
Pagi hari setelah selesai sarapan, Lucky dan Nia bergegas ke rumah Nana untuk melaporkan peristiwa semalam ke kantor polisi, namun sebelum ke kantor polisi mereka melakukan visum di sebuah rumah sakit, sebagai salah satu bukti untuk melaporkan Manda.
Sembari menunggu hasil visum milik Nana, Nia berjalan-jalan di luar rumah sakit sambil membeli minuman. Dia menghampiri penjual es yang mangkal di luar rumah sakit dan memesan 4 bungkus es. Nia duduk menunggu pesanannya selesai dibuat.
****
Manda memasuki rumah yang disediakan oleh Farhan untuk dirinya bersembunyi. Membanting pintu dengan keras namun dia sendiri akhirnya terperanjat kaget melihat ada orang lain yang berada di rumahnya.
"Dari mana saja kau?" Sapa Farhan yang sudah menunggu beberapa jam di rumah ini
"Dari mana lagi, memangnya aku bisa pergi kemana?" Manda tidak ingin bercerita
"Sudah berulang kali gue bilang, jangan bertindak gegabah, tunggu perintah dari gue, masih untung kau bisa pulang ke rumah ini dengan selamat" Farhan bicara tanpa henti
"Lo bisa diam tidak, gue sudah pusing dan capek. Lebih baik sekarang juga Lo pergi, gue mau istirahat. Kecuali kalau memang Lo berniat untuk menemani dan menjaga gue" Manda mengusir Farhan dengan terang terangan
"Sebelum gue pergi kita harus membuat kesepakatan lagi" Farhan mulai berbicara lirih
"Tidak ada lagi yang kesepakatan-kesepakatan lain, yang ada semakin banyak kesepakatan yang kita buat semakin tidak memberikan kebebasan kepadaku dan hanya memberikan keuntungan buatmu" Manda sudah merasa capek dengan kesepakatan yang pernah mereka buat, apapun yang dia lakukan harus menunggu persetujuan Farhan
"Kalau Lo mau kebebasan, sekarang semua gue serahkan ke Lo, mau berbuat apa dan sesukamu. Namun, jangan pernah lagi kamu menghubungiku jika nanti terjadi sesuatu padamu" Farhan mengancam Manda yang sulit untuk dia kendalikan dan semakin berani menyanggah semua ucapan dan perintahnya
"Dan perlu kamu ingat, malam ini adalah terakhir kali kamu tidur di tempat ini, karena besok pagi pemilik akan menyewakan ke orang lain jika kami tidak mau mendengarkan semua perkataan gue" Lanjut Farhan
"Baiklah, aku akui memang aku salah, kalau aku pergi dari sini lalu aku harus tidur di mana? Apa mungkin anak gadis secantik aku harus tidur di kolong jembatan. Aku berjanji hal ini tidak akan pernah terulang lagi dan akan selalu mendengar perintahmu" Manda tidak ingin menjadi gelandangan yang tidak terjamin kehidupannya, dia hanya perlu mendengarkan perintah Farhan maka semua kebutuhannya akan terpenuhi
"Sekali lagi kami membuat kesalahan, maka jangan harap akan ada hari lain dalam kehidupanmu" Farhan berjalan menuju pintu dan segera meninggalkan tempat tinggal Manda setelah mengambil dan meletakkan bahan makanan yang bisa diolah sendiri oleh Manda
"Jangan pernah menghubungi aku lagi dalam waktu dekat ini, aku tidak ingin mereka tahu jika kita bersekutu"
"Tidak akan, dan selamat malam" Manda mempersilakan Farhan untuk pergi dari tempat tinggalnya sebelum diketahui oleh orang lain
__ADS_1
Malam ini Manda hanya ingin beristirahat dengan tenang setelah menghabiskan makanan yang dibawakan oleh Farhan. Membersihkan badannya kemudian menuju tempat tidurnya, menghempaskan diri dan terlelap hingga pagi menjelang.
Sesuai dengan perintah Farhan dia tidak akan pergi ke manapun setalah semalam dia berbuat onar. Dia tidak ingin diketahui tempat persembunyiannya.
****
Selesai mengambil hasil Visum, Nana, Andi dan Lucky bergegas keluar rumah sakit menuju tempat parkir dan ingin segera beranjak ke kantor polisi untuk membuat laporan.
