CERITA CINTA ANAK SMK

CERITA CINTA ANAK SMK
178


__ADS_3

Dewi fortuna masih menyelimuti Manda saat ini, selain bebas dari kejaran polisi, dia juga mendapatkan tempat bersembunyi yang aman dan dengan mudah mendapatkan makanan yang berada di dapur dan kulkas.


Rumah yang kebetulan kosong dimanfaatkan oleh Manda mengambil makanan sebanyak-banyaknya, tidak lupa mencari uang tunai yang tersimpan di dalam rumah ini. Membersihkan diri dan juga berdandan untuk mengelabuhi siapapun yang melihatnya.


Manda segera meninggalkan rumah yang dulu pernah dia tinggali, setelah berhasil membawa barang-barang berharga di rumah ini, sebelum pemilik rumah yang sebenarnya kembali dan mengetahui keberadaannya di dalam rumah ini.


"Auw...... " Karena tergesa-gesa kaki Manda tersandung kaki meja yang berada di samping pintu kamarnya dahulu


"Untung rumah ini kosong" Gumamnya lagi


Mengendap-endap dan memperhatikan sekelilingnya, Manda dapat menjangkau pintu utama dan berlari menuju jalan setapak melewati rumah-rumah warga yang berada di dalam gang.


Nana dan Andi masuk ke dalam rumah ketika hampir petang, duduk di ruang tamu setelah mengambil minuman dingin dan juga camilan dari kulkas. Mereka belum memperhatikan keadaan rumah saat ini, karena rasa lelah yang masih mendera keduanya. Menyelesaikan pekerjaan kantor yang harus tertunda beberapa waktu.


Rasa lelah yang mulai berangsur hilang, membuat Nana ingin segera masuk kamar dan membersihkan diri.


"Kak, aku mandi dulu. Minta tolong nanti plastik ini nanti di buang" Nana menyeret langkahnya yang masih begitu berat disertai kelopak mata yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang mendera


"Iya" Andi menjawab singkat dan dengan cekatan membersihkan meja yang banyak bekas bungkus makanan yang mereka bawa dari luar.


Nana baru menaiki satu tangga, namun sudah disuguhkan pemandangan yang membuatnya harus melihat dengan jelas dan berulang kali. Posisi sebuah meja yang sedikit bergeser dari tempatnya. Kakinya melangkah mendekati meja dan memperhatikan untuk yang kesekian kali.


"Kak, apakah kamu memindahkan meja ini?" Nana bertanya sebelum mengutarakan kecurigaannya


"Aku tidak pernah memindahkan barang di rumah ini tanpa seijin darimu" Andi yang baru masuk setelah membuang sampah menjawabnya dengan tegas


"Berarti ada orang lain yang masuk ke dalam rumah ini"


"Siapa, bukannya sebelum pergi semua pintu sudah dikunci, bahkan aku juga mengeceknya lagi sebelumnya"


"Bahkan pintu dan jendela juga masih rapi, seandainya ada orang jahat yang masuk" Lanjut Andi


"Ada, pasti Manda, karena dia memiliki duplikas kunci pintu rumah ini yang selalu dia sembunyikan di luar rumah, bisa jadi dia sempat masuk ke rumah ini" Nana mengingat jika dahulu Manda selalu pulang larut malam dan bisa masuk ke rumah meskipun semua pintu sudah di kunci, Nana mengetahuinya saat suatu malam dia ke dapur mengambil minum dan memergoki Manda yang baru pulang dalam keadaan setengah sadar

__ADS_1


"Kalau seperti itu, bisa jadi dia yang masuk ke dalam rumah, Cepat cek semua tempat penyimpanan barang-barang berharga" Andi memperingatkan Nana untuk segera melihat semua tempat yang berisi barang-barang berharga


Sadar akan perbuatan nekat Manda, Nana dengan cepat berlari menuju ke brangkas penyimpanan barang berharga di rumah ini. Dia kembali turun setelah memastikan tidak ada barang berharga yang hilang kecuali beberapa gepok uang.


