CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
99


__ADS_3

"Nia di mana?" Pandu yang sejak tadi mencari-cari keberadaan Nia di sekeliling mereka dan tidak menemukannya akhirnya membuka suara


"Dia sedang istirahat" Nalen yang tidak ingin terjadi perdebatan antara Lucky dan Pandu memilih langsung menjawabnya


"Di mana?"


"Ada di kamar atas" Lucky menjawabnya dengan ketus


"Luck....." Nalen menatap tajam ke arah Lucky dan memintanya untuk diam


Lucky hanya mengacungkan jempolnya pertanda dia tahu apa yang harus dia lakukan


"Roman-romannya ada yang takut kesaing" Danny menggoda Lucky


"Kayaknya sih.... tidak hanya takut kesaing tapi juga terbakar..." Vicky ikutan berkomentar


"Terbakar api cemburu...." Danny dan Nara kompak


Mereka tertawa dengan kelakarnya sendiri menyindir Lucky yang sejak tadi wajahnya murung dan tidak bisa diajak bercanda.


"Bisa diam tidak kalian!" Lucky mengeluarkan kemarahannya, sedangkan Pandu tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Karena di benaknya bukan Lucky pacar Nia melainkan Nalen. Dia menganggap kelakar teman-teman Nia ditujukan untuk Lucky dan Nalen. Semua terdiam mendengar gebrakan meja yang dilakukan oleh Nalen.


"Mengapa kalian bisanya hanya bercanda melulu, Hah" Nalen marah mendengar ocehan tidak berguna teman-temannya


Pandu tertegun dengan perilaku Nalen, mungkin benar apa yang dipikirkannya. "Bakal tambah saingan nih, mana berat lagi saingannya" Batinnya


"Habiskan makanannya dulu, baru kita bicara" Titah Nalen,


Mereka semua diam menikmati makanan yang sejak tadi sempat tertunda. Dalam diam Pandu masih berpikir "Mengapa Nia bisa memiliki kamar di restoran ini, sebenarnya siapa pemilik restoran yang akan diajak kolaborasi, bisa jadi pacar Nia atau bahkan salah satu keluarga Nia". Pandu menggelengkan kepalanya beberapa kali, membuat semua orang memperhatikannya


"Kami kenapa, pusing?" Tanya Vicky dengan bahasa yang sangat formal


"Ha.... Tidak, aku tidak pusing" Pandu gelagapan dengan pertanyaan Vicky


"Maaf, aku ucapkan banyak Terima kasih atas bantuannya untuk menebusnya biar semua makanan ini saya yang bayar" Lanjutnya

__ADS_1


"Setuju" Jawab mereka serentak


Pandu berjalan meninggalkan mereka menuju kasir yang berada di dekat pintu masuk. Dia mengeluarkan kartu platinum dari dompetnya dan menyerahkan ke penjaga kasir.


"Mbak, mau bayar yang di meja sana" Pandu menunjuk meja yang selalu digunakan oleh Lucky ketika bersama teman-temannya


"Maaf Mas, meja yang di sana kalau ada pemiliknya biasanya tidak pernah bayar ke kasir" Kasir menolak dengan halus, karena sudah menjadi pesan dari Lucky


"Memangnya siapa mbak pemiliknya?" Pandu sangat penasaran


"Maaf sekali lagi mas, kalau masnya tidak tahu berarti anda bukan teman dekat bos kami?" Pandu tercengang dengan pertanyaan penjaga kasir


"Benar mbak, saya baru datang dari luar kota dan tadi ada sedikit kecelakaan dan dibantu oleh mereka" Pandu membenarkan pernyataan penjaga kasir


"Memang bos kami, anak baik, sudah ganteng, masih muda, pacarnya cantik dan satu lagi yang harus mas ketahui, meskipun dia masih sekolah menengah atas tapi dia sudah bertunangan dan mungkin sebentar lagi mereka akan menikah"


"Apa? Menikah? masih kecil sudah mau nikah mau dikasih makan apa anak dan istrinya nanti?" Pandu sekali lagi dibuat kaget dengan informasi yang dia peroleh saat ini, berarti mereka yang menolongnya masih anak SMA


"Mas, tidak lihat restoran ini, kalau cuma memberi makan anak istrinya nanti pasti sudah sangat mampu mas, bahkan calon istrinya juga sudah dibuatkan rumah makan sendiri meskipun belum sebesar yang ini, dan semua hasil penjualan masuk ke rekening calon istrinya" Lagi-lagi Pandu dibuat terbengong


"Mbak bisa memberi tahu saya tidak, yang mana pemilik restoran ini?"


