
Setelah napasnya teratur, Manda keluar dari persembunyiannya. Mencari jalan menuju ke tempat Farhan dengan berjalan kaki, uang yang dia miliki sudah habis untuk membeli hadiah ulang tahun Lucky. Hadiah yang belum sempat dia serahkan secara langsung kepada penerimanya, namun dia sendiri harus meninggalkan di meja teras rumah Lucky.
"Mengapa hari ini, gue sangat sial. Gara-gara adik tiri yang tidak berakhlak itu membuat emosiku tidak stabil, bahkan gue gagal untuk memberikan ucapan untuk lelaki yang selama ini gue cintai" Manda menggerutu disetiap langkahnya, membuat orang-orang yang dilaluinya memperhatikan
"Neng, cantik-cantik kok bicara sendiri, sini bicara dengan abang" Ucap salah seorang abang penjual cilok yang Manda lewati
Manda tidak menoleh sama sekali dengan teguran penjual cilok
"Sombong amat Neng, meskipun abang hanya penjual cilok, tapi abang juga punya uang untuk membayar Neng malam ini" Penjual cilok semakin menjadi menggoda Manda
"Hei penjual cilok, memangnya gue cewek apaan, ngaca dulu sebelum bicara seperti itu, tampang pas-pasan, apalagi dompet" Manda memberanikan diri untuk menghina penjual cilok
Abang penjual cilok mendengar ucapan Manda sedikit terpengaruh emosinya. Dia membanting kunci motornya dan berjalan cepat mendekati Manda dan berniat untuk memberikan sedikit rasa jera.
"Kalau berani sini" Manda malah menantangnya
Penjual cilok mendengar tantangan Manda semakin mempercepat langkahnya, awalnya Manda mengira tukang cilok tersebut tidak mungkin akan berani mengganggunya lagi. Namun diluar dugaan Manda, malah semakin berani mengejarnya. Hal ini membuat Manda berlari semakin kencang tanpa memperhatikan arah larinya.
*****
Di rumah Lucky, semuanya sedang larut dalam menikmati makanan. Telephone milik Lucky berdering beberapa kali. Hingga membuat pemilik telephone harus menghentikan aktivitas makan dengan keluarga dan sahabatnya.
__ADS_1
Melirik ke layar dan menggesenya setelah dia meneguk minumannya untuk mempercepat makanannya yang berada di mulutnya turun ke tenggorokannya. Dia hendak berdiri pindah tempat agar tidak mengganggunyang lainnya.
"Mau kemana Nak, di sini saja tidak apa-apa" Dewa yang melihat Lucky hendak berdiri tidak keberatan jika ada yang mengangkat telephone di meja makan
"Iya Kak, di sini saja, lagi pula kita juga ingin dengar" Mereka sudah tahu identitas si penelephon, makanya mereka ingin tahu apa yang akan disampaikan penelphon
Lucky kembali duduk dan menyapa bukan penelphone, tidak lupa dia menekan tombol pengeras suara agar semua yang ada di sana bisa mendengarnya.