"Apakah semua aman?" Tanya Andi


"Syukurnya hanya uang saja yang hilang, untuk berkas-berkas berharga semua masih ada" Nana menceritakan keamanan barang-barang berharganya


"Syukurlah, mungkin dia hanya butuh uang untuk keperluan hidupnya, karena tidak mungkin dia bisa menjual aset-aset lain dalam waktu yang cepat"


"Iya, mungkin"


"Lebih baik sekarang kita telephone polisi, siapa tahu dia masih belum jauh dari lingkungan kita"


****


Nia dan Lucky memilih kembali ke rumah mereka sendiri dan membayar orang untuk berjaga di sekitar rumah mereka. Untungnya saat ini Nia hanya berkegiatan di rumah. Jadi bisa meminimalisir kejahatan di luar rumah selama Manda masih berkeliaran di luar sana.


"S*yang, jangan keluar rumah selama kakak tidak ada di rumah, atau kamu ikut kakak saja?" Lucky yang hendak pergi bekerja berpamitan kepada Nia


"Iya, tapi kakak masih tidak rela jika harus meninggalkan kamu sendirian di rumah, lepas dari penglihatan langsung"


"Bagaimana kalau kakak tidak pergi bekerja?" Lanjut Lucky


"Tidak perlu Kak.... Insya Allah Nia aman. Kakak bekerjalah dengan tenang, sebentar lagi Kak Nara akan ke sini" Nia memastikan keamanannya agar Lucky tetap bekerja dengan tenang


"Baiklah, kakak akan segera berangkat dan menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat. Kakak akan segera pulang jika semua sudah beres"


Nia sendirian di rumah selepas kepergian Lucky ke kantor. Namun, tidak lama Nara sudh tiba di kediaman mereka dengan membawa berbagai makanan untuk diberikan para penjaga yang berjaga di luar.


Berkat bantuan Lucky dan Nalen saat ini Nara sudah mendapatkan sebagian besar saham perusahaan yang dulu dikuasai oleh kakak tirinya. Saat ini Kakak tirinya hanya memiliki 25 persen saham perusahaan dan juga sebagai pelaksana lapangan.


"Kak Nara... bawa apa itu Kak?" Nia menyambut kedatangan Nara dengan antisias

__ADS_1


"Bawa ini, untuk mereka yang berjaga di luar. Kasihan mereka harus bersiap jika terjadi sesuatu dengan kita" Nara memperlihatkan isi dari plastik yang dia bawa


"Cuma buat mereka Kak?"


"Ada kok buat kami, sebentar biar kakak ambil dulu di mobil" Nara meletakkan plastiknya, pergi keluar mengambil barang yang dia beli khusus untuk Nia


"Ini dia, khusus buat kamu" Nara menyerahkan paper bag yang berisi pakaian


"Boleh dibuka sekarang?"


"Tidak boleh sekarang, buka di kamar saja"


"Apa isinya?" Nia makin penasaran dengan isi dari paper bag pemberian Nara


"Rahasia, nanti juga kamu tahu setelah membukanya"


Karena sudah mendapatkan perintah keras dari Nara, Nia tidak ingin membukanya lagi saat ini, dia menurut dan akan membukanya ketika sudah ada di kamar.


Nia meletakkan hadiah pemberian Nara ke dalam kamar di atas r*njang miliknya, dan bergegas kembali ke ruang santai untuk menemui Nara.


"Terima kasih atas hadiahnya Kak..."


"Sama-sama, memangnya sudah kamu buka?"


"Belum"


Mereka mengobrol hingga sore menjelang, ketukan pintu berbunyi berulang kali, menandakan Lucky sudah kembali dari kantornya. Tangan kanannya penuh dengan plastik yang berisi pesanan Nia.


"Selamat sore s*y*ng....." Lucky menghampiri Nia yang duduk berseberangan dengan Nara serta menc**m puncak kepala Nia


"Hei, dasar.... tahu tempat....." Nara melempar bantal yang berada di tangannya ke arah Lucky


"Makanya segera diresmikan, biar bisa seperti kami"Lucky semakin menjadi menggoda Nara dan memperlihatkan kemesraan di depannya langsung

__ADS_1


"Sekali lagi kalian berbuat seperti itu di hadapanku, aku tidak mau membantu kalian lagi"


__ADS_2