Semua rencana sudah diputuskan, malam ini juga mereka akan memasang beberapa kamera di gedung yang dipakai untuk menyekap Nia yang dihubungkan langsung dengan laptop milik Lucky dengan bantuan Nara.


"Berapa kamera yang akan kita pasang" Danny bertanya


"Tidak usah banyak-banyak, empat kamera mungkin sudah lebih dari cukup" Nara menyampaikan usulnya


"Jangan lupa kita pilih tempat yang strategis dan bisa menjangkau dari segala sisi agar dalang penculikan mudah kita kenali" Usul Vicky yang sedari tadi hanya diam mendengarkan


"Setuju" Jawab mereka serentak


Lucky menelpon beberapa orang suruhannya untuk segera memasang kamera, sedangkan Lucky dan teman-temannya istirahat karena penat seharian belum juga istirahat.


"Kita tidur di sini saja, agar besok pagi kita bisa melakukan pengamatan bersama" Usul Nalen

__ADS_1


"Kita ke atas saja" Lucky mengajak mereka untuk istirahat di atas termasuk Nara yang akan tidur dengan Nia di kamar, sedang yang lain tidur di lantai kantor Lucky beralaskan karpet


Baru kali ini mereka masuk ke kantor Lucky, ruangannya luas dilengkapi dengan fasilitas yang bernilai fantastis dan juga dengan dekorasi yang sedap dipandang mata, tertata rapi, wangi dan jauh dari kata pengap karena sirkulasi udara cukup baik.


"Kamu masuk dan tidurlah di dalam" Lucky meminta Nara untuk masuk ke kamarnya yang kini dipakai oleh Nia


"Memangnya ada kamarnya Luck?" Tanya Danny


"Adalah, tapi lo tidak boleh masuk" Jawab Lucky


****


Rahma dan Ryasmi sejak siang tadi mondar-mandir menunggu kabar dari anaknya yang hingga larut malam belum juga memberi kabar baik. Karena terlalu panik dan tidak bisa menunggu dengan diam, Rahma menghubungi handphone anaknya berulang kali, namun belum juga di jawab oleh anaknya bahkan saat ini tidak bisa dihubungi karena sejak tadi Lucky lupa untuk mengaktifkan setelah mengisi daya baterainya. Hal ini membuatnya semakin panik dan berjalan keluar masuk.


Lucky mengambil ponsel yang sejak tadi dia letakkan di mejanya, dan alangkah kagetnya ada banyak panggilan yang masuk dari Bundanya.


"Hallo Assalamu'alaikum Bunda"


"Aduh.... Nak.... kamu kemana saja, kami lupa dengan bunda, kamu tidak apa-apa kan..., lalu bagaimana dengan Nia, sesuai janji kalian kepada Bunda setelah ini kalian harus segera menikah, pokoknya tidak ada yang boleh menggangu gugat keputusan Bunda" Rahma langsung bicara tanpa henti ketika dia mendengar suara anaknya


"Bund, bisa tidak kalau tanyanya tidak seperti gerbong kereta api?"


"Apa kamu bilang, gerbong kereta apai, kamu tidak tahu bagaimana orang tua di rumah memikirkan keadaan kalian" Rahma begitu marah mendengar perkataan anaknya


"Bukannya memang itu rencana Bunda yang gagal, harusnya kalian jangan seenaknya sendiri, kejadian yang sebenarnya, panikkan...."


"Lucky, berani sama Bunda!"


"Tidak Bunda, Lucky bercanda, semua selamat dan kini kita semua sedang di restoran untuk istirahat sekaligus merencanakan penyergapan dalang dari penculikan terhadap Nia"


"Syukurlah kalau kalian semua selamat, hati-hati dalam bertindak, do'a Bunda selalu menyertaimu"


"Terima kasih Bunda atas do'a dan dukungan Bunda untuk Lucky"


"Hei, siapa yang mau dinikahkan, lo dengan pacarmu?" Tanya Pandu yang tadi sempat mendengar percakapan Lucky dengan Bunda nya

__ADS_1


"Bukan urusanmu" Jawab Lucky


"Kalau lo mau nikah, berarti kesempatan gue untuk mendekati Nia terbuka lebar"


__ADS_2