
"Kejutan....." Nalen dan Nara paling depan, merekalah biang dari kerusuhan memencet bel. Diikuti oleh Ryasmi, Dewa, Rahma dan juga Prasetyo
Mereka membawa berbagai macam hadiah yang mereka bawa menggunakan mobil bak terbuka. Lucky yang membuka pintu hanya bengong memperhatikan keluarganya yang sangat heboh dan membuat keributan di malam yang cukup sepi meskipun masih lumayan sore.
"Apakah tidak boleh masuk? Mengapa pemilik rumah malah bengong dan tidak mempersilakan masuk.... Lebih baik kita bawa pulang lagi saja" Nalen menyenggol adik iparnya yang sejak tadi hanya bengong saja
"Eh... eh... Jangan dong... masa iya mau dibawa pulang lagi, memangnya tidak berat?" Lucky baru tersadar ketika kakak iparnya menyenggol bahunya
"Lagi pula siapa suruh bengong di depan pintu, memangnya kami hantu?" Nalen tidak terima dengan sambutan Lucky
"Bukan begitu Kak, karena baru saja ada orang yang membuat keributan di sini" Nal n menjelaskan
"Siapa Kak? Mengapa tidak di suruh masuk?" Teriakan Nia menggema dari ruang keluarga
"Iya, ini suamimu benar-benar kok Dik, sudah jauh-jauh kami datang bawa hadiah segala, eh.... malah dicuekin di depan pintu"
"Kak Nalen, Mama, Papa, Ayah, Bunda dan Kak Nara... masuk semuanya. Maaf, berantakan karena ada orang gila yang datang dan mengamuk, jadinya begini deh..." Nia menyambut dengan suka cita kedatangan keluarganya
"Tapi, maaf.... kami tidak menyediakan banyak makanan, paling cuma camilan yang dibeli Kak Lucky baru saja" Nia berbicara yang sebenarnya, karena rencana awal cuma acara dengan sahabat-sahabat mereka saja
"Kalau mengenai makanan Adik tidak perlu khawatir, kami bawa semua dari rumah" Ryasmi anak kesayangannya
__ADS_1
Mereka masuk ke ruang keluarga, disana sudah ada sahabat-sahabat Lucky dan Nia. Bahagia menyambut kedatangan seluruh anggota keluarga, hingga mereka melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
Satpam rumah mengangkat dan memasukkan semua hadiah yang di bawa untuk pemilik rumah yang sedang berulang tahun.
Acara yang sedianya diadakan sederhana kini menjadi acara yang meriah, dengan membuat barbeque juga mempersiapkan makanan yang sudah di bawa oleh Ryasmi dan Rahma.
Mereka menikmati semua yang tersaji dengan suka cita hingga tengah malam menjelang. Perut yang sudah terisi penuh membuat mereka mencari tempat untuk berbaring dan meninggalkan sisa makanan mereka.
****
Farhan mengangkat hanphonenya yang sudah sejak tadi berbunyi berulang kali. Awalnya dia tidak menghiraukannya, karena Farhan tidak mengenal nomor telepon yang tercetak jelas di layar handphonenya. Namun, akhirnya telinganya risih juga dan terpaksa mengangkatnya.
"Halo, selamat malam" Farhan menyapa penelphon dengan ramah
"Tapi, saya tidak punya saudara perempuan Pak" Farhan sebenarnya malu jika harus menjemput dan menjadi penjamin seseorang yang telah berbuat onar
"Maaf mas, jika mas tidak bisa menjemputnya terpaksa akan kami bawa ke kantor polisi sekarang"
"Eh.. eh... Sebentar Pak, jangan main bawa anak orang ke kantor polisi dong. Baik sekarang saya akan ke sana menjemput dan menjadi penjaminnya, tunggu dua puluh menit lagi dan jangan biarkan perempuan itu pergi dari kantor Bapak" Farhan bergegas mengambil kuci mobil yang dia letakkan pada sebuah meja di kamarnya.