Nia kembali ke dalam rumah sakit mencari keberadaan Lucky dan Nana. Dia mencari ke sana kemari dan celakannya handphone miliknya berada di dalam tas yang dibawa oleh Lucky. Nia mondar-mandir mencari keberadaan mereka.
"Mereka pergi kemana, bukannya tadi katanya masih lama menunggu hasilnya, ini baru juga ditinggal beli es sebentar sudah menghilang mereka..... Huffft...." Nia memilih duduk di tempat tunggu pasien dekat lobby rumah sakit, dia berharap mereka akan lewat di depannya jika nanti keluar rumah sakit
Setengah jam berlalu, Nia masih menunggu di tempatnya, bahkan hampir habis pasien yang periksa. Nia berjalan keluar rumah sakit dan mencari taksi yang sedang mangkal di depan rumah sakit. Ramainya para penumpang membuatnya harus lebih bersabar untuk mendapatkan alat transportasi tersebut.
Kebetulan ada pengamen yang melewatinya. Nia menghentikannya dan memberikan es yang dia beli. Karena tidak akan mungkin dia habiskan sendiri.
"Mas, ini saya beri es" Nia menyerahkan tiga plastik es yang berada di tangannya
"Mau pulang, sudah lama menunggu taksi tapi tidak ada yang lewat"
"Boleh saya temani mbak?"
"Terima kasih, tapi sepertinya tidak saja. Bukannya kamu harus kerja?"
"Saya santai kok mbak, lagi pula hanya untuk mengisi waktu luang saja"
"Oh, boleh deh kalau begitu"
Mereka mengobrol hingga lupa waktu, kebetulan ada angkot yang lewat depan mereka. Nia memilih untuk naik angkot saja dari pada harus menunggu lama. Nia berpamitan dengan pengamen muda yang baik hati.
****
__ADS_1
Lucky kembali ke dalam rumah sakit ketika menyadari istrinya tidak bersama dengan mereka. Mencari ke lorong rumah sakit hingga ke toilet serta tempat-tempat yang jarang dilewati orang. Bertanya ke beberapa orang yang berada di sana sambil memperlihatkan foto yang berada di handphonnya. Kesabarannya juga handphone milik Nia tadi dia masukkan ke dalam tas miliknya.
Lucky teringat bahwasannya tadi Nia bilang ingin keluar membeli es, namun ada banyak penjual es di depan rumah sakit. Dia mulai bertanya ke setiap penjual yang berada di sana. Karena penjual es yang dituju Nia sudah pulang, maka tidak ada satu penjualpun yang melihat Nia.
Terlihat sangat lelah dan frustasi, akhirnya Lucky memilih untuk duduk sebentar menghilangkan rasa lelah karena berjalan kesana kemari mencari Nia yang tidak kunjung ketemu. Menghela nafas kasar, Lucky menelphon Nana dan Andi agar mereka lebih dahulu ke kantor polisi.
Lelaki muda dengan membawa gitar dipundaknya, dan es berada di tangannya ikut duduk di samping Lucky dan menawarkan es yang dia bawa. Karena tidak mungkin juga dia akan menghabiskan tiga bungkus es.
"Mas, terlihat sangat lelah. Ini mas es untuk menghilangkan dahaga dan biar lebih segar" Pemuda itu menyapa Lucky dengan ramah sambil menyerahkan sebungkus es kepada Lucky
"Terima kasih" Lucky menerima uluran pemuda tersebut, mencecapnya hingga tandas tanpa sisa
Mereka terlibat dalam perbincangan yang cukup lama. Lucky menceritakan alasannya duduk di sini cukup lama.
"Jadi, mas menunggu seseorang di sini? Mengapa tidak di telephone saja?"
"Handphonenya berada di tas yang aku bawa, jadi tidak bisa menghubunginya"
"Mengapa bisa seperti ini?" Gumam pemuda itu
"Maksudnya?" Lucky mendengar gumaman pemuda
"Baru saja, saya bertemu dengan seorang cewek yang katanya mencari suaminya karena tidak membawa handphone maka dia tidak bisa menghubunginya, sedangkan sekarang saya bertemu laki-laki yang mencari ceweknya karena handphone terbawa, Jangan-jangan kalian..... " Belum selesai bicara Lucky memperlihatkan foto Nia yang berada di handphone miliknya
"Apakah ini?" Tanya Lucky tidak sabar
"Benar Mas"
"Dimana dia sekarang?"
"Kebetulan tadi dia naik angkot untuk pulang"
__ADS_1
"Terima kasih mas atas informasinya, dia adalah istri saya"