tunangan adik saya" Nalen menjelaskan keadaannya saat ini yang belum bisa menghubungi orang tuanya
"Kalau begitu baiklah, akan kami informasikan hasil pemeriksaan terhadap saudari Nia, berdasarkan hasil laboratorium menunjukkan bahwa adik anda sebenarnya tidak hanya keracunan makanan biasa, namun racun yang ada di dalam makanan itu jika berjumlah banyak bisa mengakibatkan kematian. Kami merasa mungkin ada seseorang yang sengaja melakukannya" Dokter muda itu menjeda penjelasannya
"Untuk saat ini, kami sudah berusaha memberikan obat yang kemungkinan besar bisa membantu menetralisir racun tersebut, untungnya kandungan racunnya tidak terlalu banyak, hingga adik anda masih bisa bertahan" Lanjutnya
"Terima kasih Dok, atas kerja keras anda untuk membantu adik saya" Nalen berpamitan untuk keluar dari ruang dokter "Kami mohon berikanlah yang terbaik untuk adik saya" Nalen memohon dengan sangat
"Kami akan berusaha membantu pasien kami dengan sebaik-baiknya" Senyuman Dokter muda itu memberikan kekuatan tersendiri bagi Nalen untuk bisa lebih tegar dihadapan semua orang
__ADS_1
"Terima kasih Dok" Lucky ikut menundukkan kepalanya kepada Dokter muda yang cukup terampil dalam melakukan tugasnya
Keduanya keluar meninggalkan ruang dokter dengan penuh banyak pertanyaan, siapa yang tega melakukan ini semua. Berpandangan sejenang seolah mereka menemukan jawabannya kemudian berjalan lebih cepat untuk segera sampai di luar ruangan untuk segera membahasnya.