Menyusuri jalanan macet karena kebetulan banyak kendaraan yang berlalu lalang untuk menghabiskan malam minggu yang cukup cerah. Rencana Farhan juga gagal, yang seharusnya dia akan pergi bersama teman-temannya ke sebuah kafe harus dia batalkan untuk mengurus Manda.
__ADS_1
Farhan ketika sampai di alamat pos satpam yang dikirim ke ponselnya, dia sudah tidak bisa bertemu lagi dengan Manda, karena sudah disiapkan mobil untuk membawa Manda ke kantor polisi dan bersiap berangkat.
"Bapak jangan belagu ya, hanya seorang Satpam saja sudah seenaknya narik tangan orang" Manda meronta ketika mendapati tangannya ditarik oleh Satpam komplek untuk di bawa ke mobil yang sudah siap
"Lagi pula, teman saya tidak mungkin jika tidak datang menjemput, bisa tunggu sebentar lagi tidak?" Lanjut Manda masih dengan teriakannya
Satpam tidak menghiraukan lagi ocehan Manda yang sejak tadi tidak bisa berhenti bicara serta mengeluarkan sumpah serapah yang tidak enak untuk di dengar.
"Kalau temanmu memang ada niat untuk menolongmu, sudah dipastikan datang sejak satu jam yang lalu, bahkan ini sudah melebihi waktu tenggang yang kami sediakan, lebih baik kamu sekatang naik ke mobil dan tolong jelaskan semuanya di kantor polisi. Dan seandainya temanmu mencarimu akan diarahkan ke kantor polisi yang kita tuju" Satpam paruh baya itu menjelaskan dengan suara tegas
Manda mencari cara untuk bisa melepaskan diri dari satpam s*alan yang kini memegang tangannya. Beberapa kali dia berusaha berontak namun selalu gagal. Manda tidak ingin berada di balik jeruji sebelum dendamnya untuk menyakiti Nia terkabul dan juga bisa mendapatkan Lucky.
Mobil milik Farhan hampir bisa menghadang mobil yang membawa Manda, namun dengan tidak diketahui dari mana datangnya tiba-tiba ada sepeda motor yang membuat Farhan harus menginjak pedal remnya dengan tiba-tiba, yang membuat Farhan harus ketinggalan jauh dari mobil tersebut.
Manda yang mengetahui kejadian tersebut juga merasa sangat kesal, hingga membuat dia mengumpat
"Dasar lelaki bodoh, mengapa harus berhenti dan menghindari sepeda motor s*al*an itu sih, megapa tidak ditabrak saja" Mata Manda melotot memperhatikan mobil milik Farhan yang kini tertinggal cukup jauh
"Gue harus mencari cara untuk bisa lepas dari mereka" Beberapa kali Manda memperhatikan jalanan yang mereka lewati, namun karena keadaan jalanan yang cukup ramai membuat dia harus berpikir ulang jika harus melompat dan lari, bisa salah perhitungan sedikit saja nyawanya bisa melayang tertabrak kendaraan lain.
Keadaan yang diimpikan oleh Manda kini terwujud, di depan sana ada lampu lalu lintas yang kini sedang berwarna kuning, dia mempersiapkan diri untuk mengelabui satpam agar dia bisa berlari dan lolos dari mereka.
__ADS_1
Benar saja tepat lampu warna merah, mobil yang ditumpangi berhenti, bersamaan dengan itu Manda mengeluarkan gas beracun dari dalam tubuhnya, yang membuat Satpam melepaskan tangan Manda dan memilih menutup hidungnya. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan okeh Manda dengan sekuat tenaga Manda melompat dan matanya mencari celah kendaraan yang sedang berhenti.
Mencari jalan setapak yang sulit dijangkau mobil, Manda berlari melalui gang-gang kecil hingga menemukan semak dengan rumput yang cukup tinggi, dia memilih untuk istirahat di sana terlebih dahulu sambil memperhatikan keadaan sekitarnya.