"Bagaimana bisa dia kabur Pak?" Lucky terlihat emosi ketika mendengar satpam yang membawa Manda kehilangan dia
"Maaf Mas, kami sudah berusaha untuk menahannya, namun kami lengah sedikit dia sudah turun dari mobil, saat kami kejar, dia sudah tidak bisa kami temukan lagi" Dengan penuh penyesalan satpam meminta maaf dengan tulus
"Iya Pak, tidak usah sungkan seperti itu, yang terpenting bapak sudah berusaha, sekali lagi kami ucapkan terima kasih Pak sudah membantu kami dan kami minta maaf sudah merepotkan Bapak" Lucky juga tidak enak hati mendengar penyesalan satpam yang dengan tulus mau membantu keluarganya
"Sebenarnya orang gila mana yang berani mengamuk di rumah ini?" Nalen yang sejak tadi hanya diam dan berusaha bertanya sejak kedatangan mereka namun tidak ada kesempatan, akhirnya dia bisa bicara
"Bukan siapa-siapa kok Kak" Nia ingin menutupinya, karena dia tidak ingin melibatkan keluarga besarnya dalam masalah rumah tangganya
"Bukan siapa-siapa tetapi mengapa kalian seserius itu menanggapi laporan baru saja" Nalen masih belum percaya dengan perkataan adiknya
"Benar Kak, hanya saja memang sudah lama juga dia gila, jadi sudah terbiasa menghadapinya" Nia sedikit membuka klue untuk kakaknya
__ADS_1
"Lebih baik kalian jelaskan, siapa dan bagaimana orang itu, agar kedepannya tidak akan terjadi hal yang serupa. Lebih baik kita mengantisipasinya"
"Kalian benar-benar tidak ada yang mau membuka mulut, baiklah kalau terjadi apa-apa kedepannya Kakak dan keluarga yang lain tidak akan pernah membantunkalian lagi, jangan karena kalian memiliki uang dan sahabat, hingga tidak mau cerita dengan keluarga" Nalen marah ketika tidak ada satu orang yang membuka suara mengenai peristiwa yang terjadi di rumah adiknya
"Maaf Kak, biar saya yang cerita" Nana tidak ingin sahabatnya dibenci oleh keluarganya karena ingin menutupi kejelekan kakak tirinya
"Sebenarnya, tadi ada kakak tiri aku yang datang ke sini, yang sebenarnya memang sudah sejak lama dia menyukai Kak Lucky, namun Kak Lucky malah memilih Nia sebagai istrinya. Sebenarnya sudah lama dia pergi dari kota ini, namun entah sejak kapan dia kembali dan berusaha membuat onar di rumah ini setelah melihat keberadaan Nana di sini, saya minta maaf karena urusan keluarga kami malah berimbas terhadap keluarga ini, sekali lagi saya minta maaf" Nana merasa tidak enak hati, karena kemarahan Manda di rumah ini tersulut karena keberadaannya di rumah ini
"Na, bukan salahmu kok, memang Manda saja yang sering membuat ulah" Nia tidak ingin sahabatnya merasa bersalah atas kejadian yang terjadi di rumahnya
"Iya Na, bukan salahmu dia berbuat seperti itu, bahkan yang kamu lakukan terhadapnya menurutku benar, jangan pernah kamu mau di tindas oleh orang lain lagi, karena kamu menjaga harga dirimu, maka kamu marah" Andi ikut menenangkan Nana yang menyalahkan diri sendiri
"Sudah-sudah, peristiwa yang sudah terjadi jangan diungkit lagi dan jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang lebih baik kita mencari jalan untuk membuat gadis itu jera" Pras juga merasa kasihan melihat gadis di depannya ini merasa bersalah
"Tidak ada yang salah diantara kalian, semua terjadi karena hal yang tidak bisa dikendalikan, jangan pernah ada yang menyalahkan diri sendiri, benar apa ya dibilang Om Pras lebih baik kita segera mencari solusi untuk membuatnya jera, agar dia tidak berani lagi menindas kalian" Dewa yang mengenal keluarga Nana merasa khawatir jika nanti Manda datang dan berbuat onar di rumah Nana di kemudian hari
"Lalu apa yang harus kami lakukan Om?" Andi ingin menjadi pelindung Nana di manapun mereka berada
"Begini saja, kalian bisa melaporkan ke kantor polisi dengan bukti dan hasil visum Nana, karena dia melakukan kekerasan terhadap Nana. Selain itu kalian bisa melaporkannya atas tuduhan perbuatan membuat onar di tempat orang lain. Jadi melaporkan dengan dua tuduhan sekaligus dan dua pelapor yang berbeda" Pras memberikan usulannya
"Kalau nanti pergerakan polisi lamban, lebih baik kita juga melakukan pergerakan" Nalen menggebu-gebu ingin memberi pelajaran kepada orang yang selalu membuat adiknya tidak nyaman
__ADS_1
"Sudah bertahun-tahun juga, masih saja dendam, memangnya tidak ada kerjaan lain lagi selain. membuat keributan?" Lanjutnya